Terlalu Percaya Diri
Karya : Dewi Kurniansih
Hai, namaku Nia. Aku adalah seorang
murid di SMPN 8. Sekarang aku sudah kelas 9. Aku akan menceritakan sebuah
peristiwa dalam hidupku yang tak akan pernah aku lupakan.
Aku mempunyai sahabat, bernama, Tia,
Ana, dan April. Kami selalu bersama-sama kemana pun kami pergi. Hari ini
tanggal 21 Oktober 2012, Tia berulang tahun. Aku, Ana, dan April di undang kerumah Tia untuk merayakan ulang
tahunnya.
“ Main kerumahku,yuk? Kita
makan-makan. Mamahku sudah menyiapakan makanan buat kalian.“ , ujar Tia. Tanpa
ragu-ragu, kami serempak menjawab dengan semangat, “ Ayooo “.
Untuk sampai kerumah Tia, kami hanya
memerlukan waktu sekitar 20 menit berjalan kaki. Rumahnya Tia lumayan jauh bagi
yang tidak terbiasa berjalan kaki. Setelah sampai, mamahnya Tia menyambut kami
dengan hangat. “Ayo masuk. Kenapa masih di luar? Tia, ajak teman-teman kamu
masuk.” , kata mamahnya Tia.
“ Iya, tante ” , jawab aku.
Saat didalam rumahnya Tia, “Tadi masa
aku ngeliat cowok ganteng banget, Kayaknya sepantaran sama kita deh.” , kataku.“
Yang mana? Yang tadi lagi nongkrong di depan gang rumahku? ”, Tia menanggapi. “Iya... Benar. Yang itu. Yang tadi lagi nongkrong di
depan gang. “, jawabku. “ Oh … Itu mah
namanya Putra. Dia umurnya satu tahun diatas kita. Dia sekolah di SMPN 23. “, kata Tia menjelaskan. “Oh… Namanya putra” ,
aku mengangguk. "Memangnya kenapa? Kamu naksir ya?”, goda Tia kepadaku.
Tapi aku tidak menanggapinya.
Tak lama setelah aku bercakap-cakap
dengan Tia tentang Putra, mamahnya Tia keluar dari dapur dengan membawa makanan
ringan untuk camilan kami. Setelah itu, beliau menyuruh kami makan siang
bersama-sama. Obrolanku dengan Tia tentang Putra, aku lanjutkan setelah makan
siang selesai.
Kemudian, aku dan Tia
terlibat obrolan panjang tentang Putra. Sementara itu, Astri dan April sibuk
menonton film “ Harry Potter”. Tak terasa, waktu sudah sore. Sudah waktunya
aku, Ana,dan Indah pulang. Kami pun pamitan dengan mamahnya Tia, “Tante, sudah
sore. Kami mau pamit pulang. Maaf kalu kami ngerepotin tante. “ , tutur Ana.
“ Sama sekali enggak ngerepotin kok.
Lain kali main kesini lagi, ya ” , tutur mamahnya Tia .
“ Assalammualaikum “, ucap kami.
“ Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan
ya? “.
“ Iya, tante.”
Saat aku,Ana,dan Indah berjalan
pulang, hendak melewati gang depan rumah
Tia, aku sangat senang dan terkejut. Putra masih nongkrong di sana. Dia sedang
bersama teman-temannya.
Saat esok harinya, pas kami sedang
berkumpul di depan kelas, Tia bilang kepada kami, bahwa salah satu diantara
kami (aku, Ana, April) ada yang Putra sukain. “ Katanya Putra, pas kemarin
kalian main kerumahku, dia melihat ada
cewek yang sesuai sama tipenya dia. Dan Putra bilang, dia suka sama yang pakai baju kotak-kotak. Nah,
masalahnya kemarin ada 2 orang yang pakai baju kotak-kotak. Nia sama April. Aku
enggak tahu yang mana. “ ujar Tia. Aku
berharap orang itu adalah aku. Cewek yang disukain oleh Putra. Hati aku sudah
kesenangan duluan. “ Nanti malam aku tanyain lagi deh sama Putra. Aku kirimin
foto kamu Nia, sama April. “, Tia menjelaskan. Mendengar kata-kata Tia, aku
jadi tidak sabar. Pasti aku. Pasti aku yang cewek yang dimaksud Putra, batinku
berkata.
Pagi harinya, seperti biasa, kami berempat
berkumpul. Tia membuka pembicaraan , “ Aku sudah nanya sama Putra. Ternyata
cewek yang Putra sukain, itu adalah ………” , kalimat Tia terhenti sejenak.
Kemudian dia lanjutkan lagi, “ Cewek yang Putra sukain itu adalah........APRIL.
“
Mendengar jawaban dari Tia itu,
hati aku langsung sakit banget. Bagaimana mungkin. Bagaimana mungkin cewek yang
Putra sukain itu Indah. Indah itu sahabat aku. Tidak mungkin aku benci
kepadanya hanya karena Putra suka kepadanya. Ini bukan salah Indah. Aku sakit hati,
itu semua karena Putra. Selama ini aku sudah sangat percaya diri kalau Putra
menyukaiku. Tapi itu semua salah besar.Aku mencoba tenangkan hatiku.
Perlahan-lahan, tapi pasti. “ Putra minta nomer kamu,tuh. Aku kasih ya? ” ,ucap
Tia. “ Yasudah kasih saja.” , ucap April.
Selama seminggu Putra dan April
kenalan lewat SMS, mereka berdua akhirnya jadian. Kenyataan yang begitu pahit
harus aku terima. Aku harus bisa mengikhlaskan
Putra jadi miliknya April. Harus bisa. Beberapa minggu, setelah kejadian
itu, aku akhirnya bisa melupakan Putra. Aku sekarang sudah benar-benar ikhlas
Putra jadi milik sahabatku,yaitu April.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar