Perih
Yang Terbalaskan
Karya : Yurike Amalia
Bu Ultin , Seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Tapi apa? Kebaikannya kepada
anaknya dibalas dengan rasa pahit yang begitu dalam. Hingga datang dua malaikat
dalam hidupnya. Dua malaikat itu pun menjadi pelengkap kehidupan Bu Ultin dan
anaknya.
“Robin
bangun, Kamu gak kuliah hari ini?” Tanya
bu Ultin yang sedang membangunkan Robin. “Ah . ., ibu. Aku masih ngantuk, Bu.
Lima menit lagi” Jawab Robin dengan nada menggerutu. “Cepat bangun robin, pergilah
kuliah. Biaya kuliahmu itu tidak murah, dan jarang anak – anak yang bisa kuliah
seperti kamu sekarang ini” Kata Bu Ultin menasihati. ”Ah . . . ibu cerewet.
Iya.., aku segera bangun” Kata Robin dengan nada kesal. Ia terlihat tidak
semangat untuk berangkat kuliah hari ini.
Setelah
siap, Robin pun menuju meja makan. “Robin makan di kampus aja, Bu.” Kata Robin.
“Ibu sudah siapkan sarapan untuk kamu. Ibu bela – belain bangun pagi hanya
untuk menyiapkan sarapan kamu nak” kata Ibu Ultin sambil menyembunyikan rasa
kecewanya. Tanpa merasa bersalah Robin pun langsung pergi meningalkan ibunya.
***
“Nak,
kamu hari ini jangan keluar malam, ya ?” kata Bu Ultin menasihati anaknya.
”Kenapa, bu?” Tanya Robin.
“Temani Ibu berobat. Hari ini badan Ibu sakit semua”
“ Ah.., Ibu kayak anak kecil aja. Robin nanti mau ngeband sama Alex”
“Jadi, kamu lebih memilih ngeband dari pada mengantar ibu berobat?” Kata Bu
Ultin dengan nada kecewa.
“Robin keluar ada manfaatnya, Bu. Nanti kalau band Robin terkenal. Ibu jugakan
terkenal dan kita bisa kaya”
“Tapi Robin . . . . .” Kata-kata Bu
Ultin langsung disambar oleh Robin.
“Sudahlah, Bu. Minta antarkan tetangga
sebelah saja. Nanti Ibu kasih imbalan. Sudah, Bu. Robin berangkat dulu.”
Robin langsung meninggalkan Ibunya di ruang makan. Hanya dengan nasi dan lauk
pauk seadanya dihadapan bu Ultin. Dengan terluka dan menahan rasa sakit. Ibu
Ultin hanya menangis dalam diam melihat tingkah laku anak Robin Kepadanya. Tak
pernah ia bayangkan anak semata wayangnya menolak untuk mengantarkannya berobat
dan itu sangat melukai hatinya.
“Ha
. . ha. . ha . . ., puas banget tadi.” Robin tertawa karena merasa puas dengan
bermain band tadi. “Mainnya kurang lama. Harusnya lima jam atau sepuluh jam”
Kata Alex.
“Sekalian nginap aja Lex, kalau lima sampai sepuluh jam..,”
“Soalnya seru banget tadi” kata Alex
sambil merangkul punggung Robin
“Ya sudah. Sampai ketemu besok. Udah ngantuk ni. Pulang dulu,ya.” Robin menaiki
sepeda motornya.
“Oke. Sampai ketemu besok. Hati-hati..!” Alex melambaikan tangannya. Robin pun
melaju dengan kencang menaiki sepeda motornya.
Sesampainya
di rumah, Robin melihat ibunya tertidur di kursi ruang tamu. “Bu.. bangun bu.. Kenapa
tidur disini ?” Tanya Robin.
“Ibu menunggu kamu. Ibu khawatir sama kamu. Udah dini hari belum pulang-pulang
juga.” Kata Bu Ultin dengan mata sayup karena kelelahan.
“Bu . ., Robin udah besar. Robin juga udah bisa jaga diri. Ibu gak usah
khawatir.”
“ Ibu khawatir, karena Ibu sayang sama kamu,Nak. Kamu tidak kasihan sama Ibu?
Ibu ini janda , punya anak satu tapi tidak pernah di rumah”
“Ah.., Robin ngantuk. Mau tidur. Bosan tau gak berantem mulu sama Ibu. Ibu tu
cerewet banget.” Robin pun meninggalkan ibunya dan berjalan menuju kamarnya.
‘Anak
ku, kenapa kamu seperti ini. Ya Allah apa salahku? Selama ini aku sudah
mendidiknya dengan baik. Semoga engkau memberi anakku hidayah Ya Allah.’ Bu
Ultin pun tak kuasa menahan kesedihannya , hingga air mata menetes membasahi
pipinya.
Kicau
suara burung di pagi hari semakin terdengar. Sengatan dari sang surya pun mulai
memanasi jendela kamar Robin. Ia pun kaget bukan kepalang. “Aduh . ., jam
berapa ini?. Kok, Ibu gak bangunin aku?.” Gerutu Robin, saat ia bangun dari
tidurnya. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan
tergesa-gesa.
“Ibu
sengaja, ya. Tadi gak ngebangunin Robin?!” Kata Robin, sambil memakai sepatunya
di kursi meja makan.
“Astaga.. kamu jangan salah paham dulu
nak. Ibu tadi juga telat bangun. Badan ibu sakit semua.” Kata bu Ultin
menjelaskannya.
“Ah .., Ibu makanya jangan nunggu Robin kalau lagi ngeband. Jadinya kesiangan,
kan? Robin juga sudah hampir telat ni. Hari ini Robin bakal pulang malam…,” Kata
Robin, yang kemudian meminum segelas susu.
“Lho.., kok pulang malam ? ” Tanya Bu Ultin.
“Ada tugas kelompok, Kalau pulangnya terlalu malam, nanti Robin tidur di rumah
temen aja. Nanti Robin sms ibu. Dan Ibu gak usah menunggu Robin.” Robin pun
langsung meninggalkan Ibunya.
Detik,
menit, dan jam pun telah berlalu. Sunyi senyap dalam dinginnya malam, Robin juga
tak kunjung pulang. Dengan mata yang lelah dan badan yang lemas, bu Ultin tetap
menunggu anaknya. Hanya selembar selimut pemberian suaminya, yang bisa menahan
rasa dingin yang semakin malam semakin merayap hingga menusuk tulang.
‘Robin
kemana ya? katanya mau sms, tapi kok gak ada sms juga. Nomornya juga tidak
aktif. Ya Allah, ampunilah hambamu ini’ katanay berdoa dalam hati. Kemudian
terdengar suara orang dari luar sambil mengetuk pintu.
“Robin . . , Robin.” Teriak orang itu.
“Siapa, ya ?” tanya Bu Ultin, yang kemudian membuka pintunya.
“Ini Alex, Bu. Robin nya ada, Bu?”
“Sudah seminggu Robin tidak pulang. Ibu pikir kamu tahu dimana Robin?” Kata Bu
Ultin dengan nada terkejut. Belum sempat Alex menjawab pertanyaa bu Ultin, tiba-tiba
Bu Ida pingsan, wajahnya sangat pucat. Alex pun langsung membawa Bu Ultin ke
rumah sakit.
“Ibu
Ultin sakit apa, Dok ?” Tanya Alex.
“Ibu Ultin hanya kecapekan.” kata Dokter yang memeriksa Bu Ultin.
“Oh . . , syukurlah” Alex lega
mendengarnya.
”Sebaiknya, jangan membiarkan beliau beraktivitas terlalu berat. Beliau perlu
istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya.” Saran dari Dokter.
Robin
terlihat kaget saat melihat Alex ada di kamar ibunya.
“Ngapain kamu sama Ibuku ?” Tanya Robin.
“Aku baru saja membawa Ibu kamu ke dokter. Tadi beliau pingsan” Kata Alex
menjelaskan.
“Ibu memang begitu. Semakin tua , semakin manja.” Robin justru memperlihatkan
sikap acuh terhadap ibunya.
“Ibu kamu sedang sakit Rob. Kamu malah pergi meninggalkannya.”
“Sudahlah, kamu ini orang lain. kamu bukan anaknya. Kamu juga jangan sok
perhatian sama ibuku.”
“Aku sekarang baru tahu. Ternyata, begini sikap kamu terhadap Ibumu sendiri.”
Kata Alex dengan menatap sinis terhadap Robin.
“Sebaiknya kamu pulang saja, Lex! Kamu tidak berhak atas urursan keluargaku.”
Mendengar perkataan Robin, Alex pun bergegas pergi.
“Alex pamit pulang dulu, Bu.” Alex mencium tangan Bu Ida.
Kemudian Alex menarik selimut untuk menutupi badan Bu Ultin. Seketika
kehangatan merayap dalam tubuh bu Ultin. Hatinya terenyuh dengan sikap Alex
kepadanya. Ingin rasanya Robin yang bersikap seperti itu kepadanya. Air mata
pun mengalir dari kedua sudut matanya. Hatinya berkata seolah-olah tak ingin
Anak itu pergi meninggalkannya.Terasa sesak dada bu Ultin, melihat sosok Robin
yang jauh dari harapannya. Dia bermimpi, agar suatu saat nanti Robin dapat
berubah seperti Alex. Seorang yang lembut dan penyayang.
Pagi
– pagi Robin sudah pergi meninggalkannya sendiri di rumah. Ibu Ultin hanya bisa
menangis meratapi kondisinya. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Bu Ultin
terkejut saat melihat Alex yang datang dari balik pintu itu. “Permisi bu,.. Ini
Alex bawakan bubur untuk Ibu. Ibu makan ya“ dan bun Ultin pun hanya mengangguk
pelan. Alex meletakkan bubur yang ia bawa di atas meja. Ia menyiapkan sendok
untuk menyuapi Bu Ultin. Bu Ultin hanya bisa menatap dengan perasaan haru. Ia
usap air mata yang perlaha – lahan keluar dari kedua matanya. Ia tak ingin Alex
mengetahui kesedihannya.
”Bagaimana
keadaan ibu sekarang?” Tanya Alex sambil menyuapi bu Ultin.
“Alhamdulillah, sudah lebih baik.” Jawab Bu Ultin.
“Robin sangat beruntung mempunyai Ibu yang sangat menyayanginya. Alex dari
kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Setahu Alex, Ibu Alex
adalah ayah. Orang yang bekerja untuk Alex. Dan orang yang merawat Alex.”
“Itu artinya, Nak Alex adalah anak yang
beruntung mempunyai Ayah yang bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah.”
“Tapi, Ayah tidak pernah bisa menjadi Ibu Untuk Alex. Kasih sayang Ibu tidak
akan pernah bisa digantikan oleh kasih sayang Ayah. Kelembutan, kesabaran, dan
kasih sayangnya tidak bisa kita dapatkan dari seorang ayah. Sedangkan seorang
ibu, ia bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Ia mempunyai semangat bekerja
keras, dan kekuatan layaknya kekuatan lelaki. Dan semua itu tidak terlepas dari
rasa semangat akan cinta dan kasih sayang terhadap anaknya. Ibu adalah orang
yang hebat” Alex memuji Bu Ultin. Hatinya sangat tersentuh akan kebaikannya.
Dia begitu menghormati orang tua. ‘Andaikan saja Bayu tahu, betapa aku sangat
mencintainya.’ Kata bu Ultin dalam hati.
***
“Maafkan
Robin, Bu.” Robin menangis dan memeluk erat tubuh ibunya. Bu Ultin terlihat
terkejut melihat sikap anaknya yang berubah. Alex dan ayahnya hanya bisa
menyaksikannya. “Robin baru sadar. Robin sering menyakiti hati Ibu. Kasih
sayang Ibu seluas langit, tapi kasih sayang Robin hanya seluas bukit.” Kata
Robin yang masih diikuti tangisan. Dengan perasaan yang bahagia sekaligus haru,
bu Ultin pun menerima permintaan maaf dari anaknya. “Iya nak, Ibu maafkan kamu”
Bu Ultin memeluk Robin dan mengecup kepalanya.
“Bagaimana
dengan tawaran Alex kemarin, Bu?” Tanya Alex. Bu Ultin pun terkejut dengan
pertanyaan Alex. Ayah Alex – Pak Joy Willnt – hanya bisa menundukkan kepalanya.
‘Akankah jalinan asmara yang telah lama akan kembali dirajut oleh kami berdua?’
Tanya Bu Ultin dalam hati. Robin hanya memperlihatkan raut wajah yang bingung.
‘Apa sebenarnya yang Alex tawarkan pada Ibu, hingga Ibu merasa kebingungan
untuk menjawabnya.’ Tanya Bayu dalam hati.
“Alex
harap, Ibu mau menerima tawaran Alex, Bu” Alex mendekati Bu Ultin, dan memegang
kedua tangannya. Memohon agar Bu Ultin berkenan menikah dengan ayahnya. Robin
hanya kebingungan dengan apa yang Alex lakukan. “Apa sebenarnya yang terjadi,
Bu?” tanya Robin. ‘Ya, Allah.., melalui Alex, akankah engkau persatukan kami
kembali. Cinta yang dulu sempat tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua
kami.’ Perasaan dimasa lalu pun muncul kembali.
“Bagaimana
Robin? Apakah kamu akan menerima tawaran Alex?” Tanya Bu Ultin pada Robin.
“Memangnya, apa yang Alex tawarkan pada Ibu?” Tanya Robin.
“Aku meminta Ibumu untuk menikah dengan ayahku. Aku ingin kita hidup dalam satu
atap. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, yang tak pernah aku
dapatkan sejak kecil. Kamu begitu beruntung, Rob. Ibumu bisa menjadi ayah
sekaligus ibu.” Kata-kata Alex membuat Robin terenyuh.
“Betapa bodohnya aku, Lex. Tidak pernah mau merasakan kasih sayang ibuku yang
begitu luas. Sedangkan kamu bisa merasakannya. Padahal kamu tidak pernah
mendapatkan kasih sayang itu.” Entah kenapa, Robin begitu bijak mengatakannya.
Berbeda dengan biasanya.
“Robin mohon, Bu. Terimalah tawaran Dari Alex” Kata Robin memohon.
“Maafkan aku, Ultin. Jika keinginan anakku terlalu menyudutkanmu. Aku tidak pernah
memaksamu untuk mau menerimaku. Aku hanya dapat berharap, jika kamu memang
tidak bisa. Kamu bisa menjelaskan secara baik kepada Alex. Karena aku tidak
sanggup untuk menjelaskannya. Karena aku tidak bisa memenuhi keinginannya.”
Kata Pak Joy.
‘Apakah
benar itu? kamu juga berharap kepadaku. Sebagaimana Alex mengharapkanku’ Ada
perasaan senang dalam hatinya. “Baiklah.., Ibu akan menerima tawaran Alex” Kata
bu Ultin.
Ya
Allah, aku tidak menduga bahwasanya engkau telah mempersatukan kami kembali
melalui putra-putra kami. Kebahagian kami terasa lengkap. Cinta itu kembali
lagi dalam kehidupan ini. Hanya kami berdua yang tahu. Bahwa cinta itu sudah
ada sejak kami muda dulu. Berkat mereka cinta itu datang dan menjadi Cinta
baru.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar