Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Nobuna dan Kera

Nobuna dan Kera
Karya :  Zahran Nur Addha Muhamad
Aku sedang bingung akan apa yang sedang terjadi. Entah kenapa aku berada di tengah-tengah lapangan penuh dengan rumput yang tinggi. Dari sini aku bisa mendengar suara gemuruh yang terdengar dari jauh. Suara itu seperti suara peperangan. Entah aku sedang bermimpi atau memang sedang terjadi peperangan di sekitarku. Tetapi karena kabut yang agak tebal membuatku susah melihat sekitarku.
Dari kejauhan aku melihat orang dengan penampilan seperti samurai. Mungkin dia mengetahui sesuatu.

“hey apa yang kamu lakukan disini? Sekarang sedang ada peperangan, mana baju zirahmu?”
“untuk apa? Sebelumnya siapa kamu?”
Dia hanya terdiam dan menarikku dan berlari menjauh dari tempat tadi. Belum lama kami berlari orang itu terkena panah dibagian perutnya dan terjatuh. Melihatnya terjatuh aku segera menutup lukanya.
“hey jangan mati dulu! Aku belum tahu siapa namamu”
“namaku Kinoshita Toukichirou, pasukan klan Oda”
“klan Oda? Kamu bawahan Nobunaga Oda?”
“apa yang kau maksud? Satu-satunya pemimpin Oda adalah...”
Dia pingsan, aku mencoba untuk mendengar detak jantungnya. Namun aku tidak mendengar apapun, padahal aku masih punya banyak pertanyaan. Kenapa dia tidak tau bahwa pemimpin Oda adalah Oda Nobunaga. Sepengetahuanku dan sesuai dengan sejarah, seharusnya satu-satunya daimyo di klan Oda adalah Oda Nobunaga. Bukankah Kinoshita Toukichirou adalah nama Toyotomi Hideyoshi sebelum bertemu dengan Nobunaga. Berarti orang ini adalah pemersatu Jepang dan dia mati. Jangan-jangan ini bisa merusak sejarah. Kalau begini aku harus memperbaikinya dengan menggantikannya dan meneruskan impiannya, yaitu menjadi Daimyo dan populer di kalangan wanita. Jadi yang harus aku selesaikan adalah memikirkan apa yang terjadi kepadaku saat ini.
Seingatku Aku sedang bermain game Oda Nobunaga no Yabou di komputerku. Kemudian aku tertidur dan tiba-tiba Aku terbangun di tempat ini. Aku melihat sekitarku, tetapi sepertinya tidak apa-apa. Namun di keheningan yang ada terpecah dengan suara pacuan kuda yang berlari kencang melewatiku.
“seorang Gadis!?”
Itulah yang aku katakan ketika melihat seorang Gadis berparas cantik dengan rambut emas. Gadis itu sedang menunggangi kuda dengan cepatnya. Sepertinya dia terlihat sedang terburu-buru, mungkin dia sedang dikejar. Ternyata dia memang sedang dikejar oleh dua orang berpakaian seperti samurai. Gadis itu jatuh dari kudanya, tanpa kupikirkan tiba-tiba aku berdiri didepan gadis itu seperti sedang melindunginya.
“Hey! Jangan kau sakiti dia, sayang tau gak!”
“Mungkin dia salah satu dari pasukan Oda”
“kalau begitu kita bunuh saja dia”

Sepertinya aku sedang ada di masa sengoku jidai, masa dimana banyak daimyo di Jepang sedang dalam keadaan perang saudara besar. Mungkin mereka berpikir aku adalah salah satu pasukan Oda Nobunaga, salah satu daimyo dan nantinya akan menjadi penyatu Jepang yang terkenal.
“Minggir kau!”
Kedua samurai itu menodong katana kepadaku. Setelah aku berpikir, kan aku tidak mempunyai senjata apapun. Yang aku bawa hanya HP dan powerbank. Aku teringat dengan OST Oda Nobunaga no Yabou, aku bisa menggunakannya untuk menakuti mereka. Lalu aku langsung mengeluarkan Hpku dan menyalakan OST tersebut.
“Suara apa ini?”
“Jangan bilang kalau di dalam kotak itu ada pasukan yang banyak!”
“hahaha. Ini adalah OST game yang baru saja aku download!”
Tetapi keburuntungan tidak berpaku di sisiku. Baterai Hpku habis, sungguh kesialan yang sangat nyata. Mereka sepertinya juga kaget, tetapi segera pulih dari kekagetan itu dan mencoba untuk menyerang gadis ini. Setidaknya aku mati melindungi seorang gadis yang cantik.
“Mati kau!”
Dari kejauhan datang kuda dan penunggangnya berlari kearah kedua samurai itu. Dia berusaha menyingkirkan kedua samurai itu dari kami. Setelah berhasil ia menyuruh pasukan dibelakangnya untuk mengejar kedua samurai yang sempat kabur tadi. Setelah terlihat jelas ternyata orang itu adalah gadis juga.
“hey kamu. Bisa pindah tidak?”
“huh. Oh iya maaf”
Aku tidak sadar kalau aku menghalanginya untuk berdiri. Dia pun berdiri dan orang tadi menghampirinya.
“Nobuna-sama apakah kau baik-baik saja”
“Ya aku baik-baik saja karena orang ini. Bawa dia kembali ke istana”
“Baik, Nobuna-sama. Hey kau! Ayo cepat jalan”
“iya sebentar”
Sepertinya aku tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti apa katanya. Lagipula aku tertarik dengan gadis yang bernama Nobuna tadi. Mungkin dia putri dari salah satu daimyo di masa sengoku jidai. Tetapi aku belum pernah mendengar putri yang bernama Nobuna pada saat masa sengoku jidai. Sudahlah lebih baik aku mengikuti apa perintah gadis ini.
Gadis yang bernama Nobuna tadi sepertinya bukan hanya putri tetapi seorang pemimpin militer juga. Banyak pasukan yang mengikutinya dan gadis kasar tadi juga menggunakan pakaian seorang kapten atau semacamnya. Tetapi dia cukup cantik meskipun sedikit kasar.


Dalam waktu sekitar 1 jam terlewat dan kami sampai di suatu kota, suasananya benar-benar seperti sengoku jidai. Kami beranjak ke istana yang ada di tempat itu. Dari bendera yang aku lihat, warnanya ungu dan berlogo seperti klan Oda. Berarti aku berada di Kiyosu dan tempat yang kami tuju adalah Istana Kiyosu. Kiyosu adalah pusat sekaligus ibukota dari provinsi Owari, yang bermakna bahwa ini adalah kawasan klan Oda. Tetapi aku belum melihat Nobunaga dan yang terlihat seperti Nobunaga hanyalah seorang gadis dengan baju zirah yang berbau eropa yaitu Nobuna.
Tunggu, setelah aku pikir-pikir. Ini adalah sengoku jidai yaitu masa lalu, dan Hideyoshi meninggal padahal ia belum menyatukan Jepang. Dan yang paling mendekati logika adalah Nobuna merupakan versi Nobunaga di dunia yang aku tempati ini. Yang seharusnya Nobunaga adalah seorang laki-laki dengan tampang yang menyeramkan dan kesadisannya bagaikan iblis, ternyata adalah gadis cantik dengan rambut emas yang sama sekali tidak terlihat sifat-sifat iblis di dirinya.
Tanpa disadari aku sudah sampai di Istana Nagoya, bersama dengan Nobuna dan gadis yang mengawalnya. Disana aku bertemu dengan beberapa orang yaitu satu perempuan dan dua laki-laki yang dari penampilan mereka adalah penasihat klan Oda.
“Hey berhenti melihatku seperti itu!”
Padahal aku tidak begitu memperhatikannya sama sekali. Lagipula aku lebih penasaran dengan Nobuna dibandingkan dia.
“Katsuie, jangan terlalu kasar dengannya. Meskipun mukanya seperti monyet, dialah yang menyelamatkanku”
“Tetapi Nobuna-sama...”
“Sudahlah... Oh ya, hey kamu!. Siapa namamu?”
Dia menanyakan namaku, tapi apakah harus kuberi tahu nama asliku atau tidak. Karena aku tidak seharus ada di jaman ini.
“namaku Satsuki Motoharu”
“oh... kupanggil saja Saru”
“Hey sudah kubilang namaku Satsuki Motoharu”
“Jangan teriak kepada Nobuna-sama”
Saru? Itu kan nama panggilan Hideyoshi oleh Nobunaga, berarti aku sudah dianggap oleh sejarah sebagai pengganti dari Toyotomi Hideyoshi.
“Hey Saru, mau tidak menjadi salah satu bawahanku?”
“Uhhh.... Iya”
“Baiklah.... Inuchiyo bawa dia ke rumahnya”
“Siap Nobuna-dono”




Mendengar itu, aku dibawa Inuchiyo atau lebih tepatnya Toshiie Maeda dalam versi gadis, tepatnya gadis kecil. “Imut sekali!!” itulah perkataan yang ingin aku keluarkan, tetapi aku takut disergap oleh penjaga. Susah sekali untuk terbiasa dengan hal ini. Kenapa kebanyakan dari tokoh terkenal dari sengoku jidai semuanya adalah gadis. Meskipun aku tidak begitu menolak hal tersebut, malahan aku lebih menyukainya. Lebih baik aku melihat gadis cantik daripada harus melihat laki-laki dengan tampang yang mengerikan.
Sepertinya aku tiba di rumah... atau bisa disebut gubuk. Aku baru teringat kalau aku sekarang ada di tahun 1500-an, jadi rumahnya ya sangat sederhana.
“Tempat macam apa ini?”
“Seharusnya kau senang sudah diberi tempat tinggal”
“Tch... benar juga katamu”
“Kalau begitu aku pulang dulu”
“Oh.. ya, hati-hati”
Sebelum Inuchiyo beranjak keluar tiba-tiba ia merasa ada penyusup di rumahku dan berteriak.
“keluar kau!”
Pada saat itu pula, aku diculik oleh seseorang dan dalam keadaan tak sadar. Aku terbangun dengan melihat hutan dan pemandangan tebing kota Kiyosu.
“Sudah sadarkah kamu? Namaku adalah Hachisuka Goemon. Aku adalah kunoichi dan bawahan Satsuki-dono yaitu Anda. Sebelumnya Kinoshita-donolah atasanku tapi karena dia sudah meninggal, sekarang aku mengabdi kepada Satsuki-dono”
“Ehh... jadi alasan mu untuk menculikku kesini adalah untuk memberitahu kalau kamu adalah bawahanku. Kenapa tidak bicara denganku langsung”
“Aku adalah kunoichi, aku tidak bicara secara publik”
“Terserah kamu saja, aku mau tidur. Aku belum tidur dari tadi”
“Baiklah Satsuki-dono”
Akhirnya aku bisa istirahat, hari ini sangat melelahkan. Dalam sehari aku bertemu dengan tokoh sengoku jidai namun hampir semuanya adalah gadis meskipun seharusnya laki-laki. Sudahlah aku pikirkan itu esok saja.
Hari berikutnya aku dibangunkan oleh Inuchiyo, katanya aku harus segera ke istana secepatnya. Karena kaget mendengarnya aku bersiap untuk beranjak ke Istana Kiyosu.
“cepat Saru!”
“sudah kubilang namaku Satsuki Motoharu!! Tunggu sebentar”
Inuchiyo dan aku segera pergi menuju Istana Kiyosu. Sesampai disana yang menunggu adalah Nobuna, Katsuie, Nagahide.
“Ah.. Saru datang juga kamu”


Nobuna melihatku seperti benar-benar melihatku bagaikan kera. Tetapi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa disini.
“Saito Dosan meminta untuk bertemu denganku. Ia ingin membahas tentang sesuatu”
Aku teringat dengan hal ini. Kejadian dimana terbentuk aliansi antara Mino dengan Owari. Saito Dosan akan bertemu dengan Oda Nobunaga di Shoutokuji. Sebuah kuil yang ada di perbatasan antara Mino dan Owari.
“Dan tempat pertemuannya adalah di kuil Shoutokuji”
“Saru... kamu ini sok tau atau memang bodoh?”
“Aku ini datang dari masa depan!”
“Jangan suka ber...”
Tiba-tiba datang seorang pengirim pesan dari Saito Dosan yang akan memberitahukan tentang dimana tempat pertemuan Nobuna dan Dosan. Yang tentu saja di Kuil Shoutokuji.
“Lapor Hime-sama, sudah datang informasi dari Saitou Dousan mengenai tempat pertemuanny. Di Kuil Shoutokuji Hime-sama”
Seketika Nobuna dan yang lainnya kaget dan terdiam sesaat. Mungkin dengan ini mereka akan percaya dengan perkataanku.
“Hey Saru...”
“Kan sudah kubilang kalian akan bertemu di Kuil Shoutokuji dan aku datang dari masa depan”
“Kalau begitu, Katsuie siapkan pasukan. Kita segera berangkat menuju Shoutokuji”
“Baik Nobuna-sama”
“Saru apa yang kau tunggu? Cepat! Kau juga harus ikut”
“Iya-iya”
Aku ikut dengan Nobuna untuk pergi ke Kuil Shoutokuji bersama dengan pasukan bersenjatakan senapan.
“Nobuna, kenapa kau membawa pasukan sebanyak ini?”
“Huh...  kau ini bodoh atau apa? Sudah pasti untuk memamerkannya ke Saitou Dosan”
“Oh...”
Dalam perjalanan sampai di pegunungan, aku teringat dengan hal yang akan terjadi sebelum Nobuna datang ke Kuil. Akan ada penyergapan terhadap pasukan Nobuna.
“hey Nobuna, suruh pasukanmu untuk menyalakan api pada senapan mereka”
“huh... apa kau gila! Nanti bisa meledak!”
“sudah lakukan saja, atau pasukanmu itu tidak profesional?”
Akhirnya dia menuruti kata-kataku. Selama perjalanan tidak ada tanda-tanda musuh, itu artinya mereka sadar. Setiba disana aku dan Inuchiyo disuruh menunggu di luar kuil.
“Saru... ini aku titipkan sendal ku!”
“Huh... iya”
Ada yang berkata bahwa Hideyoshi pernah menyimpan sandal Nobunaga dalam bajunya untuk menghangatkannya. Sepertinya hal itu benar. Nobuna meniggalkanku dan pergi bersama dengan Katsuie.
Ketika aku menunggu dengan Inuchiyo, aku melihat ada gadis lain yang berdiri menunggu di sebelahku. Entah kenapa aku merasa mengenalnya tetapi lupa siapa dia. Aku lebih tertarik dengan apa yang terjadi di dalam kuil itu.
“Lama sekali Nobuna, sampai kapan dia akan membuatku menunggu”
Kemudian tidak lama Nobuna masuk kedalam kuil dengan penampilan yang tak terbayangkan. Sebelumnya dia menggunakan pakaian yang aneh, namun sekarang dia terlihat cantik sekali. Bahkan Dosan juga kaget dengan pakaian Nobuna.
“Maaf ya telah membuatmu menunggu lama Saitou Dosan”
“Aa... a.. a.. oh maaf. Tapi sungguh, kau ini cantik sekali”
“Cukup Dosan kau berlebihan. Lebih baik kita lanjut saja dengan pembicaraan serius”
“Ekhem, baiklah kalau begitu”
Mereka berdua terlihat sangat serius. Dosan juga sepertinya sudah pulih dari kagetnya.
“Dosan! Aku butuh bantuanmu sekarang. Kau akan memberiku adik perempuan kan?”
“Hmmm... Mungkin Nobuna-dono. Atau mungkin “Si bodoh dari Owari”, aku harus yakin sebelum menentukan itu”
“Hmph. Jadi apa yang mau kau tes?”
“Kemampuanmu. Aku punya beberapa pertanyaan tentang kau tidak bisa menyatukan Owari. Berdasarkan jawabanmu, mungkin saja kau akan kubunuh”

Ini bukanlah sebuah pertemuan untuk aliansi, melainkan seperti pertarungan antara kuduanya. Salah kata maka bisa berakibat buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar