Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Alena : Dibalik Kemerdekaan 1945

ALENA : DIBALIK KEMERDEKAN 1945
Karya : Dea Cintya

SATU
     Cerita ini bermula di pagi hari tahun 1939, Alena sedang bersiap di pelabuhan Utara Jawa menunggu kapal yang akan belabuh di dermaga. Alena adalah seorang gadis berumur 19 tahun keturunan Belanda. Ayahnya adalah seorang meneer Belanda dan ibunya seorang pribumi asli, di kawasan tempat tinggalnya Alena adalah seorang bangsawan, oleh karena itu ia mampu menerusukan pendidikan nya sampai sekolah tinggi. Sebenarnya ia mengenyam pendidikan untuk para bangsawan di Indonesia. Namun ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk meneruskan sekolah tingginya disana.
            Dari kejauhan terlihat kapal uap bertuliskan Rotterdam-Holand di bagian lambung kapal yang mulai menepi ke dermaga, cerebong uapnya mengeluarkan asam hitam pekat yang mengepul. Saat itu Indonesia masih menggunakan nama Hindia-Belanda 6 tahun sebelum tahun 1945 kemerdekaan indonesia.
            Terlihat para kuli panggul menghampiri kapal untuk menaik turunkan barang dari kapal. Seorang Belanda berperawakan tinggi turun dari kapal dengan pakaian kolonial, memerintahkan para kuli panggul untuk menurunkan barang dari atas kapal, sekitar 5 orang kuli panggul menunduk dan segera menurunkan barang-barang. Dermaga ini memang sering menjadi tempat persinggahan kapal-kapal, yang hendak berdagang atau mengangkut rempah-rempah hasil jarahan Belanda untuk dibawa ke Eropa.
            Alena bangkit dan berjalan diantara kerumunan orang-orang yang hendak turun maupun menaiki kapal.
“Alena....” Seseorang memanggil Alena dari kejauhan. Alena menyipitkan matanya memfokuskan pada seseorang yang memanggilnya dan seperdetik kemudian melambaikan tangannya.
“Alex!!”. Teriak Alena dan berlari menghampiri Alex. “Aku sudah menunggumu sangat lama”. Gerutu Alena
            Alex adalah teman Alena berkebangsaan Belanda, mereka bertemu pertama kali pada perjamuan makan di Den Haag saat umur Alena masih 7 tahun sejak saat itu mereka sering berkabar melalui surat, karena Alex tinggal di Belanda dan Alena di indonesia. Mereka berkabar 5 bulan sekali melalui surat yang dibawa oleh para prajurit Alex yang dikirimkan ke Indonesia.
“Maafkan aku Alena, keadaan di laut berubah-ubah kami harus menepi dahulu saat di Sri Lanka karena badai.”Jelas Alex pada Alena, terlihat raut kecewa di wajah Alex. Alena tersenyum dan membalas dengan anggukan. Ditengah- tengah percakapan mereka datang seorang pelayan menawarkan membawa koper Alena keatas kapal, perawakannya seperti orang pribumi. Alena memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, Alex memahami keanehan yang Alena rasakan.”dia orang Indonesia.” Alena mengalihkan pandangannya pada Alex tertarik.”ia pandai berbahasa Belanda dan Inggris, dia dipekerjakan agar dapat menerjemahkan jika ada utusan Indonesia. Ya kau tau sendiri kan Alena jika dalam kapal terkadang bisa terjadi perselisihan karena salah paham dalam bahasa.” Alena mengangguk dan kembali menatap pria dihadapan nya.
“bawakan koper tersebut ke kamar Alena di lantai 2 kapal.” Perintah Alex pada pria tersebut dan langsung dilaksanakan. Pria tersebut pergi dari hadapan Alex dan Alena.
“aku bahkan belum mengetahui siapa namanya Alex.” Alex tertawa dan mulai menaiki tangga kapal di ikuti Alena. “apa pentingnya Alena nama seorang pelayan Indonesia kelas bawah seperti dirinya”. Alex menatap Alena meminta persetujuan atas ucupan nya barusan pada Alena dengan tawa kecil
Alena menghentikan langkah kaki nya. Tertegun atas ucapan Alex. Dia bahkan adalah seorang Indonesia. “aku orang indonesia Alex, darah Indonesia, darah ibu ku mengalir dalam diriku.” Alena berucap dengan intonasi rendah tapi terlihat tegas. Kemudian berlanjut jalan mendahului Alex
“Alena..tunggu, kau tidak mungkin serius marah pada ku kan.” Alex memanggil Alena yang sudah mulai jauh dari nya
“ aku hanya tidak suka jika kau menjelek-jelekan Indonesia Alex.”
Alex mendengus sebal. Ia sangat yakin jika ucapan nya benar. “ Alena kenapa kau tidak tinggal dengan ku? Di Belanda, disana kita bisa tinggal di istana ku
“Ayahmu, kau bahkan belum naik tahta.” Alena semakin sebal dengan pandangan Alex pada Indonesia. Bayangkan, ia makan bahkan dari hasil menjarah negara Indonesia. Dan sekarang ia justru meminta Alena tinggal dengan nya, itu tidak mungkin
Sementara di lorong dari kejauhan terlihat kapten Willem sedang mengarahkan para awak kapal untuk menaikan layar, kapal akan mulai berlabuh. Semua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semua orang mempunyai tugas penting dalam perjalanan ini.
“Jonathan pegang kemudi dan buka peta menuju Rotterdam, kita tidak bisa menghabiskan banyak waktu disini. Perjalanan panjang akan segera di mulai. Mouren katakan pada  penumpang untuk bersiap dalam 1 jam.” Ucap kapten Willem pada para awak kapal



DUA
     Dalih Munthe, orang indonesia yang setia melayani Belanda dengan menjadi seorang kepala pelayan di kapal. Meskipun tugas nya jauh lebih rumit dari sekedar menjadi kepala pelayan di kapal. Terkadang dirinya harus menjadi penengah jika ada kegaduhan di kapal hanya karena perbedaan bahasa, pernah sekali terjadi kegaduhan yang hampir menimbulkan pertumpahan darah hanya karena kapal tersebut berisi orang Belanda dan orang Indonesia yang sama –sama tidak mengerti bahasa satu sama lain.
Dalih Munthe-
Aku bahkan tidak mengerti mengapa kepala ku terasa pening saat melihatnya, seperti ada yang memaksa ku untuk mengingat sesuatu yang sudah terasa asing bagi ku. Ya gadis itu, gadis keturunan Belanda seperti nya dahulu aku benar-benar mengenalinya. Entahlah, mungkin itu hanya suatu kebetulan. MUNGKIN.
Aku masih teringat kejadian 15 tahun silam, dimana saat aku berlayar dengan ayah dan ibu ku kapal kami di jarah oleh salah seorang kolonial Belanda. Dia menembak orang tua ku, dan membuang ku kelaut. Setelah itu bahkan aku tidak tahu apa-apa lagi. Seperti ada yang memaksa ku untuk melupakan nya atau memang aku yang ingin melupakan nya. Tidak, semua ini terasa rumit.
#
“kamar yang sangat indah yang disiapkan untuk Nona keturunan Belanda, bahkan dia sangat cantik. Pantas pangeran Alex tidak mau melepasnya.”gumam Dalih saat merapikan kamar  yang akan ditempati oleh Nona Belanda itu
“Terimakasih”. Alena menjawab dari balik pintu. Entah darimana ia muncul.
“maafkan saya” Dalih Munthe menunduk dan berjalan hendak keluar tapi Alena mencegah nya
“Tunggu, aku bahkan belum mengenal siapa nama mu”
“Dalih..Dalih Munthe”........
Dalih buru-buru menjawab dan pergi dari hadapan Alena, dia tidak mau mencari masalah dengan berbicara banyak-banyak dengan Alena dan dilihat Alex, pastilah masalah akan bertambah rumit. Sepertinya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya Dalih kembali ke kabin nya, beristirahat dan mulai bergulat dengan buku-buku serta pena nya. Ia sangat senang menulis, sudah banyak buku yang ia tulis. Karangan nya sangat indah.
“Mengapa banyak manusia menyia-nyia kan waktu, sedangkan saat menyesal mereka
 menyalahkan Tuhan tidak memberikan mereka cukup waktu.
 Mengapa waktu harus terasa singkat? Padahal mereka lah yang membuat waktu
 terasa singkat.
Mengapa banyak orang menyalahkan waktu untuk semua kegagalan mereka?
Bukan kah waktu selalu berdetak maju, tak pernah sekalipun ia berfikir untuk   mundur. Waktu terasa berharga bahkan untuk orang-orang yang menyia-nyia kan waktu sekalipun.”
“Buka, aku Alex.” Alex mengetuk-ngetuk pintu kabin
Mendengar suara ketukan dari pintu kabin nya Dalih bangkit dari meja yang sedari tadi akrab dengan nya, menghentikan aktivitas menulis nya.
“ya Tuan Alex, ada apa”
“apa kau bisa membantu ku”Alex menjeda ucapan nya. “Alena sedang marah padaku, dia bahkan tidak mau berbicara atau hanya sekedar melihat ku, aku mempercayai mu Dalih. Cobalah kau ajak dia bicara, aku sangat menyesal soal ucapan ku pada nya...”
“tapi Tuan, aku tidak begitu mengenal nya. Bahkan aku baru melihatnya, ehmm.. maksud ku apa Tuan yakin ingin meminta bantuan ku? Dan apa Tuan yakin dia mau diajak bicara oleh ku, pasalnya sejak tadi Nona Alena datang. Sepanjang lorong dari mulai kelasi kelas bawah sampai penumpang bangsawan sibuk membicarakan soal kecantikan dan keramahan Nona Alena. Apa Tuan tidak ingin meminta bantuan yang lain nya.”
Alex menghela nafas nya gusar “Sudah bicara nya?”. Dalih menunduk malu, ya ia juga tidak memungkiri bahwa Alena sangat cantik tapi dia yakin ada yang lebih pandai untuk masalah bicara dari hati ke hati
“dia tertarik dengan ke pribadian mu.” Singkat. Alex pergi dari hadapan Dalih dan di ikuti langkah Dalih yang membuntuti dari belakangan









TIGA
     Alena van Beijernik-
Mengapa laki-laki itu begitu menyebalkan, dia tidak berubah bahkan sejak 12 tahun silam.
            Gadis kecil dengan rambut bergelombang berwarna legam cokelat itu berlari menuruni anak tangga kapal. Penampilan nya sederhana hanya menggunakan baju lengan panjang berwarna putih dan celana putih selutut dengan paduan pita merah di leher. Sangat mencirikan bahwa ia adalah seorang keturunan bangsawan Belanda. Ia akan menghadiri perjamuan makan di Den Haag bersama keluarga dari ayahnya.
            Sementara di sisi lain, terlihat anak laki-laki menggunakan pakaian kerajaan belanda di dampingi oleh dua prajurit di sisi kiri dan kanan nya menunjukan dengan jelas bahwa ia seorang pangeran. Alex namanya.
Malam perjamuan 19:00 waktu Belanda
“Alena rapikan penampilanmu pangeran Alex menuju kemari”Tegur seorang perempuan cantik berumur sekitar 27 tahun yang ia sapa dengan panggilan mama
‘untuk apa ia harus berpenampilan rapi hanya untuk seseorang’Batin Alena bingung, namun ia menuruti perintah ibunya
Pangeran Alex... Pangeran Alex...
Ramai sorak para kelasi dan pelayan serta warga kerajaan yang bersiap berjajar rapi menyambut sang pangeran calon pewaris tahta 2 dekade kedepan. Di saat semua bersiap berjajar rapi menunduk hanya Alena yang tidak menundukan kepala nya.
“Alena tundukan kepalamu”Mamanya yang berada di sebelahnya mengingatkan, sangat pelan sampai nyaris tak terdengar. Alena menuruti.
Semua kelasi bersiap dan mulai sibuk dengan peralatan dapur, meja hidangan pun sudah tersusun rapi dengan beragam makanan lezat. Alena duduk bersebrangan dengan Alex
“heyy mungkin nanti kita bisa bertukar mainan Nona.”Alex berbisik pada Alena yang ada di hadapan nya
“Alex tutup mulut mu saat sedang penuh makanan”.Ratu Marieem mengingatkan dengan halus. Alex hanya mendesis
‘Dia anak yang tidak sopan’Batin Alena. Penilaian pertama dimata Alena dia sudah menunjukan image yang buruk.
Hening. Hanya suara dentingan antara pisau garpu dengan piring yang menghiasi perjamuan malam itu. Perjamuan berlangsung sampai pukul 20:00. Setelah semua selesai para tau mulai beranjak meninggalkan meja makan mereka mengucapkan ‘Dank’ pada satu sama lain, yang artinya terimakasih dalam bahasa Belanda.
Masing-masing mulai kembali ke kamar dalam kerajaan tersebut. Begitupun dengan Alena.
“tunggu sebentar”Alex menghentikan langkah Alena. “Aku pangeran Alex,ca..”
“calon pewaris tahta di kerajaan ini, aku sudah tau”
Alex tertegun. Baru kali ini ada yang tidak mau mendengarkan nya. “baiklah, Alena apa kau ingin berjalan-jalan sebentar dengan ku mengelilingi kerajaan. Ini kunjungan pertama mu kan.”
“sepertinya ti...”
“kumohon, aku mempunyai banyak mainan baru. Kau mau mainan apa saja aku pasti akan memberikan. Bagaimana, ini perintah seorang pangeran?”
Penilaian kedua. Dia adalah orang yang angkuh, untuk apa Alena mau bermain dengan nya bukan?
“kau terlalu angkuh aku tidak mau bermain dengan mu”.
“heyy ada apa kalian berdua, kenapa ribut-ribut malam begini”.Mama Alena menghampiri putrinya dan pangeran Alex kecil
“aku hanya menawarkan untuk mengelilingi istana”.Alex menjawab. Tapi bukankah ia meminta Alena, bukan menawarkan.
Alena memutar bola matanya sebal mengingat kejadian 12 tahun silam. Di tengah lamunan nya tentang masa lalu, dari pintu kabin terdengar ketukan. Alex, Alena yakin itu Alex. Sedari tadi ia terus meminta maaf di tangga perihal ucapan nya. Mendengar pintu kabin terus di ketuk ia mulai membukanya dengan malas.
“Dalih”. Tebakan Alena salah
“Maaf Nona mengganggu, saya dikirim Tuan Alex”. Alena benar, rupanya Alex sudah menyerah sampai-sampai harus mengirim Dalih kemari.
“Dalih bilang saja pada Alex ..”
“Maaf saya memotong ucapan Nona. Tapi Nona tentu lebih mengenal Tuan Alex. Dia memang sedikit keras kepala dan menyebalkan, tapi dia sangat gelisah saat Nona marah padanya sampai-sampai mengirim saya kemari. Lebih baik Nona memaafkan nya”. Jelas Dalih panjang lebar pada Alena
“baiklah Dalih aku akan bicara padanya nanti.”
Dalih membungkukan badan nya dan berpamit kembali ke kabin nya.
            “Tunggu Dalih buku apa yang ada di tangan mu”Alena menatap tertarik pada Dalih. Sepertinya Dalih lupa untuk menyimpan buku yang baru saja ia selesaikan
            “Bukan apa-apa, apa Nona tertarik ingin membacanya?”. Tanpa menunggu lama buku itu sudah berpindah tangan
            “Dank”.
Dalih tersenyum ramah dan kemudian berbalik meninggalkan Alena, menuju kabin nya kembali. Meneruskan tulisan nya yang sempa tebengkalai.
EMPAT
     Alex van de Jonge-
Entah sudah berapa lama sejak perjamuan makan malam itu, aku bertemu kembali dengan Alena. Gadis kecil berumur 7 tahun keras kepala itu kini menjelma sebagai gadis cantik hanya saja masih keras kepala. Ya, Alena begitu keras kepala. Ia tidak pernah bisa membedakan mana yang serius dan gurauan. Ia selalu serius meanggapi apapun, entah siapa sebenarnya yang keras kepala Alena atau diriku. Tapi sepertinya aku merasa cocok dengan dirinya. Sejak 12 tahun silam bahkan untuk sedetik pun aku tidak pernah bisa untuk tidak memikirkan nya. Dan saat ini dia sedang marah padaku, aku mengirim Dalih Munthe untuk membujuk Alena agar memaafkan ku. Semoga saja ia mau mendengarkan Dalih.
#
            Setelah menunggu Dalih untuk beberapa waktu, orang yang ditunggu pun datang.
“Maaf Tuan, saya sudah sampaikan kepada Nona Alena. Dia mengatakan akan mengunjungi Tuan.” Jelas Dalih pada Alex.
Dank, kamu bisa pergi”
Dalih pamit pada Alex dan pergi menuju ke kabin.
#
Pagi harinya, Alena menepati ucapannya pada Dalih untuk menemui Alex dan memaafkannya.
“Alex soal kemarin, aku memang tidak suka kamu menghina bangsa ku. Sepertinya aku terlalu emosi kemarin sampai-sampai begitu marahnya padamu.”
Alex berbinar bahagia “sudah kuduga kamu tidak bisa marah terlalu lama padaku Alena” Alex menyeringai jail.
“mungkin tidak juga, jika kamu tidak mengirm Dalih padaku. Bahkan semalam ia meminjamkan aku buku karya nya. Dia sangat berbakat Alex , mungkin juga..”Alena menggigit bibir bawahnya. Alex menautkan alis nya, menunggu Kalimat Alena selanjutnya.”mungkin juga apa Alena?”
“Tampan”. Pipi Alena bersemu merah. Namun tidak dengan Alex, desir darah nya terasa terhenti. Bahkan Alena tidak pernah memuji nya, sejak itu ia menyadari jika Alena menyukai Dalih
‘aku harus menyingkirkan Dalih dari Alena”.
‘aku tidak akan melepaskan apa yang sudah aku miliki, Alena mungkin belum menjadi miliki ku. Tapi harus, ia harus menjadi milik ku’.



LIMA
     Sejak kejadian malam itu Alena semakin penasaran dengan sosok Dalih, ia seringkali bertemu dan menyapa nya. Namun Dalih mengabaikan dan menghindari nya, sebenarnya kenapa? Bahkan untuk mengembalikan buku yang di pinjamkan Dalih saja, Dalih tetap menghindari Alena. Kenapa? Apa ada yang disembunyikan.
#
Di pagi hari saat jam sarapan, kantin kapal mulai penuh dengan para penumpang yang mengantri mengambil makanan. Alena berkunjung ke kantin untuk sekedar menemui Dalih. Sedangkan Dalih semakin hari semakin menghindari Alena.
“Dalih aku ingin bicara dengan mu sebentar”.hanya kalimat biasa, namun siapapun pasti menyadari ada kesakitan dalam ucapan Alena. Dalih melihat kesekitar. “5 menit Alena”. Dalih berucap dalam bahasa Belanda nya yang fasih.
Mereka berdua pun meunju lorong kapal di bagian selatan kantin
“ada apa sampai Nona mencari saya”
            “kenapa kamu menghindari saya Dalih”Alena bergetar mengucapkan nya, entah mengapa bisa begitu. Bukankah Dalih bukan milik Alena?. Dalih hanya diam tak berani menjawab. Takut-takut jawaban nya salah
            “jawab aku Dalih, lihat aku Alena van Beijernik”
“ahh..”Dalih memegani kepalanya ‘Beijernik’ ya Dalih ingat nama itu, itu nama belakang kolonial yang membunuh orangtua nya dan melemparkan nya kelaut. Hatinya terasa sakit, gadis yang diam-diam bahkan ia sayangi ternyata ada hubungan dengan ‘Beijernik’. Air matanya menetes namun kepala nya terasa pening, ia tidak bisa berpikir jernih.
            “aku membencimu Beijernik”.Dalih mengucapkan itu sambil menatap Alena dengan tatapan kebencian dan berlalu meninggalkan Alena yang terisak mendengar jawaban Dalih. Tidak. Dalih bahkan tidak mengucapkan itu sungguh-sungguh bukan. Ia mengucapkan Beijernik bukan Alena
Sejak kejadian itu keduanya semakin renggang dan Alena dipaksa menetap di Belanda oleh ayahnya dan menikah dengan Alex sekitar 3 bulan lagi perjalanan kapal.
#
‘aku membencimu Beijernik’ kata yang di ucapakan Dalih itu terus terngiang dalam pikiran Alena, mengapa Dalih mengucapkan itu. Adakah masa lalu Dalih dengan Beijernik.
Pikiran Alena mengawang dan ia teringat kotak kecil berisi kerang laut yang indah. Saat dirinya masih kecil ia selalu bercerita pada kerang laut itu tentang apapun. Aneh memang, tapi itulah yang di lakukan Alena.
Tunggu. Bagaimana Alena mendapatkan kerang itu?Alena mencoba mengingat-ingat masa kecilnya
“Alena jangan terlalu ketengah lautan sayang”
“Alena..”
“Alena...”
Alena pernah tenggelam di lautan, ya dia ingat itu. Kenapa dia bisa melupakan kejadian itu? Kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Dia diselamatkan oleh anak laki-laki. Alena mencoba mengingat-ingat kembali. Saat mereka sudah berhasil menepi ke batuan karang, anak itu bercerita bahwa dia di lempar kelaut oleh seoang kompeni Belanda. Dan namanya adalah ....Munthe
Dank
“kamu orang Belanda?”Tanya anak laki-laki kecil itu badannya kurus dan terlihat banyak luka di tubuhnya. Badan nya terlihat pucat kedinginan. Anak perempuan itu mengangguk bangga
“aku Munthe, Dalih Munthe. Maaf sepertinya aku harus pergi”
“tunggu. Bagaimana cara aku bisa bertemu kamu lagi”
Anak laki-laki itu menatap ke arah kepalan tangan nya dan mendapatkan kerang laut yang di ambil nya di tepian saat bersama ayah ibu nya. “kau simpan saja ini. Jika ada yang mengenali nya. Itu aku”
            Alena membuka kelopak matanya, dia ingat Dalih dan dirinya saat kecil pernah bertemu dan kerang laut di genggaman nya kini adalah saksi nya
“bagimana mungkin aku bisa melupakan Munthe, Dalih adalah Munthe. Ya namanya Dalih Munthe. Aku yakin Dalih juga mengenali ku”. Alena bangkit dan membawa kotak itu keluar dari kabin nya mencari Dalih
Namun saat keluar kabin, terlihat keributan di lorong kapal. Semua penumpang berlarian menuju ruang tengah kapal.
“maaf Nona ada apa?”Alena menghentikan salah satu penumpang
“ada yang akan di hukum penggal oleh Tuan Alex karena ketauhan mencuri”perempuan tadi menjawab dengan tergesa-gesa. Alena masih mematung di tempat dan seperdetik kemudian berlari kearah yang sama bahkan lebih cepat. Nafasnya masih tak beraturan. Dia melihat Dalih di ikat di tiang kapal oleh para prajurit Alex
Alena menghampiri Alex “Alex apa yang akan kamu lakukan pada Dalih”. Alena membulatkan matanya dan berbicara dengan intonasi tinggi
“dia telah mencuri barangku Alena, dan pencuri harus mati”. Alex menjawab dan mengarahkan pandangan nya pada Dalih yang terikat lemas dan tertunduk. Rupanya Alex tidak main-main dengan ucapan nya ingin menyingkirkan Dalih!
Alena menutup mulutnya terkejut, Alena sangat yakin Dalih tidak akan melakukan hal seperti itu. Alena menghampiri Dalih yang terikat di tiang kapal. “Dalih lihat aku, aku Alena. Gadis kecil yang kau selamatkan 15 tahun silam. Kau memberikan ini untuk ku Dalih. Kau pasti ingat”Alena berucap sembari menunjukan kerang laut pemberian Dalih kecil
Dalih mengangkat kepalanya menatap Alena “aku ingat Alena, bahkan sangat ingat. Hanya saja aku tidak mau berhubungan dengan Beijernik.”Dalih menjeda ucapan nya “pembunuh kedua orang tua ku. Apa kau tahu siapa yang membuang ku kelaut? Ayahmu Alena ayahmu. Tuan Beijernik. Dia merenggut kebahagian ku, tapi entah mengapa justru aku menyelamatkan putri nya” Dalih menatap Alena dengan tatapan sendu. Ia merasa sakit mengucapkan itu. Untaian kebencian yang keluar dari mulutnya. Air mata Alena perlahan turun, dadanya terasa sakit mendengar itu dari Dalih
“ku cinta kau Alena”. Alena menatap Dalih.“bahkan saat pertama melihatmu 3 bulan lalu. Aku tahu kau gadis kecil yang pernah aku selamatkan. Aku selalu mencarimu sejak kejadian itu, aku merasa nyaman denganmu Alena. Entah darimana perasaan itu muncul. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku bekerja setia pada orang Belanda agar aku suatu saat bisa menemukan mu. Dan aku menemukan mu. Aku ingin Indonesia merdeka dan menikah dengan mu. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi”. Dalih akhirnya mengucapkan nya. Mengutarakan perasaan nya pada gadis kecil 15 tahun silam yang kini ada dihadapan nya. Alena masih tak berucap satu kata pun. Air matanya terus mengalir. Ia menangis sesegukan
“sayang sekali pertemuan kedua kita pun harus berjalan singkat ya Alena”. Dalih mengucapkan nya dengan tersenyum. Alena menangis semakin menjadi
“tolong baca ini”Dalih memberikan buku berjudul Rindu. Alena menerimanya dari tangan Dalih yang terikat.
“aku juga mencintai mu Dalih”Alena menyatukan keningnya dengan kening Dalih. Tapi badan nya ditarik oleh prajurit Alex.
“PENGGAL si PENCURI”. Alex mengucapkan nya dengan amarah berapi-api. Dadanya sesak melihat pemandangan itu
“TIDAKKKKKKKKK!!!!!”. Teriakan Alena bersamaan dengan cipratan darah Dalih pada wajah nya. Darah orang yang dicintai nya dan mencintai nya.
Alena menatap Alex penuh amarah. Dia bangkit dan merebut pedang tajam di tangan salah seorang prajurit Alex. “aku menantang mu Alex, akan ku buktikan dengan merebut Indonesia dari mu”Alena mengarahkan pedang nya ke arah Alex. Warga Indonesia yang ada di dalam kapal pun ikut bergemuruh menunjukan kemarahan nya. Mereka semua membantu Alena melawan Alex dan prajurit nya
Alex dan prajurit nya kalang kabut menghadapi Alena dan kemarahan warga Indonesia.
“Tuan Alex bagaimana ini?”
 “Bunuh mereka semua. Tapi jangan lukai Alena sedikit pun”
Kapal riuh, pertumpahan darah tak bisa terelak kan lagi. Bunyi decitan pedang satu sama lain, tangisan anak keil yang ada di dalam kapal. Air mata. Darah. Ya ini perang!
Alena terus mengayun kan pedang nya lihai, Alex tidak membalas hanya menangkis semua pergerak kan Alena” Alena sadarlah”. Alena tidak mendengarkan, ia semakin jadi mengahadapi Alex. Dan ia berhasil. Alex mati tertusuk di bagian perut oleh Alena. Alena terduduk lemas, masih dengan memegangi pedang yang menancap di perut Alex.
Semua prajurit Alex mengarahkan pedang, dan senapan kepada Alena. Alena di amankan dan di anggap sebagai pengkhianat Belanda. Ia di asingkan di Sri Lanka untuk waktu yang lama. Tapi ia tetap berjasa dalam kemerdekaan Indonesia, ia seringkali mengirim strategi perang melalui teman Belanda nya yang setia.
Tidak banyak yang tahu jasa Alena di balik kemerdekaan Indoneisa. Alena meninggal tepat 16 agustus 1945, sehari sebelum proklamasi kemerdekaan di bacakan.

“RINDU”
Gadis kecil 15 tahun silam, aku merindukan mu. Entah takdir apa yang mempertemukan kita kembali di atas kapal ini.
Kau idak tahu, begitu terluka nya diriku merindukan mu. Kau tiak tahu berapa banyak air mata yang jatuh untuk merindukan mu. Kapal menjai saksi. Air laut bergemuruh keras seolah ikut merasa kan sakit atas kerinduan ini.
Jika semua yang tercipta adalah untuk dirasakan, lalu mengapa aku seakan sangat berdosa hanya karena merindukan mu?-Dalih Munthe


-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar