ALENA : DIBALIK KEMERDEKAN 1945
Karya : Dea Cintya
SATU
Cerita
ini bermula di pagi hari tahun 1939, Alena sedang bersiap di pelabuhan Utara
Jawa menunggu kapal yang akan belabuh di dermaga. Alena adalah seorang gadis
berumur 19 tahun keturunan Belanda. Ayahnya adalah seorang meneer Belanda dan
ibunya seorang pribumi asli, di kawasan tempat tinggalnya Alena adalah seorang
bangsawan, oleh karena itu ia mampu menerusukan pendidikan nya sampai sekolah
tinggi. Sebenarnya ia mengenyam pendidikan untuk para bangsawan di Indonesia.
Namun ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk meneruskan sekolah tingginya disana.
Dari
kejauhan terlihat kapal uap bertuliskan Rotterdam-Holand di bagian lambung
kapal yang mulai menepi ke dermaga, cerebong uapnya mengeluarkan asam hitam
pekat yang mengepul. Saat itu Indonesia masih menggunakan nama Hindia-Belanda 6
tahun sebelum tahun 1945 kemerdekaan indonesia.
Terlihat
para kuli panggul menghampiri kapal untuk menaik turunkan barang dari kapal.
Seorang Belanda berperawakan tinggi turun dari kapal dengan pakaian kolonial,
memerintahkan para kuli panggul untuk menurunkan barang dari atas kapal,
sekitar 5 orang kuli panggul menunduk dan segera menurunkan barang-barang.
Dermaga ini memang sering menjadi tempat persinggahan kapal-kapal, yang hendak
berdagang atau mengangkut rempah-rempah hasil jarahan Belanda untuk dibawa ke
Eropa.
Alena
bangkit dan berjalan diantara kerumunan orang-orang yang hendak turun maupun
menaiki kapal.
“Alena....” Seseorang memanggil Alena dari kejauhan.
Alena menyipitkan matanya memfokuskan pada seseorang yang memanggilnya dan
seperdetik kemudian melambaikan tangannya.
“Alex!!”. Teriak Alena dan berlari menghampiri Alex.
“Aku sudah menunggumu sangat lama”. Gerutu Alena
Alex
adalah teman Alena berkebangsaan Belanda, mereka bertemu pertama kali pada
perjamuan makan di Den Haag saat umur Alena masih 7 tahun sejak saat itu mereka
sering berkabar melalui surat, karena Alex tinggal di Belanda dan Alena di
indonesia. Mereka berkabar 5 bulan sekali melalui surat yang dibawa oleh para
prajurit Alex yang dikirimkan ke Indonesia.
“Maafkan aku Alena, keadaan di laut berubah-ubah
kami harus menepi dahulu saat di Sri Lanka karena badai.”Jelas Alex pada Alena,
terlihat raut kecewa di wajah Alex. Alena tersenyum dan membalas dengan anggukan.
Ditengah- tengah percakapan mereka datang seorang pelayan menawarkan membawa
koper Alena keatas kapal, perawakannya seperti orang pribumi. Alena
memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, Alex memahami keanehan
yang Alena rasakan.”dia orang Indonesia.” Alena mengalihkan pandangannya pada
Alex tertarik.”ia pandai berbahasa Belanda dan Inggris, dia dipekerjakan agar
dapat menerjemahkan jika ada utusan Indonesia. Ya kau tau sendiri kan Alena
jika dalam kapal terkadang bisa terjadi perselisihan karena salah paham dalam
bahasa.” Alena mengangguk dan kembali menatap pria dihadapan nya.
“bawakan koper tersebut ke kamar Alena di lantai 2
kapal.” Perintah Alex pada pria tersebut dan langsung dilaksanakan. Pria
tersebut pergi dari hadapan Alex dan Alena.
“aku bahkan belum mengetahui siapa namanya Alex.”
Alex tertawa dan mulai menaiki tangga kapal di ikuti Alena. “apa pentingnya
Alena nama seorang pelayan Indonesia kelas bawah seperti dirinya”. Alex menatap
Alena meminta persetujuan atas ucupan nya barusan pada Alena dengan tawa kecil
Alena menghentikan langkah kaki nya. Tertegun atas
ucapan Alex. Dia bahkan adalah seorang Indonesia. “aku orang indonesia Alex,
darah Indonesia, darah ibu ku mengalir dalam diriku.” Alena berucap dengan
intonasi rendah tapi terlihat tegas. Kemudian berlanjut jalan mendahului Alex
“Alena..tunggu, kau tidak mungkin serius marah pada
ku kan.” Alex memanggil Alena yang sudah mulai jauh dari nya
“ aku hanya tidak suka jika kau menjelek-jelekan
Indonesia Alex.”
Alex mendengus sebal. Ia sangat yakin jika ucapan
nya benar. “ Alena kenapa kau tidak tinggal dengan ku? Di Belanda, disana kita
bisa tinggal di istana ku
“Ayahmu, kau bahkan belum naik tahta.” Alena semakin
sebal dengan pandangan Alex pada Indonesia. Bayangkan, ia makan bahkan dari
hasil menjarah negara Indonesia. Dan sekarang ia justru meminta Alena tinggal
dengan nya, itu tidak mungkin
Sementara di lorong dari kejauhan terlihat kapten
Willem sedang mengarahkan para awak kapal untuk menaikan layar, kapal akan
mulai berlabuh. Semua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semua orang
mempunyai tugas penting dalam perjalanan ini.
“Jonathan pegang kemudi dan buka peta menuju
Rotterdam, kita tidak bisa menghabiskan banyak waktu disini. Perjalanan panjang
akan segera di mulai. Mouren katakan pada
penumpang untuk bersiap dalam 1 jam.” Ucap kapten Willem pada para awak
kapal
DUA
Dalih Munthe, orang indonesia yang setia
melayani Belanda dengan menjadi seorang kepala pelayan di kapal. Meskipun tugas
nya jauh lebih rumit dari sekedar menjadi kepala pelayan di kapal. Terkadang
dirinya harus menjadi penengah jika ada kegaduhan di kapal hanya karena
perbedaan bahasa, pernah sekali terjadi kegaduhan yang hampir menimbulkan
pertumpahan darah hanya karena kapal tersebut berisi orang Belanda dan orang
Indonesia yang sama –sama tidak mengerti bahasa satu sama lain.
Dalih Munthe-
Aku bahkan tidak mengerti mengapa kepala ku terasa
pening saat melihatnya, seperti ada yang memaksa ku untuk mengingat sesuatu
yang sudah terasa asing bagi ku. Ya gadis itu, gadis keturunan Belanda seperti
nya dahulu aku benar-benar mengenalinya. Entahlah, mungkin itu hanya suatu
kebetulan. MUNGKIN.
Aku masih teringat kejadian 15 tahun silam, dimana
saat aku berlayar dengan ayah dan ibu ku kapal kami di jarah oleh salah seorang
kolonial Belanda. Dia menembak orang tua ku, dan membuang ku kelaut. Setelah
itu bahkan aku tidak tahu apa-apa lagi. Seperti ada yang memaksa ku untuk
melupakan nya atau memang aku yang ingin melupakan nya. Tidak, semua ini terasa
rumit.
#
“kamar yang sangat indah yang disiapkan untuk Nona
keturunan Belanda, bahkan dia sangat cantik. Pantas pangeran Alex tidak mau
melepasnya.”gumam Dalih saat merapikan kamar
yang akan ditempati oleh Nona Belanda itu
“Terimakasih”. Alena menjawab dari balik pintu.
Entah darimana ia muncul.
“maafkan saya” Dalih Munthe menunduk dan berjalan
hendak keluar tapi Alena mencegah nya
“Tunggu, aku bahkan belum mengenal siapa nama mu”
“Dalih..Dalih Munthe”........
Dalih buru-buru menjawab dan pergi dari hadapan
Alena, dia tidak mau mencari masalah dengan berbicara banyak-banyak dengan
Alena dan dilihat Alex, pastilah masalah akan bertambah rumit. Sepertinya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya Dalih
kembali ke kabin nya, beristirahat dan mulai bergulat dengan buku-buku serta
pena nya. Ia sangat senang menulis, sudah banyak buku yang ia tulis. Karangan
nya sangat indah.
“Mengapa banyak manusia
menyia-nyia kan waktu, sedangkan saat menyesal mereka
menyalahkan Tuhan tidak memberikan mereka
cukup waktu.
Mengapa waktu harus terasa singkat? Padahal
mereka lah yang membuat waktu
terasa singkat.
Mengapa banyak orang
menyalahkan waktu untuk semua kegagalan mereka?
Bukan kah waktu selalu
berdetak maju, tak pernah sekalipun ia berfikir untuk mundur. Waktu terasa berharga bahkan untuk
orang-orang yang menyia-nyia kan waktu sekalipun.”
“Buka, aku Alex.” Alex mengetuk-ngetuk pintu kabin
Mendengar suara ketukan dari pintu kabin nya Dalih
bangkit dari meja yang sedari tadi akrab dengan nya, menghentikan aktivitas
menulis nya.
“ya Tuan Alex, ada apa”
“apa kau bisa membantu ku”Alex menjeda ucapan nya.
“Alena sedang marah padaku, dia bahkan tidak mau berbicara atau hanya sekedar
melihat ku, aku mempercayai mu Dalih. Cobalah kau ajak dia bicara, aku sangat
menyesal soal ucapan ku pada nya...”
“tapi Tuan, aku tidak begitu mengenal nya. Bahkan
aku baru melihatnya, ehmm.. maksud ku apa Tuan yakin ingin meminta bantuan ku?
Dan apa Tuan yakin dia mau diajak bicara oleh ku, pasalnya sejak tadi Nona
Alena datang. Sepanjang lorong dari mulai kelasi kelas bawah sampai penumpang bangsawan
sibuk membicarakan soal kecantikan dan keramahan Nona Alena. Apa Tuan tidak
ingin meminta bantuan yang lain nya.”
Alex menghela nafas nya gusar “Sudah bicara nya?”.
Dalih menunduk malu, ya ia juga tidak memungkiri bahwa Alena sangat cantik tapi
dia yakin ada yang lebih pandai untuk masalah bicara dari hati ke hati
“dia tertarik dengan ke pribadian mu.” Singkat. Alex
pergi dari hadapan Dalih dan di ikuti langkah Dalih yang membuntuti dari
belakangan
TIGA
Alena van Beijernik-
Mengapa laki-laki itu begitu menyebalkan, dia tidak
berubah bahkan sejak 12 tahun silam.
Gadis
kecil dengan rambut bergelombang berwarna legam cokelat itu berlari menuruni
anak tangga kapal. Penampilan nya sederhana hanya menggunakan baju lengan
panjang berwarna putih dan celana putih selutut dengan paduan pita merah di
leher. Sangat mencirikan bahwa ia adalah seorang keturunan bangsawan Belanda.
Ia akan menghadiri perjamuan makan di Den Haag bersama keluarga dari ayahnya.
Sementara
di sisi lain, terlihat anak laki-laki menggunakan pakaian kerajaan belanda di
dampingi oleh dua prajurit di sisi kiri dan kanan nya menunjukan dengan jelas
bahwa ia seorang pangeran. Alex namanya.
Malam perjamuan 19:00 waktu Belanda
“Alena rapikan penampilanmu pangeran Alex menuju
kemari”Tegur seorang perempuan cantik berumur sekitar 27 tahun yang ia sapa
dengan panggilan mama
‘untuk apa ia harus berpenampilan rapi hanya untuk
seseorang’Batin Alena bingung, namun ia menuruti perintah ibunya
Pangeran Alex... Pangeran Alex...
Ramai sorak para kelasi dan pelayan serta warga
kerajaan yang bersiap berjajar rapi menyambut sang pangeran calon pewaris tahta
2 dekade kedepan. Di saat semua bersiap berjajar rapi menunduk hanya Alena yang
tidak menundukan kepala nya.
“Alena tundukan kepalamu”Mamanya yang berada di
sebelahnya mengingatkan, sangat pelan sampai nyaris tak terdengar. Alena
menuruti.
Semua kelasi bersiap
dan mulai sibuk dengan peralatan dapur, meja hidangan pun sudah tersusun rapi
dengan beragam makanan lezat. Alena duduk bersebrangan dengan Alex
“heyy mungkin nanti
kita bisa bertukar mainan Nona.”Alex berbisik pada Alena yang ada di hadapan
nya
“Alex tutup mulut mu
saat sedang penuh makanan”.Ratu Marieem mengingatkan dengan halus. Alex hanya
mendesis
‘Dia anak yang tidak
sopan’Batin Alena. Penilaian pertama dimata Alena dia sudah menunjukan image
yang buruk.
Hening. Hanya suara dentingan antara pisau garpu
dengan piring yang menghiasi perjamuan malam itu. Perjamuan berlangsung sampai
pukul 20:00. Setelah semua selesai para tau mulai beranjak meninggalkan meja
makan mereka mengucapkan ‘Dank’ pada
satu sama lain, yang artinya terimakasih dalam bahasa Belanda.
Masing-masing mulai kembali ke kamar dalam kerajaan
tersebut. Begitupun dengan Alena.
“tunggu sebentar”Alex
menghentikan langkah Alena. “Aku pangeran Alex,ca..”
“calon pewaris tahta di
kerajaan ini, aku sudah tau”
Alex tertegun. Baru
kali ini ada yang tidak mau mendengarkan nya. “baiklah, Alena apa kau ingin
berjalan-jalan sebentar dengan ku mengelilingi kerajaan. Ini kunjungan pertama
mu kan.”
“sepertinya ti...”
“kumohon, aku mempunyai
banyak mainan baru. Kau mau mainan apa saja aku pasti akan memberikan.
Bagaimana, ini perintah seorang pangeran?”
Penilaian kedua. Dia
adalah orang yang angkuh, untuk apa Alena mau bermain dengan nya bukan?
“kau terlalu angkuh aku
tidak mau bermain dengan mu”.
“heyy ada apa kalian
berdua, kenapa ribut-ribut malam begini”.Mama
Alena menghampiri putrinya dan pangeran Alex kecil
“aku hanya menawarkan
untuk mengelilingi istana”.Alex menjawab. Tapi bukankah ia meminta Alena, bukan
menawarkan.
Alena memutar bola matanya sebal mengingat kejadian
12 tahun silam. Di tengah lamunan nya tentang masa lalu, dari pintu kabin
terdengar ketukan. Alex, Alena yakin itu Alex. Sedari tadi ia terus meminta
maaf di tangga perihal ucapan nya. Mendengar pintu kabin terus di ketuk ia
mulai membukanya dengan malas.
“Dalih”. Tebakan Alena
salah
“Maaf Nona mengganggu,
saya dikirim Tuan Alex”. Alena benar, rupanya Alex sudah menyerah sampai-sampai
harus mengirim Dalih kemari.
“Dalih bilang saja pada
Alex ..”
“Maaf saya memotong
ucapan Nona. Tapi Nona tentu lebih mengenal Tuan Alex. Dia memang sedikit keras
kepala dan menyebalkan, tapi dia sangat gelisah saat Nona marah padanya
sampai-sampai mengirim saya kemari. Lebih baik Nona memaafkan nya”. Jelas Dalih
panjang lebar pada Alena
“baiklah Dalih aku akan
bicara padanya nanti.”
Dalih membungkukan badan nya dan berpamit kembali ke
kabin nya.
“Tunggu
Dalih buku apa yang ada di tangan mu”Alena menatap tertarik pada Dalih.
Sepertinya Dalih lupa untuk menyimpan buku yang baru saja ia selesaikan
“Bukan
apa-apa, apa Nona tertarik ingin membacanya?”. Tanpa menunggu lama buku itu
sudah berpindah tangan
“Dank”.
Dalih tersenyum ramah dan kemudian berbalik
meninggalkan Alena, menuju kabin nya kembali. Meneruskan tulisan nya yang sempa
tebengkalai.
EMPAT
Alex van de Jonge-
Entah sudah berapa lama sejak perjamuan makan malam
itu, aku bertemu kembali dengan Alena. Gadis kecil berumur 7 tahun keras kepala
itu kini menjelma sebagai gadis cantik hanya saja masih keras kepala. Ya, Alena
begitu keras kepala. Ia tidak pernah bisa membedakan mana yang serius dan
gurauan. Ia selalu serius meanggapi apapun, entah siapa sebenarnya yang keras
kepala Alena atau diriku. Tapi sepertinya aku merasa cocok dengan dirinya.
Sejak 12 tahun silam bahkan untuk sedetik pun aku tidak pernah bisa untuk tidak
memikirkan nya. Dan saat ini dia sedang marah padaku, aku mengirim Dalih Munthe
untuk membujuk Alena agar memaafkan ku. Semoga saja ia mau mendengarkan Dalih.
#
Setelah
menunggu Dalih untuk beberapa waktu, orang yang ditunggu pun datang.
“Maaf Tuan, saya sudah sampaikan kepada Nona Alena.
Dia mengatakan akan mengunjungi Tuan.” Jelas Dalih pada Alex.
“Dank,
kamu bisa pergi”
Dalih pamit pada Alex dan pergi menuju ke kabin.
#
Pagi harinya, Alena menepati ucapannya pada Dalih
untuk menemui Alex dan memaafkannya.
“Alex soal kemarin, aku memang tidak suka kamu menghina
bangsa ku. Sepertinya aku terlalu emosi kemarin sampai-sampai begitu marahnya
padamu.”
Alex berbinar bahagia “sudah kuduga kamu tidak bisa
marah terlalu lama padaku Alena” Alex menyeringai jail.
“mungkin tidak juga, jika kamu tidak mengirm Dalih
padaku. Bahkan semalam ia meminjamkan aku buku karya nya. Dia sangat berbakat
Alex , mungkin juga..”Alena menggigit bibir bawahnya. Alex menautkan alis nya,
menunggu Kalimat Alena selanjutnya.”mungkin juga apa Alena?”
“Tampan”. Pipi Alena bersemu merah. Namun tidak
dengan Alex, desir darah nya terasa terhenti. Bahkan Alena tidak pernah memuji
nya, sejak itu ia menyadari jika Alena menyukai Dalih
‘aku harus menyingkirkan Dalih dari Alena”.
‘aku tidak akan melepaskan apa yang sudah aku
miliki, Alena mungkin belum menjadi miliki ku. Tapi harus, ia harus menjadi
milik ku’.
LIMA
Sejak kejadian malam itu Alena semakin
penasaran dengan sosok Dalih, ia seringkali bertemu dan menyapa nya. Namun
Dalih mengabaikan dan menghindari nya, sebenarnya kenapa? Bahkan untuk
mengembalikan buku yang di pinjamkan Dalih saja, Dalih tetap menghindari Alena.
Kenapa? Apa ada yang disembunyikan.
#
Di pagi hari saat jam sarapan, kantin kapal mulai
penuh dengan para penumpang yang mengantri mengambil makanan. Alena berkunjung
ke kantin untuk sekedar menemui Dalih. Sedangkan Dalih semakin hari semakin
menghindari Alena.
“Dalih aku ingin bicara dengan mu sebentar”.hanya
kalimat biasa, namun siapapun pasti menyadari ada kesakitan dalam ucapan Alena.
Dalih melihat kesekitar. “5 menit Alena”. Dalih berucap dalam bahasa Belanda
nya yang fasih.
Mereka berdua pun meunju lorong kapal di bagian selatan
kantin
“ada apa sampai Nona
mencari saya”
“kenapa
kamu menghindari saya Dalih”Alena bergetar mengucapkan nya, entah mengapa bisa
begitu. Bukankah Dalih bukan milik Alena?. Dalih hanya diam tak berani
menjawab. Takut-takut jawaban nya salah
“jawab
aku Dalih, lihat aku Alena van Beijernik”
“ahh..”Dalih memegani kepalanya ‘Beijernik’ ya Dalih
ingat nama itu, itu nama belakang kolonial yang membunuh orangtua nya dan
melemparkan nya kelaut. Hatinya terasa sakit, gadis yang diam-diam bahkan ia
sayangi ternyata ada hubungan dengan ‘Beijernik’. Air matanya menetes namun
kepala nya terasa pening, ia tidak bisa berpikir jernih.
“aku
membencimu Beijernik”.Dalih mengucapkan itu sambil menatap Alena dengan tatapan
kebencian dan berlalu meninggalkan Alena yang terisak mendengar jawaban Dalih.
Tidak. Dalih bahkan tidak mengucapkan itu sungguh-sungguh bukan. Ia mengucapkan
Beijernik bukan Alena
Sejak kejadian itu keduanya semakin renggang dan
Alena dipaksa menetap di Belanda oleh ayahnya dan menikah dengan Alex sekitar 3
bulan lagi perjalanan kapal.
#
‘aku membencimu Beijernik’ kata yang di ucapakan
Dalih itu terus terngiang dalam pikiran Alena, mengapa Dalih mengucapkan itu.
Adakah masa lalu Dalih dengan Beijernik.
Pikiran Alena mengawang dan ia teringat kotak kecil
berisi kerang laut yang indah. Saat dirinya masih kecil ia selalu bercerita
pada kerang laut itu tentang apapun. Aneh memang, tapi itulah yang di lakukan
Alena.
Tunggu. Bagaimana Alena mendapatkan kerang itu?Alena
mencoba mengingat-ingat masa kecilnya
“Alena jangan terlalu ketengah lautan sayang”
“Alena..”
“Alena...”
Alena pernah tenggelam di lautan, ya dia ingat itu.
Kenapa dia bisa melupakan kejadian itu? Kejadian yang hampir merenggut
nyawanya. Dia diselamatkan oleh anak laki-laki. Alena mencoba mengingat-ingat
kembali. Saat mereka sudah berhasil menepi ke batuan karang, anak itu bercerita
bahwa dia di lempar kelaut oleh seoang kompeni Belanda. Dan namanya adalah
....Munthe
“Dank”
“kamu orang Belanda?”Tanya anak laki-laki kecil itu
badannya kurus dan terlihat banyak luka di tubuhnya. Badan nya terlihat pucat
kedinginan. Anak perempuan itu mengangguk bangga
“aku Munthe, Dalih Munthe. Maaf sepertinya aku harus
pergi”
“tunggu. Bagaimana cara aku bisa bertemu kamu lagi”
Anak laki-laki itu menatap ke arah kepalan tangan
nya dan mendapatkan kerang laut yang di ambil nya di tepian saat bersama ayah
ibu nya. “kau simpan saja ini. Jika ada yang mengenali nya. Itu aku”
Alena
membuka kelopak matanya, dia ingat Dalih dan dirinya saat kecil pernah bertemu
dan kerang laut di genggaman nya kini adalah saksi nya
“bagimana mungkin aku bisa melupakan Munthe, Dalih
adalah Munthe. Ya namanya Dalih Munthe. Aku yakin Dalih juga mengenali ku”.
Alena bangkit dan membawa kotak itu keluar dari kabin nya mencari Dalih
Namun saat keluar kabin, terlihat keributan di
lorong kapal. Semua penumpang berlarian menuju ruang tengah kapal.
“maaf Nona ada apa?”Alena menghentikan salah satu
penumpang
“ada yang akan di hukum penggal oleh Tuan Alex
karena ketauhan mencuri”perempuan tadi menjawab dengan tergesa-gesa. Alena
masih mematung di tempat dan seperdetik kemudian berlari kearah yang sama
bahkan lebih cepat. Nafasnya masih tak beraturan. Dia melihat Dalih di ikat di
tiang kapal oleh para prajurit Alex
Alena menghampiri Alex “Alex apa yang akan kamu
lakukan pada Dalih”. Alena membulatkan matanya dan berbicara dengan intonasi
tinggi
“dia telah mencuri barangku Alena, dan pencuri harus
mati”. Alex menjawab dan mengarahkan pandangan nya pada Dalih yang terikat
lemas dan tertunduk. Rupanya Alex tidak main-main dengan ucapan nya ingin menyingkirkan Dalih!
Alena menutup mulutnya terkejut, Alena sangat yakin
Dalih tidak akan melakukan hal seperti itu. Alena menghampiri Dalih yang
terikat di tiang kapal. “Dalih lihat aku, aku Alena. Gadis kecil yang kau
selamatkan 15 tahun silam. Kau memberikan ini untuk ku Dalih. Kau pasti
ingat”Alena berucap sembari menunjukan kerang laut pemberian Dalih kecil
Dalih mengangkat kepalanya menatap Alena “aku ingat
Alena, bahkan sangat ingat. Hanya saja aku tidak mau berhubungan dengan
Beijernik.”Dalih menjeda ucapan nya “pembunuh kedua orang tua ku. Apa kau tahu
siapa yang membuang ku kelaut? Ayahmu Alena ayahmu. Tuan Beijernik. Dia
merenggut kebahagian ku, tapi entah mengapa justru aku menyelamatkan putri nya”
Dalih menatap Alena dengan tatapan sendu. Ia merasa sakit mengucapkan itu.
Untaian kebencian yang keluar dari mulutnya. Air mata Alena perlahan turun,
dadanya terasa sakit mendengar itu dari Dalih
“ku cinta kau Alena”. Alena menatap Dalih.“bahkan
saat pertama melihatmu 3 bulan lalu. Aku tahu kau gadis kecil yang pernah aku
selamatkan. Aku selalu mencarimu sejak kejadian itu, aku merasa nyaman denganmu
Alena. Entah darimana perasaan itu muncul. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku
bekerja setia pada orang Belanda agar aku suatu saat bisa menemukan mu. Dan aku
menemukan mu. Aku ingin Indonesia merdeka dan menikah dengan mu. Tapi itu tidak
akan mungkin terjadi”. Dalih akhirnya mengucapkan nya. Mengutarakan perasaan
nya pada gadis kecil 15 tahun silam yang kini ada dihadapan nya. Alena masih
tak berucap satu kata pun. Air matanya terus mengalir. Ia menangis sesegukan
“sayang sekali pertemuan kedua kita pun harus
berjalan singkat ya Alena”. Dalih mengucapkan nya dengan tersenyum. Alena
menangis semakin menjadi
“tolong baca ini”Dalih memberikan buku berjudul Rindu. Alena menerimanya dari tangan
Dalih yang terikat.
“aku juga mencintai mu Dalih”Alena menyatukan
keningnya dengan kening Dalih. Tapi badan nya ditarik oleh prajurit Alex.
“PENGGAL si PENCURI”. Alex mengucapkan nya dengan
amarah berapi-api. Dadanya sesak melihat pemandangan itu
“TIDAKKKKKKKKK!!!!!”. Teriakan Alena bersamaan
dengan cipratan darah Dalih pada wajah nya. Darah orang yang dicintai nya dan
mencintai nya.
Alena menatap Alex penuh amarah. Dia bangkit dan
merebut pedang tajam di tangan salah seorang prajurit Alex. “aku menantang mu
Alex, akan ku buktikan dengan merebut Indonesia dari mu”Alena mengarahkan
pedang nya ke arah Alex. Warga Indonesia yang ada di dalam kapal pun ikut
bergemuruh menunjukan kemarahan nya. Mereka semua membantu Alena melawan Alex
dan prajurit nya
Alex dan prajurit nya kalang kabut menghadapi Alena
dan kemarahan warga Indonesia.
“Tuan Alex bagaimana ini?”
“Bunuh mereka
semua. Tapi jangan lukai Alena sedikit pun”
Kapal riuh, pertumpahan darah tak bisa terelak kan
lagi. Bunyi decitan pedang satu sama lain, tangisan anak keil yang ada di dalam
kapal. Air mata. Darah. Ya ini perang!
Alena terus mengayun kan pedang nya lihai, Alex
tidak membalas hanya menangkis semua pergerak kan Alena” Alena sadarlah”. Alena
tidak mendengarkan, ia semakin jadi mengahadapi Alex. Dan ia berhasil. Alex
mati tertusuk di bagian perut oleh Alena. Alena terduduk lemas, masih dengan
memegangi pedang yang menancap di perut Alex.
Semua prajurit Alex mengarahkan pedang, dan senapan
kepada Alena. Alena di amankan dan di anggap sebagai pengkhianat Belanda. Ia di
asingkan di Sri Lanka untuk waktu yang lama. Tapi ia tetap berjasa dalam
kemerdekaan Indonesia, ia seringkali mengirim strategi perang melalui teman
Belanda nya yang setia.
Tidak banyak yang tahu jasa Alena di balik
kemerdekaan Indoneisa. Alena meninggal tepat 16 agustus 1945, sehari sebelum
proklamasi kemerdekaan di bacakan.
“RINDU”
Gadis
kecil 15 tahun silam, aku merindukan mu. Entah takdir apa yang mempertemukan
kita kembali di atas kapal ini.
Kau
idak tahu, begitu terluka nya diriku merindukan mu. Kau tiak tahu berapa banyak
air mata yang jatuh untuk merindukan mu. Kapal menjai saksi. Air laut
bergemuruh keras seolah ikut merasa kan sakit atas kerinduan ini.
Jika
semua yang tercipta adalah untuk dirasakan, lalu mengapa aku seakan sangat
berdosa hanya karena merindukan mu?-Dalih Munthe
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar