Sahabat Jadi Cinta
Karya : Fardan Ananda Saputra
Aku saat ini duduk dibangku SMA kelas 3 jurusan IPA. Disekolah Aku
mempunyai 5 sahabat yang terdiri dari 3 cowo dan 2 cewe. Diantaranya ada cewe
yang bernama Alivia. Dia adalah cewe yang paling dekat denganku.
Awalnya Aku
menganggap Alivia adalah sahabat, tetapi lama-kelamaan semua itu berubah
dikarenakan Alivia terlalu care dan
menerima saat suka maupun duka, sehingga perasaanku berubah yang tadinya
sahabat menjadi cinta.
Tetapi Aku merasa
bahwa itu tidak mungkin terjadi karena Alivia adalah sahabatku, tetapi di satu
sisi Aku sudah terlanjur mencintainya. Sehingga Aku menanyakan kepada
teman-teman Alivia, tetapi jawaban itu merasa membuatku lemas dan tidak
bersemangat dikarenakan bahwa Alivia sudah mempunyai pacar.
Keesokan harinya
disekolah Aku menanyakan kepada Alivia tentang kebenaran atas statusnya.
“Via, apakah benar kamu sudah mempunyai
pacar?” tanya Frans
“saat ini Aku belum mempunyai pacar Frans,
dikarenakan aku menunggu seseorang” jawab Alivia
“OH” jawab Frans (wajah kebingungan)
Bel istirahat pun
berbunyi, Aku bergegas ke kantin untuk makan siang, sesampai disana Aku memilih
makanan untuk di santap. Setelah sudah dapat makanan tersebut Aku melihat Alivia
dan Ridho makan bareng, sehingga Aku memikirkan mungkin yang dimaksud Alivia
adalah Ridho dan mereka kayaknya sudah pacaran. Hatiku pun semakin sakit
seakan-akan pisau tajam menancap di hatiku. Bel tanda selesai istirahat
berbunyi dan Aku bergegas ke kelas dengan hati dan perasaan yang kacau dan
perasaan itu menghantui sampai pulang sekolah.
Saat malam hari
dirumah, Aku menelpon sahabatku yang bernama Bianca,
“Bianca, sebenarnya Alivia dan Ridho apakah
ada hubungan status?” tanya Frans
“memangnya ada apa? Menurutku mereka berdua
tidak ada hubungan apapun, melainkan hanya teman” jawab Bianca
“saat istirahat Aku melihat mereka berdua asik
sekali dan mungkin mereka pacaran dalam pikiranku, tapi ya syukurlah kalau
mereka tidak pacaran” jawab Frans
“hayo... Kamu suka ya dengan Alivia?” tanya
Bianca
“a...anu Aku cuman terkagum saja” jawab Frans
(nada gugup)
“okelah” jawab Bianca
“sudah dulu ya, makasih atas pemberitahuannya”
kata Frans
“iya sama-sama” jawab Bianca (menutup telepon)
Keesokan harinya di
sekolah para sahabat satu persatu mulai mengeledekku dengan perkataan kalau Aku
suka sama Alivia. Sehingga Aku mulai jujur dan terbuka untuk menceritakan
semuanya kepada sahabatku. Satu persatu dari mereka mulai menyarankan dan Aku
tertarik dengan saran sahabatku bernama El. Menurut El, Aku harus secepatnya mengungkapkan
perasaanku kepada Alivia karena ditakutkan Alivia sudah ada yang menembak,
sehingga Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan diriku kepada Alivia
Sesampai di rumah
Aku memikirkan apa saja yang harus di siapakan dan setelah lama berpikir Aku menemukan
ide bahwa Aku harus siap mental dan tidak lupa dong dengan jurus ampuh yaitu bunga.
Hari yang di tunggu-gunggu
itu pun datang, hatiku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Sesampai
disekolah, Aku bergegas menghampiri Alivia,
“Alivia, Aku hanyalah manusia yang penakut dan
tidak beranimengungkapkan perasaanku saat Aku suka sama Kamu, hari ini apakah Kamu
mau manjadi pacarku?” tanya Frans (sambil mengulur tangan yang di genggamnya
bunga)
“maaf ya Frans, Aku tidak bisa menerima semua
ini” jawab Alivia (menipu hati)
“Aku siap dengan jawaban yang Kamu berikan,
tapi apabila kamu butuh Aku, Aku siap ada di sampingmu” jawab Frans (hati tegar)
Tanpa berkata apapun Alivia meninggalkan Frans
Dengan hati yang begitu
terkikis dan tubuh lemas berjalan pelan menuju kelas dan di depan pintu kelas sahabat
menyemangati sehingga tidak terlalu terasa apa yang terjadi hari ini, mungkin
ada rencana lain yang Aku ga tau apa itu yang Tuhan berikan dan mungkin Alivia
hanya bisa jadi sahabat (bicara dalam hati).
Singkat cerita,
sudah berapa minggu ini Aku tidak melihat Alivia di sekolah, sehingga Aku
bertanya-tanya kepada teman di sekolah serta sahabat-sahabatku dan ternyata dari
kabar tersebut bahwa Alivia sakit,
tetapi teman-teman tau nya hanyalah sakit dantidak tahu sakit apa, Aku pun
menanyakan di mana Alivia dirawat, dan ternya rumah sakit itu tidak jauh dari rumahku.
Aku berencana akan manjenguk bersama sahabatku saat hari minggu nanti.
Hari minggu tiba, semua
teman-teman berkumpul di rumahku untuk menjenguk Alivia, sesampainya di sana, Aku
dan sahabatku tidak diperbolehkan untuk masuk dikarenakan ruangan tersebut
khusus dan Aku masih bingung sampai sekarang apa penyakit yang di derita Alivia
dan kami hanya bisa mengobrol dengan orangtua Alivia.
Hari libur sudah berlalu
dan Aku mulai masuk sekolah kembali, sesampai di sekolah Aku mendapatkann kabar
bahwa Alivia sudah masuk sekolah dan karena merasa senang Aku menghampiri
Alivia ke kelasnya.
“hai, cantik” sapa Frans (duduk disebelah
Alivia)
“ada apa Frans?” jawab Alivia (ketawa kecil)
“Kamu sebenarnya sakit apa?” tanya Frans (nada
bingung)
“Aku hanya sakit biasa kok” jawab Alivia (hati
bohong)
“yasudah, klo bgtu. Bolehkah Aku hari minggu
main kerumah Kamu?” tanya Frans (muka penuh harapan)
“ya tentu saja boleh dong” jawab Alivia
Bel pun berbunyi
dan waktunya masuk jam belajar, seperti biasa Aku melamun tidak sabar menunggu
hari minggu tiba
Singkat cerita hari
minggu sudah tiba, Aku bergegas ke rumah Alivia untuk main. Sesampai disana Aku
langsung menghampiri Alivia dan bermain seperti biasa, saat bermain Aku
diam-diam memperhatikan Alivia, disaat Aku
memperhatikan Alivia banyak sekali rambut yang terjatuh di lantai dan Aku
memikirkan apa yang terjadi dengan Alivia. Hari sudah sore Aku bergegas untuk pulang
dan pamitan dengan orangtua Alivia
Sesampai dirumah
Aku memikirkan semua itu dan terlintas
dalam pikiranku bahwa sahabatku tahu sekali tentang penyakit dan aku
menelpon sahabtku tersebut.
“hallo El?” Kata Frans
Ada apa Frans?” Tanya El
“Maaf Aku mengganggu waktu kamu, Aku hanya
ingin menanyakan,semisalkan rambut sering rontok apakah terdapat penyakit?”
tanya Frans
“tidak mengganggu kok, tentu itu terdapat
penyakit Frans” jawab El
“penyakit apa?” tanya Frans (kebingungan)
“itu penyakit kanker dan penyakit kanker dapat
mengakibatkan kematian apabila sudah stadium terakhir” jawab El (nada tegas)
“...” (menutup telepon)
Sepanjang malam itu
Aku memikirkan tentang Alivia dan Aku akan menanyakan semuanya kepada Alivia,
apakah benar Alivia menderita penyakit tersebut.
Keesokan harinya Aku
menanyakan itu semua kepada Alivia dan setelah ngobrol lama, akhirnya iya menceritakan
semuanya dan meberitahu bahwa mepunyai penyakit kanker yang sangat parah, karna
itu umurnya sudah tidak lama lagi, Aku disana hanya bisa berkata dalam hati
bahwa Aku harus bisa bahagiain Alivia disisa hidupnya. Bel pulang sekolah
berbunyi Aku mengajak Alivia ke rumahku untuk bermain gitar dan
menyanyi-nyanyi, terlihat Alivia sangat senang dan bahagia. Hari sudah malam
Aku mengantar Alivia kerumahnya, sesampai disanah Aku di sambut dengan orangtua
Alivia yang sudah menunggu, selesai itu Aku pulang kerumah.
Singkat cerita saat
Aku sedang bermain dengan sahabatku tetapi disitu tidak terdapat Alivia, saat
lagi sedang mengobrol kesana kemari, teleponku berbunyi dan ternyata nomer itu
dari orangtua Alivia
“Hallo nak Frans” tanya ibunya Alivia (nada
terharu)
“iya benar ini saya frans tan” jawab Frans
“bisakah kamu dan sahabatmu ke rumah” kata ibunya
Alivia (nada terharu)
“bisa tante” jawab Frans (kebingungan)
“ass...” kata ibunya Alivia (menutup telepon)
“wass..” jawab Frans
Ketika itu
teman-teman langsung menanyakan kepadaku siapa yang menelepon tadi dan Aku
mengasih tau itu semua bahwa ibunya Alivia yang menelpon dan menyuruh kita
kerumahnya, dengan pikiran yang tidak karuan, kami semua kerumah Alivia dan
sesampai di sanah banyak sekali orang-orang dan terdapat karangan bunga
dimana-mana, sesampai didalam rumah Alivia, kami di sambut dengan orangtua Alivia
dan mengatakan bahwa Alivia sudah meninggal, disaat itu tubuhku lemas dan tidak
dapat digerakkan, Aku terharu mendengar itu, perempuan yang kucintai kenapa
secepat itu meninggalkanku, setelah selesai penguburan jenazah, orangtua Alivia
mengasih seutas surat, setelah itu Aku pulang dan merenung di kamar. Aku
terbangun dari tidurku dan terlintas dari pikiranku apa isi surat itu dan
ternyata surat tersebut adalah tulisan tangan Alivia dan berisi ungkapan Alivia
selama di SMA, bahwa sebenarnya cowo yang Diia cintai adalah Aku, Aku berpikir
tapi kenapa Alivia tidak mengakui itu saat Aku mengungkapkan hatiku kepadanya
dan itu mungkin sudah takdir tuhan.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar