Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Dendam Ayahku

Dendam Ayahku
Oleh : Raisha Putri Mellisa

            Dihari yang cerah disaat musim dingin telah usai, negeri sakura pun kembali dipadati oleh semua orang yang sibuk menjalani kesibukannya masing – masing. Termasuk aku. Namaku Shinichi. Aku adalah salah satu murid di SMA Teitan yang saat ini duduk dibangku kelas 2. Prestasiku biasa saja disekolah, namun aku termasuk murid yang rajin. Aku sering dinilai sebagai anak yang pendiam. Ya itu benar bagiku, karena menurutku berbicaralah seperlunya. Walaupun aku pendiam tapi bukan berarti aku tidak punya teman ataupun kurang dapat bergaul. Aku cukup populer disekolahku. Tapi tidak semua anak yang mendekatiku kuanggap itu niat yang baik. Karena banyak dari mereka yang mendekatiku hanya karena mereka tau tentang asal usul keluargaku.

          Tentang keluargaku. Aku tinggal di Apartemen Shirobusa, salah satu apartemen yang sangat elit. Ayahku adalah seorang direktur utama dari salah satu perusahan  yang cukup besar. Sedangkan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dan aku adalah anak tunggal. Ya bisa dibayangkan. Hidup keluargaku sangatlah berkecukupan walapun hanya ayahku yang bekerja. Tetapi jabatannya diperusahaan itu tidaklah membuat hidup kami kekurangan, malah sangat berlebih. Aku juga bukanlah anak yang suka bermegah – megahan ataupun berfoya – foya seperti remaja lainnya. Akupun pergi kesekolah hanya dengan berjalan kaki dan naik bus sekolah, tidak dengan mobil mewah atau motor yang mahal. Keluargaku pun dapat dikatakan sebagai keluarga yang harmonis. Ibuku yang selalu ada dirumah selalu memerhatikan semua kebutuhanku dan menyayangiku. Dan juga ayahku, walaupun ia sibuk tapi dia juga sangat sayang dan peduli terhadapku.
          Namun keluargaku yang harmonis tidak selamanya menjadi keluarga yang harmonis. Suatu ketika saat aku pulang sedikit larut karena aku harus menyelesaikan tugas kelompokku terlebih dahulu dirumah salah satu temanku. Dan disaat aku ingin membuka pintu rumah, dari luar aku mendengar suara rebut dari dalam rumahku. Itu adalah suara ayah dan ibuku yang sedang bertengkar. Akupun terkejut saat mendengar kedua orangtuaku bertengkar, karena sebelumnya aku tidak ernah mendengar mereka bertengkar bahkan sampai sehebat ini. Akupun tidak berani untuk membuka pintu dan masuk kedalam rumahku sendiri karena adanya pertengkaran tersebut. Dan aku hanya bisa mendengarnya dari luar.
          Dan setelah aku mendengar keributan mereka didalam aku akhirnya mengetahui kalau awal dari pertengkaran itu adalah karena ayahku yang memergoki ibuku yang sedang berselingkuh dengan pria lain.
Kenapa? Kenapa bu?. Akupun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dan saat aku memasuki rumah, aku melihat ibuku yang sudah duduk dilantai sambil menangis dan ayahku yang berdiri disampingnya dengan muka yang menahan marah. Akupun langsung menghampiri ibuku dan langsung memeluknya.
          “Kenapa ibu seperti ini? Kenapa ibu selingkuh?” Tanyaku ke ibu yang masih menangis sambil aku memeluknya. Namun ibu terus diam dan hanya menangis. Selama ibu diam selama mereka bertengkar aku belum sekalipun mendengar ibuku menyesali perbuatannya ataupun berkata maaf untuk apa yang telah diperbuat. Entah apa yang ada dipikirannya. Apa tujuannya untuk melakukan hal keji seperti itu. Seketika ayah pergi ke arah dapur dan meninggalkan kami berdua, entah apa yang ia lakukan. Aku tidak memikirkannya. Aku masih sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan keluargaku yang sekarang yang dulunya harmonis.
          “Menjauhlah dari ibumu ini, Shinichi”, ucap ayahku sekembalinya dari dapur. Akupun menurutinya dan menjauhi ibuku. Berjaga jarak dengannya. Kulihat ayah membawa pisau dapur yang besar dan terlihat sangat tajam. Akupun mengerti apa maksud ayah. “Jangan ayah jangannnn kumohon...” pintaku dengan sangat kepada ayah. Namun sepertinya ayah sudah sangat dalam menyimpan emosinya yang mendalam. Dan tanpa berpikir panjang, ayah membunuh ibuku didepan mataku. Aku pun sempat menutup mataku karena tidak sanggup melihatnya. Aku bingung harus bagaimana. Hanya trauma yang sepertinya akan membekas pada diriku. Melihat ayahku membunuh ibuku sendiri didepan mataku langsung.
           Sebulan pun telah berlalu. Setelah pemakaman ibuku. Tidak ada yang menyadari ataupun menyelidiki penyebab kematian ibuku atau siapa yang membunuh ibuku. Sehingga ayahku dan juga aku tetap bisa menjalani hidup kami seperti biasanya. Walau sekarang tanpa ibuku. Rumah menjadi sepi. Tidak ada makanan yang tersedia lagi dirumah. Ayah menyuruhku memesan makanan dari luar untuk makanan kami dirumah. Aku dan ayah pun menjadi saling diam. Seperti tidak ada kasih sayang lagi di rumah ini. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya dan uang jajanku selalu ditrasfer olehnya setiap minggu untuk uang jajanku dan keperluanku disekolah. Aku dan ayah menjadi jarang untuk berkomunikasi, kecuali jika ada pemberitahuan dari sekolah untuk wali murid. Aku baru membicarakannya dengan ayah. Selain itu tidak ada alasan bagiku atau ayah untuk saling berbicara.
           Untuk membantuku dalam proses belajar disekolah. Aku memilih salah seorang guru privat yang bersedia untuk datang ke rumahku dan mengajariku. Namanya ibu Haruka. Ia sangat keibuan. Aku sangat menyukainya untuk menjadi guru privatku. Setiap 3 hari dalam sepekan aku privat dengannya. Salah satunya dihari Sabtu. Dan saat aku privat dengannya dihari Sabtu, kebetulan juga ada ayahku yang sedang libur kerja. Saat aku sedang belajar dengan Bu Haruka di ruang tamu, kulihat ayah memandangi kami dari arah dapur. Berulang kali ia melewati kami yang sedang ada diruang tamu dan kulihat ayah melihat sinis kepada Bu Haruka. Karena rasa penasaranku, disaat jam privatku telah usai dan Bu Haruka sudah pulang, aku menghampiri ayahku di dapur.
"Mengapa ayah melihat Bu Haruka seperti itu?"aku bertanya kepada ayah namun ayah hanya menjawab "tak apa" sambil tetap menyibukkan dirinya dengan hp nya. Dan kurasa itu jawaban yang sudah sangat cukup buatku. Akupun berusaha untuk tidak memikirkannya. Akuoun kembali ke kamarku. Istirahat dikamarku. Sendirian. Tanpa ibu. Biasanya dihari libur seperti ini ibu selalu memanjakanku dengan camilan buatannya atau dengan kehangatan kasih sayangnya. Tetapi sekarang ibu sudah tiada dan aku harus merelakannya.
Minggu depan dihari Sabtu seperti biasa jam privatku, Bu Haruka pun datang kembali kerumahku untuk mengajariku. Dan ditengah pembelajaranku bersama Bu Haruka, ayah memanggilku.
"Shinichi, kesini sebentar"suruh ayah kepadaku. Akupun dengan cepat menghampirinya.
"Kenapa ayah?" tanyaku kepada ayah dengan rasa bingung. Karena tidak biasanya ayah memanggilku seperti ini.
"Aku ingin membunuhnya" jawab ayah yang membuatku jantungku seakan berhenti sejenak.
"Apa aku tidak salah mendengar ucapan ayah barusan?" tanyaku untuk meminta kejelasan.
"Ya aku ingin membunuh guru privatmu itu. Karena sejak lalu setiap aku melihatnya aku selalu teringat oleh ibumu yang sudah mengkhianati ayah. Aku benci jika mengingatnya" jelas ayah.
"Kenapa Bu Haruka? Apa salah dia? Dia hanya seoeang guru privatku" tanyaku. Aku bingun kenapa seketika ayahku menjadi menggila seperti ini. Mengapa ia menjadi seperti ketagihan untuk membunuh? Dia sudah gila bagiku.
"Bantu aku"pinta ayah.
"Tidak. Aku tidak ingin membantumu" dengan cepat aku menolak perintah ayah.
"Harus. Atau kamu juga akan kubunuh" ayahku mengancamku. Kakiku rasanya bergetar. Seperti tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah kekejaman ayahku. Aku seperti menjadi asisten pembunuhnya.
"Jangan pernah kamu lapor pihak keamanan ataupun kepolisisan karena kamu tidak akan bisa hidup tanpa keberadaanku. Kamu tidak punya apa - apa shinichi jika aku tidak ada. Jadi tidak udah berusaha untuk menjadi pahlawan." Ancam ayah kepadaku yang membuat kakiku semakin bergetar dibuatnya. Akupun hanya bisa mengangguk. Mengiyakan permintaan ayahku.
"Sekarang tugasmu adalah melihat situasi rumah kita sekitar. Menjaganya. Agar tidak ada seorangpun yang curiga. Aku akan tanggungjawab dengan semua ini. Kau tidak akan dalam situasi bahaya selama kamu menuruti perintah ayahmu ini" lanjut ayahku menyuruhku untuk melakukan semua perintahnya.
Aku pun keluar rumah dan melihat situasi apartemen. Dan saat aku kembali masuk rumah san menutup pintu. Bu Haruka bertanya kepadaku.
"Ada apa shinichi?"tanyanya.
"Tidak apa bu aku hanya melihat lihat saja" jawabku membohongi Bu Haruka agar ia tidak curiga. Dan akupun permisi untuk ke aeah beranda sebentar. Niatku ke beranda karna aku tidak mau lagi melihat kekejaman ayahku saat membunuh. Maka aku memilih untuk berjaga saja di beranda.
Tidak lama aku berdiam di beranda, ayahku pun memanggilku dan aku masuk kembali ke dalam. Kulihat Bu Haruka, guru yang setia mengajariku dengan penuh kasih sayang selama ini, sekarang sudah terlentang tak berdaya dengan pisau didadanya dan sekitarnya yang berlumuran darah. Dan kulihat ayah berdiri disampingnya dengan ekspresi wajahnya yang sangat puas. Aku tak pernah berpikir sekalipun akan punya ayah yabg sekejam ini.
"Lalu kita apakan dia?" tanyaku kepada ayah untuk kelanjutan proses pembunuhannya. Karna tidak mungkin jika dirumah ini ada yang meninggal karna dibunuh tanpa diketahui penyebab dan pelakunya.
"Kita bawa dia ke gudang. Disana aku akan memisahkan organ tubuh yang bisa sangat berharga untuk dijual." Balas ayah dengan senyumnya yang sangat lebar.
Aku terkejut mendengarnya. Apakah kurang gajinya selama ini hingga harus membunuh dan menjual organ tubuh sesama manusia. Dia sudah gila. Keji. Ia manusia paling kejam dimuka bumi bagiku. Tanpa ada pilihan akupun mengikuti semua permainan dia. Dan bergegas membersihkan lantai yang berceran darah.
Setelah kejadian itu aku tidak lagi memiliki guru privat. Tidak lagi berurusan dengan wanita. Tidak lagi. Aku tidak mau korban ayah bertambah lagi.
Hingga suatu hari, ketika aku sedang bermain dengan hp ku dikamar dan melihat berita dari salah satu situs yang aku buka, telah terjadi pembunuhan di wilayah tidak jauh dari apartemen tempatku tinggal. Pelaku belum diketahui dan korbannya adalah seorang wanita. Akupun langsung terbayang wujud ayahku. Si pembunuh keji. Aku ingin dia cepat pulang untuk menanyakan ini semua.
Dan akhirnya terdengar suara pintu rumah terbuka dan akupun bergegas keluar dari kamar dan menghampiri ayahku.
"Apakah ini perbuatanmu?" tanyaku langsung kepadanya dengan menunjukkan layar hp ku yang menunjukkan situs berita yang barusan aku baca.
Dan ayahku pun hanya membalas pertanyaanku dengan satu anggukan.
"Kau sudah gila!"bentakku padanya.
"Beraninya kau berkata seperti itu kepada ayahmu sendiri? Siapa yang gila? Aku atau ibumu?" tanya ayahku.
Akupun tidak bisa menjawabnya. Aku bingung harus apa.
Kebesokkannya hari Minggu, aku pergi kerumah temanku, Genta. Lebih tepatnya dia adalah sahabatku. Sudah lama aku berteman dengannya. Sejak duduk dibanku sekolah dasar. Walau kita beda sekolah tetapi aku dengannya tetaplah sahabat. Sebelumnya aku tidak pernah cerita tentang apa yang telah terjadi dikeluargaku. Yang orang lain termasuk dia hanya mengetahui keluargaku tetaplah keluarga yang sangat kaya dan mereka menganggap ibuku meninggal karna sakit. Penilaian orang lain terhadap keluargaku tidak seperti kenyataannya. Dan sekarang aku sedang menuju ke rumah Joon berniat untuk curhat berkeluh kesah dan menceritakan semuanya secara terbuka kepadanya. Aku yakin dia adalah orang yang dapat aku percaya.
"Aku ingin bercerita padamu. Tapi janjilah sebelumnya kepadaku kalau kamu tidak akan membongkar ataupun menyebar ceritaku ini kepada siapapun. Anggaplah ini adalah sebuah rahasia antara persahabatan kita" ucapku mengawali curhatanku agar Joon berjanji dahulu kepadaku.
Dan dia pun menuruti kemauanku untuk menganggap ini adalah sebuah rahasia diantara kami. Ia memang sangat bisa di andalkan. Joon, sahabatku. Dan aku pun menceritakan semuanya kepada Joon.
Saat aku selesai bercerita, kulihat muka Joon yang sangat susah untuk dideskripsikan. Dia hanya bengong dengan muka kebingungan.
"Kamu serius?" tanya Joon kepadaku. Dan aku pun hanya menunduk saja sambil menggangguk untuk menjawab pertanyaan Joon. Seketika kita menjadi saling diam. Dan tiba-tiba Joon menepuk pundakku.
"Semua ini harus kita hentikan"kata Joon.
"Tidak semudah itu" jawabku.
"Mengapa? Kita tinggal menghubungi polisi dan membuka kejahatan ayahmu" ujarnya.
"Tidak bisa. Kemungkinan ayah akan membawaku juga untuk terseret ke dalam hukum. Karena aku telah membantunya dan melindungi penjahat sepertinya. Dan ayah telah mengancamku kalau aku berani menghubungi polisi untuk mengadukan kejahatan ia selama ini, ia akan membunuhku" jelasku kepada Joon.
Setelah berbincang sangat penjang dengan Joon. Dan berakhir dengan tidak adanya solusi untuk mengakhiri ini semua. Aku pun pamit untuk pulang. Karena hari sudah mulai gelap. Walaupun tidak ada solusi namun cukup bagiku karena Joon telah bersedia sebagai tempat curhatanku. Aku berjalan kaki untum pulang kerumah. Aku berjalan sambil memikirkan keadaan keluargaku sekarang. Aku pun melamun. Dan tiba - tiba ada suara klakson yang sangat kencang semakin mendekatiku dan seketika aku tidak tau apa yang telah terjadi.
Saat aku terbangun. Aku menyadari bahwa aku sekarang sudah berada di rumah sakit. Dan disitu aku melihat Haibara. Haibara adalah perempuan yang kusukai. Kita saling suka tetapi kita tidak berencana untuk pacaran. Karena kita ingin fokus dulu untuk prestasi kami disekolah. Akupun senang ada dia sekarang disampingku. Sekarang aku merasa sangat nyaman jika ada dia. Tidak ada lagi beban yang kupikirkan. Dengan melihat Haibara saja aku merasa hidupku menjadi indah kembali.
"Kamu tadi kecelakaan. Ditabrak mobil. Katanya kamu melamun. Untung saja kamu tidak apa" kata Haibara memecahkan lamunanku.
"Ohiya? Aku tidak ingat apapun. Yang aku ingat hanya suara klakson yang sangat kencang"ujarku.
"Apa yang kamu pikirkan Shinichi? Itu sangat berbahaya untukmu" kata haibara mengkhawatirkanku.
"Entahlah" jawabku sambil tersenyum. Karna aku tak mungkin menceritakan kepadanya.
Setelah sekian lama Haibara menemaniku di rumah sakit. Karena malam yang sudah mulai larut, aku pun memintanya untuk kembali kerumah. Dan ia pun pamit untuk pulang. Tak lama kemudian ayahku datang. Tak lama setelah kepulangan Haibara. Mungkin tidak sampai 5 menit.
"Siapa dia?" tanya ayahku saat baru datang.
"Siapa yang ayah maksud?" tanyaku pada ayah.
"Perempuan yang barusan menjengukmu itu" jelas ayahku.
"Oh dia adalah teman kelasku. Kebetulan dia lah orang yang membantuku saat terjadi kecelakaan"jelasku padanya.
Ayah hanya tersenyum mendengar penjelasanku tentang siapa Haibara. Dan aku mulai memiliki perasaan tidak enak kepada ayah.
"Aku menyukainya" perkataan ayah yang mendadak membuatku hatiku seperti tersayat. Bukan karena ia menyukai juga perempuan yabg kusukai. Tapi karena aku mengetahui apa maksud ayah sebenarnya. Maksud ayah adalah ia ingin membunuh Haibara.
"Apa lagi yang ingin ayah lakukan?" tanyaku dengan memasang wajah kesal terhadapnya.
"Wajahnya terlalu mirip dengan ibumu. Aku benci melihatnya"ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuhnya" ancamku padanya.
"Apa kau menyukainya?"tanya ayahku.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh temanku"jelasku.
Dan dia hanya tersenyum saja. Sedangkan aku menjadi khawatir dengan Haibara. Aku tidak ingin Haibara menjadi korban dari kekejaman ayahku juga.
Setelah aku pulih san keluar dari rumah sakit. Aku kembali mendatangi Joon. Dan aku menceritakan semua kepada Joon. Tentang ayahkau yang sekarang mengincar Joon. Joon pun membantuku untuk berpikir bagaimana jalan keluarnya. Namun kali ini juga tidak ada solusinya. Akupun kembali kerumahku.
Sabtu di pagi hari, tiba - tiba ayah mengajakku berlibur ke pegunungan tinggi untuk kemping. Jarang sekali ayah mengajakku berlibur. Dan dia memintaku untuk mengajak Haibara juga. Aku pun tersentak medengar permintaan ayah untuk mengajak Haibara.
"Tidak" tolakku atas permintaan ayah.
"Harus" tegasnya.
Aku tidak punya pilihan. Aku pun mengajak Haibara dan dia memenuhinya. Aku pun menjadi khawatir tetapi aku berjanji akan melindungi Haibara.
Disaat kami sedang berkemas, bersiap untuk berlibur aku melihat ayahku didapur yang sedang membersihkan pisau yang biasa dia pakasi untuk membunuh. Pisau yang sangat tajam. Dan aku pun sangat yakin bahwa ia akan membunuh Haibara. Aku pun semakin mengtekadkan didalam hatiku kalah aku akan melindungi Haibara. Bagaimanapun caranya.
Saat sampai di pegunungan tinggi. Aku selalu memerhatikan gerak ayahku. Aku akan melindungi Haibara. Sambil berlibur, untuk menikmati liburan yang singkat ini aku ingin berfoto dengan haibara dengan latar pegunungan yang sangat indah. Aku pun meminta tolong ayah untuk memotret kami berdua. Kami pun mengambil posisi untuk berfoto. Dan aku memerintahkan ayahku untuk lebih mundur dan mundur agar latar pegunungan  lebih terlihat. Namun saat aku menyuruh ayah untuk mundur. Ayah terpeleset. Dan jatuh ke jurang yang sangat curam. Aku pun menghampiri ayah dan kulihat ayah telah kehilangan nyawanya karena kepalanya yang terbentur oleh batu besar. Aku menatap ayahku yang telah mati. Aku bingung harus senang atau sedih. Setelah apa yang selama ini telah ia perbuat.
Setelah pemakaman ayah aku kembali ke apartemen, ditemani Haibara dan Joon.
"Kamu aman sekarang" ucap Joon sambil menepuk bahuku.
Sedkkit ada rasa lega didalam hatiku. Beban dan tekanan yang selama ini tersimpan dihatiku sekarang seperti lenyap sudah tidak ada lagi. Rumah pun menjadi sangat sepi hanya aku seorang. Tetapi sekarang teman - temanku menjadi sering bermain kerumahku. Kuajak mereka agar aku tidak kesepian.
Setelah kelulusan SMA, aku menggantikan kedudukan ayah diperusahaan. Dan aku menikahi Haibara untuk menjadi pendamping hidupku. Kita tetap menjalani pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi sekarang status kami adalah suami dan istri. Aku menghidupi keluarga kecil kami dan membahagiakan keluargaku dengan kekayaan peninggalan ayahku dan dari hasil kerja kerasku sebagai direktur utama diperusahaan ayah.




~END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar