Persahabatan
di Putih Abu-Abu
Karya : Arfan Jewandono
Kenalin aku Abidsar. Dan ini adalah kisahku
dengan ketiga sahabatku di masa putih abu-abu. Dia adalah 2 sahabatku Rey dan Japri.
Mereka adalah penyemangat duniaku. Katanya masa SMA ini adalah masa yang
menyenangkan begitu juga yang kami rasakan bertiga. Bahagia selalu membuka dan
menutup sagala aktifitas kami di sekolah, tapi kisah itu harus berubah 180
derajat disaat sang waktu mulai melangkah dan lelah melihat kami bertiga. Dan
inilah kisah kami .
Di saat terakhir MOS kelelahan yang kami
rasakan akhirnya terbayar dengan adanya pengumuman kelas masa depan kami nanti
di sekolah ini. Tempat di mana aku dan prajurit pembutu mimpi ini akan
berperang menghancurkan batu yang menutup kebahagian di masa depan nanti. Kami
akan berusaha meraih cita-cita kami bersama di kelas baru ini. Dan tak sabar
memakai title baru.
Aku dan kawan-kawan maju ke papan
pengumuman itu. Hatiku tak perlu degdegan karena dimanapun ku ditempatkan aku
sudah siap. Aku bersyukur di saat aku melihat nama ku di X ipa 2. Waw.. bangga
ku rasa. Meski masih ada X ipa 1 tapi aku bersyukur. Kuperiksa nama teman masa
depanku dan aku bahagia aku mengenal 1 orang di sana dia adalah temanku semasa
MOS dulu Rey.
Hari pertama sekolah dimulai. Agak risih
juga memakai baju ini, putih abu-abu. Wajah yang tak kukenal kini berkumpul di
kelas itu dengan bahagia, sepertinya mereka merasakan apa yang kurasakan hari
ini. Meraka begitu hangat dan ramah lihat saja di sana gadis kecil yang baru
datang itu. Dia menyunggingkan senyumnya yang manis sambil menyapa “hai..
selamat pagi.” Dia begitu ramah kelihatannya dia baik.
Gadis itu melangkah ke salah satu tempat
duduk di depan sana. Dia sepertinya langsung mendapatkan teman duduk, dan
setelah itu dia meneruskan langkahnya ketempat dudukku. Apa dia mengenal ku?
Atau..? “hay Rey..” sapa dia pada teman dudukku ini. Ow ternyata dia kenal
dengan Rey.
“citra.. kamu di sini juga” kata rey dengan
ramah. Kelihatannya mereka adalah teman dekat.
“ia dong bro.. hmm asik yah kita bisa satu
kelas. Jadi kalo pulang bisa pulang bareng dong..”
“iya lah. Asik wah sebuah kebetulan yang
luar biasa..”
Japri
memandangku. “hay.. senang bertemu denganmu. Boleh kenalan?”
“ namaku
japri.”
Tak kuduga dari sinilah mulai terukir
persahabatan antara kami bertiga, setiap pagi senyuman manis mereka menbuatku
semangat. Canda tawanya membuatku bahagia, ketika hati tengah gundah mereka
selalu siap menjadi tempat curhat ku, meski kadang perbedaan selalu terbentang
jauh namun tak pernah kami bertengkar selalu ada jalan keluar untuk masalah
yang mendatangi kami.
“penguman disampikan kepada siswa kelas X yang berminat menjadi anggota musik smansa
agar segera mendaftarkan diri di panitia.”
Wah. Hal ini begitu membuatku girang,
setelah sekian lama menunggu kesempatan untuk bergabung dengan musik smansa
yang selalu menjadi buah bibir di masyarakat kini akan aku wujudkan. Aku
berjanji di suatu saat nanti aku akan menjadi anggota musik , meski
tantangannya berat. Kali ini kami bertiga mengikuti audisi itu, karena tampa ku
sadari ternyata kami bertiga memiliki hobby yang sama dalam musik.
“waw.. harus semangat nih secara kita
bertigakan ikut..” kataku menyemangati
“yoi tapi masih banyak sih saingan.” Kata
japri
“ia nih aku kok gak PD yah..” kata rey
merenda. Ya meski sebenarnya jika aku melihatnya dia memiliki bakat.
“aduh aku gak mau daftar deh kayaknya, aku
takut.” Kata Rey pesimis. Setelah melihat banyak anak-anak yang berminat,
khususnya yang menjadi anggota exkul paduan suara.
“aduh Rey, gak ada salahnya kali mencoba.
Coba aja dulu siapa tau bisa, kalo gak bisa lolos kan anggap aja ini sebagai
pengalaman iya kan.” Kata Japri yang selalu menberi dukungan.
“iya benar tuh Rey..” kataku menimpali.
Akhirnya nama kami bertiga ditulis di
kertas pendaftaran itu, Rey suara bass, aku di tenor dan Japri sebagai alto.
Partitur segera dibagikan dan yang menbuat ku kaget besok langsung audisi
menbaca not. Saat inilah solidaritas kami teruji. Meski beda suara namun kami
terus berlatih bersama saling mendukung.
“do.. re.. mi…” suara melodi yang kami
keluarkan, ternyata membaca not itu menyenangkan juga Meski ada beberapa yang
susah, dan kadang aku salah dalam membaca tanda not tapi kita bertiga tak
menyerah. Kita berusaha sebisa mungkin.
“gais.. lelah juga yah latihan. Terapi dulu
yuks.” Kataku yang mulailelah berlatih seharian. Yang langsung ditimpali rasa
penasaran citra.
“ha! Apa kunteng? Terapi? Yang bener?
Terapi apaan? Dimana?” aduh buset dah.. kelewatan bangat nih orang nanya
biasanya juga satu-satu.
“iya. Terapi ikan. Dekat leb komputer.” Aku
menjelaskan sedetail mungkin. Lucu juga sih biasanya kan yang makan ikan tuh
manusia. Ini ikan yang makan manusia. Hehehe.. lain coy
“wah asik nih. Langsung cebur dah gue.”
Kata citra cewek yang suka aneh itu. Dia langsung membuka sepatunya dan menaruh
kakinya di kolam ikan itu. “aw.! aw! geli.. geli..” kata citra seketika sambil
melompat-lompat. Aku dan rey tertawa geli meihat tingkah citra yang lucu.
“makanya.. kalo bertindak tuh jangan asal.
Sotoy sih lo.” Kata Rey merayu. Wajah citra seketika berubah cemberut lucu
juga.
“udah ah dari pada bertengkar ke kelas lagi
yuk. Latihan lagi kan kita mau audisi ntar.” Kata ku.
Yeah.. sampai di kelas lain lagi yang
dibuat. Rey malah utak-atik kamera. “woi. Foto bareng yuk.” Akhirnya kita malah
sibuk lagi bertiga mengekspresikan gaya-gaya yang super alay. “creg.. creg..”
fotonya unik juga. Orangnya kayak do re mi lagi.
Sekarang jam 3.
OMJ waktu sepertinya begitu cepat. Kita
melangkah ke ruang musik untuk audisi. Di sana telah banyak anak-anak. Waw
banyak juga yang berminat. Di sana kami bertiga saling mendukung sambil hatiku
tercengang. “semangat..”
Akhirnya setelah melakukan audisi dengan
waktu yang panjang. Audisi selesai juga. Tinggal nunggu pengumuman. Dan besok
kita dengar pengumannya. Takut juga.
“wi.. pasti gua gak lolos nih” kata rey dan
citra. Aduh kenapa ni berdua jadi pesimis. Aku jadi terbawa lagi. Tapi besok
baru diterima jawaban yang pasti.
Kami bertiga melangkah ke papan di ruang
musik, banyak sekali anak-anak di sana. Kami mencari nama masing-masing. ‘Arga’
yes namaku ada. ‘rey putra’ yeah rey juga masuk. Dari tadi citra cemberut dan
sedih. “kenapa lo?” “liat aja sendiri” katanya cuek. Di sana tidak ada nama
citra. Sedih sekali rasanya. Seketika air mata citra jatuh, dengan kecewa citra
berlari pulang. Aku sedih melihat sahabatku ini.
“citra tunguin kita dong” kami berlari
mengejar citra dan akhirnya dapat juga. “woi jangan sedih gitu dong. Ini kan
baru tahap pertama lagian kamu juga yang bilag kalo gak lolos anggap aja ini
pengalaman.” “kalian gak tau apa yang aku rasakan karena kalian lolos”
Mulai saat itu citra gak peduli lagi sama
kita, dia pendiam dan tidak seceria dulu, banyak perubahan padanya, dia kini
tidak sesemangat dulu dalam belajar musik, bahkan selalu menutup telinga ketika
mendengar kata musik, jujur kita sedih bangat.
“rey. Aku kasian deh sama Japri.”
“aku juga. Dekati yuks.”
Kita mendekati citra. “Japri lo kok gini
sih.”
“begini apa?”
“lo tuh berubah”
“gak kok. Perasaan kalian aja”
“gak pri. Pri kita ngerti kok gimana
perasaan lo..”
“memangnya perasaan gue gimana?”
“lo pasti sedihkan lo gak lolos, tapi lo
gak boleh nyerah. Lo juga jangan jauhin kita dong kita kan kangan sama lo,
kasian l yang selalu murung gitu, apa lo gak kangan sama kita?”
Sesaat Japri terdiam. Sambil meneteskan air
mata. Aku dan rey menghapus air matanya.
“lo gak boleh nangis, karena air mata lo
adalah luka untuk kita, dan sebagai sahabat kita gak mau liat lo gini terus,
kita sayang sama lo.”
“iya maafin gue yah, gue janji gak akan
murung lagi”
“yeah.. gitu dong.”
Aku dan rey segera memeluk Japri, bahagia
rasnya melihat citra bahagia lagi
MASA SMA
ANDA AKAN BERKENANG JIKA ANDA DAPAT MELEWATI SUKA DUKA BERSAMA SAHABAT….
BY : ARFAN
JEWANDONO XII IPA 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar