Ingatan
Yang Terdalam
Karya: Yanuar Burhanuddin Ramadhana
Saat itu umur Toki 5 tahun, ia
tinggal di kota bernama Kyoto, Jepang. Saat sedang menentukan liburan musim
panas, ia terus memainkan pensil yang ia pegang untuk menulis lokasi tempat
liburan yang dia inginkan. Toki Ishida, itulah nama lengkapnya, ia adalah anak
aktif yang memiliki rasa penasaran tinggi terhadap hal dan pengalaman baru,
semua yang menurut ia itu bagus untuk ditulis akan dia paparkan di buku harian
kecilnya yang baru baru ini ibunya belikan padanya. Toki mempunyai rasa percaya
diri yang tinggi karena ibunya yang selalu mendukungnya untuk terus tumbuh
menjadi apa yang dia mau. Ia ingat kata kata ibunya yang selalu membuatnya
berfikir selalu melakukan hal benar. “setiap koin selalu memiliki dua sisi yang
berlawanan”. Ini adalah satu dari sekian apa yang toki ingat dari ibunya.
“Aku sudah menentukan mau kemana bu”
dengan hati riang Toki memberi kertas daftar tempat keinginannya bersinggah
selama liburan “Rumah lama kita di Osaka!” serunya dengan rasa semangat dan
percaya diri.
Akhirnya malam hari itu pun kami
sekeluarga berkemas untuk persediaan liburan musim ini.
Tiba
pagi harinya Toki sudah membangunkan seisi rumah dengan rasa semangatnya,
padahal saat ini jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, namun karena keluguan
Toki, anggota seisi rumah pun
memakluminya. Diperjalanan menuju Osaka, Toki sangat antusias melihat
pemandangan dari dalam mobil. Ia melihat seolah seolah orang diluar mobil
berjalan mundur dengan sangat cepat, seisi mobil pun tertawa melihat tingkah
Toki yang menggemaskan
Sampai
di tempat tujuan Toki dan keluarganya beristirahat sebentar untuk melemaskan
otot otot yang kaku. Setelah itu ayah dan ibu Toki memberisihkan rumah dan
pekarangan mereka. Lain dengan Toki, ia langsung beranjak keluar dan pergi dari
rumah untuk mencari teman bermain di sekitar rumah lamanya. Ia melihat beberapa
anak kecil yang sedang bermain di taman rumah tetangganya, tanpa rasa malu ia
menghampiri sekawanan tersebut dan mencoba akrab dengan mereka.
“Pagi
semua! Aku anak pemilik rumah tua itu, apa aku boleh ikut bermain bersama
kalian?” tanpa rasa ragu Toki menyapa sekawanan itu.
“Pagi
juga, salam kenal aku Asane Yasa, panggil saja Yasa, lalu siapa namamu” sahut
Yasa sambil menjulurkan tangannya tanda ingin berjabatan.
“Aku
Toki, Toki Ashida panggil saja Ida. Salam kenal dan mohon bantuannya ya” jawab
Toki sambil membalas jabatan teman barunya itu.
Mulai
hari itu teman Toki bertambah, cerita demi cerita terangkai manis dalam
ingatannya. Gelak canda tawa yang di dapat dari teman barunya membuat ia ingin
menetap di kota yang indah ini. Tanpa terasa hari mulai senja dan matahari pun
mulai menutup sinarnya, tanda bahwa mereka harus pulang ke rumah mereka masing
masing. Saat hendak pulang Yasa menyampaikan pesan singkat untuk Ida.
“Berjanjilah
kita akan bermain lagi, kapanpun itu. Aku akan menunggu mu lagi, teman baikku”
ucap yasa.
“Baik,
tunggu saja hari esok. Esok aku akan menemuimu lagi” jawab Ida dengan muka yang
menunjukkan rasa lelahnya karena bermain seharian bersama teman teman barunya.
Dan
mulai saat itu dunia terasa indah dengan pertemanan yang amat akrab. Toki dan
Yasa sama sama saling memikirkan hari ini dan apa yang akan dilakukan mereka
esok dan seterusnya. Namun nasib tidak memihak kepada mereka. Tanpa alasan yang
jelas orang tua Toki harus menjual rumah ini karena tidak ada yang merwatnya.
“Apa
Ini?! Huhhh hanya mimpi lagi ternyata. Entah aku bingung apakah itu mimpi atau
ingatanku yang sempat hilang dan tak kuingat sama sekali.”
Sudah
beberapa hari ini menjelangujian sekolahnya Toki mengalami mimpi buruk yang
sama. Ia selalu bermimpi bahwa ia melihat masa kecilnya bersama seorang gadis
yang entah siapa. Toki berfikir ini hanya halusinasinya saja, ia beranggapan
mungkin karena ia akan menghadapi ujian sekolah, makanya ia terlihat agak tidak
tenang.
Setelah
bangun dan bersiap siap Toki pun berangkat dengan berjalan kaki melewati jalan
yang biasa ia lalui. Kini toki tinggal bersama bibinya di Osaka, karena faktor
keadaan Toki di haruskan untuk berpisah sementara waktu dengan orang tua.
Sampai di sekolah Toki menghampiri temannya Akiyama, mereka sudah akrab dari
pertama mereka menduduki bangku SMA hingga kelas 11 sekarang. Hubungan mereka
yang baik baik saja membuat mereka berfikir untuk lebih serius dengan
pertemanan mereka. Dan merekapun menjali suatu hubungan yang serius. Selama
beberapa bulan Toki tidak tenang dengan apa yang dia alami saat ini. Ia
beranggapan bahwa ini adalah hal yang salah. Namun dia tak tau kenapa dia
bahagia dengan jalur yang salah ini. Sampai suatu hari ia berkunjung kerumah
orang tuanya untuk menceritakan apa yang dia alami saat ini
Pekan
ujianpun tiba. Toki segera berkemas untuk berangkat kerumah orang tuanya di
Kyoto. Sesampainya di Kyoto iya bercerita kepada ibunya bahwa ia takut dengan
apa yang ia alami saat ini. Ia bercerita bahwa ia ditunjuk sebagai ketua dari
salah satu organisasi besr di sekolahnya dan di sisi lain dia memiliki hubungan
yang harus dia jalani, okaasan sebagai ibu dari Toki memberii saran agar ia
mampu membagi waktu antara prestasi dan hubungan spesialnya, karena waktu yang
kurang tepat akan membuat hal kecil bisa menjadi beesar dan mampu menghancurkan
hidupnya di masa depan.
Setelah
mendapat saran dari ibunya ia pun kembali ke rumah bibinya di Osaka. Di
perjalanan menuju Osaka,ia melihat seorang gadis remaja sedang berjalan kearah
pagar rumah di hadapannya, dan Toki mengingat sesuatu akan hal itu. entah apa
yang terjadi setelah kejadian itu ia bermimpi hal yang sama lagi selama
seminggu belakangan ini. Akhirnya diapun memberianikan diri untuk berkunjung
kerumah itu.
Benar
saja apa dugaannya, ternyata tuan rumah dari rumah itu adalah teman masa
kecilnya yang tidak lain adalah Yasa. Teman kecilnya saat dulu ia singgah di
Osaka bersama kedua orang tuanya. Hubungan mereka pun akrab sampai Toki lupa
bahwa ia memiliki hubungan bersama Akiyama.
Saat
di sekolah Toki sedang duduk di kantin sendiri ia tidak sadar akan apa yang
terjadi disekitarnya. Saat akiyama hendak ingin menjahilinya, tiba tiba saja
Asane menghampiri Toki dengan canda dan wajah ceria di senyumnya. Sesaat dunia
seakan berhenti berputar. Siapa dia? Sedang apa dia dengan Toki. Apa dia tidak
tahu siapa yang sedang bersama Toki sekarang. Tanpa disadari Akiyama
mengeluarkan air mata, tanda kesedihan menyelimuti dirinya. Akiyama pun berlari
meninggalkan mereka dengan rasa kecewa. Toki yang menyadari bahwa ada Akiyama
yang melihatnya berniat menjelaskan apa yang sebenernya terjadi. Namun Asane
menhan tangan Toki dan menatapnya dengan mata penuh harap.
Setelah
selesai jam istirahat mereka pun masuk kelas masing masing dan belajar seperti
biasa. Seolah olah melupakan semua yang ada karena uljian akhir sekolah akan
segera dimulai kembali. Setelah pulang sekolah, semua siswa pulang kerumah
masing masing dengan rasa lega karena hasil ujian mereka yang terlihat
memuaskan untuk sebagian siswa. Namun tidak dengan Toki, Akiyama dan Asane.
Mereka sepakat untuk bertemu di bukit belakang sekolah untuk membicarakan apa
yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya
di bukit belakang sekolah Toki dengan terperinci menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi padanya dan apa kaitannya dengan Asane maupun Akiyama.
Setelah semua paham akhirnya Akiyama memutuskan untuk memberiikan Toki pilihan
antara dirinya dengan Asane. Tanpa meminta waktu panjang Toki berusaha berfikir
dengan cepat apa yang akan dia pilih untuk menentukan pertemanannya kedepan.
Sesaat
keadaan di sekitar mereka menjadi hening, mungkin karna tegangnya suasana saat
itu, namun sesuai keputusan yang ada Toki pun akhirnya memilih. Dan pilihannya
jatuh kepada Asane, teman yang selama ini hadir dalam mimpinya dengan janji
lamanya. Tidak sampai disitu, Akiyama yang tidak dipilih pun ikut mengucapkan
selamat kapada Asane dengan alasan dia pun akan melakukan hal yang sama jika
dia berada di posisi Toki saat ini.
Akhirnya
mereka pun mengakhiri pertemuan ini dan pulang dengan rasa tenang di hati
mereka. Akiyama juga akhirnya memilih jalannya sendiri untuk tidak lagi
mendekat kepada beberapa teman dengan alasan trauma dan memang sedang ingin
sendiri. Sampai saati ini Toki dan Asane semakin bahagia, karena perlahan
mereka mulai mengingat peristiwa apa saja yang telah mereka lalui saat mereka
kecil. Karena Toki yang telah menepati janji kecilnya, mereka akhirnya membuat
janji lagi untuk terus menjaga hubungan ini dalam keadaan apapun. Sementara
Akiyama kini telah melanjutkan pendidikannya di Kairo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar