Diluar Ekspetasi
Karya : Muhammad Iqbal Ramadhan
Gue
adalah Dika seorang pelajar SMA kelas 3 jurusan IPA, saat itu gue bersekolah di SMA Bintang Kejora
yang terletak di kawasan Ragunan. Orang – orang bilang gue adalah anak yang ambisius, gue
enggak heran dengan apa yang mereka katakan sebab begitulah gue . Cita – cita Gue ingin jadi seorang Presiden Indonesia, setelah lulus SMA gue punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan
gue di AKMIL. Tapi sayang, kini Bunda tak bisa
melihat anaknya dalam berjuang meraih kesuksesan. Ya, Bunda telah dipanggil
oleh Allah SWT saat gue kelas 6 SD
dan saat Vika kelas 2 SD. Siapa Vika? Vika adalah adik gue satu – satunya, dulu Bunda pernah bilang sama gue nama Vika terinspirasi dari nama gue, Dika .
Dari SD sampai SMA prestasi belajar gue bisa dibilang biasa – biasa aja,
memang beberapa kali gue pernah masuk
peringkat 10 besar, namun gue juga
pernah merasakan peringkat – peringkat buntut, kalo kata orang hidup itu kadang di atas kadang di bawah,
itulah yang gue rasain. Walaupun
prestasi belajar gue biasa – biasa aja tapi tetep, cita – cita gue
adalah Presiden Indonesia. Dulu waktu Ayah dan Bunda tahu bahwa cita – cita gue pengen jadi Presiden mereka
menyarankan gue untuk masuk AKMIL,
kata mereka di sana merupakan jalan yang tepat dalam mengejar cita – cita gue. Dan tekad gue sudah bulat untuk melanjutkan pendidikan di AKMIL setelah lulus
SMA nanti.
Di SMA gue mulai menyusun strategi agar bisa masuk AKMIL, waktu gue kelas 1 guru BK di sekolah gue bilang.
“Kalo
kalian ingin melanjutkan pendidikan setelah SMA di AKMIL atau AKPOL maka
mulailah belajar yang serius dari sekarang, sebab diperlukan nilai yang bagus
agar kalian diterima. Belum lagi kalian memiliki saingan se-Indonesia dan yang
tak boleh dilupakan adalah jika ingin diterima AKMIL atau AKPOL fisik kalian
harus mumpuni.”
Gue merenung sejenak dan berpikir,
gimana mau diterima AKMIL kalo prestasi belajar gue biasa – biasa aja apalagi fisik gue yang enggak tahan
banting. Waktu gue SD Nenek pernah
cerita, jadi waktu umur gue kira –
kira masih satu tahun gue pernah
asma, untungnya penyakitnya langsung diobatin
jadi gue enggak asma lagi. “Kriiiiiiiing” bel pun berbunyi menandakan bahwa
pergantian jam belajar, guru BK pun keluar dari kelas gue. Gue mencoba
memandang jam di dinding kelas gue,
secara tidak langsung gue melihat
foto yang terpajang disana, gue melamun.
“Woi, kenapa lo ngelamun aje?” tanya Andi teman sebangku gue
“Gue ngerasa enggak bakal bisa menggapai cita – cita gue ndi, fisik gue lemah, prestasi belajar biasa –
biasa aja gimana mau keterima AKMIL?”
“Cita
– cita lo tuh jadi Presiden, mana
perjuangan dan pengorbanan lo untuk
mencapai cita – cita lo, payah.” Kata
Andi
Hal
ini menjadi moodbooster buat gue, tekad gue semakin bulat dan gue
berjanji untuk berkorban dan berjuang semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita
– cita gue.
Semenjak itu semangat belajar gue menjadi meningkat, gue pun enggak mau cuma mengejar prestasi akademik gue. Gue mencoba untuk
ikut Pramuka dan OSIS pada waktu itu agar semakin memantapkan jalan gue menuju cita – cita gue. Di Pramuka dan OSIS gue dan Andi bertemu dengan temen –
temen baru, yaitu Bari, Febi, Tia, Nira, mereka adalah orang – orang hebat,
prestasi akademik mereka bagus, mereka juga punya bakat berorganisasi. Di sana gue kenal Bari yang ternyata mempunyai
keinginan yang sama seperti gue untuk
melanjutkan pendidikan di AKMIL. Di Pramuka dan OSIS gue menjadi banyak belajar dan semakin terlatih, hal itu membuat gue semakin yakin dengan cita – cita gue.
Setelah beberapa bulan berlalu
temen – temen gue malah berkata bahwa gue sekarang jadi sibuk,
prestasi akademik gue masih
belum ada peningkatan, walaupun di Pramuka dan OSIS gua terbilang sebagai orang
yang hebat. Beberapa guru pun kini suka meminta bantuan gue untuk ini itu, gue
pun dengan senang hati melakukanya. Tapi kembali lagi apa yang gue harapkan itu tidak terjadi. Gue berpikir mungkin ibadah yang gue lakukan selama ini kurang sehingga
Tuhan belum menjadikan harapan gue
menjadi kenyataan. Seiring berjalan waktu gue
tetap konsisten dengan apa yang sudah gue
lakukan diiringi dengan meningkatkan ibadah.
Di saat gue kelas 3 lah baru
terjadi harapan gue, prestasi belajar
gue meningkat, di Pramuka dan OSIS
pun masih sama seperti dulu. Namun, tak lama lagi gue harus mengakhiri kegiatan Pramuka dan OSIS gue, dan fokus terhadap tujuan sebenarnya gue. Di saat itu hubungan gue
dengan Febi jadi deket, entah kenapa kami jadi lebih sering berbicara atau chat lewat sosial media. Suatu hari setelah pulang
sekolah gue dan Febi sedang duduk di
taman sekolah. Febi bertnya kepada gue.
“Dik
gue pengen nanya nih, boleh enggak ?” tanya Febi
“Gue pengen jawab, mau nanya apa sih ?” gue menjawab
“Setelah
lulus lo mau lanjut kemana ?” Febi bertanya, sepertiny dia pensaran dengan
kelanjutan pendidikan gue
“AKMIL”
jawab gue dengan yakin
“Serius
lo” tanya Febi dengan raut muka pasrah
“Iya,
emang setelah lulus SMA lo mau
kemana?” jawab gue
“Gue pengen lanjut di UI tapi masih enggak tau mau di jurusan apa” kata Febi
“Dik
gue cabut duluan ya, gue ada
kerja kelompok” lanjut Febi
Tak
lama setelah itu pun gue pulang
menuju rumah gue, di jalan gua
bertanya – tanya tentang ekspresi muka Febi, tapi gue enggak terlalu
menghiraukan itu.
Suatu saat ketika tes fisik
pelajaran olahraga, gue dan temen –
temen harus menjalankan tes yang sangat berat, tapi dari semua tes gua paling enggak bisa apa – apa, fisik gue terlalu lemah, diantara temen –
temen gue, dan gue adalah orang yang paling seDikit menyelesaikan tes. Waktu itu
Pak Tigor guru olahraga di sekolah gue
mempermalukan gue waktu itu.
“Yang
kaya gini mau ikut AKMIL, mana bisa?” kata Pak Tigor
waktu itu sambil menunjukan tanganya kepada gue.
Gue
sangat malu saat
itu hati gue berkata “berarti udah
banyak orang dong yang tau cita –
cita dan keinginan gue”.
Ketika
pelajaran olahraga berakhir gue
bertanya kepada Pak Tigor.
“Bapak
tau saya mau masuk AKMIL” tanya gue
“Iya,
lah bukanya semua orang udah tau kalo kamu mau masuk AKMIL, mangkanya kamu latih fisik kamu biar
bisa masuk AKMIL” jawab Pak Tigor
“Caranya
gimana sih pak?” lanjut gue
“Tiap
hari libur kamu joging, jangan lupa juga push up, pull up sama temen –
temennya, yang kaya gitu – gitu yang dites di AKMIL, kalo kamu bener – bener
niat, kamu pasti lolos tes” kata Pak Tigor
“Kalo
begitu saya bakal ikutin kata bapak”
sambung gue
“Bagus,
laki – laki emang harus gitu” lanjut Pak Tigor
Semenjak
itu gue berusaha untuk melakukan
latihan – latihan fisik agar gue bisa
masuk AKMIL.
Suatu hari gue merasa sangat lelah dengan latihan fisik yang gue jalani, gue sampai mengeluh dengan apa yang gue rasakan. Ternyata Ayah mendengar gue mengeluh.
“Halah
baru segitu doang udah ngeluh” celetuk Ayah
“Capek
yah, waktu latihan dua minggu lalu aja tanganku sakit” jawab gue
“Sakit
kok dirasain, masa anak laki – laki begitu doang aja enggak
kuat, katanya kamu pengen lanjut AKMIL” kata Ayah
Ketika
Ayah berkata itu gue teringet dengan
Bunda yang waktu itu juga menyarankan gue
untuk lanjut AKMIL. Gue jadi semangat
setelah mendengar perkataan Ayah dan teringat Bunda, tekad gue semakin keras untuk berlatih agar bisa diterima AKMIL.
Ketika jam Bimbingan Konseling guru
BK gue menginformasikan bahwa
pendaftaran AKMIL akan dibuka 1 bulan setelah Ujian Nasional, tepatnya pada
hari pengumuman kelulusan. Gue
semakin memantapkan hati, pikiran, dan raga gue
untuk mewujudkan harapan gue.
Singkat cerita, tibalah waktu Ujian
Nasional, beberapa hari sebelumnya gue
dan Febi bertemu untuk membahas persiapan yang udah dilakuin buat Ujian
Nasional, walaupun Febi anak IPS. Disitu gue
dan Febi sharing semua hal yang
dilakuin buat Ujian Nasional dan rencana setelah Ujian Nasional. Intinya gue dan Febi sama – sama ingin
mewujudkan cita – cita kami, dia sudah memutuskan ketika pendaftaran jalur
undangan untuk memilik Ilmu Sosial dan Politik UI dan ia mantap akan
pilihannya, sedangkan gue memilih
pilihan yang berat – berat agar gue
bisa mengundurkan diri dari jalur undangan, karena kalo misalnya gue diterima di jalur undangan dan gue menolaknya maka sekolah gue bakal diblacklist.
Satu bulan kemudian adalah
pengumuman kelulusan, gue cukup
tegang dengan hasilnya, setelah gue cek nilai gue, alhamdulillah ternyata sesuai harapan gue, gue langsung ngechat Febi buat ngasih tau dia.
“Feb
gimana? Alhamdulillah nih gue dapet
nilai yang gue inginkan, dan ternyata
gue masuk peringkat sepuluh besar
paralel IPA” kata Dika
“Alhamdulillah
Dik gue juga dapet nilai yang gue pengen dan gue persis sama kaya lo sama sama masuk peringkat sepuluh besar
paralel IPS” lanjut Febi
“Wiiihh keren keren, gue jadi yakin buat daftar AKMIL dan mewujudkan cita –cita gue” sambung Dika
“Ooohh
jadi lu beneran masuk AKMIL?” tanya Febi
“Iya,
doain aja semoga gue bisa mewujudkan
cita – cita gue agar bisa membuat
Bunda senang. Kalo lo setelah ini kemana?” kata Dika
“Aamiin,
gue menunggu hasil dari jalur
undangan, semoga sesuai harapan gue Dik”
jawab Febi
Setelah
gue tau nilai gue, gue langsung
menyiapkan berkas – berkas pendaftaran AKMIL, beberapa hari berikutnya gue menyerahkan berkas pendaftaran. Dan gue harus menunggu pengumuman yang
menentukan gua lanjut ke tahap berikutnya atau tidak.
Tibalah waktunya, gue cek di web ternyata gue lanjut
ke tahap berikutnya yaitu tes teori dan tes fisik. Satu minggu setelah itu gue langsung berangkat ke tempat tes. Gue bisa menjawab soal – soal yang
diberikan dengan mudah, gue optimis
lolos. Dua minggu setelah tes teori adalah tes fisik, dipagi hari gue merasa fisik gue sangat tidak fit, ini membuat gue ragu untuk lanjut tes, gue
pengen nyerah, gue bilang hal ini ke Ayah,
tapi sekali lagi Ayah gue adalah
orang yang hebat, dia memotivasi gue
membuat kondisi psikologi gue berubah
drastis, walaupun gue masih dalam
kondisi yang tidak fit, tapi gue
bulatkan tekad gue untuk maju. Disana
gue hanya bisa melakukan tes fisik
sesuai batas minimal tes, setelah tes gue
ragu bisa mewujudkan harapan gue.
Satu bulan berlalu tibalah waktu
pengumuman, gue awalnya sudah pesimis
untuk mengecek hasil di web tapi, ini
harus gue lakukan. Jantung gue berdetak kencang, gue mulai membaca urutan nama – nama satu persatu yang diterima AKMIL.
Ternyata gue temukan di nomor 25122
nama “Ananda Dika Pratama” dan itulah nama gue,
awalnya gue enggak percaya dan mencoba merefresh
halaman pengumuman, namun lagi – lagi gue
temukan nama “Ananda Dika Pratama” di nomor 25122. Ternyata nilai tes teori gue sangat membantu, gue dapet nilai paling besar di teori,
walaupun fisik gue pas – pasan tapi itu yang membuat gue diterima AKMIL. Gue langsung bilang ke Ayah dan Vika tentang hal ini, gue lalu mengajak mereka untuk berziarah
ke makam Bunda, gue pengen cerita hal
ini ke Bunda.
Setelah pulang dari makam Bunda,
Febi ngechat gue dia ngucapin selamat
ke gue dan dia ngajak ketemuan di
suatu tempat, katanya ada hal yang pengen dia bicarakan. Gue mengiyakannya dan pergi ke tempat tersebut. Di sana gue berbincang – bincang dengan Febi.
“Dik
selamat ya, pasti lo seneng banget kan?” ucap Febi.
“Iya
makasih Feb,lo tau dari mana? gue
seneng banget nih, lo gimana? Kapan pegumumannya?” tanya gue.
“Tadi
gua buka web pengumuman AKMIL, dua hari lagi Dik pengumumannya, doain ya”
sambung Febi.
“Siiiap”.”Sebenernya
lo minta gue kesini buat apa sih?” gue penasaran apa yang akan dia
sampaikan.
“Gini
Dik, sebenernya itu gua cinta sama lo, dari dulu pertama ketemu gue udah nyaman kalo ngobrol sama lo,
kerja di Pramuka atau OSIS bareng lo, bahkan di deket lo aja gue udah nyaman. Lo bisa enggak nerima cinta gue dan meninggalkan AKMIL?” jawab sekaligus tanya Febi
Gue menghela nafas dan mulai
berbicara
“Jujur,
sebenernya gue juga ada rasa sama lo
Feb, bukan baru – baru ini aja tapi dari dulu, tapi gue selalu inget kata Ayah dan Bunda, kalo kamu mau ngejar cita –
cita kamu, masalah cinta – cintaan singkirkan dulu, biar kamu bisa fokus
mewujudkan cita – cita kamu. Dan kalo lo minta gue buat ngundurin diri dari AKMIL berat Feb. Gue Cuma bisa berdoa semoga gue
dan lo bisa mewujudkan harapan masing – masing dan kita dipertemukan kembali
oleh Allah suatu saat nanti” jawab gue
dengan berat hati
“Ok
Dik kalo memang itu keputusan lo, gue
Cuma bisa berdoa dan yang pasti doa gue
sama lu sama”
Gue ditelepon oleh Ayah yang
menandakan gue harus pulang
Gue pamit kepada Febi, dengan berat
hati gue meniggalkan dia.
Diperjalanan menuju rumah gue terus
kepikiran tentang pembicaraan tadi, tapi gerbang untuk mewujudkan harapan gue sudah terbuka inilah jalan gue, kalo kata orang “jodoh enggak bakal kemana, santai aja” gue enggak
terlalu memikirkan itu, fokus utama gue adalah cita – cita gue Presiden Indonesia.
Dua hari berikutnya gue mencoba mengecek pengumuman jalur
undangan, ternyata Febi diterima di Ilmu Sosial Politik UI, gue juga melihat temen – temen gue seperti Andi yang diterima di ITB,
Tia yang diterima di UGM dan Nira yang juga diterima di UI, gue jadi seneng sebab harapan gue dan harapan dia terwujud. Gue langsung ngechat dia buat ngucapain selamat, lalu dia berterima kasih, tapi
waktu itu gue bilang, gue enggak
bisa ketemu dia langsung saat ini, karena gue
harus menyiapkan keberangkatan gue
menuju asrama AKMIL, Magelang, Jawa Tengah.
Tibalah hari keberangkatan gue, dipagi hari gue sudah berpamitan dengan Febi, namun hanya lewat chat, dia hanya
membalas “selamat berjuang Dik”, gue
mencoba berpikir positif mungkin dia sedang sibuk bersiap untuk kuliahnya. Sebelum
ke titik kumpul keberangkatan gue
bersama Ayah dan Vika mampir dulu ke makam Bunda untuk berpamitan. Setelah
sampai dititik kumpul gue berpamitan
kepada Ayah dan Vika, Ayah menitipkan pesan “Jadilah seorang laki – laki yang
hebat, yang lebih hebat dari Ayahmu, Jadilah laki – laki yang memimpin, ini
hanya batu loncatan, perjalananmu masih panjang Dik.
Gue
sampai di Magelang saat malam sudah tiba, gue langsung memilih kasur gue untuk beristirahat. Tak gue sangka ternyata Bari diterima AKMIL
juga dan dia jadi teman sebarak gue. Keesokan
harinya seperti apa yang sudah gue
bayangkan, dihari pertama kami langsung ditatar namun itu hanya sebagian kecil.
Waktu itu semua orang ditanya cita – citanya apa, dan gue menjawab gue kepengen
jadi Presiden Indonesia, mendengar hal itu mereka memperlakukan khusus gue.
Singkat
cerita gue memasuki bulan ke sepuluh
di AKMIL, gue merasa benar – benar tidak
mampu lanjut di AKMIL, hampir setiap selesai latihan di hutan, keesokan harinya
gue sakit, entah Demam berdarah,
entah cikungunya, entah gue
kelelahan. Gue jadi berpikir untuk mundur
dari AKMIL, gue udah mengirim surat
ke Ayah menceritkan hal ini, dan Ayah bilang kalo kamu enggak kuat kamu boleh mundur kok Dik, jangan dipaksakan. Sebelum
membuat keputusan gue cerita ke Bari
semua hal ini.
“Bar, lo masih kuat disini? Kayaknya gue bakalan mundur deh” ucap gua
“Hah, mundur, ya kali Dik lo mundur, masa udah
sejauh ini lo mundur, mana Dika yang dulu, yang ambisius, yang punya cita –
cita jadi Presiden” kata Bari
“Setiap selesai latihan berat atau latihan dihutan gue selalu sakit, gue udah cerita semuanya ke Ayah Bar, kata Ayah kalo gue enggak
sanggup gue boleh mundur” lanjut Dika
“Dik, dengerin gue
ya, ini tuh belom seberapa, masih
banyak hal pahit yang harus lo lewati, tapi akan lebih banyak lagi hal manis
dari pada hal pahit yang bakal lo dapatkan” sambung Bari
“Tapi Bar.....” gue
terdiam
“Tapi apa? Ini kan harapan lo, lo kan pernah bilang
pengen ngikutin saran orang tua lo
buat masuk AKMIL” lanjut Bari
“Gue udah enggak sanggup Bar” jawab Dika
“Dik lo tuh orang yang beruntung, dari jutaan orang
yang daftar AKMIL lo yang kepilih, mana rasa bersyukur lo, lo dulu minta sama
Allah untuk diwujudkan harapannya, sekarang...” kata Bari
“Terus sekarang gue
harus gimana bar?” tanya Dika
“Ya lanjut lah, inget Dik gue selalu disini menemani lo, sampai kita lulus bareng menjadi
Letnan Dua” sambung Bari
Mendengar kata – kata dari Bari gue memutuskan untuk tetap bertahan di AKMIL sampai waktu kelulusan
tiba, sebab inilah harapan gue, dan
inilah jalan gue.
Dua
bulan berlalu gue naik tingkatan dari
tingkat 1 menjadi tingkat 2, gue
merasa semakin lama semakin mudah gue
menjalani AKMIL, di tingkat 3 gue
tidak menemukan masalah yang berarti di AKMIL, enggak ada lagi gue yang
putus asa seperti ditingkat 1, dan ditingkat 4 gue sangat mudah dan sangat senang menjalani masa ini.
Tibalah
waktu kelulusan, gue menjadi perwakilan
dari temen – temen gue untuk
melakukan prosesi kelulusan, gue
dipilih sebab peningkatan gue begitu
drastis, yang tadinya gue sakit – sakitan,
tapi gue lulus dengan nilai terbaik.
Di hari kelulusan gue dipasangkan
pangkat Letnan Dua oleh Kolonel TNI Joko Handoko, Kepala Sekolah AKMIL. Setelah
itu pun dibacakan penempatan tugas dari masing – masing prajurit. Alhamdulillah
gue merasa sangat senang, sebab gue ditempatkan di Jakarta, namun Bari
tak bisa lagi bersama gue, sebab dia
ditugaskan di Aceh, sedih rasanya orang yang membuat gue seperti ini harus berpisah dari gue. Seminggu kemudian kami semua diberangkatkan ke tempat
penugasan.
Sesampainya
di Jakarta, gue mampir ke rumah gue terlebih dahulu, untuk melepas rindu
dengan susana rumah, walaupun gue
sudah bertemu dengan Ayah dan Vika saat prosesi kelulusan. Saat sampai di rumah
gue langsung teringat Febi, gue mau menghubungi dia, tapi apa daya gue lost
kontak dengan dia. Gue coba tanya
ke Nira karena dia tetangga gue,
namun Nira enggak punya kontak Febi,
karena dia beda fakultas dengan Febi walaupun satu kampus. Gue coba tanya ke Tia karena dia adalah salah satu anak dari guru
di SMA bintang kejora, namun hasilnya nihil. Dalam pikiran gue, “Ok, mungkin sudah seperti ini jalanya”.
Tak
lama gue melepas rindu dengan suasana
rumah dan mencoba mencari informasi Febi, gue
harus ke rumah dinas gue di daerah
Cijantung, sebab besok adalah hari pertama gue
bertugas. Gue berpamitan dengan Ayah
dan Vika dan memberitahukan alamat rumah dinas gue, siapa tau mereka mau main kesana.
Empat
bulan berlalu dari awal pertama bertugas, gue
mendapat tugas khusus setelahnya, sekaligus gue
mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letnan Satu. Gue diminta untuk menjadi ajudan khusus
Panglima TNI Angkatan Darat Jendral Budi Darmadi, kinerja dan sikap sebagai
prajurit yang cemerlang gue terdengar
sampai ke pimpinan TNI, membuat gue
diberikan tugas ini. Gue dinobatkan
oleh majalah Prajurit menjadi prajurit muda yang cemerlang dan berwibawa.
Hal ini menjadi viral di dunia maya.
Suatu
saat gue akan diwawancara oleh sebuah
statiun TV ternama, karena gue sudah
menjadi teladan bagi semua orang bukan hanya untuk prajurit TNI saja, gue kaget sekaligus seneng ini semua
bisa terjadi, ini semua diluar harapan gue.
Ketika ingin diwawancara gue bertemu
dengan reporter yang ingin mewawancarai gue,
ternyata, takkan ada orang yang mengira. Orang yang mewancarai gue adalah Febi, setelah selesai
wawancara, gue berbincang – bicang dengan
dia, dan bertukar kontak. Akhirnya gue
janji sama dia bakal ketemu di akhir minggu disebuah mall.
Ketika
gue bertemu dia gue banyak berbincang – bincang, melepas rindu setelah empat tahun
tidak bertemu. Gue seDikit penasaran
dengan dia kenapa bisa jadi reporter, gue
mulai bertanya.
“Feb kok lo bisa jadi reporter sih?” tanya gue
“Jadi waktu di jurusan gue sering denger cerita dari alumni – alumni jurusan gue, sebenernya hal yang paling bahagia
ketika lo lulus dari Sospol adalah jadi jurnalis, gue pun tertantang untuk melakukannya” jawab Febi.
“Oh begitu, tapi Feb asli, gue enggak bakal ngira kita
bakal dipertemukan dengan cara sepeti ini, Allah benar – benar mengabulkan doa
kita Feb, ini diluar ekspetasi gue”
lanjut gue
“Iya Dik, gue
juga enggak nyangka” sambung Febi
“Oh iya, ngomong – ngomong lo sekarang sama siapa?”
tanya gue
“Sama orang tua gue
Dik” jawab gue
“Bukan, maksud gue
lo sekarang pacaran sama siapa? Atau udah nikah?” gue bertanya kembali
“Belom Dik, semenjak lo pendidikan gua masih belum
menemukan pengganti lo” jawab Febi
“Kalo gitu lu siap dong?” tanya gue lagi
“Siap apa?” Febi kebingungan
“Siap gue
lamar” jawab Dika
“Seriusan lo Dik?’ tanya Febi yang tidak yakin
“Iya, minggu depan gue ke orang tua lo buat ngelamar lo, boleh?” lanjut gue yang sangat bersemangat
“Pasti bolehlah” Febi menjawab
“Ok, bilangin orang tua lo ya, hari minggu gue bakal ketemu mereka” lanjut Dika
“Siap komandan” sambung Febi
Akhirnya gue
bisa mewujudkan semua yang gue
pengen, sekarang tinggal satu, yaitu cita – cita gue untuk jadi seorang Presiden. Semoga yang satu ini bisa
terwujudkan juga. Sungguh ini semua di luar Ekspetasi gue.
Begitulah
perjalanan gue yang penuh harapan dan
keinginan, alhamdulillah semuanya hampir terwujud, walau gue sering menemui keputus asaan dan pesimis, namun ini semua bisa
gua lewati karena sikap ambisius gue
dan yang pasti orang – orang di sekitar gue.
Tapi, masih ada satu lagi yang belum terwujud semoga gue bisa jadi Presiden Indoneisa, bersama dengan Febi gue mewujudkan cita – cita ini. Ini
semua benar – benar di luar ekspetasi.
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar