Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Hingga Akhir Waktu

HINGGA AKHIR WAKTU
Karya : Muhamad Prayoga

          Namanya adalah Ardyan Prayogi,namun sering dipanggil Prayogi. Prayogi adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang sederhana. Praypgi mempunyai ibu,bapak,dan kakak. Kakaknya bernama Muhamad Prayoga. Prayogi merupakan anak yang sangat raajin beribadah,sholeh,pintar,serta lulusan terbaik di SMAN 48 pada tahun 2005. Prayogi mempunyai seorang sahabat wanita yang bernama Savira Ayuningsih. Mereka berdua telah bersahabat sejak kelas 7 SMP. Mereka berdua saat SMA tidak bersekolah di tempat yang sama begitu juga dengan tempat kuliahnya.

          Udara pagi pada saat itu sangat sejuk,suara burung saling bernyanyi saling bersahut-sahutan sangat menambahkan keindahan pada pagi itu. Pagi itu, Prayogi sangat harap-harap cemas menanti pengumuman ujian untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Prayogi setelah bangun dari tempat tidurnya langsung bergegas mengambil handuknya untuk mandi dan setelah itu melaksanakan sholat subuh. Setelah melaksanakan sholat,dia kemudian mengambil handphonenya untuk memberi kabar kepada sahabatnya yang bernama Savira Ayuningsih. Ya, Savira adalah sahabat Prayogi sejak kelas 7 SMP. Mereka berdua ingin berkuliah di universitas yang sama dan jurusan yang sama. Savira yang mendapat kabar dari Prayogi juga memiliki perasaan yang sama yaitu cemas terhadap hasil pengumuman universitas nanti.
Tepat pada pukul 10.00 WIB pengumuman universitas telah dibuka,Prayogi yang dari pagi telah cemas menanti pengumuman universitas lalu bergegas mengambil laptopnya dan melihat pengumuman universitas tersebut. Savira pun juga tidak jauh beda dengan Prayogi,Savira mengambil laptopnya dan membuka pengumumannya. Apa hasilnya? Hasilnya sangat memuaskan karena Prayogi berhasil masuk di Universitas Gajah Mada di Ygyakarta,sedangkan Savira berhasil masuk di Universitas Indonesia. Namun, Savira sangat sedih karena dia kembali berpisah dengan sahabatnya yaitu Prayogi. Savira sangat berharap tidak terjadi lagi seperti pada masa SMA,mereka berdua tidak menimba ilmu di satu tempat yang sama tapi ALLAH kembali memisahkan mereka berdua kembali. Prayogi dan Savira mencoba menanggapi hasil pengumuman tersebut dengan positif,mungkin rencana ALLAH lebih baik daripada rencana mereka berdua. Sekarang persahabatan mereka menjadi terkendala karena jarak,dan mungkin mereka berdua menjadi jarang bertemu seperti saat masih SMP dan SMA.
          2 bulan kemudian ketika Prayogi harus berangkat ke Yogyakarta untuk berkuliah disana hati Savira masih belum bisa merelakan sahabat sejatinya pergi jauh dari dirinya. Savira ingin dia selalu ada bersamanya. Ketika di bandara,Prayogi diantar oleh bapak,ibunya,dan Savira. Prayogi berpesan kepada Savira untuk selalu menjaga dirinya disaat Savira jauh dari dirinya, Prayogi juga berjanji bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah rapuh walaupun karena jarak. Suasana haru pun terjadi ketika pesawat yang akan ditumpangi Prayogi akan terbang, Savira meneteskan air mata di depan Prayogi dan Prayogi mencoba menenangkan Savira sambal memeluknya. Prayogi kemudian pergi menuju pesawat dan berpamitan kepada orang tuanya dan Savira.
Ketika dalam penerbangan hati Prayogi pun sama dengan Savira,sangat sedih karena harus berkuliah di tempat yang berbeda,daerah yang berbeda juga dengan Savira. Prayogi berharap dapat menyelesaikan kuliahnya dan bertemu lagi dengan Savira. Prayogi selama berkuliah di Yogyakarta tidak akan kembali ke Jakarta sebelum dia berhasil lulus kuliah karena ini merupakan permintaan orang tuanya. Di Yogyakarta Prayogi tinggal bersama kakaknya yang bernama Prayoga. Prayoga juga masih kuliah,sekarang Prayoga masuk semester 6.
          Saat berkuliah,Prayogi harus beradaptasi dengan lingkungan barunya,tidak ada lagi sahabatnya seperti Savira di kampusnya. Tidak ada lagi orang tua yang selalu menemani pagi harinya ketika ingin menimba ilmu,yang ada hanya seorang kakak dan lingkungan baru yang dia dapatkan sekarang ini.
Singkat cerita,setelah 1 tahun berlalu dan Prayogi berkuliah. Prayogi belum menemukan orang seperti sahabatnya di kampus. Prayogi sangat rindu merana kepada sahabatnya yaitu Savira,dia ingin berjumpa dengannya setidaknya menelponnya untuk melepas kerinduan yang sedang dia alami. Tanpa sepengetahuan Prayogi Savira juga sangat merindukan dia. Savira berpikir bahwa Prayogi di Yogyakarta telah mendapat teman baru dan sahabat lamanya dilupakan. Savira bertanya kepada dirinya sendiri,apakah dia telah dilupakan?. Jawabannya tidak,ini hanya masalah waktu saja. Dibalik kerinduaan Prayogi dan Savira aka ada waktu bertemu yang paling indah yang tak pernah mereka duga.
          Prayogi mempunyai penyakit jantung dan kapan saja penyakit jantungnya bias kambuh. Pada sore hari,disaat Prayogi ingin pulang ke rumah tiba-tiba Prayogi merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirinya,badannnya lemas dan banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Sesampainya di rumah dan baru saja membuka pintu tiba-tiba Prayogi terjatuh “bruuuuuukkk!!!!’,kakaknya yang mendengar suara tersebut langsung menghampiri sumber suara dan sesampainya di sumber suara Prayoga melihat adiknya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Prayoga yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya langsung bergegas berhenti mengerakan tugasnya dan menghubungi ambulance untuk membawa adiknya ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Prayogi langsung ditangani oleh tim dokter rumah sakit tersebut dan Prayoga menghubungi orang tuanya yang di Jakarta untuk memberikan kabar bahwa Prayogi sekarang masuk rumah sakit. Saat diberi kabar oleh Prayoga bahwa Prayogi masuk rumah sakit orang tua mereka berdua langsung menangis dan ingin segera melihat anaknya tersebut. Orang tua Prayogi tahu bahwa Prayogi masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh karena pada saat SMP-SMA Prayogi sering masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya yang kambuh.
          Ibunya Prayogi setelah mendapat kabar dari anak pertamanya,langsung memberikan kabar kepada Savira dan mengajak Savira untuk menjenguk Prayogi di Yogyakarta. Ibunya Prayogi berharap ddengan kedatangannya bersama Savira dapat memberikan semangat kepada Prayogi untuk sembuh dan bias menjalani hari-harinya kembali serta berkuliah lagi. Kemudian Savira yang mendapat kabar bahwa Prayogi masuk rumah sakit dan sekarang berada di ruang ICU langsung menangis terisak-isak dan menerima ajakan dari orang tua Prayogi untuk menjenguk sahabat sejatinya tersebut yang sekarang sedang terbaring lemah di ruang ICU.
Sesampainya di Yogyakarta,orang tua Prayogi dan Savira langsung menuju ke rumah sakit dimana Prayogi dirawat. Dengan perasaan sedih mereka menuju rumah sakit demi untuk melihat Prayogi.
Sesampainya di rumah sakit mereka sudah ditunggu oleh Prayoga. Savira yang sangat sedih menanyakan bagaimana kondisi Prayogi sekarang dan Prayoga hanya ingin kita semua berdoa saja untuk kesembuhan Prayogi.         
          Pada malam harinya,suatu mukjizat dating. Prayogi sadar dari komanya namun dalam kesadarannya saat itu dia masih merasakan sakit. Saat sadar dia langsung ingin bertemu dengan ibu,bapak,dan kakaknya namun Savira belakangan. Prayogi saat itu meminta maaf kepada keluarganya atas segala perbuatannya selama ini di dunia,dia mengucapkan terima kasih kepada keluarganya karena keluarga bagi dirinya salah satu kunci pintu ke surga. Keluarga yang mendengar perkataan Prayogi langsung meneteskan air mata sambal memeluk dan mencium Prayogi. Prayogi menitip pesan kepada kakaknya untuk menjaga Savira disaat dia sudah taka da, dia hanya ingin kakaknya yang menggantiakan posisinya disaat Savira membutuhkan seorang sahabat, dia tidak ingin melihat Savira berlama-lama dalam kesedihan disaat dirinya pergi untuk selamanya. Prayoga langsung menuruti permintaan terakhir dari sang adik tercinta. Pada saat itu, Prayogi ingin bicara kepada Savira empat mata dan keluarganya menunggu diluar. Saat Savira masuk ruangan,Savira langsung memeluk erat Prayogi sambil menangis. Bukan pertemuan seperti ini yang Savira inginkan namun jika ALLAH berkata lain apa boleh buat. Prayogi yang saat itu sedang berada di tempat tidur mencoba menenangkan Savira namun dia juga tahu apa yang Savira rasakan pada saat itu. Savira sangat rindu kepada Prayogi hingga Savira tidak melepaskan pelukannya dari Prayogi. Savira ingin Prayogi sembuh serta bisa bermain bersamanya lagi,menjadi sahabat sejatinya dan meneruskan kuliahnya kembali.
          Prayogi menitipkan pesan kepada Savira bahwa sampai kapanpun Savira tetap sahabat sejatinya,Savira sudah menjadi kakak baginya,sudah menjadi keluarga baginya. Savira adalah wanita yang sangat dia cintai namun dia tidak berani untuk mengungkapkannya dan baru saat ini dia berani untuk menyatakannya bahwa dia sangat mecintai Savira. Setelah mengatakan seperti itu tiba-tiba Prayogi mengalami sakit kembali dibagian jantungnya dan dokter langsung memeriksanya. Apa hasilnya? Hasilnya adalah ALLAH lebih sayang kepada Prayogi, Prayogi meninggal. Semua orang yang ada disitu termasuk Savira dan keluarganya Prayogi berduka atas meninggalnya Prayogi.
Prayogi dimakamkan di Jakarta tempatnya di TPU Pondok Ranggon. Savira sangat kehilangan sahabat sejatinya dan hari-harinya kini menjadi sepi tidak ada lagi sahabat seperti Prayogi.
Pada saat itu Prayoga berjanji menepati permintaan sang adik untuk menemani hari-harinya Savira agar tidak kesepian dan sedih lagi. Pada saat kedatangan Prayoga, Savira kembali tersenyum lagi dan telah mengikhlaskan Prayogi pergi.

SELESAI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar