Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Karya : Fardan Ananda Saputra

Aku saat ini duduk dibangku SMA kelas 3 jurusan IPA. Disekolah Aku mempunyai 5 sahabat yang terdiri dari 3 cowo dan 2 cewe. Diantaranya ada cewe yang bernama Alivia. Dia adalah cewe yang paling dekat denganku.
Awalnya Aku menganggap Alivia adalah sahabat, tetapi lama-kelamaan semua itu berubah dikarenakan Alivia terlalu care dan menerima saat suka maupun duka, sehingga perasaanku berubah yang tadinya sahabat menjadi cinta.
Tetapi Aku merasa bahwa itu tidak mungkin terjadi karena Alivia adalah sahabatku, tetapi di satu sisi Aku sudah terlanjur mencintainya. Sehingga Aku menanyakan kepada teman-teman Alivia, tetapi jawaban itu merasa membuatku lemas dan tidak bersemangat dikarenakan bahwa Alivia sudah mempunyai pacar.
Keesokan harinya disekolah Aku menanyakan kepada Alivia tentang kebenaran atas statusnya.
“Via, apakah benar kamu sudah mempunyai pacar?” tanya Frans
“saat ini Aku belum mempunyai pacar Frans, dikarenakan aku menunggu seseorang” jawab Alivia
“OH” jawab Frans (wajah kebingungan)
Bel istirahat pun berbunyi, Aku bergegas ke kantin untuk makan siang, sesampai disana Aku memilih makanan untuk di santap. Setelah sudah dapat makanan tersebut Aku melihat Alivia dan Ridho makan bareng, sehingga Aku memikirkan mungkin yang dimaksud Alivia adalah Ridho dan mereka kayaknya sudah pacaran. Hatiku pun semakin sakit seakan-akan pisau tajam menancap di hatiku. Bel tanda selesai istirahat berbunyi dan Aku bergegas ke kelas dengan hati dan perasaan yang kacau dan perasaan itu menghantui sampai pulang sekolah.
Saat malam hari dirumah, Aku menelpon sahabatku yang bernama Bianca,
“Bianca, sebenarnya Alivia dan Ridho apakah ada hubungan status?” tanya Frans
“memangnya ada apa? Menurutku mereka berdua tidak ada hubungan apapun, melainkan hanya teman” jawab Bianca
“saat istirahat Aku melihat mereka berdua asik sekali dan mungkin mereka pacaran dalam pikiranku, tapi ya syukurlah kalau mereka tidak pacaran” jawab Frans
“hayo... Kamu suka ya dengan Alivia?” tanya Bianca
“a...anu Aku cuman terkagum saja” jawab Frans (nada gugup)
“okelah” jawab Bianca
“sudah dulu ya, makasih atas pemberitahuannya” kata Frans
“iya sama-sama” jawab Bianca (menutup telepon)
Keesokan harinya di sekolah para sahabat satu persatu mulai mengeledekku dengan perkataan kalau Aku suka sama Alivia. Sehingga Aku mulai jujur dan terbuka untuk menceritakan semuanya kepada sahabatku. Satu persatu dari mereka mulai menyarankan dan Aku tertarik dengan saran sahabatku bernama El. Menurut El, Aku harus secepatnya mengungkapkan perasaanku kepada Alivia karena ditakutkan Alivia sudah ada yang menembak, sehingga Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan diriku kepada Alivia
Sesampai di rumah Aku memikirkan apa saja yang harus di siapakan dan setelah lama berpikir Aku menemukan ide bahwa Aku harus siap mental dan tidak lupa dong dengan jurus ampuh yaitu bunga.
Hari yang di tunggu-gunggu itu pun datang, hatiku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Sesampai disekolah, Aku bergegas menghampiri Alivia,
“Alivia, Aku hanyalah manusia yang penakut dan tidak beranimengungkapkan perasaanku saat Aku suka sama Kamu, hari ini apakah Kamu mau manjadi pacarku?” tanya Frans (sambil mengulur tangan yang di genggamnya bunga)
“maaf ya Frans, Aku tidak bisa menerima semua ini” jawab Alivia (menipu hati)
“Aku siap dengan jawaban yang Kamu berikan, tapi apabila kamu butuh Aku, Aku siap ada di sampingmu” jawab Frans (hati tegar)
Tanpa berkata apapun Alivia meninggalkan Frans
Dengan hati yang begitu terkikis dan tubuh lemas berjalan pelan menuju kelas dan di depan pintu kelas sahabat menyemangati sehingga tidak terlalu terasa apa yang terjadi hari ini, mungkin ada rencana lain yang Aku ga tau apa itu yang Tuhan berikan dan mungkin Alivia hanya bisa jadi sahabat (bicara dalam hati).
Singkat cerita, sudah berapa minggu ini Aku tidak melihat Alivia di sekolah, sehingga Aku bertanya-tanya kepada teman di sekolah serta sahabat-sahabatku dan ternyata dari  kabar tersebut bahwa Alivia sakit, tetapi teman-teman tau nya hanyalah sakit dantidak tahu sakit apa, Aku pun menanyakan di mana Alivia dirawat, dan ternya rumah sakit itu tidak jauh dari rumahku. Aku berencana akan manjenguk bersama sahabatku saat hari minggu nanti.
Hari minggu tiba, semua teman-teman berkumpul di rumahku untuk menjenguk Alivia, sesampainya di sana, Aku dan sahabatku tidak diperbolehkan untuk masuk dikarenakan ruangan tersebut khusus dan Aku masih bingung sampai sekarang apa penyakit yang di derita Alivia dan kami hanya bisa mengobrol dengan orangtua Alivia.
Hari libur sudah berlalu dan Aku mulai masuk sekolah kembali, sesampai di sekolah Aku mendapatkann kabar bahwa Alivia sudah masuk sekolah dan karena merasa senang Aku menghampiri Alivia ke kelasnya.
“hai, cantik” sapa Frans (duduk disebelah Alivia)
“ada apa Frans?” jawab Alivia (ketawa kecil)
“Kamu sebenarnya sakit apa?” tanya Frans (nada bingung)
“Aku hanya sakit biasa kok” jawab Alivia (hati bohong)
“yasudah, klo bgtu. Bolehkah Aku hari minggu main kerumah Kamu?” tanya Frans (muka penuh harapan)
“ya tentu saja boleh dong” jawab Alivia
Bel pun berbunyi dan waktunya masuk jam belajar, seperti biasa Aku melamun tidak sabar menunggu hari minggu tiba
Singkat cerita hari minggu sudah tiba, Aku bergegas ke rumah Alivia untuk main. Sesampai disana Aku langsung menghampiri Alivia dan bermain seperti biasa, saat bermain Aku diam-diam  memperhatikan Alivia, disaat Aku memperhatikan Alivia banyak sekali rambut yang terjatuh di lantai dan Aku memikirkan apa yang terjadi dengan Alivia. Hari sudah sore Aku bergegas untuk pulang dan pamitan dengan orangtua Alivia
Sesampai dirumah Aku memikirkan semua itu dan terlintas  dalam pikiranku bahwa sahabatku tahu sekali tentang penyakit dan aku menelpon sahabtku tersebut.
“hallo El?” Kata Frans
Ada apa Frans?” Tanya El
“Maaf Aku mengganggu waktu kamu, Aku hanya ingin menanyakan,semisalkan rambut sering rontok apakah terdapat penyakit?” tanya Frans
“tidak mengganggu kok, tentu itu terdapat penyakit Frans” jawab El
“penyakit apa?” tanya Frans (kebingungan)
“itu penyakit kanker dan penyakit kanker dapat mengakibatkan kematian apabila sudah stadium terakhir” jawab El (nada tegas)
“...” (menutup telepon)
Sepanjang malam itu Aku memikirkan tentang Alivia dan Aku akan menanyakan semuanya kepada Alivia, apakah benar Alivia menderita penyakit tersebut.
Keesokan harinya Aku menanyakan itu semua kepada Alivia dan setelah ngobrol lama, akhirnya iya menceritakan semuanya dan meberitahu bahwa mepunyai penyakit kanker yang sangat parah, karna itu umurnya sudah tidak lama lagi, Aku disana hanya bisa berkata dalam hati bahwa Aku harus bisa bahagiain Alivia disisa hidupnya. Bel pulang sekolah berbunyi Aku mengajak Alivia ke rumahku untuk bermain gitar dan menyanyi-nyanyi, terlihat Alivia sangat senang dan bahagia. Hari sudah malam Aku mengantar Alivia kerumahnya, sesampai disanah Aku di sambut dengan orangtua Alivia yang sudah menunggu, selesai itu Aku pulang kerumah.
Singkat cerita saat Aku sedang bermain dengan sahabatku tetapi disitu tidak terdapat Alivia, saat lagi sedang mengobrol kesana kemari, teleponku berbunyi dan ternyata nomer itu dari orangtua Alivia
“Hallo nak Frans” tanya ibunya Alivia (nada terharu)
“iya benar ini saya frans tan” jawab Frans
“bisakah kamu dan sahabatmu ke rumah” kata ibunya Alivia (nada terharu)
“bisa tante” jawab Frans (kebingungan)
“ass...” kata ibunya Alivia (menutup telepon)
“wass..” jawab Frans
Ketika itu teman-teman langsung menanyakan kepadaku siapa yang menelepon tadi dan Aku mengasih tau itu semua bahwa ibunya Alivia yang menelpon dan menyuruh kita kerumahnya, dengan pikiran yang tidak karuan, kami semua kerumah Alivia dan sesampai di sanah banyak sekali orang-orang dan terdapat karangan bunga dimana-mana, sesampai didalam rumah Alivia, kami di sambut dengan orangtua Alivia dan mengatakan bahwa Alivia sudah meninggal, disaat itu tubuhku lemas dan tidak dapat digerakkan, Aku terharu mendengar itu, perempuan yang kucintai kenapa secepat itu meninggalkanku, setelah selesai penguburan jenazah, orangtua Alivia mengasih seutas surat, setelah itu Aku pulang dan merenung di kamar. Aku terbangun dari tidurku dan terlintas dari pikiranku apa isi surat itu dan ternyata surat tersebut adalah tulisan tangan Alivia dan berisi ungkapan Alivia selama di SMA, bahwa sebenarnya cowo yang Diia cintai adalah Aku, Aku berpikir tapi kenapa Alivia tidak mengakui itu saat Aku mengungkapkan hatiku kepadanya dan itu mungkin sudah takdir tuhan.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar