HINGGA AKHIR WAKTU
Karya : Muhamad Prayoga
Namanya adalah Ardyan Prayogi,namun sering dipanggil Prayogi. Prayogi
adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang sederhana. Praypgi mempunyai
ibu,bapak,dan kakak. Kakaknya bernama Muhamad Prayoga. Prayogi merupakan anak
yang sangat raajin beribadah,sholeh,pintar,serta lulusan terbaik di SMAN 48
pada tahun 2005. Prayogi mempunyai seorang sahabat wanita yang bernama Savira
Ayuningsih. Mereka berdua telah bersahabat sejak kelas 7 SMP. Mereka berdua
saat SMA tidak bersekolah di tempat yang sama begitu juga dengan tempat kuliahnya.
Udara pagi pada saat itu sangat sejuk,suara burung saling bernyanyi
saling bersahut-sahutan sangat menambahkan keindahan pada pagi itu. Pagi itu,
Prayogi sangat harap-harap cemas menanti pengumuman ujian untuk masuk ke
perguruan tinggi negeri. Prayogi setelah bangun dari tempat tidurnya langsung
bergegas mengambil handuknya untuk mandi dan setelah itu melaksanakan sholat
subuh. Setelah melaksanakan sholat,dia kemudian mengambil handphonenya untuk
memberi kabar kepada sahabatnya yang bernama Savira Ayuningsih. Ya, Savira
adalah sahabat Prayogi sejak kelas 7 SMP. Mereka berdua ingin berkuliah di
universitas yang sama dan jurusan yang sama. Savira yang mendapat kabar dari
Prayogi juga memiliki perasaan yang sama yaitu cemas terhadap hasil pengumuman
universitas nanti.
Tepat pada pukul 10.00 WIB pengumuman
universitas telah dibuka,Prayogi yang dari pagi telah cemas menanti pengumuman
universitas lalu bergegas mengambil laptopnya dan melihat pengumuman
universitas tersebut. Savira pun juga tidak jauh beda dengan Prayogi,Savira
mengambil laptopnya dan membuka pengumumannya. Apa hasilnya? Hasilnya sangat
memuaskan karena Prayogi berhasil masuk di Universitas Gajah Mada di
Ygyakarta,sedangkan Savira berhasil masuk di Universitas Indonesia. Namun,
Savira sangat sedih karena dia kembali berpisah dengan sahabatnya yaitu
Prayogi. Savira sangat berharap tidak terjadi lagi seperti pada masa SMA,mereka
berdua tidak menimba ilmu di satu tempat yang sama tapi ALLAH kembali memisahkan
mereka berdua kembali. Prayogi dan Savira mencoba menanggapi hasil pengumuman
tersebut dengan positif,mungkin rencana ALLAH lebih baik daripada rencana
mereka berdua. Sekarang persahabatan mereka menjadi terkendala karena jarak,dan
mungkin mereka berdua menjadi jarang bertemu seperti saat masih SMP dan SMA.
2 bulan kemudian ketika Prayogi harus berangkat ke Yogyakarta untuk
berkuliah disana hati Savira masih belum bisa merelakan sahabat sejatinya pergi
jauh dari dirinya. Savira ingin dia selalu ada bersamanya. Ketika di
bandara,Prayogi diantar oleh bapak,ibunya,dan Savira. Prayogi berpesan kepada
Savira untuk selalu menjaga dirinya disaat Savira jauh dari dirinya, Prayogi
juga berjanji bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah rapuh walaupun karena
jarak. Suasana haru pun terjadi ketika pesawat yang akan ditumpangi Prayogi
akan terbang, Savira meneteskan air mata di depan Prayogi dan Prayogi mencoba
menenangkan Savira sambal memeluknya. Prayogi kemudian pergi menuju pesawat dan
berpamitan kepada orang tuanya dan Savira.
Ketika dalam penerbangan hati Prayogi pun sama
dengan Savira,sangat sedih karena harus berkuliah di tempat yang berbeda,daerah
yang berbeda juga dengan Savira. Prayogi berharap dapat menyelesaikan kuliahnya
dan bertemu lagi dengan Savira. Prayogi selama berkuliah di Yogyakarta tidak
akan kembali ke Jakarta sebelum dia berhasil lulus kuliah karena ini merupakan
permintaan orang tuanya. Di Yogyakarta Prayogi tinggal bersama kakaknya yang
bernama Prayoga. Prayoga juga masih kuliah,sekarang Prayoga masuk semester 6.
Saat berkuliah,Prayogi harus beradaptasi dengan lingkungan barunya,tidak
ada lagi sahabatnya seperti Savira di kampusnya. Tidak ada lagi orang tua yang
selalu menemani pagi harinya ketika ingin menimba ilmu,yang ada hanya seorang
kakak dan lingkungan baru yang dia dapatkan sekarang ini.
Singkat cerita,setelah 1 tahun berlalu dan
Prayogi berkuliah. Prayogi belum menemukan orang seperti sahabatnya di kampus.
Prayogi sangat rindu merana kepada sahabatnya yaitu Savira,dia ingin berjumpa
dengannya setidaknya menelponnya untuk melepas kerinduan yang sedang dia alami.
Tanpa sepengetahuan Prayogi Savira juga sangat merindukan dia. Savira berpikir
bahwa Prayogi di Yogyakarta telah mendapat teman baru dan sahabat lamanya dilupakan.
Savira bertanya kepada dirinya sendiri,apakah dia telah dilupakan?. Jawabannya
tidak,ini hanya masalah waktu saja. Dibalik kerinduaan Prayogi dan Savira aka ada
waktu bertemu yang paling indah yang tak pernah mereka duga.
Prayogi mempunyai penyakit jantung dan kapan saja penyakit jantungnya
bias kambuh. Pada sore hari,disaat Prayogi ingin pulang ke rumah tiba-tiba
Prayogi merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirinya,badannnya lemas dan
banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Sesampainya di rumah dan baru saja
membuka pintu tiba-tiba Prayogi terjatuh “bruuuuuukkk!!!!’,kakaknya yang
mendengar suara tersebut langsung menghampiri sumber suara dan sesampainya di
sumber suara Prayoga melihat adiknya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Prayoga yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya langsung bergegas
berhenti mengerakan tugasnya dan menghubungi ambulance untuk membawa adiknya ke
rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Prayogi langsung
ditangani oleh tim dokter rumah sakit tersebut dan Prayoga menghubungi orang
tuanya yang di Jakarta untuk memberikan kabar bahwa Prayogi sekarang masuk
rumah sakit. Saat diberi kabar oleh Prayoga bahwa Prayogi masuk rumah sakit
orang tua mereka berdua langsung menangis dan ingin segera melihat anaknya
tersebut. Orang tua Prayogi tahu bahwa Prayogi masuk rumah sakit karena
penyakit jantungnya kambuh karena pada saat SMP-SMA Prayogi sering masuk rumah
sakit karena penyakit jantungnya yang kambuh.
Ibunya Prayogi setelah mendapat kabar dari anak pertamanya,langsung
memberikan kabar kepada Savira dan mengajak Savira untuk menjenguk Prayogi di
Yogyakarta. Ibunya Prayogi berharap ddengan kedatangannya bersama Savira dapat
memberikan semangat kepada Prayogi untuk sembuh dan bias menjalani hari-harinya
kembali serta berkuliah lagi. Kemudian Savira yang mendapat kabar bahwa Prayogi
masuk rumah sakit dan sekarang berada di ruang ICU langsung menangis
terisak-isak dan menerima ajakan dari orang tua Prayogi untuk menjenguk sahabat
sejatinya tersebut yang sekarang sedang terbaring lemah di ruang ICU.
Sesampainya di Yogyakarta,orang tua Prayogi dan
Savira langsung menuju ke rumah sakit dimana Prayogi dirawat. Dengan perasaan
sedih mereka menuju rumah sakit demi untuk melihat Prayogi.
Sesampainya di rumah sakit mereka sudah
ditunggu oleh Prayoga. Savira yang sangat sedih menanyakan bagaimana kondisi
Prayogi sekarang dan Prayoga hanya ingin kita semua berdoa saja untuk
kesembuhan Prayogi.
Pada malam harinya,suatu mukjizat
dating. Prayogi sadar dari komanya namun dalam kesadarannya saat itu dia masih
merasakan sakit. Saat sadar dia langsung ingin bertemu dengan ibu,bapak,dan
kakaknya namun Savira belakangan. Prayogi saat itu meminta maaf kepada
keluarganya atas segala perbuatannya selama ini di dunia,dia mengucapkan terima
kasih kepada keluarganya karena keluarga bagi dirinya salah satu kunci pintu ke
surga. Keluarga yang mendengar perkataan Prayogi langsung meneteskan air mata
sambal memeluk dan mencium Prayogi. Prayogi menitip pesan kepada kakaknya untuk
menjaga Savira disaat dia sudah taka da, dia hanya ingin kakaknya yang
menggantiakan posisinya disaat Savira membutuhkan seorang sahabat, dia tidak
ingin melihat Savira berlama-lama dalam kesedihan disaat dirinya pergi untuk
selamanya. Prayoga langsung menuruti permintaan terakhir dari sang adik
tercinta. Pada saat itu, Prayogi ingin bicara kepada Savira empat mata dan
keluarganya menunggu diluar. Saat Savira masuk ruangan,Savira langsung memeluk
erat Prayogi sambil menangis. Bukan pertemuan seperti ini yang Savira inginkan
namun jika ALLAH berkata lain apa boleh buat. Prayogi yang saat itu sedang
berada di tempat tidur mencoba menenangkan Savira namun dia juga tahu apa yang
Savira rasakan pada saat itu. Savira sangat rindu kepada Prayogi hingga Savira
tidak melepaskan pelukannya dari Prayogi. Savira ingin Prayogi sembuh serta
bisa bermain bersamanya lagi,menjadi sahabat sejatinya dan meneruskan kuliahnya
kembali.
Prayogi menitipkan pesan kepada
Savira bahwa sampai kapanpun Savira tetap sahabat sejatinya,Savira sudah
menjadi kakak baginya,sudah menjadi keluarga baginya. Savira adalah wanita yang
sangat dia cintai namun dia tidak berani untuk mengungkapkannya dan baru saat
ini dia berani untuk menyatakannya bahwa dia sangat mecintai Savira. Setelah
mengatakan seperti itu tiba-tiba Prayogi mengalami sakit kembali dibagian
jantungnya dan dokter langsung memeriksanya. Apa hasilnya? Hasilnya adalah
ALLAH lebih sayang kepada Prayogi, Prayogi meninggal. Semua orang yang ada
disitu termasuk Savira dan keluarganya Prayogi berduka atas meninggalnya
Prayogi.
Prayogi
dimakamkan di Jakarta tempatnya di TPU Pondok Ranggon. Savira sangat kehilangan
sahabat sejatinya dan hari-harinya kini menjadi sepi tidak ada lagi sahabat seperti
Prayogi.
Pada
saat itu Prayoga berjanji menepati permintaan sang adik untuk menemani
hari-harinya Savira agar tidak kesepian dan sedih lagi. Pada saat kedatangan
Prayoga, Savira kembali tersenyum lagi dan telah mengikhlaskan Prayogi pergi.
SELESAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar