Dendam Ayahku
Oleh : Raisha Putri Mellisa
Dihari yang cerah disaat musim dingin telah usai, negeri
sakura pun kembali dipadati oleh semua orang yang sibuk menjalani kesibukannya
masing – masing. Termasuk aku. Namaku Shinichi. Aku adalah salah satu murid di
SMA Teitan yang saat ini duduk dibangku kelas 2. Prestasiku biasa saja
disekolah, namun aku termasuk murid yang rajin. Aku sering dinilai sebagai anak
yang pendiam. Ya itu benar bagiku, karena menurutku berbicaralah seperlunya.
Walaupun aku pendiam tapi bukan berarti aku tidak punya teman ataupun kurang
dapat bergaul. Aku cukup populer disekolahku. Tapi tidak semua anak yang
mendekatiku kuanggap itu niat yang baik. Karena banyak dari mereka yang
mendekatiku hanya karena mereka tau tentang asal usul keluargaku.
Tentang
keluargaku. Aku tinggal di Apartemen Shirobusa, salah satu apartemen yang
sangat elit. Ayahku adalah seorang direktur utama dari salah satu
perusahan yang cukup besar. Sedangkan
ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dan aku adalah anak tunggal. Ya bisa
dibayangkan. Hidup keluargaku sangatlah berkecukupan walapun hanya ayahku yang
bekerja. Tetapi jabatannya diperusahaan itu tidaklah membuat hidup kami
kekurangan, malah sangat berlebih. Aku juga bukanlah anak yang suka bermegah – megahan
ataupun berfoya – foya seperti remaja lainnya. Akupun pergi kesekolah hanya
dengan berjalan kaki dan naik bus sekolah, tidak dengan mobil mewah atau motor
yang mahal. Keluargaku pun dapat dikatakan sebagai keluarga yang harmonis.
Ibuku yang selalu ada dirumah selalu memerhatikan semua kebutuhanku dan
menyayangiku. Dan juga ayahku, walaupun ia sibuk tapi dia juga sangat sayang
dan peduli terhadapku.
Namun
keluargaku yang harmonis tidak selamanya menjadi keluarga yang harmonis. Suatu
ketika saat aku pulang sedikit larut karena aku harus menyelesaikan tugas
kelompokku terlebih dahulu dirumah salah satu temanku. Dan disaat aku ingin
membuka pintu rumah, dari luar aku mendengar suara rebut dari dalam rumahku.
Itu adalah suara ayah dan ibuku yang sedang bertengkar. Akupun terkejut saat
mendengar kedua orangtuaku bertengkar, karena sebelumnya aku tidak ernah
mendengar mereka bertengkar bahkan sampai sehebat ini. Akupun tidak berani
untuk membuka pintu dan masuk kedalam rumahku sendiri karena adanya pertengkaran
tersebut. Dan aku hanya bisa mendengarnya dari luar.
Dan setelah
aku mendengar keributan mereka didalam aku akhirnya mengetahui kalau awal dari
pertengkaran itu adalah karena ayahku yang memergoki ibuku yang sedang
berselingkuh dengan pria lain.
Kenapa? Kenapa bu?. Akupun memutuskan untuk masuk ke dalam
rumah. Dan saat aku memasuki rumah, aku melihat ibuku yang sudah duduk dilantai
sambil menangis dan ayahku yang berdiri disampingnya dengan muka yang menahan
marah. Akupun langsung menghampiri ibuku dan langsung memeluknya.
“Kenapa ibu
seperti ini? Kenapa ibu selingkuh?” Tanyaku ke ibu yang masih menangis sambil
aku memeluknya. Namun ibu terus diam dan hanya menangis. Selama ibu diam selama
mereka bertengkar aku belum sekalipun mendengar ibuku menyesali perbuatannya
ataupun berkata maaf untuk apa yang telah diperbuat. Entah apa yang ada dipikirannya. Apa
tujuannya untuk melakukan hal keji seperti itu. Seketika ayah pergi ke arah
dapur dan meninggalkan kami berdua, entah apa yang ia lakukan. Aku tidak memikirkannya.
Aku masih sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan keluargaku yang sekarang yang
dulunya harmonis.
“Menjauhlah
dari ibumu ini, Shinichi”, ucap ayahku sekembalinya dari dapur. Akupun
menurutinya dan menjauhi ibuku. Berjaga jarak dengannya. Kulihat ayah membawa
pisau dapur yang besar dan terlihat sangat tajam. Akupun mengerti apa maksud
ayah. “Jangan ayah jangannnn kumohon...” pintaku dengan sangat kepada ayah.
Namun sepertinya ayah sudah sangat dalam menyimpan emosinya yang mendalam. Dan
tanpa berpikir panjang, ayah membunuh ibuku didepan mataku. Aku pun sempat
menutup mataku karena tidak sanggup melihatnya. Aku bingung harus bagaimana.
Hanya trauma yang sepertinya akan membekas pada diriku. Melihat ayahku membunuh
ibuku sendiri didepan mataku langsung.
Sebulan
pun telah berlalu. Setelah pemakaman ibuku. Tidak ada yang menyadari ataupun
menyelidiki penyebab kematian ibuku atau siapa yang membunuh ibuku. Sehingga
ayahku dan juga aku tetap bisa menjalani hidup kami seperti biasanya. Walau sekarang
tanpa ibuku. Rumah menjadi sepi. Tidak ada makanan yang tersedia lagi dirumah.
Ayah menyuruhku memesan makanan dari luar untuk makanan kami dirumah. Aku dan
ayah pun menjadi saling diam. Seperti tidak ada kasih sayang lagi di rumah ini.
Ayahku sibuk dengan pekerjaannya dan uang jajanku selalu ditrasfer olehnya
setiap minggu untuk uang jajanku dan keperluanku disekolah. Aku dan ayah
menjadi jarang untuk berkomunikasi, kecuali jika ada pemberitahuan dari sekolah
untuk wali murid. Aku baru membicarakannya dengan ayah. Selain itu tidak ada
alasan bagiku atau ayah untuk saling berbicara.
Untuk
membantuku dalam proses belajar disekolah. Aku memilih salah seorang guru
privat yang bersedia untuk datang ke rumahku dan mengajariku. Namanya ibu Haruka.
Ia sangat keibuan. Aku sangat menyukainya untuk menjadi guru privatku. Setiap 3
hari dalam sepekan aku privat dengannya. Salah satunya dihari Sabtu. Dan saat
aku privat dengannya dihari Sabtu, kebetulan juga ada ayahku yang sedang libur
kerja. Saat aku sedang belajar dengan Bu Haruka di ruang tamu, kulihat ayah
memandangi kami dari arah dapur. Berulang kali ia melewati kami yang sedang ada
diruang tamu dan kulihat ayah melihat sinis kepada Bu Haruka. Karena rasa
penasaranku, disaat jam privatku telah usai dan Bu Haruka sudah pulang, aku
menghampiri ayahku di dapur.
"Mengapa ayah melihat Bu Haruka
seperti itu?"aku bertanya kepada ayah namun ayah hanya menjawab "tak
apa" sambil tetap menyibukkan dirinya dengan hp nya. Dan kurasa itu
jawaban yang sudah sangat cukup buatku. Akupun berusaha untuk tidak
memikirkannya. Akuoun kembali ke kamarku. Istirahat dikamarku. Sendirian. Tanpa
ibu. Biasanya dihari libur seperti ini ibu selalu memanjakanku dengan camilan
buatannya atau dengan kehangatan kasih sayangnya. Tetapi sekarang ibu sudah
tiada dan aku harus merelakannya.
Minggu depan dihari Sabtu seperti
biasa jam privatku, Bu Haruka pun datang kembali kerumahku untuk mengajariku.
Dan ditengah pembelajaranku bersama Bu Haruka, ayah memanggilku.
"Shinichi, kesini sebentar"suruh
ayah kepadaku. Akupun dengan cepat menghampirinya.
"Kenapa ayah?" tanyaku
kepada ayah dengan rasa bingung. Karena tidak biasanya ayah memanggilku seperti
ini.
"Aku ingin membunuhnya"
jawab ayah yang membuatku jantungku seakan berhenti sejenak.
"Apa aku tidak salah mendengar
ucapan ayah barusan?" tanyaku untuk meminta kejelasan.
"Ya aku ingin membunuh guru
privatmu itu. Karena sejak lalu setiap aku melihatnya aku selalu teringat oleh
ibumu yang sudah mengkhianati ayah. Aku benci jika mengingatnya" jelas
ayah.
"Kenapa Bu Haruka? Apa salah dia?
Dia hanya seoeang guru privatku" tanyaku. Aku bingun kenapa seketika
ayahku menjadi menggila seperti ini. Mengapa ia menjadi seperti ketagihan untuk
membunuh? Dia sudah gila bagiku.
"Bantu aku"pinta ayah.
"Tidak. Aku tidak ingin
membantumu" dengan cepat aku menolak perintah ayah.
"Harus. Atau kamu juga akan
kubunuh" ayahku mengancamku. Kakiku rasanya bergetar. Seperti tidak ada
pilihan lain selain menuruti perintah kekejaman ayahku. Aku seperti menjadi
asisten pembunuhnya.
"Jangan pernah kamu lapor pihak
keamanan ataupun kepolisisan karena kamu tidak akan bisa hidup tanpa
keberadaanku. Kamu tidak punya apa - apa shinichi jika aku tidak ada. Jadi
tidak udah berusaha untuk menjadi pahlawan." Ancam ayah kepadaku yang
membuat kakiku semakin bergetar dibuatnya. Akupun hanya bisa mengangguk.
Mengiyakan permintaan ayahku.
"Sekarang tugasmu adalah melihat
situasi rumah kita sekitar. Menjaganya. Agar tidak ada seorangpun yang curiga.
Aku akan tanggungjawab dengan semua ini. Kau tidak akan dalam situasi bahaya
selama kamu menuruti perintah ayahmu ini" lanjut ayahku menyuruhku untuk
melakukan semua perintahnya.
Aku pun keluar rumah dan melihat
situasi apartemen. Dan saat aku kembali masuk rumah san menutup pintu. Bu
Haruka bertanya kepadaku.
"Ada apa shinichi?"tanyanya.
"Tidak apa bu aku hanya melihat
lihat saja" jawabku membohongi Bu Haruka agar ia tidak curiga. Dan akupun
permisi untuk ke aeah beranda sebentar. Niatku ke beranda karna aku tidak mau
lagi melihat kekejaman ayahku saat membunuh. Maka aku memilih untuk berjaga
saja di beranda.
Tidak lama aku berdiam di beranda,
ayahku pun memanggilku dan aku masuk kembali ke dalam. Kulihat Bu Haruka, guru
yang setia mengajariku dengan penuh kasih sayang selama ini, sekarang sudah
terlentang tak berdaya dengan pisau didadanya dan sekitarnya yang berlumuran
darah. Dan kulihat ayah berdiri disampingnya dengan ekspresi wajahnya yang
sangat puas. Aku tak pernah berpikir sekalipun akan punya ayah yabg sekejam
ini.
"Lalu kita apakan dia?"
tanyaku kepada ayah untuk kelanjutan proses pembunuhannya. Karna tidak mungkin
jika dirumah ini ada yang meninggal karna dibunuh tanpa diketahui penyebab dan
pelakunya.
"Kita bawa dia ke gudang. Disana
aku akan memisahkan organ tubuh yang bisa sangat berharga untuk dijual."
Balas ayah dengan senyumnya yang sangat lebar.
Aku terkejut mendengarnya. Apakah
kurang gajinya selama ini hingga harus membunuh dan menjual organ tubuh sesama
manusia. Dia sudah gila. Keji. Ia manusia paling kejam dimuka bumi bagiku.
Tanpa ada pilihan akupun mengikuti semua permainan dia. Dan bergegas
membersihkan lantai yang berceran darah.
Setelah kejadian itu aku tidak lagi
memiliki guru privat. Tidak lagi berurusan dengan wanita. Tidak lagi. Aku tidak
mau korban ayah bertambah lagi.
Hingga suatu hari, ketika aku sedang
bermain dengan hp ku dikamar dan melihat berita dari salah satu situs yang aku
buka, telah terjadi pembunuhan di wilayah tidak jauh dari apartemen tempatku
tinggal. Pelaku belum diketahui dan korbannya adalah seorang wanita. Akupun
langsung terbayang wujud ayahku. Si pembunuh keji. Aku ingin dia cepat pulang
untuk menanyakan ini semua.
Dan akhirnya terdengar suara pintu
rumah terbuka dan akupun bergegas keluar dari kamar dan menghampiri ayahku.
"Apakah ini perbuatanmu?"
tanyaku langsung kepadanya dengan menunjukkan layar hp ku yang menunjukkan
situs berita yang barusan aku baca.
Dan ayahku pun hanya membalas
pertanyaanku dengan satu anggukan.
"Kau sudah gila!"bentakku
padanya.
"Beraninya kau berkata seperti
itu kepada ayahmu sendiri? Siapa yang gila? Aku atau ibumu?" tanya ayahku.
Akupun tidak bisa menjawabnya. Aku
bingung harus apa.
Kebesokkannya hari Minggu, aku pergi
kerumah temanku, Genta. Lebih tepatnya dia adalah sahabatku. Sudah lama aku
berteman dengannya. Sejak duduk dibanku sekolah dasar. Walau kita beda sekolah
tetapi aku dengannya tetaplah sahabat. Sebelumnya aku tidak pernah cerita
tentang apa yang telah terjadi dikeluargaku. Yang orang lain termasuk dia hanya
mengetahui keluargaku tetaplah keluarga yang sangat kaya dan mereka menganggap
ibuku meninggal karna sakit. Penilaian orang lain terhadap keluargaku tidak
seperti kenyataannya. Dan sekarang aku sedang menuju ke rumah Joon berniat
untuk curhat berkeluh kesah dan menceritakan semuanya secara terbuka kepadanya.
Aku yakin dia adalah orang yang dapat aku percaya.
"Aku ingin bercerita padamu. Tapi
janjilah sebelumnya kepadaku kalau kamu tidak akan membongkar ataupun menyebar
ceritaku ini kepada siapapun. Anggaplah ini adalah sebuah rahasia antara
persahabatan kita" ucapku mengawali curhatanku agar Joon berjanji dahulu
kepadaku.
Dan dia pun menuruti kemauanku untuk
menganggap ini adalah sebuah rahasia diantara kami. Ia memang sangat bisa di
andalkan. Joon, sahabatku. Dan aku pun menceritakan semuanya kepada Joon.
Saat aku selesai bercerita, kulihat
muka Joon yang sangat susah untuk dideskripsikan. Dia hanya bengong dengan muka
kebingungan.
"Kamu serius?" tanya Joon
kepadaku. Dan aku pun hanya menunduk saja sambil menggangguk untuk menjawab
pertanyaan Joon. Seketika kita menjadi saling diam. Dan tiba-tiba Joon menepuk
pundakku.
"Semua ini harus kita
hentikan"kata Joon.
"Tidak semudah itu" jawabku.
"Mengapa? Kita tinggal
menghubungi polisi dan membuka kejahatan ayahmu" ujarnya.
"Tidak bisa. Kemungkinan ayah akan
membawaku juga untuk terseret ke dalam hukum. Karena aku telah membantunya dan
melindungi penjahat sepertinya. Dan ayah telah mengancamku kalau aku berani
menghubungi polisi untuk mengadukan kejahatan ia selama ini, ia akan
membunuhku" jelasku kepada Joon.
Setelah berbincang sangat penjang
dengan Joon. Dan berakhir dengan tidak adanya solusi untuk mengakhiri ini
semua. Aku pun pamit untuk pulang. Karena hari sudah mulai gelap. Walaupun
tidak ada solusi namun cukup bagiku karena Joon telah bersedia sebagai tempat
curhatanku. Aku berjalan kaki untum pulang kerumah. Aku berjalan sambil
memikirkan keadaan keluargaku sekarang. Aku pun melamun. Dan tiba - tiba ada
suara klakson yang sangat kencang semakin mendekatiku dan seketika aku tidak
tau apa yang telah terjadi.
Saat aku terbangun. Aku menyadari
bahwa aku sekarang sudah berada di rumah sakit. Dan disitu aku melihat Haibara.
Haibara adalah perempuan yang kusukai. Kita saling suka tetapi kita tidak
berencana untuk pacaran. Karena kita ingin fokus dulu untuk prestasi kami
disekolah. Akupun senang ada dia sekarang disampingku. Sekarang aku merasa
sangat nyaman jika ada dia. Tidak ada lagi beban yang kupikirkan. Dengan
melihat Haibara saja aku merasa hidupku menjadi indah kembali.
"Kamu tadi kecelakaan. Ditabrak mobil.
Katanya kamu melamun. Untung saja kamu tidak apa" kata Haibara memecahkan
lamunanku.
"Ohiya? Aku tidak ingat apapun.
Yang aku ingat hanya suara klakson yang sangat kencang"ujarku.
"Apa yang kamu pikirkan Shinichi?
Itu sangat berbahaya untukmu" kata haibara mengkhawatirkanku.
"Entahlah" jawabku sambil
tersenyum. Karna aku tak mungkin menceritakan kepadanya.
Setelah sekian lama Haibara menemaniku
di rumah sakit. Karena malam yang sudah mulai larut, aku pun memintanya untuk
kembali kerumah. Dan ia pun pamit untuk pulang. Tak lama kemudian ayahku
datang. Tak lama setelah kepulangan Haibara. Mungkin tidak sampai 5 menit.
"Siapa dia?" tanya ayahku
saat baru datang.
"Siapa yang ayah maksud?"
tanyaku pada ayah.
"Perempuan yang barusan
menjengukmu itu" jelas ayahku.
"Oh dia adalah teman kelasku.
Kebetulan dia lah orang yang membantuku saat terjadi kecelakaan"jelasku
padanya.
Ayah hanya tersenyum mendengar
penjelasanku tentang siapa Haibara. Dan aku mulai memiliki perasaan tidak enak
kepada ayah.
"Aku menyukainya" perkataan
ayah yang mendadak membuatku hatiku seperti tersayat. Bukan karena ia menyukai
juga perempuan yabg kusukai. Tapi karena aku mengetahui apa maksud ayah
sebenarnya. Maksud ayah adalah ia ingin membunuh Haibara.
"Apa lagi yang ingin ayah
lakukan?" tanyaku dengan memasang wajah kesal terhadapnya.
"Wajahnya terlalu mirip dengan
ibumu. Aku benci melihatnya"ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak akan mengizinkanmu
menyentuhnya" ancamku padanya.
"Apa kau menyukainya?"tanya
ayahku.
"Aku tidak akan membiarkanmu
menyentuh temanku"jelasku.
Dan dia hanya tersenyum saja.
Sedangkan aku menjadi khawatir dengan Haibara. Aku tidak ingin Haibara menjadi
korban dari kekejaman ayahku juga.
Setelah aku pulih san keluar dari
rumah sakit. Aku kembali mendatangi Joon. Dan aku menceritakan semua kepada
Joon. Tentang ayahkau yang sekarang mengincar Joon. Joon pun membantuku untuk
berpikir bagaimana jalan keluarnya. Namun kali ini juga tidak ada solusinya.
Akupun kembali kerumahku.
Sabtu di pagi hari, tiba - tiba ayah
mengajakku berlibur ke pegunungan tinggi untuk kemping. Jarang sekali ayah
mengajakku berlibur. Dan dia memintaku untuk mengajak Haibara juga. Aku pun
tersentak medengar permintaan ayah untuk mengajak Haibara.
"Tidak" tolakku atas
permintaan ayah.
"Harus" tegasnya.
Aku tidak punya pilihan. Aku pun
mengajak Haibara dan dia memenuhinya. Aku pun menjadi khawatir tetapi aku
berjanji akan melindungi Haibara.
Disaat kami sedang berkemas, bersiap
untuk berlibur aku melihat ayahku didapur yang sedang membersihkan pisau yang
biasa dia pakasi untuk membunuh. Pisau yang sangat tajam. Dan aku pun sangat
yakin bahwa ia akan membunuh Haibara. Aku pun semakin mengtekadkan didalam
hatiku kalah aku akan melindungi Haibara. Bagaimanapun caranya.
Saat sampai di pegunungan tinggi. Aku
selalu memerhatikan gerak ayahku. Aku akan melindungi Haibara. Sambil berlibur,
untuk menikmati liburan yang singkat ini aku ingin berfoto dengan haibara
dengan latar pegunungan yang sangat indah. Aku pun meminta tolong ayah untuk
memotret kami berdua. Kami pun mengambil posisi untuk berfoto. Dan aku
memerintahkan ayahku untuk lebih mundur dan mundur agar latar pegunungan lebih terlihat. Namun saat aku menyuruh ayah
untuk mundur. Ayah terpeleset. Dan jatuh ke jurang yang sangat curam. Aku pun
menghampiri ayah dan kulihat ayah telah kehilangan nyawanya karena kepalanya
yang terbentur oleh batu besar. Aku menatap ayahku yang telah mati. Aku bingung
harus senang atau sedih. Setelah apa yang selama ini telah ia perbuat.
Setelah pemakaman ayah aku kembali ke
apartemen, ditemani Haibara dan Joon.
"Kamu aman sekarang" ucap
Joon sambil menepuk bahuku.
Sedkkit ada rasa lega didalam hatiku.
Beban dan tekanan yang selama ini tersimpan dihatiku sekarang seperti lenyap
sudah tidak ada lagi. Rumah pun menjadi sangat sepi hanya aku seorang. Tetapi
sekarang teman - temanku menjadi sering bermain kerumahku. Kuajak mereka agar
aku tidak kesepian.
Setelah kelulusan SMA, aku
menggantikan kedudukan ayah diperusahaan. Dan aku menikahi Haibara untuk
menjadi pendamping hidupku. Kita tetap menjalani pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi. Tetapi sekarang status kami adalah suami dan istri. Aku
menghidupi keluarga kecil kami dan membahagiakan keluargaku dengan kekayaan
peninggalan ayahku dan dari hasil kerja kerasku sebagai direktur utama
diperusahaan ayah.
~END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar