Ketegori

Kamis, 10 November 2016

Berlian yang Pudar


Berlian Yang Pudar
Karya : Wiranata R.D.

Saleh Taat Gusti anak pertama dari tiga
bersaudara, dia bagian keluarga sederhana
yang bertempat tinggal di daerah Minang.
Umurnya pada saat itu masih bisa dibilang
belasan, tepatnya menjelang 19 tahun. Saleh
memiliki dua orang adik perempuan. Dulu dia
adalah anak yang rajin dan taat pada kedua
orang tuanya. Sayang seribu sayang dia salah
pergaulan dan dia tiga ratus delapan puluh
derajat berubah. Kini dia adalah seorang
rampok setelah kepergian ayahnya. Meski demikian, dia tetaplah takut
akan kemarahan ibunya dan setiap kali dia merampok dia selalu minta
restu ibunya.

Dimalam sunyi sepi sendiri Saleh duduk di pojok surau selepas
solat Isya, dia merenungkan diriya yang kini mulai melenceng jauh.
Memang dia seorang merampok tapi dia sadar apa yang sebenarnya
dia lakukan salah.
“Aku ini sudah menerobos batas, apa gunanya aku solat kalau
yang aku kerjakan adalah merampas harta orang yang susah payah
mencarinya?”
“Kau pasti akan sukses, tapi bukan dari jalan merampok”
Sahut seorang lelaki tua yang tiba-tiba datang dari arah hutan
jagung.
“Kau itu masih muda, kuat,dan sehat. Janganlah kamu berbuat
seperti itu anak muda!”
“Bagaimana kakek tau kalau saya seorang perampok?”
“Jangan kau pikirkan itu, pikirkan saja apa yang akan kau lakukan
besok”

“Besok? Besok saya harus apa?”
“Pergilah merantau, jemputlah rezekimu!”
“Lantas kemana saya harus merantau?”
“Besok selepas solat Subuh saat matahari mulai memancarkan
wajahnya kau pergi ke perempatan jalan dekat balai desa, dan temui
Adin, dia seorang tenaga kerja terlatih dan kau bisa belajar dengannya”
“Adin? Macam tidak kenal saya”
Si kakek tiba-tiba menghilang, saat itu suasana sepi sunyi dan
gelap hanya sedikit pancaran lentera yang dia bawa dan pancaran
sinar rembulan yang meneranginya. Namun hal itu tak membuatnya
merasa takut, dia justru merasa heran akan perkataan si kakek tadi.
Saat itulah ia sadar kalau rezeki sebenarnya itu bukan di Minang akan
tetapi di pulau seberang.
Ayam berkokok tanda pagi telah tiba, Saleh bergegas bangun dan
pergi solat ke surau. Selepas solat dia kembali kerumah untuk
menyiapkan segala kebutuhannya di tanah orang.
“Semua sudah siap nak?”
“Sudah bu. Aku tidak yakin jikalau aku akan bahagia jika aku tetap
disini, karena itu aku ingin merantau bu, aku ingin mencari rezeki yang
lebih bersih dan aku ingin membanggakan ibu. Aku minta doa dan
restu ibu”
“Sudahlah nak, ibu merestuimu. Berangkatlah dan ingatlah sekecil
apapun yang kamu kerjakan setidaknya bermanfaat bagi orang lain”
“Baik bu, aku berangkat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Berangkatlah Saleh dengan segenap barang kebutuhannya untuk
menemui Adin di perempatan jalan. Sesampai disana Saleh terkejut
bukan kepalang. Betapa tidak, Adin yang semalam dibicarakan kakek
itu ternyata sudah menanti bak sudah tau jikalau Saleh lah yang akan
hadir disana.
“Assalamu’alaikum, Adin?”

“Wa’alaikum salam, iya betul”
“Awak menati kehadiran saya benar?”
“Betul, apakah kau siap pergi merantau hari ini?”
“Atas nama Allah aku siap”
“Baik kita berangkat sekarang. Salam kenal, Adin”
“Saleh”
Waktu itu kiranya pukul delapan Saleh dan Adin langsung
berangkat menuju ke Jakarta.
“Ini pertama kalinya aku pergi jauh bang”
“Tenanglah bang, jikalau abang mantapkan dalam hati apa yang
abang niatkan niscaya Allah membantu. Asal abang ingat, abang harus
siap akan segala risiko dan tantangan yang mungkin menghadang”
“Aku ini belum cakap bahasa Jakarta pula bang, aku takut disana
akan ada orang jahat”
“Sudahlah jangan kau pikirkan, itu semua hanya perasaanmu saja”
“baik bang”
“Nah kita solat Zuhur dulu lah, perjalanan masih jauh, sekalian
kita beristirahat sejenak”
“Betul juga tuh bang”
Bergegas Saleh dan Adin berhenti di sebuah surau dan
melaksanakan solat zuhur disana. Selepas itu mereka beristirahat
sejenak dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bakaheuni untuk
berlabuh di Pulau Jawa. Inilah awal perjalanan seorang Saleh. Kini
mereka tiba di Jakarta. Saat itu mereka telah berada di komplek
lapangan segitiga tepatnya daerah Kampung Rambutan, disitulah
tempat Adin berdiam.
“Saudara Saleh, inilah tempatmu sekarang. Dan kamu bisa
memulai segalanya dari sini, anggaplah ini rumah sendiri”
“Saya tandang di sini? Di rumah saudara?”

“Iya, betul. Selamat datang di Jakarta”
“Saya tidak menyangka, terima kasih banyak saudara”
Sebulan kemudian setelah Adin aktif bekerja, kini Saleh
mendapatkan pekerjaan perdananya yaitu penjaga konter pulsa. Inilah
awal dari perjalanan ekonominya, yang tadinya harus bersusah payah
mengatur strategi untuk merampok, kini tugasnya hanyalah menunggu
konter serba ada dan melayani customer. Tidak ada hal yang sia-sia
memang, Saleh kini benar-benar menjadi pemuda yang bertanggung
jawab.
Satu hari terlewatkan, kini Saleh telah berada pada hari kerja
kedua, satu kendala darinya adalah dia kurang cakap berbahasa
Jakarta. Beberapa saat setelah dia membuka konter, pelanggan mulai
berdatangan untuk membeli berbagai kebutuhan mereka seperti gas,
minuman ringan, pulsa, dan berbagai voucher elektronik lainnya. Tiba
seseorang pemudi yang cantik parasnya datang menuju konter itu.
“Bang, beli pulsa listrik”
“Oh, iya. Mau yang berapa?”
“Yang seratus ribu aja. Baru kerja ya?”
“Iya, kok tau?”
“Itu, soalnya gue baru pertama kali liat situ di konter ini”
“Oh, begitu ya”
“Iya, kenalin gue Wari, anak pak Bokir, jurangan batu akik”
“Saya Saleh”
“Situ dari seberang pulau ya?”
“Iya, saya dari Minang, kok bisa tau?”
“Ya, situ kalo ngomong berasa melayu-nya”
“Betul kah?”
“Iye, yaudah pulsa listrik gue udah ke-send kan?”

“Oh, sudah, ini kode yang nanti harus di input ulang”
Saleh memberikan selembar kertas bukti transaksi e-voucher
listrik.
“Makasih ye Bang”
“Sama-sama”
Si pembeli itu langsung beranjak pergi.
“Neng! Belom bayar”
“Oh iya, sori Bang sori ”
“Tidaklah masalah, kamu ini kok buru-buru sekali nampaknya?”
“Kagak kok, ya sudah ane cabut dulu yak. Da..”
Wari pergi meninggalkan konter. Hal itu tidaklah selesai begitu
saja, karena kejadian saat itu Saleh menjadi heran akan seluk beluk si
dia. Wari yang baru saja dikenalnya meninggalkan bekas yang sulit
dilupakan.
Suatu pagi di pojok kebon jarak pinggir rel kereta api dekat rumah
Adin, Saleh untuk pertama kalinya menikmati hari liburnya dalam
bekerja. Dari arah kejauhan datang sosok wanita tinggi ramping, dan
bohai yang bukan lain adalah si Wari.
“Woi Bang, lagi ngapain?”
“Saya? Sedang menikmati libur Neng”
“Oh, liburan nih? Lagi gak sibuk dong?”
“Iya, begitulah”
“Kalo gitu kita nongkrong yok”
“Nongkrong itu apa?”
“Haduh.. Itu loh main bareng”

“Oh, main bareng. Yasudah”
“Bener nih ye?”
“Iya”
Mereka berdua pergi ke suatu tempat yang biasa dikenal warkop.
Disana mereka membicarakan identitas, kebiasaan, kegemaran, hobi,
minat, bahkat, sampai keturunan dan budaya juga dibahas. Tidak
terasa hari mulai senja dan mereka pulang ke rumah masing-masing,
Wari ke rumah Pak Bokir dan Saleh ke rumah Adin rekannya setelah
setengah hari ngobrol bareng berduaan.
Setelah menikmati libur, kini Saleh kembali bekerja. Tidak ada
yang berbeda saat itu. Namun ternyata dari kejauhan Wari mengamati
kegiatan Saleh tanpa ia sadari. Sehari berlalu, Wari masih saja
mengamati kegitannya. Disini perasaan Wari semakin jatuh hati
kepada pemuda Minang yang pekerja keras dan pantang menyerah itu.
Suatu pagi di seberang toko kelontong milik Koh Acin Saleh
sedang beli minuman dan roti untuk sarapan. Dari belakang tepatnya
selatan toko kelontong datanglah Wari.
“Abang”
“Eh, Wari. Mau kemana?”
“Mau liatin abang”
‘Liatin saya?”
‘Iya”
Saleh heran atas jawaban yang Wari berikan, katanya:
“Serius?”
“Iya”
“Untuk apa kamu liatin saya?”
“Karena saya suka sama abang”
‘Suka? Sama saya? Jangan bohong kamu”
“Serius, ane yakin kok abang bisa bikin ane bahagia”

“ Tapi maaf, saya ini hanya tukang gas dan pedagang konter
pulsa. Motor abang astrea butut, hape abang standar. Kalau mau enak
jangan sama abang. He..he..”
Saleh berusaha mengalihkan pembicaraan, Namun Wari tetaplah
bersikeras betul bahwa Saleh-lah yang paling sempurna dimatanya.
“Emang bang, tapi ane cinta sama abang. Ane kagak butuh harta,
ane butuh abang. Menurut ane abang itu jauh lebih menarik di antara
semua orang tampan di tempat ini. Tolong bang bikin yang terbaik
buat ane”
“Baik abang turuti apa mau kamu”
_TAMAT_
(C) Wiranata R.D.
Segala bentuk peretasan atau pelanggaran hak cipta akan diproses
secara hukum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar