Ketegori

Rabu, 26 Oktober 2016

Perih Yang Terbalaskan

Perih Yang Terbalaskan
Karya : Yurike Amalia


Bu Ultin , Seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Tapi apa? Kebaikannya kepada anaknya dibalas dengan rasa pahit yang begitu dalam. Hingga datang dua malaikat dalam hidupnya. Dua malaikat itu pun menjadi pelengkap kehidupan Bu Ultin dan anaknya.
“Robin bangun,  Kamu gak kuliah hari ini?” Tanya bu Ultin yang sedang membangunkan Robin. “Ah . ., ibu. Aku masih ngantuk, Bu. Lima menit lagi” Jawab Robin dengan nada menggerutu. “Cepat bangun robin, pergilah kuliah. Biaya kuliahmu itu tidak murah, dan jarang anak – anak yang bisa kuliah seperti kamu sekarang ini” Kata Bu Ultin menasihati. ”Ah . . . ibu cerewet. Iya.., aku segera bangun” Kata Robin dengan nada kesal. Ia terlihat tidak semangat untuk berangkat kuliah hari ini.


Setelah siap, Robin pun menuju meja makan. “Robin makan di kampus aja, Bu.” Kata Robin. “Ibu sudah siapkan sarapan untuk kamu. Ibu bela – belain bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan kamu nak” kata Ibu Ultin sambil menyembunyikan rasa kecewanya. Tanpa merasa bersalah Robin pun langsung pergi meningalkan ibunya.
***
“Nak, kamu hari ini jangan keluar malam, ya ?” kata Bu Ultin menasihati anaknya. 

”Kenapa, bu?” Tanya Robin. 
“Temani Ibu berobat. Hari ini badan Ibu sakit semua”
“ Ah.., Ibu kayak anak kecil aja. Robin nanti mau ngeband sama Alex” 
“Jadi, kamu lebih memilih ngeband dari pada mengantar ibu berobat?” Kata Bu Ultin dengan nada kecewa.
“Robin keluar ada manfaatnya, Bu. Nanti kalau band Robin terkenal. Ibu jugakan terkenal dan kita bisa kaya”
 “Tapi Robin . . . . .” Kata-kata Bu Ultin langsung disambar oleh Robin.
 “Sudahlah, Bu. Minta antarkan tetangga sebelah saja. Nanti Ibu kasih imbalan. Sudah, Bu. Robin berangkat dulu.”
Robin langsung meninggalkan Ibunya di ruang makan. Hanya dengan nasi dan lauk pauk seadanya dihadapan bu Ultin. Dengan terluka dan menahan rasa sakit. Ibu Ultin hanya menangis dalam diam melihat tingkah laku anak Robin Kepadanya. Tak pernah ia bayangkan anak semata wayangnya menolak untuk mengantarkannya berobat dan itu sangat melukai hatinya.


“Ha . . ha. . ha . . ., puas banget tadi.” Robin tertawa karena merasa puas dengan bermain band tadi. “Mainnya kurang lama. Harusnya lima jam atau sepuluh jam” Kata Alex. 

“Sekalian nginap aja Lex, kalau lima sampai sepuluh jam..,”
 “Soalnya seru banget tadi” kata Alex sambil merangkul punggung Robin
“Ya sudah. Sampai ketemu besok. Udah ngantuk ni. Pulang dulu,ya.” Robin menaiki sepeda motornya. 
“Oke. Sampai ketemu besok. Hati-hati..!” Alex melambaikan tangannya. Robin pun melaju dengan kencang menaiki sepeda motornya.


Sesampainya di rumah, Robin melihat ibunya tertidur di kursi ruang tamu. “Bu.. bangun bu.. Kenapa tidur disini ?” Tanya Robin. 

“Ibu menunggu kamu. Ibu khawatir sama kamu. Udah dini hari belum pulang-pulang juga.” Kata Bu Ultin dengan mata sayup karena kelelahan.
“Bu . ., Robin udah besar. Robin juga udah bisa jaga diri. Ibu gak usah khawatir.”
“ Ibu khawatir, karena Ibu sayang sama kamu,Nak. Kamu tidak kasihan sama Ibu? Ibu ini janda , punya anak satu tapi tidak pernah di rumah”
“Ah.., Robin ngantuk. Mau tidur. Bosan tau gak berantem mulu sama Ibu. Ibu tu cerewet banget.” Robin pun meninggalkan ibunya dan berjalan menuju kamarnya.

‘Anak ku, kenapa kamu seperti ini. Ya Allah apa salahku? Selama ini aku sudah mendidiknya dengan baik. Semoga engkau memberi anakku hidayah Ya Allah.’ Bu Ultin pun tak kuasa menahan kesedihannya , hingga air mata menetes membasahi pipinya.
Kicau suara burung di pagi hari semakin terdengar. Sengatan dari sang surya pun mulai memanasi jendela kamar Robin. Ia pun kaget bukan kepalang. “Aduh . ., jam berapa ini?. Kok, Ibu gak bangunin aku?.” Gerutu Robin, saat ia bangun dari tidurnya. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan tergesa-gesa.
“Ibu sengaja, ya. Tadi gak ngebangunin Robin?!” Kata Robin, sambil memakai sepatunya di kursi meja makan.

 “Astaga.. kamu jangan salah paham dulu nak. Ibu tadi juga telat bangun. Badan ibu sakit semua.” Kata bu Ultin menjelaskannya.
“Ah .., Ibu makanya jangan nunggu Robin kalau lagi ngeband. Jadinya kesiangan, kan? Robin juga sudah hampir telat ni. Hari ini Robin bakal pulang malam…,” Kata Robin, yang kemudian meminum segelas susu.
“Lho.., kok pulang malam ? ” Tanya Bu Ultin.
“Ada tugas kelompok, Kalau pulangnya terlalu malam, nanti Robin tidur di rumah temen aja. Nanti Robin sms ibu. Dan Ibu gak usah menunggu Robin.” Robin pun langsung meninggalkan Ibunya.


Detik, menit, dan jam pun telah berlalu. Sunyi senyap dalam dinginnya malam, Robin juga tak kunjung pulang. Dengan mata yang lelah dan badan yang lemas, bu Ultin tetap menunggu anaknya. Hanya selembar selimut pemberian suaminya, yang bisa menahan rasa dingin yang semakin malam semakin merayap hingga menusuk tulang.
‘Robin kemana ya? katanya mau sms, tapi kok gak ada sms juga. Nomornya juga tidak aktif. Ya Allah, ampunilah hambamu ini’ katanay berdoa dalam hati. Kemudian terdengar suara orang dari luar sambil mengetuk pintu.

“Robin . . , Robin.” Teriak orang itu.
“Siapa, ya ?” tanya Bu Ultin, yang kemudian membuka pintunya. 
“Ini Alex, Bu. Robin nya ada, Bu?”
“Sudah seminggu Robin tidak pulang. Ibu pikir kamu tahu dimana Robin?” Kata Bu Ultin dengan nada terkejut. Belum sempat Alex menjawab pertanyaa bu Ultin, tiba-tiba Bu Ida pingsan, wajahnya sangat pucat. Alex pun langsung membawa Bu Ultin ke rumah sakit.


“Ibu Ultin sakit apa, Dok ?” Tanya Alex. 

“Ibu Ultin hanya kecapekan.” kata Dokter yang memeriksa Bu Ultin.
 “Oh . . , syukurlah” Alex lega mendengarnya. 
”Sebaiknya, jangan membiarkan beliau beraktivitas terlalu berat. Beliau perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya.” Saran dari Dokter.


Robin terlihat kaget saat melihat Alex ada di kamar ibunya. 

“Ngapain kamu sama Ibuku ?” Tanya Robin.
“Aku baru saja membawa Ibu kamu ke dokter. Tadi beliau pingsan” Kata Alex menjelaskan. 
“Ibu memang begitu. Semakin tua , semakin manja.” Robin justru memperlihatkan sikap acuh terhadap ibunya. 
“Ibu kamu sedang sakit Rob. Kamu malah pergi meninggalkannya.”
“Sudahlah, kamu ini orang lain. kamu bukan anaknya. Kamu juga jangan sok perhatian sama ibuku.”
“Aku sekarang baru tahu. Ternyata, begini sikap kamu terhadap Ibumu sendiri.” Kata Alex dengan menatap sinis terhadap Robin.
“Sebaiknya kamu pulang saja, Lex! Kamu tidak berhak atas urursan keluargaku.” Mendengar perkataan Robin, Alex pun bergegas pergi. 
“Alex pamit pulang dulu, Bu.” Alex mencium tangan Bu Ida.



Kemudian Alex menarik selimut untuk menutupi badan Bu Ultin. Seketika kehangatan merayap dalam tubuh bu Ultin. Hatinya terenyuh dengan sikap Alex kepadanya. Ingin rasanya Robin yang bersikap seperti itu kepadanya. Air mata pun mengalir dari kedua sudut matanya. Hatinya berkata seolah-olah tak ingin Anak itu pergi meninggalkannya.Terasa sesak dada bu Ultin, melihat sosok Robin yang jauh dari harapannya. Dia bermimpi, agar suatu saat nanti Robin dapat berubah seperti Alex. Seorang yang lembut dan penyayang.
Pagi – pagi Robin sudah pergi meninggalkannya sendiri di rumah. Ibu Ultin hanya bisa menangis meratapi kondisinya. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Bu Ultin terkejut saat melihat Alex yang datang dari balik pintu itu. “Permisi bu,.. Ini Alex bawakan bubur untuk Ibu. Ibu makan ya“ dan bun Ultin pun hanya mengangguk pelan. Alex meletakkan bubur yang ia bawa di atas meja. Ia menyiapkan sendok untuk menyuapi Bu Ultin. Bu Ultin hanya bisa menatap dengan perasaan haru. Ia usap air mata yang perlaha – lahan keluar dari kedua matanya. Ia tak ingin Alex mengetahui kesedihannya.
”Bagaimana keadaan ibu sekarang?” Tanya Alex sambil menyuapi bu Ultin. 

“Alhamdulillah, sudah lebih baik.” Jawab Bu Ultin. 
“Robin sangat beruntung mempunyai Ibu yang sangat menyayanginya. Alex dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Setahu Alex, Ibu Alex adalah ayah. Orang yang bekerja untuk Alex. Dan orang yang merawat Alex.”
 “Itu artinya, Nak Alex adalah anak yang beruntung mempunyai Ayah yang bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah.”
“Tapi, Ayah tidak pernah bisa menjadi Ibu Untuk Alex. Kasih sayang Ibu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kasih sayang Ayah. Kelembutan, kesabaran, dan kasih sayangnya tidak bisa kita dapatkan dari seorang ayah. Sedangkan seorang ibu, ia bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Ia mempunyai semangat bekerja keras, dan kekuatan layaknya kekuatan lelaki. Dan semua itu tidak terlepas dari rasa semangat akan cinta dan kasih sayang terhadap anaknya. Ibu adalah orang yang hebat” Alex memuji Bu Ultin. Hatinya sangat tersentuh akan kebaikannya. Dia begitu menghormati orang tua. ‘Andaikan saja Bayu tahu, betapa aku sangat mencintainya.’ Kata bu Ultin dalam hati.

***
“Maafkan Robin, Bu.” Robin menangis dan memeluk erat tubuh ibunya. Bu Ultin terlihat terkejut melihat sikap anaknya yang berubah. Alex dan ayahnya hanya bisa menyaksikannya. “Robin baru sadar. Robin sering menyakiti hati Ibu. Kasih sayang Ibu seluas langit, tapi kasih sayang Robin hanya seluas bukit.” Kata Robin yang masih diikuti tangisan. Dengan perasaan yang bahagia sekaligus haru, bu Ultin pun menerima permintaan maaf dari anaknya. “Iya nak, Ibu maafkan kamu” Bu Ultin memeluk Robin dan mengecup kepalanya.
“Bagaimana dengan tawaran Alex kemarin, Bu?” Tanya Alex. Bu Ultin pun terkejut dengan pertanyaan Alex. Ayah Alex – Pak Joy Willnt – hanya bisa menundukkan kepalanya. ‘Akankah jalinan asmara yang telah lama akan kembali dirajut oleh kami berdua?’ Tanya Bu Ultin dalam hati. Robin hanya memperlihatkan raut wajah yang bingung. ‘Apa sebenarnya yang Alex tawarkan pada Ibu, hingga Ibu merasa kebingungan untuk menjawabnya.’ Tanya Bayu dalam hati.
“Alex harap, Ibu mau menerima tawaran Alex, Bu” Alex mendekati Bu Ultin, dan memegang kedua tangannya. Memohon agar Bu Ultin berkenan menikah dengan ayahnya. Robin hanya kebingungan dengan apa yang Alex lakukan. “Apa sebenarnya yang terjadi, Bu?” tanya Robin. ‘Ya, Allah.., melalui Alex, akankah engkau persatukan kami kembali. Cinta yang dulu sempat tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua kami.’ Perasaan dimasa lalu pun muncul kembali.
“Bagaimana Robin? Apakah kamu akan menerima tawaran Alex?” Tanya Bu Ultin pada Robin. 

“Memangnya, apa yang Alex tawarkan pada Ibu?” Tanya Robin.
“Aku meminta Ibumu untuk menikah dengan ayahku. Aku ingin kita hidup dalam satu atap. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, yang tak pernah aku dapatkan sejak kecil. Kamu begitu beruntung, Rob. Ibumu bisa menjadi ayah sekaligus ibu.” Kata-kata Alex membuat Robin terenyuh.
“Betapa bodohnya aku, Lex. Tidak pernah mau merasakan kasih sayang ibuku yang begitu luas. Sedangkan kamu bisa merasakannya. Padahal kamu tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu.” Entah kenapa, Robin begitu bijak mengatakannya. Berbeda dengan biasanya. 
“Robin mohon, Bu. Terimalah tawaran Dari Alex” Kata Robin memohon.
“Maafkan aku, Ultin. Jika keinginan anakku terlalu menyudutkanmu. Aku tidak pernah memaksamu untuk mau menerimaku. Aku hanya dapat berharap, jika kamu memang tidak bisa. Kamu bisa menjelaskan secara baik kepada Alex. Karena aku tidak sanggup untuk menjelaskannya. Karena aku tidak bisa memenuhi keinginannya.” Kata Pak Joy.

‘Apakah benar itu? kamu juga berharap kepadaku. Sebagaimana Alex mengharapkanku’ Ada perasaan senang dalam hatinya. “Baiklah.., Ibu akan menerima tawaran Alex” Kata bu Ultin.
Ya Allah, aku tidak menduga bahwasanya engkau telah mempersatukan kami kembali melalui putra-putra kami. Kebahagian kami terasa lengkap. Cinta itu kembali lagi dalam kehidupan ini. Hanya kami berdua yang tahu. Bahwa cinta itu sudah ada sejak kami muda dulu. Berkat mereka cinta itu datang dan menjadi Cinta baru.


Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar