Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Diluar Ekspetasi

Diluar Ekspetasi
Karya : Muhammad Iqbal Ramadhan

            Gue adalah Dika seorang pelajar SMA kelas 3 jurusan IPA, saat itu gue bersekolah di SMA Bintang Kejora yang terletak di kawasan Ragunan. Orang – orang bilang gue adalah anak yang ambisius, gue enggak heran dengan apa yang mereka katakan sebab begitulah gue . Cita – cita Gue ingin jadi seorang Presiden Indonesia, setelah lulus SMA gue punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan gue  di AKMIL. Tapi sayang, kini Bunda tak bisa melihat anaknya dalam berjuang meraih kesuksesan. Ya, Bunda telah dipanggil oleh Allah SWT saat gue kelas 6 SD dan saat Vika kelas 2 SD. Siapa Vika? Vika adalah adik gue satu – satunya, dulu Bunda pernah bilang sama gue nama Vika terinspirasi dari nama gue, Dika .

            Dari SD sampai SMA prestasi belajar gue bisa dibilang biasa – biasa aja, memang beberapa kali gue pernah masuk peringkat 10 besar, namun gue juga pernah merasakan peringkat – peringkat buntut, kalo kata orang  hidup itu kadang di atas kadang di bawah, itulah yang gue rasain. Walaupun prestasi belajar gue  biasa – biasa aja tapi tetep, cita – cita gue adalah Presiden Indonesia. Dulu waktu Ayah dan Bunda tahu bahwa cita – cita gue pengen jadi Presiden mereka menyarankan gue untuk masuk AKMIL, kata mereka di sana merupakan jalan yang tepat dalam mengejar cita – cita gue. Dan tekad gue sudah bulat untuk melanjutkan pendidikan di AKMIL setelah lulus SMA nanti.
            Di SMA gue mulai menyusun strategi agar bisa masuk AKMIL, waktu gue kelas 1 guru BK di sekolah gue bilang.
“Kalo kalian ingin melanjutkan pendidikan setelah SMA di AKMIL atau AKPOL maka mulailah belajar yang serius dari sekarang, sebab diperlukan nilai yang bagus agar kalian diterima. Belum lagi kalian memiliki saingan se-Indonesia dan yang tak boleh dilupakan adalah jika ingin diterima AKMIL atau AKPOL fisik kalian harus mumpuni.”

Gue merenung sejenak dan berpikir, gimana mau diterima AKMIL kalo prestasi belajar gue biasa – biasa aja apalagi fisik gue yang enggak tahan banting. Waktu gue SD Nenek pernah cerita, jadi waktu umur gue kira – kira masih satu tahun gue pernah asma, untungnya penyakitnya langsung diobatin jadi gue enggak asma lagi. “Kriiiiiiiing” bel pun berbunyi menandakan bahwa pergantian jam belajar, guru BK pun keluar dari kelas gue. Gue mencoba memandang jam di dinding kelas gue, secara tidak langsung gue melihat foto yang terpajang disana,  gue melamun.
Woi, kenapa lo ngelamun aje?” tanya Andi teman sebangku gue
Gue ngerasa enggak bakal bisa menggapai cita – cita gue ndi, fisik gue lemah, prestasi belajar biasa – biasa aja gimana mau keterima AKMIL?”
“Cita – cita lo tuh jadi Presiden, mana perjuangan dan pengorbanan lo untuk mencapai cita – cita lo, payah.” Kata Andi
Hal ini menjadi moodbooster buat gue, tekad gue semakin bulat dan gue berjanji untuk berkorban dan berjuang semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita – cita gue.
            Semenjak itu semangat belajar gue menjadi meningkat, gue pun enggak mau cuma mengejar prestasi akademik gue. Gue mencoba untuk ikut Pramuka dan OSIS pada waktu itu agar semakin memantapkan jalan gue menuju cita – cita gue. Di Pramuka dan OSIS gue dan Andi bertemu dengan temen – temen baru, yaitu Bari, Febi, Tia, Nira, mereka adalah orang – orang hebat, prestasi akademik mereka bagus, mereka juga punya bakat berorganisasi. Di sana gue kenal Bari yang ternyata mempunyai keinginan yang sama seperti gue untuk melanjutkan pendidikan di AKMIL. Di Pramuka dan OSIS gue menjadi banyak belajar dan semakin terlatih, hal itu membuat gue semakin yakin dengan cita – cita gue.
 Setelah beberapa bulan berlalu temen – temen gue malah berkata bahwa gue sekarang jadi sibuk,  prestasi akademik gue masih belum ada peningkatan, walaupun di Pramuka dan OSIS gua terbilang sebagai orang yang hebat. Beberapa guru pun kini suka meminta bantuan gue untuk ini itu, gue pun dengan senang hati melakukanya. Tapi kembali lagi apa yang gue harapkan itu tidak terjadi. Gue berpikir mungkin ibadah yang gue lakukan selama ini kurang sehingga Tuhan belum menjadikan harapan gue menjadi kenyataan. Seiring berjalan waktu gue tetap konsisten dengan apa yang sudah gue lakukan diiringi dengan meningkatkan ibadah.
            Di saat gue kelas 3 lah baru terjadi harapan gue, prestasi belajar gue meningkat, di Pramuka dan OSIS pun masih sama seperti dulu. Namun, tak lama lagi gue harus mengakhiri kegiatan Pramuka dan OSIS gue, dan fokus terhadap tujuan sebenarnya gue. Di saat itu hubungan gue dengan Febi jadi deket, entah kenapa kami jadi lebih sering berbicara atau chat  lewat sosial media. Suatu hari setelah pulang sekolah gue dan Febi sedang duduk di taman sekolah. Febi bertnya kepada gue.
“Dik gue pengen nanya nih, boleh enggak ?” tanya Febi
Gue pengen jawab, mau nanya apa sih ?” gue menjawab
“Setelah lulus lo mau lanjut kemana ?” Febi bertanya, sepertiny dia pensaran dengan kelanjutan pendidikan gue
“AKMIL” jawab gue dengan yakin
“Serius lo” tanya Febi dengan raut muka pasrah
“Iya, emang setelah lulus SMA lo mau kemana?” jawab gue
Gue pengen lanjut di UI tapi masih enggak tau mau di jurusan apa” kata Febi
“Dik gue cabut duluan ya, gue ada kerja kelompok” lanjut Febi
Tak lama setelah itu pun gue pulang menuju rumah gue, di jalan gua bertanya – tanya tentang ekspresi muka Febi, tapi gue enggak terlalu menghiraukan itu.
            Suatu saat ketika tes fisik pelajaran olahraga, gue dan temen – temen harus menjalankan tes yang sangat berat, tapi dari semua tes gua paling enggak bisa apa – apa, fisik gue terlalu lemah, diantara temen – temen gue, dan gue adalah orang yang paling seDikit menyelesaikan tes. Waktu itu Pak Tigor guru olahraga di sekolah gue mempermalukan gue waktu itu.
“Yang kaya gini  mau ikut AKMIL, mana bisa?” kata Pak Tigor waktu itu sambil menunjukan tanganya kepada gue.
Gue sangat malu saat itu hati gue berkata “berarti udah banyak orang dong yang tau cita – cita dan keinginan gue”.
Ketika pelajaran olahraga berakhir gue bertanya kepada Pak Tigor.
“Bapak tau saya mau masuk AKMIL” tanya gue
“Iya, lah bukanya semua orang udah tau kalo kamu mau masuk AKMIL, mangkanya kamu latih fisik kamu biar bisa masuk AKMIL” jawab Pak Tigor
“Caranya gimana sih pak?” lanjut gue
“Tiap hari libur kamu joging, jangan lupa juga push up, pull up sama temen – temennya, yang kaya gitu – gitu yang dites di AKMIL, kalo kamu bener – bener niat, kamu pasti lolos tes” kata Pak Tigor
“Kalo begitu saya bakal ikutin kata bapak” sambung gue
“Bagus, laki – laki emang harus gitu” lanjut Pak Tigor
Semenjak itu gue berusaha untuk melakukan latihan – latihan fisik agar gue bisa masuk AKMIL.
         Suatu hari gue merasa sangat lelah dengan latihan fisik yang gue jalani, gue sampai mengeluh dengan apa yang gue rasakan. Ternyata Ayah mendengar gue mengeluh.
“Halah baru segitu doang udah ngeluh” celetuk Ayah
“Capek yah, waktu latihan dua minggu lalu aja tanganku sakit” jawab gue
“Sakit kok dirasain, masa anak laki – laki begitu doang  aja enggak kuat, katanya kamu pengen lanjut AKMIL” kata Ayah
Ketika Ayah berkata itu gue teringet dengan Bunda yang waktu itu juga menyarankan gue untuk lanjut AKMIL. Gue jadi semangat setelah mendengar perkataan Ayah dan teringat Bunda, tekad gue semakin keras untuk berlatih agar bisa diterima AKMIL.
            Ketika jam Bimbingan Konseling guru BK gue menginformasikan bahwa pendaftaran AKMIL akan dibuka 1 bulan setelah Ujian Nasional, tepatnya pada hari pengumuman kelulusan. Gue semakin memantapkan hati, pikiran, dan raga gue untuk mewujudkan harapan gue.
            Singkat cerita, tibalah waktu Ujian Nasional, beberapa hari sebelumnya gue dan Febi bertemu untuk membahas persiapan yang udah dilakuin buat Ujian Nasional, walaupun Febi anak IPS. Disitu gue dan Febi sharing semua hal yang dilakuin buat Ujian Nasional dan rencana setelah Ujian Nasional. Intinya gue dan Febi sama – sama ingin mewujudkan cita – cita kami, dia sudah memutuskan ketika pendaftaran jalur undangan untuk memilik Ilmu Sosial dan Politik UI dan ia mantap akan pilihannya, sedangkan gue memilih pilihan yang berat – berat agar gue bisa mengundurkan diri dari jalur undangan, karena kalo misalnya gue diterima di jalur undangan dan gue menolaknya maka sekolah gue bakal diblacklist.
            Satu bulan kemudian adalah pengumuman kelulusan, gue cukup tegang  dengan hasilnya, setelah gue cek nilai gue, alhamdulillah ternyata sesuai harapan gue, gue langsung ngechat Febi buat ngasih tau dia.
“Feb gimana? Alhamdulillah nih gue dapet nilai yang gue inginkan, dan ternyata gue masuk peringkat sepuluh besar paralel IPA” kata Dika
“Alhamdulillah Dik gue juga dapet nilai yang gue pengen dan gue persis sama kaya lo sama sama masuk peringkat sepuluh besar paralel IPS” lanjut Febi
Wiiihh keren keren, gue jadi yakin buat daftar AKMIL dan mewujudkan cita –cita gue” sambung Dika
“Ooohh jadi lu beneran masuk AKMIL?” tanya Febi
“Iya, doain aja semoga gue bisa mewujudkan cita – cita gue agar bisa membuat Bunda senang. Kalo lo setelah ini kemana?” kata Dika
“Aamiin, gue menunggu hasil dari jalur undangan, semoga sesuai harapan gue Dik” jawab Febi
Setelah gue tau nilai gue, gue langsung menyiapkan berkas – berkas pendaftaran AKMIL, beberapa hari berikutnya gue menyerahkan berkas pendaftaran. Dan gue harus menunggu pengumuman yang menentukan gua lanjut ke tahap berikutnya atau tidak.
            Tibalah waktunya, gue cek di web ternyata gue lanjut ke tahap berikutnya yaitu tes teori dan tes fisik. Satu minggu setelah itu gue langsung berangkat ke tempat tes. Gue bisa menjawab soal – soal yang diberikan dengan mudah, gue optimis lolos. Dua minggu setelah tes teori adalah tes fisik, dipagi hari gue merasa fisik gue sangat tidak fit, ini membuat gue ragu untuk lanjut tes, gue pengen nyerah, gue bilang hal ini ke Ayah, tapi sekali lagi Ayah gue adalah orang yang hebat, dia memotivasi gue membuat kondisi psikologi gue berubah drastis, walaupun gue masih dalam kondisi yang tidak fit, tapi gue bulatkan tekad gue untuk maju. Disana gue hanya bisa melakukan tes fisik sesuai batas minimal tes, setelah tes gue ragu bisa mewujudkan harapan gue.
           Satu bulan berlalu tibalah waktu pengumuman, gue awalnya sudah pesimis untuk mengecek hasil di web tapi, ini harus gue lakukan. Jantung gue berdetak kencang, gue mulai membaca urutan  nama – nama satu persatu yang diterima AKMIL. Ternyata gue temukan di nomor 25122 nama “Ananda Dika Pratama” dan itulah nama gue, awalnya gue enggak percaya dan mencoba merefresh halaman pengumuman, namun lagi – lagi gue temukan nama “Ananda Dika Pratama” di nomor 25122. Ternyata nilai tes teori gue sangat membantu, gue dapet nilai paling besar di teori, walaupun fisik gue pas – pasan tapi itu yang membuat gue diterima AKMIL. Gue langsung bilang ke Ayah dan Vika tentang hal ini, gue lalu mengajak mereka untuk berziarah ke makam Bunda, gue pengen cerita hal ini ke Bunda.
            Setelah pulang dari makam Bunda, Febi ngechat gue dia ngucapin selamat ke gue dan dia ngajak ketemuan di suatu tempat, katanya ada hal yang pengen dia bicarakan. Gue mengiyakannya dan pergi ke tempat tersebut. Di sana gue berbincang – bincang dengan Febi.
“Dik selamat ya, pasti lo seneng banget kan?” ucap Febi.
“Iya makasih Feb,lo tau dari mana? gue seneng banget nih, lo gimana? Kapan pegumumannya?” tanya gue.
“Tadi gua buka web pengumuman AKMIL, dua hari lagi Dik pengumumannya, doain ya” sambung Febi.
“Siiiap”.”Sebenernya lo minta gue kesini buat apa sih?” gue penasaran apa yang akan dia sampaikan.
“Gini Dik, sebenernya itu gua cinta sama lo, dari dulu pertama ketemu gue udah nyaman kalo ngobrol sama lo, kerja di Pramuka atau OSIS bareng lo, bahkan di deket lo aja gue udah nyaman. Lo bisa enggak  nerima cinta gue dan meninggalkan AKMIL?”  jawab sekaligus tanya Febi
Gue menghela nafas dan mulai berbicara
“Jujur, sebenernya gue juga ada rasa sama lo Feb, bukan baru – baru ini aja tapi dari dulu, tapi gue selalu inget kata Ayah dan Bunda, kalo kamu mau ngejar cita – cita kamu, masalah cinta – cintaan singkirkan dulu, biar kamu bisa fokus mewujudkan cita – cita kamu. Dan kalo lo minta gue buat ngundurin diri dari AKMIL berat Feb. Gue Cuma bisa berdoa semoga gue dan lo bisa mewujudkan harapan masing – masing dan kita dipertemukan kembali oleh Allah suatu saat nanti” jawab gue dengan berat hati
“Ok Dik kalo memang itu keputusan lo, gue Cuma bisa berdoa dan yang pasti doa gue sama lu sama”
Gue ditelepon oleh Ayah yang menandakan gue harus pulang
Gue pamit kepada Febi, dengan berat hati gue meniggalkan dia. Diperjalanan menuju rumah gue terus kepikiran tentang pembicaraan tadi, tapi gerbang untuk mewujudkan harapan gue sudah terbuka inilah jalan gue, kalo kata orang “jodoh enggak bakal kemana, santai aja” gue enggak  terlalu memikirkan itu, fokus utama gue adalah cita – cita gue Presiden Indonesia.
            Dua hari berikutnya gue mencoba mengecek pengumuman jalur undangan, ternyata Febi diterima di Ilmu Sosial Politik UI, gue juga melihat temen – temen gue seperti Andi yang diterima di ITB, Tia yang diterima di UGM dan Nira yang juga diterima di UI, gue jadi seneng sebab harapan gue dan harapan dia terwujud. Gue langsung ngechat dia buat ngucapain selamat, lalu dia berterima kasih, tapi waktu itu gue bilang, gue enggak bisa ketemu dia langsung saat ini, karena gue harus menyiapkan keberangkatan gue menuju asrama AKMIL, Magelang, Jawa Tengah.
           Tibalah hari keberangkatan gue, dipagi hari gue sudah berpamitan dengan Febi, namun hanya lewat chat, dia hanya membalas “selamat berjuang Dik”, gue mencoba berpikir positif mungkin dia sedang sibuk bersiap untuk kuliahnya. Sebelum ke titik kumpul keberangkatan gue bersama Ayah dan Vika mampir dulu ke makam Bunda untuk berpamitan. Setelah sampai dititik kumpul gue berpamitan kepada Ayah dan Vika, Ayah menitipkan pesan “Jadilah seorang laki – laki yang hebat, yang lebih hebat dari Ayahmu, Jadilah laki – laki yang memimpin, ini hanya batu loncatan, perjalananmu masih panjang Dik.
          Gue sampai di Magelang saat malam sudah tiba, gue langsung  memilih kasur gue untuk beristirahat. Tak gue sangka ternyata Bari diterima AKMIL juga dan dia jadi teman sebarak gue. Keesokan harinya seperti apa yang sudah gue bayangkan, dihari pertama kami langsung ditatar namun itu hanya sebagian kecil. Waktu itu semua orang ditanya cita – citanya apa, dan gue menjawab gue kepengen jadi Presiden Indonesia, mendengar hal itu mereka memperlakukan khusus gue.
          Singkat cerita gue memasuki bulan ke sepuluh di AKMIL, gue merasa benar – benar tidak mampu lanjut di AKMIL, hampir setiap selesai latihan di hutan, keesokan harinya gue sakit, entah Demam berdarah, entah cikungunya, entah gue kelelahan. Gue jadi berpikir untuk mundur dari AKMIL, gue udah mengirim surat ke Ayah menceritkan hal ini, dan Ayah bilang kalo kamu enggak kuat kamu boleh mundur kok Dik, jangan dipaksakan. Sebelum membuat keputusan gue cerita ke Bari semua hal ini.
“Bar, lo masih kuat disini? Kayaknya gue bakalan mundur deh” ucap gua
“Hah, mundur, ya kali Dik lo mundur, masa udah sejauh ini lo mundur, mana Dika yang dulu, yang ambisius, yang punya cita – cita jadi Presiden” kata Bari
“Setiap selesai latihan berat atau latihan dihutan gue selalu sakit, gue udah cerita semuanya ke Ayah Bar, kata Ayah kalo gue enggak sanggup gue boleh mundur” lanjut Dika
“Dik, dengerin gue ya, ini tuh belom seberapa, masih banyak hal pahit yang harus lo lewati, tapi akan lebih banyak lagi hal manis dari pada hal pahit yang bakal lo dapatkan” sambung Bari
“Tapi Bar.....” gue terdiam
“Tapi apa? Ini kan harapan lo, lo kan pernah bilang pengen ngikutin saran orang tua lo buat masuk AKMIL” lanjut Bari
Gue udah enggak sanggup Bar” jawab Dika
“Dik lo tuh orang yang beruntung, dari jutaan orang yang daftar AKMIL lo yang kepilih, mana rasa bersyukur lo, lo dulu minta sama Allah untuk diwujudkan harapannya, sekarang...” kata Bari
“Terus sekarang gue harus gimana bar?” tanya Dika
“Ya lanjut lah, inget Dik gue selalu disini menemani lo, sampai kita lulus bareng menjadi Letnan Dua” sambung Bari
Mendengar kata – kata dari Bari gue memutuskan untuk tetap bertahan di AKMIL sampai waktu kelulusan tiba, sebab inilah harapan gue, dan inilah jalan gue.
          Dua bulan berlalu gue naik tingkatan dari tingkat 1 menjadi tingkat 2, gue merasa semakin lama semakin mudah gue menjalani AKMIL, di tingkat 3 gue tidak menemukan masalah yang berarti di AKMIL, enggak ada lagi gue yang putus asa seperti ditingkat 1, dan ditingkat 4 gue sangat mudah dan sangat senang menjalani masa ini.
          Tibalah waktu kelulusan, gue menjadi perwakilan dari temen – temen gue untuk melakukan prosesi kelulusan, gue dipilih sebab peningkatan gue begitu drastis, yang tadinya gue sakit – sakitan, tapi gue lulus dengan nilai terbaik. Di hari kelulusan gue dipasangkan pangkat Letnan Dua oleh Kolonel TNI Joko Handoko, Kepala Sekolah AKMIL. Setelah itu pun dibacakan penempatan tugas dari masing – masing prajurit. Alhamdulillah gue merasa sangat senang, sebab gue ditempatkan di Jakarta, namun Bari tak bisa lagi bersama gue, sebab dia ditugaskan di Aceh, sedih rasanya orang yang membuat gue seperti ini harus berpisah dari gue. Seminggu kemudian kami semua diberangkatkan ke tempat penugasan.
          Sesampainya di Jakarta, gue mampir ke rumah gue terlebih dahulu, untuk melepas rindu dengan susana rumah, walaupun gue sudah bertemu dengan Ayah dan Vika saat prosesi kelulusan. Saat sampai di rumah gue langsung teringat Febi, gue mau menghubungi dia, tapi apa daya gue lost kontak dengan dia. Gue coba tanya ke Nira karena dia tetangga gue, namun Nira enggak punya kontak Febi, karena dia beda fakultas dengan Febi walaupun satu kampus. Gue coba tanya ke Tia karena dia adalah salah satu anak dari guru di SMA bintang kejora, namun hasilnya nihil. Dalam pikiran gue, “Ok, mungkin sudah seperti ini jalanya”.
          Tak lama gue melepas rindu dengan suasana rumah dan mencoba mencari informasi Febi, gue harus ke rumah dinas gue di daerah Cijantung, sebab besok adalah hari pertama gue bertugas. Gue berpamitan dengan Ayah dan Vika dan memberitahukan alamat rumah dinas gue, siapa tau mereka mau main kesana.
          Empat bulan berlalu dari awal pertama bertugas, gue mendapat tugas khusus setelahnya, sekaligus gue mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letnan Satu. Gue diminta untuk menjadi ajudan khusus Panglima TNI Angkatan Darat Jendral Budi Darmadi, kinerja dan sikap sebagai prajurit yang cemerlang gue terdengar sampai ke pimpinan TNI, membuat gue diberikan tugas ini. Gue dinobatkan oleh majalah Prajurit menjadi prajurit muda yang cemerlang dan berwibawa.
Hal ini menjadi viral di dunia maya.
          Suatu saat gue akan diwawancara oleh sebuah statiun TV ternama, karena gue sudah menjadi teladan bagi semua orang bukan hanya untuk prajurit TNI saja, gue kaget sekaligus seneng ini semua bisa terjadi, ini semua diluar harapan gue. Ketika ingin diwawancara gue bertemu dengan reporter yang ingin mewawancarai gue, ternyata, takkan ada orang yang mengira. Orang yang mewancarai gue adalah Febi, setelah selesai wawancara, gue berbincang – bicang dengan dia, dan bertukar kontak. Akhirnya gue janji sama dia bakal ketemu di akhir minggu disebuah mall.
          Ketika gue bertemu dia gue banyak berbincang – bincang, melepas rindu setelah empat tahun tidak bertemu. Gue seDikit penasaran dengan dia kenapa bisa jadi reporter, gue mulai bertanya.
“Feb kok lo bisa jadi reporter sih?” tanya gue
“Jadi waktu di jurusan gue sering denger cerita dari alumni – alumni jurusan gue, sebenernya hal yang paling bahagia ketika lo lulus dari Sospol adalah jadi jurnalis, gue pun tertantang untuk melakukannya” jawab Febi.
“Oh begitu, tapi Feb asli, gue enggak bakal ngira kita bakal dipertemukan dengan cara sepeti ini, Allah benar – benar mengabulkan doa kita Feb, ini diluar ekspetasi gue” lanjut gue
“Iya Dik, gue juga enggak nyangka” sambung Febi
“Oh iya, ngomong – ngomong lo sekarang sama siapa?” tanya gue
“Sama orang tua gue Dik” jawab gue
“Bukan, maksud gue lo sekarang pacaran sama siapa? Atau udah nikah?” gue bertanya kembali
“Belom Dik, semenjak lo pendidikan gua masih belum menemukan pengganti lo” jawab Febi
“Kalo gitu lu siap dong?” tanya gue lagi
“Siap apa?” Febi kebingungan
“Siap gue lamar” jawab Dika
“Seriusan lo Dik?’ tanya Febi yang tidak yakin
“Iya, minggu depan gue ke orang tua lo buat ngelamar lo, boleh?” lanjut gue yang sangat bersemangat
“Pasti bolehlah” Febi menjawab
“Ok, bilangin orang tua lo ya, hari minggu gue bakal ketemu mereka” lanjut Dika
“Siap komandan” sambung Febi
Akhirnya gue bisa mewujudkan semua yang gue pengen, sekarang tinggal satu, yaitu cita – cita gue untuk jadi seorang Presiden. Semoga yang satu ini bisa terwujudkan juga. Sungguh ini semua di luar Ekspetasi gue.


            Begitulah perjalanan gue yang penuh harapan dan keinginan, alhamdulillah semuanya hampir terwujud, walau gue sering menemui keputus asaan dan pesimis, namun ini semua bisa gua lewati karena sikap ambisius gue dan yang pasti orang – orang di sekitar gue. Tapi, masih ada satu lagi yang belum terwujud semoga gue bisa jadi Presiden Indoneisa, bersama dengan Febi gue mewujudkan cita – cita ini. Ini semua benar – benar di luar ekspetasi.

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar