Cita - Citaku
Karya : Dwi Nurcahyo Putra Suryadi
Hai
namaku Dwi Nurcahyo Putra Suryadi panggilanku Dwi. Aku duduk di bangku SMA. Aku
anak kedua dari dua bersaudara. Dulu ketika aku bertentangan dengan orangtuaku
karena Masa Depanku, aku hampir putus asa. Akibatnya cita-citaku terhambat oleh
keinginan orangtuaku yang berkata lain. Orangtuaku menuntutku menjadi Manager
di sebuah perusahaan terkenal di Surabaya. Sedangkan aku ingin menjadi
Psikolog. Tidak hanya itu saja konflikku, cita-citaku juga bertentangan dengan
Impianku, ketika Impianku ingin menjadi Fotografer. Tapi semua itu tidak
mungkin aku menuruti keinginan emosiku untuk memiliki semua itu. Inilah
cita-citaku seorang Psikolog.
Ketika
Bel SMA berbunyi “Teet… teett…”
“Wii tunggu…” Aku pun menjawab sosok seseorang yang di belakang dan aku pun menoleh “Oh kamu toh ris, ada apa?” “besok ikut aku yuk, kita kan uda kelas 3” ajakan riski “hmm.. okelah, tapi apa hubunganya sama kelas 3? Maaf lagi gak nyambung banyak pikiran” jawab aku dengan sedikit bingung “ada deh liat aja besok, kamu kenapa sharing dong” jawab Riski yang cemas “ada deh, besok aja aku ceritain sekalian” jawab aku yang usil “haha iya deh iya, ya udah tuh udah ada motor yuk pulang” jawab riski dengan menunjuk arah motor.
“Wii tunggu…” Aku pun menjawab sosok seseorang yang di belakang dan aku pun menoleh “Oh kamu toh ris, ada apa?” “besok ikut aku yuk, kita kan uda kelas 3” ajakan riski “hmm.. okelah, tapi apa hubunganya sama kelas 3? Maaf lagi gak nyambung banyak pikiran” jawab aku dengan sedikit bingung “ada deh liat aja besok, kamu kenapa sharing dong” jawab Riski yang cemas “ada deh, besok aja aku ceritain sekalian” jawab aku yang usil “haha iya deh iya, ya udah tuh udah ada motor yuk pulang” jawab riski dengan menunjuk arah motor.
Setibanya
di rumah, Bi Inah telah menyiapkan makanan kesukaanku tanpa ragu-ragu lagi aku
langsung menyatap makanan tersebut, dan tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara
Bi Inah yang sangat keras “Loh den ganti baju, cuci kaki dulu sana kalau Ayah
sama Mama tau pasti Bi Inah dimarahi” “Ah Bibi ini nganggetin aja, iya-iya aku
ganti baju ini. Mama kemana Bi? Kok dari tadi gak kelihatan?” tanya aku “Kan
seperti biasanya Mama menjeput kakakmu” jawab Bi Inah. “selesai makan aku mau
cerita banyak sama Bibi tapi jangan bilang siapa-siapa ya” jawabku dengan
membisiki Bi Inah “Iya, beres bos” jawab Bi Inah yang sedikit heran.
Selesai
aku makan, aku bercerita ke Bi Inah tentang Ayah dan Mama yang minggu-minggu
ini sedikit aneh. Lebih sibuk dari biasanya. “Bi kenapa Ayah sama Mama lebih
kelihatan sibuk ya?” Tanya aku yang membuka topik pembicaraan dahulu “iya
mungkin banyak kerjaan Wii” jawab Bi Inah yang kurang meyakinkan “Gak Bi bukan
gitu mama kan gak kerja? Kok minggu-minggu ini kelihatan sibuk sekali, dan aku
tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka tentang masa depanku?” Tanyaku
yang ingin kepastian “sudahlah mungkin hanya perasaanmu, lagi pula gak baik
dengerin mereka bicara itu sama saja lancang!” jawab Bi Ina yang meyakinkanku
“iya-iya lagi pula aku kan gak sengaja, ya udahlah aku ke kamar aja masih
banyak tugas” jawabanku yang mengalihkan pembicaraan.
“Kringg…
Kringg…” Bel berbunyi untuk Istirahat. Ketika aku tengah makan di kantin ada
sesok Riski yang mengejutkanku “Hei, Wii” “Duh apaan seh Ris bikin kaget aja”
jawabanku yang sedikit kesal “Haha maaf-maaf deh, oh iya jangan lupa nanti
pulang sekolah ya” jawaban Riski “Iya-iya aku gak lupa kok, oh iya sini temani
aku makan lagi sendirian nih” “Loh teman-temanmu kemana?” jawab Riski “Oh
teman-temanku mengerjakan tugas dari Bu Aini, tapi tenang aja aku sudah selesai
kok” jawab aku “pinternya sahabatku” jawab
“Tettt…
Tettt…” Bel pulang pun berbunyi aku langsung menuju kelas Riski. Oh iya ayo aku
tidak punya banyak waktu lagi banyak tugas ini” ucap aku yang sedikit kesal.
“Bagaimana kalau gini, sekarang kita pulang dulu, nanti pukul 7.00 aku jemput
kamu sekalian mengerjakan tugasmu” ucap Riski. “Okelah tumben pinter haha, oke
ayo pulang ” jawab aku “ayo, let’s go Wii”
Sesampainya
di rumah seperti biasanya selalu disambut dengan Bibi Inah. “Assalamualaikum”
salamku. Tiba-tiba Mama menghampiriku “Waalaikumsallam, Wii tumben udah dateng
dari biasanya?” Tanya mama “Oh iya ma tadi cepat-cepat pulang, soalnya nanti
malem aku sama Riski mau belajar bareng di tempat biasanya” jawabku “Oalah pantes
pulangnya cepet, ya sudah cepat bersihkan diri kamu” jawab mama “Oke deh
beres ma” ucapku.
pulangnya cepet, ya sudah cepat bersihkan diri kamu” jawab mama “Oke deh
beres ma” ucapku.
Menjelang
pukul 7.00 Riski tak kunjung menjemputku, aku hubungi dia, dia tidak mengangkat
telfonku. Akhirnya pun aku mengerjakan tugas sendiri dan tiba tiba ada telfon
berdering dan itu Riski “Hallo assalamualaikum Wii, maaf ya tadi aku tidak
menepati janjiku” pinta Riski “Iya Ris lain kali bilang, biar aku tidak lama
menunggu” ucapku “Iya begini aku cerita di telfon saja ya” ucap Riski “Iya ris
katakan” jawabku “Mungkin, oh iya Wii aku bantu mamaku dulu ya. Soal tadi aku
minta maaf gak bisa datang kan kamu tau aku hanya tinggal berdua bersama
mamaku” jawab Riski “Iya gak papa lagi pula jangan buat janji-janji lagi kalau
gak bisa menuhi kepastian!” jawabku “iya deh bil, udah dulu ya Assalamualaikum”
ucap Riski “Waalaikumsallam Ris”.
Keesokan
harinya setelah aku pulang sekolah mama dan ayah ingin berbicara padaku seusai
makan malam. “Wii mama dan ayah ingin bericara padamu selesai makan malam
nanti” ucap mama “oke ma beres” jawabku. Saat selesai makan malam tiba Ayah dan
mama berbicara tentang masa depanku, Ayah dan Mama ingin melihatku tumbuh besar
yang cerdas dapat memimpin negara yang baik. “Wii nanti selesai sekolah mau
ngelanjutin kuliah di jurusan apa?” tanya ayah “Aku mau ke Psikolog yah, tapi
ya apa ya di sisi lain aku dari dulu bermimpi jadi Fotografer terkenal, jadi
pendapat ayah bagaimana?” tanyaku “Kalau Ayah sih pingin kamu sukses, Ayah
pengen kamu masuk Management bisa memimpin sebuah perusahaan terkenal di
Surabaya, Bagaimana?” tanya balik Ayah “Kalau aku susah yah, pada dasarnya aku
sudah menata hidupku menjadi seorang Psikolog. Oh iya kalau menurut Ayah, di
sisi lain cita-citaku ingin menjadi Psikolog dan Impianku ingin menjadi
Fotografer. Apakah bisa aku menuruti kemauanku semua?” tanya aku “Gini ya nak,
semua itu tidak ada yang tidak mungkin asalkan kamu ada usaha, bagaimana kalau
kamu mencoba membaca buku panduan Management? Mungkin kamu bisa berfikir dua
kali tentang kemauan yang Ayah mau. Soal Fotografer? Itu impian kamu, mungkin
bisa kamu jadikan hobi yang baik” jawab mama “Iya si bener kata mama, okelah
aku coba” jawabku “Iya nak semua yang dilakuin mama sama ayah demi kebaikanmu
demi masa depanmu juga, kita enggak kepingin lihat anaknya memasuki lubang yang
salah” jawab mama yang menasihatiku “Iya ma Dwi ngerti kok” jawabku.
Setelah
beberapa minggu kemudian aku melaksanakan Unas yang menentukan masa depanku.
“Semoga apa yang aku inginkan tercapai ya Ris” ucapku “Iya wii, aku juga” jawab
Riski.
Setelah
melaksanakan Unas, aku berlibur bersama keluargaku dan keluarga Riski. Dan
saatnya tiba pengumuman kelulusan, kami pun bergegas pulang.
Hari ini
adalah pengumuman kelulusanku. Hasil dari pengumuman kelulusanku adalah aku
lulus dan Riski pun lulus “Hore aku lulus” semua siswa berteriak. Nilaiku beda
tipis dengan Riski. Aku yang berjumlah 38.85 dan Riski 38.65.
Keesokan
harinya Ayah dan Mama berbicara padaku lagi tentang masa depanku. “Wii kamu
jadi ngambil jurusan apa nak? Ayah dan Mama tidak memaksa kamu lagi untuk
mengambil jurusan Management” tanya Ayah. “Hmm ma.. aku rasa aku menuruti
perkataan mama dan ayah. Management ternyata menyenangkan. Masalah Psikolog dan
Fotografer, tenang saja aku sudah memikirnya dua kali. Untuk psikolog aku hanya
menambah ilmuku tentang Psikolog, mungkin aku hanya ingin sekedar ingin tahu
saja. Dan Fotografer aku jadikan sebuah hobi” jawabku “kamu serius nak? Kita
sebagai orangtua tidak mau memaksa, sebab semua tergantung kamu nak. Itu masa
depanmu. Jika kita memaksamu masa depanmu akan terhambat, kita hanya memberikan
masukan saja” jawab Ayah “tapi satu syarat jika itu keinginanmu tolong ya nak
laksanakan dengan baik, karena itu kehendakmu bukan paksaan dari kita” mama
menanggapi. “Iya ma, makasi ya Ayah mama udah ngasih pendapat buat aku” jawabku
“itu udah jadi tanggung jawab mama sama ayah nak” jawab ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar