Ketegori

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ingatan Yang Terdalam

Ingatan Yang Terdalam
Karya: Yanuar Burhanuddin Ramadhana

            Saat itu umur Toki 5 tahun, ia tinggal di kota bernama Kyoto, Jepang. Saat sedang menentukan liburan musim panas, ia terus memainkan pensil yang ia pegang untuk menulis lokasi tempat liburan yang dia inginkan. Toki Ishida, itulah nama lengkapnya, ia adalah anak aktif yang memiliki rasa penasaran tinggi terhadap hal dan pengalaman baru, semua yang menurut ia itu bagus untuk ditulis akan dia paparkan di buku harian kecilnya yang baru baru ini ibunya belikan padanya. Toki mempunyai rasa percaya diri yang tinggi karena ibunya yang selalu mendukungnya untuk terus tumbuh menjadi apa yang dia mau. Ia ingat kata kata ibunya yang selalu membuatnya berfikir selalu melakukan hal benar. “setiap koin selalu memiliki dua sisi yang berlawanan”. Ini adalah satu dari sekian apa yang toki ingat dari ibunya.

            “Aku sudah menentukan mau kemana bu” dengan hati riang Toki memberi kertas daftar tempat keinginannya bersinggah selama liburan “Rumah lama kita di Osaka!” serunya dengan rasa semangat dan percaya diri.
            Akhirnya malam hari itu pun kami sekeluarga berkemas untuk persediaan liburan musim ini.
Tiba pagi harinya Toki sudah membangunkan seisi rumah dengan rasa semangatnya, padahal saat ini jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, namun karena keluguan Toki,  anggota seisi rumah pun memakluminya. Diperjalanan menuju Osaka, Toki sangat antusias melihat pemandangan dari dalam mobil. Ia melihat seolah seolah orang diluar mobil berjalan mundur dengan sangat cepat, seisi mobil pun tertawa melihat tingkah Toki yang menggemaskan
Sampai di tempat tujuan Toki dan keluarganya beristirahat sebentar untuk melemaskan otot otot yang kaku. Setelah itu ayah dan ibu Toki memberisihkan rumah dan pekarangan mereka. Lain dengan Toki, ia langsung beranjak keluar dan pergi dari rumah untuk mencari teman bermain di sekitar rumah lamanya. Ia melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain di taman rumah tetangganya, tanpa rasa malu ia menghampiri sekawanan tersebut dan mencoba akrab dengan mereka.
“Pagi semua! Aku anak pemilik rumah tua itu, apa aku boleh ikut bermain bersama kalian?” tanpa rasa ragu Toki menyapa sekawanan itu.
“Pagi juga, salam kenal aku Asane Yasa, panggil saja Yasa, lalu siapa namamu” sahut Yasa sambil menjulurkan tangannya tanda ingin berjabatan.
“Aku Toki, Toki Ashida panggil saja Ida. Salam kenal dan mohon bantuannya ya” jawab Toki sambil membalas jabatan teman barunya itu.
Mulai hari itu teman Toki bertambah, cerita demi cerita terangkai manis dalam ingatannya. Gelak canda tawa yang di dapat dari teman barunya membuat ia ingin menetap di kota yang indah ini. Tanpa terasa hari mulai senja dan matahari pun mulai menutup sinarnya, tanda bahwa mereka harus pulang ke rumah mereka masing masing. Saat hendak pulang Yasa menyampaikan pesan singkat untuk Ida.
“Berjanjilah kita akan bermain lagi, kapanpun itu. Aku akan menunggu mu lagi, teman baikku” ucap yasa.
“Baik, tunggu saja hari esok. Esok aku akan menemuimu lagi” jawab Ida dengan muka yang menunjukkan rasa lelahnya karena bermain seharian bersama teman teman barunya.
Dan mulai saat itu dunia terasa indah dengan pertemanan yang amat akrab. Toki dan Yasa sama sama saling memikirkan hari ini dan apa yang akan dilakukan mereka esok dan seterusnya. Namun nasib tidak memihak kepada mereka. Tanpa alasan yang jelas orang tua Toki harus menjual rumah ini karena tidak ada yang merwatnya.
“Apa Ini?! Huhhh hanya mimpi lagi ternyata. Entah aku bingung apakah itu mimpi atau ingatanku yang sempat hilang dan tak kuingat sama sekali.”
Sudah beberapa hari ini menjelangujian sekolahnya Toki mengalami mimpi buruk yang sama. Ia selalu bermimpi bahwa ia melihat masa kecilnya bersama seorang gadis yang entah siapa. Toki berfikir ini hanya halusinasinya saja, ia beranggapan mungkin karena ia akan menghadapi ujian sekolah, makanya ia terlihat agak tidak tenang.
Setelah bangun dan bersiap siap Toki pun berangkat dengan berjalan kaki melewati jalan yang biasa ia lalui. Kini toki tinggal bersama bibinya di Osaka, karena faktor keadaan Toki di haruskan untuk berpisah sementara waktu dengan orang tua. Sampai di sekolah Toki menghampiri temannya Akiyama, mereka sudah akrab dari pertama mereka menduduki bangku SMA hingga kelas 11 sekarang. Hubungan mereka yang baik baik saja membuat mereka berfikir untuk lebih serius dengan pertemanan mereka. Dan merekapun menjali suatu hubungan yang serius. Selama beberapa bulan Toki tidak tenang dengan apa yang dia alami saat ini. Ia beranggapan bahwa ini adalah hal yang salah. Namun dia tak tau kenapa dia bahagia dengan jalur yang salah ini. Sampai suatu hari ia berkunjung kerumah orang tuanya untuk menceritakan apa yang dia alami saat ini
Pekan ujianpun tiba. Toki segera berkemas untuk berangkat kerumah orang tuanya di Kyoto. Sesampainya di Kyoto iya bercerita kepada ibunya bahwa ia takut dengan apa yang ia alami saat ini. Ia bercerita bahwa ia ditunjuk sebagai ketua dari salah satu organisasi besr di sekolahnya dan di sisi lain dia memiliki hubungan yang harus dia jalani, okaasan sebagai ibu dari Toki memberii saran agar ia mampu membagi waktu antara prestasi dan hubungan spesialnya, karena waktu yang kurang tepat akan membuat hal kecil bisa menjadi beesar dan mampu menghancurkan hidupnya di masa depan.
Setelah mendapat saran dari ibunya ia pun kembali ke rumah bibinya di Osaka. Di perjalanan menuju Osaka,ia melihat seorang gadis remaja sedang berjalan kearah pagar rumah di hadapannya, dan Toki mengingat sesuatu akan hal itu. entah apa yang terjadi setelah kejadian itu ia bermimpi hal yang sama lagi selama seminggu belakangan ini. Akhirnya diapun memberianikan diri untuk berkunjung kerumah itu.
Benar saja apa dugaannya, ternyata tuan rumah dari rumah itu adalah teman masa kecilnya yang tidak lain adalah Yasa. Teman kecilnya saat dulu ia singgah di Osaka bersama kedua orang tuanya. Hubungan mereka pun akrab sampai Toki lupa bahwa ia memiliki hubungan bersama Akiyama.
Saat di sekolah Toki sedang duduk di kantin sendiri ia tidak sadar akan apa yang terjadi disekitarnya. Saat akiyama hendak ingin menjahilinya, tiba tiba saja Asane menghampiri Toki dengan canda dan wajah ceria di senyumnya. Sesaat dunia seakan berhenti berputar. Siapa dia? Sedang apa dia dengan Toki. Apa dia tidak tahu siapa yang sedang bersama Toki sekarang. Tanpa disadari Akiyama mengeluarkan air mata, tanda kesedihan menyelimuti dirinya. Akiyama pun berlari meninggalkan mereka dengan rasa kecewa. Toki yang menyadari bahwa ada Akiyama yang melihatnya berniat menjelaskan apa yang sebenernya terjadi. Namun Asane menhan tangan Toki dan menatapnya dengan mata penuh harap.
Setelah selesai jam istirahat mereka pun masuk kelas masing masing dan belajar seperti biasa. Seolah olah melupakan semua yang ada karena uljian akhir sekolah akan segera dimulai kembali. Setelah pulang sekolah, semua siswa pulang kerumah masing masing dengan rasa lega karena hasil ujian mereka yang terlihat memuaskan untuk sebagian siswa. Namun tidak dengan Toki, Akiyama dan Asane. Mereka sepakat untuk bertemu di bukit belakang sekolah untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya di bukit belakang sekolah Toki dengan terperinci menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan apa kaitannya dengan Asane maupun Akiyama. Setelah semua paham akhirnya Akiyama memutuskan untuk memberiikan Toki pilihan antara dirinya dengan Asane. Tanpa meminta waktu panjang Toki berusaha berfikir dengan cepat apa yang akan dia pilih untuk menentukan pertemanannya kedepan.
Sesaat keadaan di sekitar mereka menjadi hening, mungkin karna tegangnya suasana saat itu, namun sesuai keputusan yang ada Toki pun akhirnya memilih. Dan pilihannya jatuh kepada Asane, teman yang selama ini hadir dalam mimpinya dengan janji lamanya. Tidak sampai disitu, Akiyama yang tidak dipilih pun ikut mengucapkan selamat kapada Asane dengan alasan dia pun akan melakukan hal yang sama jika dia berada di posisi Toki saat ini.

Akhirnya mereka pun mengakhiri pertemuan ini dan pulang dengan rasa tenang di hati mereka. Akiyama juga akhirnya memilih jalannya sendiri untuk tidak lagi mendekat kepada beberapa teman dengan alasan trauma dan memang sedang ingin sendiri. Sampai saati ini Toki dan Asane semakin bahagia, karena perlahan mereka mulai mengingat peristiwa apa saja yang telah mereka lalui saat mereka kecil. Karena Toki yang telah menepati janji kecilnya, mereka akhirnya membuat janji lagi untuk terus menjaga hubungan ini dalam keadaan apapun. Sementara Akiyama kini telah melanjutkan pendidikannya di Kairo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar