Nobuna dan Kera
Karya : Zahran Nur Addha Muhamad
Aku sedang bingung
akan apa yang sedang terjadi. Entah kenapa aku berada di tengah-tengah lapangan
penuh dengan rumput yang tinggi. Dari sini aku bisa mendengar suara gemuruh
yang terdengar dari jauh. Suara itu seperti suara peperangan. Entah aku sedang
bermimpi atau memang sedang terjadi peperangan di sekitarku. Tetapi karena
kabut yang agak tebal membuatku susah melihat sekitarku.
Dari kejauhan aku
melihat orang dengan penampilan seperti samurai. Mungkin dia mengetahui
sesuatu.
“hey apa yang kamu
lakukan disini? Sekarang sedang ada peperangan, mana baju zirahmu?”
“untuk apa?
Sebelumnya siapa kamu?”
Dia hanya terdiam
dan menarikku dan berlari menjauh dari tempat tadi. Belum lama kami berlari
orang itu terkena panah dibagian perutnya dan terjatuh. Melihatnya terjatuh aku
segera menutup lukanya.
“hey jangan mati
dulu! Aku belum tahu siapa namamu”
“namaku Kinoshita
Toukichirou, pasukan klan Oda”
“klan Oda? Kamu
bawahan Nobunaga Oda?”
“apa yang kau
maksud? Satu-satunya pemimpin Oda adalah...”
Dia pingsan, aku
mencoba untuk mendengar detak jantungnya. Namun aku tidak mendengar apapun,
padahal aku masih punya banyak pertanyaan. Kenapa dia tidak tau bahwa pemimpin
Oda adalah Oda Nobunaga. Sepengetahuanku dan sesuai dengan sejarah, seharusnya
satu-satunya daimyo di klan Oda adalah Oda Nobunaga. Bukankah Kinoshita
Toukichirou adalah nama Toyotomi Hideyoshi sebelum bertemu dengan Nobunaga.
Berarti orang ini adalah pemersatu Jepang dan dia mati. Jangan-jangan ini bisa
merusak sejarah. Kalau begini aku harus memperbaikinya dengan menggantikannya
dan meneruskan impiannya, yaitu menjadi Daimyo dan populer di kalangan wanita.
Jadi yang harus aku selesaikan adalah memikirkan apa yang terjadi kepadaku saat
ini.
Seingatku Aku
sedang bermain game Oda Nobunaga no Yabou
di komputerku. Kemudian aku tertidur dan tiba-tiba Aku terbangun di tempat ini.
Aku melihat sekitarku, tetapi sepertinya tidak apa-apa. Namun di keheningan
yang ada terpecah dengan suara pacuan kuda yang berlari kencang melewatiku.
“seorang Gadis!?”
Itulah yang aku
katakan ketika melihat seorang Gadis berparas cantik dengan rambut emas. Gadis
itu sedang menunggangi kuda dengan cepatnya. Sepertinya dia terlihat sedang
terburu-buru, mungkin dia sedang dikejar. Ternyata dia memang sedang dikejar
oleh dua orang berpakaian seperti samurai.
Gadis itu jatuh dari kudanya, tanpa kupikirkan tiba-tiba aku berdiri didepan
gadis itu seperti sedang melindunginya.
“Hey! Jangan kau
sakiti dia, sayang tau gak!”
“Mungkin dia salah
satu dari pasukan Oda”
“kalau begitu kita
bunuh saja dia”
Sepertinya aku
sedang ada di masa sengoku jidai,
masa dimana banyak daimyo di Jepang
sedang dalam keadaan perang saudara besar. Mungkin mereka berpikir aku adalah
salah satu pasukan Oda Nobunaga, salah satu daimyo dan nantinya akan menjadi
penyatu Jepang yang terkenal.
“Minggir kau!”
Kedua samurai itu menodong katana kepadaku. Setelah
aku berpikir, kan aku tidak mempunyai senjata apapun. Yang aku bawa hanya HP
dan powerbank. Aku teringat dengan OST Oda Nobunaga no Yabou, aku bisa
menggunakannya untuk menakuti mereka. Lalu aku langsung mengeluarkan Hpku dan
menyalakan OST tersebut.
“Suara apa ini?”
“Jangan bilang
kalau di dalam kotak itu ada pasukan yang banyak!”
“hahaha. Ini adalah
OST game yang baru saja aku download!”
Tetapi
keburuntungan tidak berpaku di sisiku. Baterai Hpku habis, sungguh kesialan
yang sangat nyata. Mereka sepertinya juga kaget, tetapi segera pulih dari
kekagetan itu dan mencoba untuk menyerang gadis ini. Setidaknya aku mati
melindungi seorang gadis yang cantik.
“Mati kau!”
Dari kejauhan
datang kuda dan penunggangnya berlari kearah kedua samurai itu. Dia berusaha
menyingkirkan kedua samurai itu dari kami. Setelah berhasil ia menyuruh pasukan
dibelakangnya untuk mengejar kedua samurai yang sempat kabur tadi. Setelah
terlihat jelas ternyata orang itu adalah gadis juga.
“hey kamu. Bisa
pindah tidak?”
“huh. Oh iya maaf”
Aku tidak sadar
kalau aku menghalanginya untuk berdiri. Dia pun berdiri dan orang tadi
menghampirinya.
“Nobuna-sama apakah
kau baik-baik saja”
“Ya aku baik-baik
saja karena orang ini. Bawa dia kembali ke istana”
“Baik, Nobuna-sama.
Hey kau! Ayo cepat jalan”
“iya sebentar”
Sepertinya aku
tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti apa katanya. Lagipula aku
tertarik dengan gadis yang bernama Nobuna tadi. Mungkin dia putri dari salah
satu daimyo di masa sengoku jidai. Tetapi aku belum pernah mendengar putri yang
bernama Nobuna pada saat masa sengoku jidai. Sudahlah lebih baik aku mengikuti
apa perintah gadis ini.
Gadis yang bernama
Nobuna tadi sepertinya bukan hanya putri tetapi seorang pemimpin militer juga.
Banyak pasukan yang mengikutinya dan gadis kasar tadi juga menggunakan pakaian seorang
kapten atau semacamnya. Tetapi dia cukup cantik meskipun sedikit kasar.
Dalam waktu sekitar
1 jam terlewat dan kami sampai di suatu kota, suasananya benar-benar seperti
sengoku jidai. Kami beranjak ke istana yang ada di tempat itu. Dari bendera
yang aku lihat, warnanya ungu dan berlogo seperti klan Oda. Berarti aku berada
di Kiyosu dan tempat yang kami tuju adalah Istana Kiyosu. Kiyosu adalah pusat
sekaligus ibukota dari provinsi Owari, yang bermakna bahwa ini adalah kawasan
klan Oda. Tetapi aku belum melihat Nobunaga dan yang terlihat seperti Nobunaga
hanyalah seorang gadis dengan baju zirah yang berbau eropa yaitu Nobuna.
Tunggu, setelah aku
pikir-pikir. Ini adalah sengoku jidai yaitu masa lalu, dan Hideyoshi meninggal
padahal ia belum menyatukan Jepang. Dan yang paling mendekati logika adalah
Nobuna merupakan versi Nobunaga di dunia yang aku tempati ini. Yang seharusnya
Nobunaga adalah seorang laki-laki dengan tampang yang menyeramkan dan
kesadisannya bagaikan iblis, ternyata adalah gadis cantik dengan rambut emas
yang sama sekali tidak terlihat sifat-sifat iblis di dirinya.
Tanpa disadari aku
sudah sampai di Istana Nagoya, bersama dengan Nobuna dan gadis yang mengawalnya.
Disana aku bertemu dengan beberapa orang yaitu satu perempuan dan dua laki-laki
yang dari penampilan mereka adalah penasihat klan Oda.
“Hey berhenti
melihatku seperti itu!”
Padahal aku tidak
begitu memperhatikannya sama sekali. Lagipula aku lebih penasaran dengan Nobuna
dibandingkan dia.
“Katsuie, jangan
terlalu kasar dengannya. Meskipun mukanya seperti monyet, dialah yang
menyelamatkanku”
“Tetapi
Nobuna-sama...”
“Sudahlah... Oh ya,
hey kamu!. Siapa namamu?”
Dia menanyakan
namaku, tapi apakah harus kuberi tahu nama asliku atau tidak. Karena aku tidak
seharus ada di jaman ini.
“namaku Satsuki
Motoharu”
“oh... kupanggil
saja Saru”
“Hey sudah kubilang
namaku Satsuki Motoharu”
“Jangan teriak
kepada Nobuna-sama”
Saru? Itu kan nama
panggilan Hideyoshi oleh Nobunaga, berarti aku sudah dianggap oleh sejarah
sebagai pengganti dari Toyotomi Hideyoshi.
“Hey Saru, mau
tidak menjadi salah satu bawahanku?”
“Uhhh.... Iya”
“Baiklah....
Inuchiyo bawa dia ke rumahnya”
“Siap Nobuna-dono”
Mendengar itu, aku
dibawa Inuchiyo atau lebih tepatnya Toshiie Maeda dalam versi gadis, tepatnya
gadis kecil. “Imut sekali!!” itulah perkataan yang ingin aku keluarkan, tetapi
aku takut disergap oleh penjaga. Susah sekali untuk terbiasa dengan hal ini. Kenapa
kebanyakan dari tokoh terkenal dari sengoku jidai semuanya adalah gadis.
Meskipun aku tidak begitu menolak hal tersebut, malahan aku lebih menyukainya.
Lebih baik aku melihat gadis cantik daripada harus melihat laki-laki dengan
tampang yang mengerikan.
Sepertinya aku tiba
di rumah... atau bisa disebut gubuk. Aku baru teringat kalau aku sekarang ada
di tahun 1500-an, jadi rumahnya ya sangat sederhana.
“Tempat macam apa
ini?”
“Seharusnya kau
senang sudah diberi tempat tinggal”
“Tch... benar juga
katamu”
“Kalau begitu aku
pulang dulu”
“Oh.. ya,
hati-hati”
Sebelum Inuchiyo
beranjak keluar tiba-tiba ia merasa ada penyusup di rumahku dan berteriak.
“keluar kau!”
Pada saat itu pula,
aku diculik oleh seseorang dan dalam keadaan tak sadar. Aku terbangun dengan
melihat hutan dan pemandangan tebing kota Kiyosu.
“Sudah sadarkah
kamu? Namaku adalah Hachisuka Goemon. Aku adalah kunoichi dan bawahan
Satsuki-dono yaitu Anda. Sebelumnya Kinoshita-donolah atasanku tapi karena dia
sudah meninggal, sekarang aku mengabdi kepada Satsuki-dono”
“Ehh... jadi alasan
mu untuk menculikku kesini adalah untuk memberitahu kalau kamu adalah
bawahanku. Kenapa tidak bicara denganku langsung”
“Aku adalah
kunoichi, aku tidak bicara secara publik”
“Terserah kamu
saja, aku mau tidur. Aku belum tidur dari tadi”
“Baiklah
Satsuki-dono”
Akhirnya aku bisa
istirahat, hari ini sangat melelahkan. Dalam sehari aku bertemu dengan tokoh
sengoku jidai namun hampir semuanya adalah gadis meskipun seharusnya laki-laki.
Sudahlah aku pikirkan itu esok saja.
Hari berikutnya aku
dibangunkan oleh Inuchiyo, katanya aku harus segera ke istana secepatnya.
Karena kaget mendengarnya aku bersiap untuk beranjak ke Istana Kiyosu.
“cepat Saru!”
“sudah kubilang
namaku Satsuki Motoharu!! Tunggu sebentar”
Inuchiyo dan aku segera
pergi menuju Istana Kiyosu. Sesampai disana yang menunggu adalah Nobuna,
Katsuie, Nagahide.
“Ah.. Saru datang
juga kamu”
Nobuna melihatku
seperti benar-benar melihatku bagaikan kera. Tetapi sebaiknya aku tidak berkata
apa-apa disini.
“Saito Dosan meminta
untuk bertemu denganku. Ia ingin membahas tentang sesuatu”
Aku teringat dengan
hal ini. Kejadian dimana terbentuk aliansi antara Mino dengan Owari. Saito
Dosan akan bertemu dengan Oda Nobunaga di Shoutokuji. Sebuah kuil yang ada di
perbatasan antara Mino dan Owari.
“Dan tempat
pertemuannya adalah di kuil Shoutokuji”
“Saru... kamu ini
sok tau atau memang bodoh?”
“Aku ini datang
dari masa depan!”
“Jangan suka
ber...”
Tiba-tiba datang
seorang pengirim pesan dari Saito Dosan yang akan memberitahukan tentang dimana
tempat pertemuan Nobuna dan Dosan. Yang tentu saja di Kuil Shoutokuji.
“Lapor Hime-sama,
sudah datang informasi dari Saitou Dousan mengenai tempat pertemuanny. Di Kuil
Shoutokuji Hime-sama”
Seketika Nobuna dan
yang lainnya kaget dan terdiam sesaat. Mungkin dengan ini mereka akan percaya
dengan perkataanku.
“Hey Saru...”
“Kan sudah kubilang
kalian akan bertemu di Kuil Shoutokuji dan aku datang dari masa depan”
“Kalau begitu,
Katsuie siapkan pasukan. Kita segera berangkat menuju Shoutokuji”
“Baik Nobuna-sama”
“Saru apa yang kau
tunggu? Cepat! Kau juga harus ikut”
“Iya-iya”
Aku ikut dengan
Nobuna untuk pergi ke Kuil Shoutokuji bersama dengan pasukan bersenjatakan
senapan.
“Nobuna, kenapa kau
membawa pasukan sebanyak ini?”
“Huh... kau ini bodoh atau apa? Sudah pasti untuk
memamerkannya ke Saitou Dosan”
“Oh...”
Dalam perjalanan
sampai di pegunungan, aku teringat dengan hal yang akan terjadi sebelum Nobuna
datang ke Kuil. Akan ada penyergapan terhadap pasukan Nobuna.
“hey Nobuna, suruh
pasukanmu untuk menyalakan api pada senapan mereka”
“huh... apa kau gila! Nanti
bisa meledak!”
“sudah lakukan saja, atau
pasukanmu itu tidak profesional?”
Akhirnya dia menuruti
kata-kataku. Selama perjalanan tidak ada tanda-tanda musuh, itu artinya mereka
sadar. Setiba disana aku dan Inuchiyo disuruh menunggu di luar kuil.
“Saru... ini aku titipkan
sendal ku!”
“Huh... iya”
Ada yang berkata bahwa
Hideyoshi pernah menyimpan sandal Nobunaga dalam bajunya untuk
menghangatkannya. Sepertinya hal itu benar. Nobuna meniggalkanku dan pergi
bersama dengan Katsuie.
Ketika aku menunggu dengan
Inuchiyo, aku melihat ada gadis lain yang berdiri menunggu di sebelahku. Entah
kenapa aku merasa mengenalnya tetapi lupa siapa dia. Aku lebih tertarik dengan
apa yang terjadi di dalam kuil itu.
“Lama sekali Nobuna, sampai
kapan dia akan membuatku menunggu”
Kemudian tidak lama Nobuna
masuk kedalam kuil dengan penampilan yang tak terbayangkan. Sebelumnya dia
menggunakan pakaian yang aneh, namun sekarang dia terlihat cantik sekali.
Bahkan Dosan juga kaget dengan pakaian Nobuna.
“Maaf ya telah membuatmu
menunggu lama Saitou Dosan”
“Aa... a.. a.. oh maaf. Tapi
sungguh, kau ini cantik sekali”
“Cukup Dosan kau berlebihan.
Lebih baik kita lanjut saja dengan pembicaraan serius”
“Ekhem, baiklah kalau begitu”
Mereka berdua terlihat sangat
serius. Dosan juga sepertinya sudah pulih dari kagetnya.
“Dosan! Aku butuh bantuanmu
sekarang. Kau akan memberiku adik perempuan kan?”
“Hmmm... Mungkin Nobuna-dono.
Atau mungkin “Si bodoh dari Owari”, aku harus yakin sebelum menentukan itu”
“Hmph. Jadi apa yang mau kau
tes?”
“Kemampuanmu. Aku punya
beberapa pertanyaan tentang kau tidak bisa menyatukan Owari. Berdasarkan
jawabanmu, mungkin saja kau akan kubunuh”
Ini bukanlah sebuah pertemuan
untuk aliansi, melainkan seperti pertarungan antara kuduanya. Salah kata maka
bisa berakibat buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar