TEMAN
KHAYALAN
Karya : Rifqi Nirwanto
Aku seorang pekerja paksa di suatu tambang di kota
Mellburg. Aku bekerja sepanjang hari tanpa henti, jika kau berhenti kau akan
merasakan panasnya kawat yang dibakar sampai memerah mengenai anggota tubuhmu.
Kota kami telah dikuasai para tentara bermantel
abu-abu sejak 16Januari lalu. Saat itu aku bekerja sebagai pengatur sinyal
kereta api di stasiun Folks Hill, tidak ada yang aneh pagi itu hanya terlihat
penumpang yang berlalu lalang keluar masuk gerbong kereta sampai terlihat
setitik benda hitam dari kejauhan yang melaju di atas rel nomor 3 yang lama
kelamaan tampak sebuah lokonotif uap yang dibelakangnya dikaitkan sebuah
gerbong penumpang, lalu di belakangnya tampak sebuah gerbong polos yang
diatasnya dipasang senjata mesin prnghancur pesawat. Memasuki wilayah setasiun
tampak seorang tentara berhelm keluar dari gerbong penumpang dan duduk di kursi
penembak senjata mesin penghancur pesawat, ia mengarahkan moncong senjata
kearah kereta yang saat itu sedang menurunkan penumpang dan mulai menembak.
Seisi stasiun pun panik dan orang-orang mulai berlarian, dari gerbong penumpang
turun sekitar seratus orang tentara berjubah abu-abu yang membawa senapan
mesin, bahkan beberapa dari mereka membawa pelontar api. Aku segera
meninggalkan kursi ku di bagian pengatur sinyal, aku hanya mendengar suara
bising senapan mesin, jeritan, dan tangisan, aku langsung mencari tempat paling
aman, sejauh ini tempat paling aman yang aku tau hanyalah di bangsal kereta api
lama, bagiku itu hari terburukku sebagai seorang pengatur sinyal kereta api.
Nampaknya ini bukan hari keberuntunganku, seorang tentara berjubah abu-abu
berhasil menemukanku, lalu menuntunku ke tempat para sandera yang tidak
terbunuh di saat penyerangan pertama. Inilah sebab mengapa aku bisa berada di
tambang neraka ini.
Hari-hariku di tambang sangat menegangkan, hampir
setiap hari teman satu kamarku ada tidak kembali dari tempat kerjanya, mereka
berakhir di tempat penimbunan mayat. Suatu hari saat aku sedang bekerja
mengangkut batu di bahuku, seseorang pekerja lain sengaja menjatuhkan batu yang
aku angkut dan dia langsung memukul kepalaku lantas aku jatuh tersungkur,
beruntungya ada seorang lain yang langsung memukul si pelaku, mereka membuat
keributan yang mengundang para pekerja lain. Seketika suasana di tempatku
bekerja menjadi ramai, tak lama suara tembakan terdengar, ternyata seorang
pengawas datang menghampiri dan mencoba menguraikan keduanya, tidak sesuai yang
aku bayangkan, para pekerja langsung menjatuhkan pengawas tersebut lalu merebut
senapan yang ia bawa lalu mereka menembaknya tepat di wajahnya.
Orang yang tadi memukulku menjulurkan tangannya
sambil berkata "Namaku Tarkov, ayo kita pulang", ternyata seisi
tambang berencana untuk melarikan diri. Seluruh tambang dipenuhi semangat para
pekerja yang ingin merdeka, sepanjang perlawanan, tarkov selalu berada di
sampingku. Semangat para pekerja sangat kuat, sampai-sampai sebuah kendaraan
lapis baja yang didatangkan militer musuhpun berhasil dikuasai. Kami terus
berlari sambil menembakkan senapan yang kami rebut dari para pengawas yang
mati, kami berdua berlari menuju bangsal kereta api, kebetulan ada satu kereta
yang baru saja berangkat sehingga kecepatannya masih bisa dikejar dengan
berlari, karena militer terus mengikuti, Tarkov lebih memilih menahan mereka
dengan beberapa tembakan, sambil menembak dia berteriak padaku "cepatlah!
Mereka menunggumu di rumah", akhirnya aku berhasil naik ke kereta, tetapi
Tarkov terus menahan kejaran militer, lantas aku berteriak padanya "Ayo
cepat! Kita akan pulang bersama-sama!", dia menjawabnya "aku akan
menyusul", akupun terdiam mendengarnya. Sampai seseorang memukul bagian
belakang kepalaku.
Malam itu seluruh tubuhku terasa hangat, kenyamanan
yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Disaat aku membuka mata, Tarkov berada
di sampingku, ternyata dia memang tidak
berbohong. Saat itu mataku kembali tertutup kembali.
Saat itu seorang
tantara menepuk pipiku sampai aku terbangun, aku langsung berlari ke dataran
yang lebih tinggi untuk membantu pasukan garis depan. Pasukan kami menang dan
aku melanjutkan misi yaqng diberikan khusus untukku. Misi khususku adalah
membunuh kurir yang menyamar menjadi salah satu dari kami, tapi Karena aku bisa
merasakannya, akhirnya aku mendapatkannya.
Aku terbangun
kembail di samping Tarkov dia menatapku tajam sambal berkata “bagus temanku,
tinggal satu langkah lagi, aku akan selalu ada untukmu”, dan aku terlelap
kembali.
Aku merasakan
sakit di kepalaku, aku terbangun di tengah medan pertempuran. Aku teringat akan
tugas khususku yaitu untuk membunuh seorang sersan yang punya rencana
pengkhianatan, aku berhasil menemuinya tanpa berfikir panjang aku langsung
menghabisinya dengan pistol cadangan yang aku bawa. Namun tiba-tiba seseorang
memukul bagian belakang kepalaku dan aku langsung tak sadarkan diri.
Lagi, aku
terbangun dari tidurku dengan Tarkov di sampingku. Kali ini dia tersenyum
kepadaku sambal berkata “Tugasmu sudah selesai, kau bisa pulang sekarang”.
Tiba-tiba menodongkan pistolnya ke kepalanya sendiri sambal berkata “kau bisa
pulang sekarang, tapi maaf aku tidak bisa menemanimu selamanya”. Disaat pelatuk
di pistolnya bergerak dan peluru menembus kepalanya aku hanya bisa terdiam.
Aku terbangun
kembali, namun kali ini bukan di medan perang maupun di samping Tarkov, aku
melihat seorang suster mendekatiku, sambal berkata “sudah hampir dua bulan
lamanya kau belum sadar juga”. Saat itu aku teringat bahwa saat itu aku
tertembak di bagian kepala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar