Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Teman Khayalan

TEMAN KHAYALAN
Karya : Rifqi Nirwanto

Aku seorang pekerja paksa di suatu tambang di kota Mellburg. Aku bekerja sepanjang hari tanpa henti, jika kau berhenti kau akan merasakan panasnya kawat yang dibakar sampai memerah mengenai anggota tubuhmu.
Kota kami telah dikuasai para tentara bermantel abu-abu sejak 16Januari lalu. Saat itu aku bekerja sebagai pengatur sinyal kereta api di stasiun Folks Hill, tidak ada yang aneh pagi itu hanya terlihat penumpang yang berlalu lalang keluar masuk gerbong kereta sampai terlihat setitik benda hitam dari kejauhan yang melaju di atas rel nomor 3 yang lama kelamaan tampak sebuah lokonotif uap yang dibelakangnya dikaitkan sebuah gerbong penumpang, lalu di belakangnya tampak sebuah gerbong polos yang diatasnya dipasang senjata mesin prnghancur pesawat. Memasuki wilayah setasiun tampak seorang tentara berhelm keluar dari gerbong penumpang dan duduk di kursi penembak senjata mesin penghancur pesawat, ia mengarahkan moncong senjata kearah kereta yang saat itu sedang menurunkan penumpang dan mulai menembak. Seisi stasiun pun panik dan orang-orang mulai berlarian, dari gerbong penumpang turun sekitar seratus orang tentara berjubah abu-abu yang membawa senapan mesin, bahkan beberapa dari mereka membawa pelontar api. Aku segera meninggalkan kursi ku di bagian pengatur sinyal, aku hanya mendengar suara bising senapan mesin, jeritan, dan tangisan, aku langsung mencari tempat paling aman, sejauh ini tempat paling aman yang aku tau hanyalah di bangsal kereta api lama, bagiku itu hari terburukku sebagai seorang pengatur sinyal kereta api. Nampaknya ini bukan hari keberuntunganku, seorang tentara berjubah abu-abu berhasil menemukanku, lalu menuntunku ke tempat para sandera yang tidak terbunuh di saat penyerangan pertama. Inilah sebab mengapa aku bisa berada di tambang neraka ini.
Hari-hariku di tambang sangat menegangkan, hampir setiap hari teman satu kamarku ada tidak kembali dari tempat kerjanya, mereka berakhir di tempat penimbunan mayat. Suatu hari saat aku sedang bekerja mengangkut batu di bahuku, seseorang pekerja lain sengaja menjatuhkan batu yang aku angkut dan dia langsung memukul kepalaku lantas aku jatuh tersungkur, beruntungya ada seorang lain yang langsung memukul si pelaku, mereka membuat keributan yang mengundang para pekerja lain. Seketika suasana di tempatku bekerja menjadi ramai, tak lama suara tembakan terdengar, ternyata seorang pengawas datang menghampiri dan mencoba menguraikan keduanya, tidak sesuai yang aku bayangkan, para pekerja langsung menjatuhkan pengawas tersebut lalu merebut senapan yang ia bawa lalu mereka menembaknya tepat di wajahnya.




Orang yang tadi memukulku menjulurkan tangannya sambil berkata "Namaku Tarkov, ayo kita pulang", ternyata seisi tambang berencana untuk melarikan diri. Seluruh tambang dipenuhi semangat para pekerja yang ingin merdeka, sepanjang perlawanan, tarkov selalu berada di sampingku. Semangat para pekerja sangat kuat, sampai-sampai sebuah kendaraan lapis baja yang didatangkan militer musuhpun berhasil dikuasai. Kami terus berlari sambil menembakkan senapan yang kami rebut dari para pengawas yang mati, kami berdua berlari menuju bangsal kereta api, kebetulan ada satu kereta yang baru saja berangkat sehingga kecepatannya masih bisa dikejar dengan berlari, karena militer terus mengikuti, Tarkov lebih memilih menahan mereka dengan beberapa tembakan, sambil menembak dia berteriak padaku "cepatlah! Mereka menunggumu di rumah", akhirnya aku berhasil naik ke kereta, tetapi Tarkov terus menahan kejaran militer, lantas aku berteriak padanya "Ayo cepat! Kita akan pulang bersama-sama!", dia menjawabnya "aku akan menyusul", akupun terdiam mendengarnya. Sampai seseorang memukul bagian belakang kepalaku.
Malam itu seluruh tubuhku terasa hangat, kenyamanan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Disaat aku membuka mata, Tarkov berada di sampingku, ternyata dia memang  tidak berbohong. Saat itu mataku kembali tertutup kembali.
Saat itu seorang tantara menepuk pipiku sampai aku terbangun, aku langsung berlari ke dataran yang lebih tinggi untuk membantu pasukan garis depan. Pasukan kami menang dan aku melanjutkan misi yaqng diberikan khusus untukku. Misi khususku adalah membunuh kurir yang menyamar menjadi salah satu dari kami, tapi Karena aku bisa merasakannya, akhirnya aku mendapatkannya.

Aku terbangun kembail di samping Tarkov dia menatapku tajam sambal berkata “bagus temanku, tinggal satu langkah lagi, aku akan selalu ada untukmu”, dan aku terlelap kembali.

Aku merasakan sakit di kepalaku, aku terbangun di tengah medan pertempuran. Aku teringat akan tugas khususku yaitu untuk membunuh seorang sersan yang punya rencana pengkhianatan, aku berhasil menemuinya tanpa berfikir panjang aku langsung menghabisinya dengan pistol cadangan yang aku bawa. Namun tiba-tiba seseorang memukul bagian belakang kepalaku dan aku langsung tak sadarkan diri.

Lagi, aku terbangun dari tidurku dengan Tarkov di sampingku. Kali ini dia tersenyum kepadaku sambal berkata “Tugasmu sudah selesai, kau bisa pulang sekarang”. Tiba-tiba menodongkan pistolnya ke kepalanya sendiri sambal berkata “kau bisa pulang sekarang, tapi maaf aku tidak bisa menemanimu selamanya”. Disaat pelatuk di pistolnya bergerak dan peluru menembus kepalanya aku hanya bisa terdiam.


Aku terbangun kembali, namun kali ini bukan di medan perang maupun di samping Tarkov, aku melihat seorang suster mendekatiku, sambal berkata “sudah hampir dua bulan lamanya kau belum sadar juga”. Saat itu aku teringat bahwa saat itu aku tertembak di bagian kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar