Kesedihan yang Terdalam
Karya : Amellia Lestia Haedi
Empat tahun yang lalu adalah
tahun terberat yang aku alami, tanpa mama. Sulit untuk kujalani apa yang aku
rasakan, gemuruh rasa sunyi dalam hati dan hidupku, banyak orang bilang aku
harus ikhlas dan aku harus tabah. Kalian tidak akan pernah tahu seberat apa
yang aku rasakan. Kehilangan, bukan hal yang aneh bagiku, diusiaku yang baru
menginjak 13 tahun Allah telah mengajariku untuk tabah karena kehilangan
seorang ibu tercinta, wanita yang sangat aku sayangi dan aku hormati, yang
selalu mengajariku banyak hal.
Sore itu aku mendapatkan
kabar bahwa mama masuk rumah sakit dan berada di ruang UGD. Aku terduduk lemas
diruang tunggu rumah sakit, saat mendengar kabar tersebut. Berjuta perasaan dan
pikiran buruk menghantuiku, dia seolah-olah merasuki hati dan fikiranku. Aku
bertambah tidak karuan ketika aku melihat seorang dokter menutup pintu ruangan
tempat dimana mama dirawat. Didalam penantianku, aku hanya bisa berdo’a dan
pasrah kepada Allah SWT. Agar ibundaku tercinta bisa dibebaskan dari
penyakitnya. Dalam do’a itu aku memohon kepada Tuhan supaya mama bisa
terselamatkan dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.
“Ya Allah, sembuhkanlah ibu hamba, angkatlah semua penyakitnya ya Allah.....” begitulah sekiranya do’a yang aku panjatkan pada Sang Maha Kuasa.
Lima belas menit telah berlalu, dan dari kejauhan tampak seorang Dokter berjalan menuju kearah ruang tunggu. Dan Dokter itu berhenti didekatku.
Dia kemudian bertanya, “apakah disini ada
keluarganya?”
lalu aku mnjawab,” Ya ada, saya anaknya.
Bagaimana keadaan mama saya, Dok?” ujarku penuh tanya dan pengharapan terhadap
kesembuhan mama.
“kami tim medis sudah
berusaha keras tapi mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkannya.” Katanya
kepadaku.
“ setelah saya cek semuanya ternyata saat
dalam perjalanan pembuluh darahnya sudah pecah dan tiba dirumah sakit
kondisinya sudah tidak bernyawa.” Lanjut Dokter menerangkan kondisi mama
padaku.
“(seketika badanku lemas dan air matapun
mengalir).” Tidak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan saat itu. Air mata kesedihanku
terus mengalir di pipi.
“Ya Allah, kenapa semua ini
terjadi begitu cepat.“Ucapku lirih.
Segera aku berlari melihat
mamaku yang sudah terbaring kaku tanpa sepatah katapun. Aku membelai rambut
mama dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Air mata itu semakin deras
mengalir di pipiku, aku tak henti-hentinya memanjatkan do’a pada sang pemilik
agar di terima semua amal dan ibadahnya di dunia ini. Tak lupa kutatap wajah
mama yang pucat itu, dengan setengah senyum diwajahnya..Semakin lama aku
menatap wajah mama, maka akhirnya aku menemukan juga sosok keindahan diwajah
mama. Wajah yang nampak tenang walaupun agak sedikit membiru, seolah telah
menghapus semua penderitaan dan kesedihannya selama ini. Aku terpaku saat itu, air
mata yang mengingatkan aku akan kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat
selama ini.
Tidak hanya air mata penyesalan yang keluar dari
mataku, akan tetapi aku juga menagis terharu saat ingat akan perjuangan mama
ketika dia berusaha membesarkanku dengan penuh perjuangan. Sejenak aku terdiam.
Dalam lamunanku itu, aku kembali teringat saat-saat dimana mama dengan penuh
kasih sayangnya membelaiku, saat masih bisa mnemaniku, memanjakanku, dan
mengajarkanku arti kehidupan.
Bagiku, ia sangat menyenangkan. Dia adalah sosok seorang ibu sekaligus teman, yang mungkin tidak semua anak dapat merasakannya. Sungguh betapa beruntungnya aku mendapatkan mama yang seperti dia. Lalu fikiranku kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika aku mulai tumbuh besar dan bisa berfikir sendiri. Dan ketika itu aku baru berusia 6 tahun dan baru saja memasuki masa pertama dalam kancah pendidikan. Aku masuk SD pada usia itu, banyak hal yang aku lakukan pada usiaku yang masih sangat belia itu. Pada saat itu, aku tumbuh menjadi seorang anak yang manja, mama selalu tabah menasihatiku, dia selalu menasihatiku dengan penuh kesabaran dan perhatian. Kekerasan dan ego tak pernah ia gunakan dalam mendidikku, tapi agamalah yang menjadi pedomannya untuk terus membimbingku kepada kebaikan dan kebenaran.
Ketika aku tersadar dari lamunanku, aku merasa
kalau hatiku telah luluh. Aku benar-benar tak tega melihat kondisi mama,
apalagi jika melihat usaha mama dalam membesarkanku. Mama rela melakukan apa
saja demi aku, anaknya. Sejak saat itu aku bertekad untuk menjadi anak yang
baik serta berguna bagi orang tuaku. Kesedihanku benar-benar pecah. Aku
teringat perjuangan yang ia lakukan untuk kami. Aku juga teringat saat dimana
mama selalu mengajarkanku arti kehidupan dan tujuan hidup ini. Tangisku meledak
seketika, air mataku terus mengalir dari pipiku dan menuju kasur yang mama
pakai untuk berbaring.
Saat teringat semua hal yang pernah aku lalui, aku benar-benar merasa sudah tidak ada artinya lagi hidup didunia ini. Aku tidak bisa melihat sosok wanita yang seperti mama.Dalam hatiku hanya terucap dengan lirih kata maaf, sebagai tanda penyesalanku terhadap sikapku selama ini pada mama.
Kepergian mama benar-benar membuat jiwaku seperti hilang separuh. Aku mencoba ikhlas meskipun sangat berat, tak pernah ku bayangkan rasa yang sehebat ini, rasa yang hampir membuatku sempat putus asa, seandainya waktu bisa berhenti. Aku rindu mama yang setiap hari selalu ada didekatku, tidur bersama, marah dan semuanya bersama. Setiap waktu aku selalu teringat dengannya namun aku tahu kini mama lebih tahu bahkan lebih dekat denganku. Seandainya aku tahu bahwa apa yang dikatakannya setiap waktu, apa yang dirasakannya bahwa ia akan benar-benar meninggalkanku. Aku ingin sekali membalas segenap budi baik mama meskipun aku tahu semua yang aku lakukan untuknya belum cukup, aku hanya bisa berharap mamaku bahagia.
Lama aku terdiam, tiba-tiba lamunanku harus
berakhir ketika ayahku datang.
”Sudah nak, mungkin ini sudah takdir dari Allah
bahwa mama harus pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya” Ucap ayah.
“Tapi kenapa harus secepat ini yah...aku masih
membutuhkan mama untuk menemani hari-hariku” jawabku dengan isak tangis.
“Iya nak
ayah tahu, ayah juga sangat sedih bahkan hati ayah seperti hancur
berkeping-keping menerima semua kenyataan ini .” jawab ayah sambil memelukku.
Tak lama, om ku datang untuk menjemputku agar aku pulang terlebih dahulu dan ayah tetap berada dirumah sakit untuk mengurus jenazah mama. Berat hati aku melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan hati yang sangat amat terpukul.
Aku benar-benar merasakan tiada artinya lagi hidup didunia ini. Sebab yang aku cintai dan aku sayangi sudah pergi meninggalkanku. Hari-hariku benar-benar sepi, sunyi, hampa, dan hampir tidak ada senyum dihari-hariku. Aku benar-benar merasa kehilangan seorang yang paling berarti dalam hidupku. Wajah manis mama selalu membayangi hari-hariku, saat dimana mama tertawa, ketika dia mengajarkanku arti hidup, saat dimana dia mengajarkanku mata pelajaran yang paling tidak aku sukai. Disitu wajah mama selalu muncul, disudut kamar, diruang tamu, dapur, hampir seluruh ruangan wajah mama selalu hadir.
Dalam shalatku, aku tak kuasa menahan tangisku. Sampai-sampai tempat sujudku penuh dengan tetesan air mata. Aku belum pernah merasakan kesedihan yang amat dalam seperti ini. Semenjak kepergian mama dari sisiku, aku benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan ini membuatku tumbuh menjadi pribadi yang kuat, aku berusaha untuk tidak bersedih lagi. Aku perempuan yang tegar namun ternyata kekuatan dan ketegaran, setelah peninggalan mama, selalu membuatku kuat untuk menghadapi cobaan.
Sesaat setelah shalat aku sempatkan diriku untuk berdo’a pada Allah, agar mama diberikan tempat terindah di surganya Allah. Aku benar-benar tak mampu lagi menahan air mataku ketika melihat wajah mama yang ada ditiap lembaran album buku diaryku. Hingga pada lembaran yang terakhir aku tuliskan sebuah kalimat untuk mama.
“mama… maafkan aku, aku merindukanmu. Selamat jalan mama,
semoga mama tenang dan bahagia dialam sana. Aamiin...”
Kini aku duduk dibangku kelas 3 SMA semua kejadian itu
berlalu begitu cepat. Ayahku sudah mendapatkan pengganti mama yang akan
menemani dan merawatku dan ayah. Aku memanggil ia “Ibu”. Walaupun ia hanya ibu
sambungku, tetapi sikap dan kasih sayangnya sama seperti yang aku rasakan
ketika mama masih hidup. Aku hanya bisa berharap, semoga ini adalah ibu
terakhir yang Allah berikan kepadaku. Dan semoga aku tidak kehilangan sosok ibu
untuk yang kedua kalinya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar