Ketegori

Rabu, 26 Oktober 2016

Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
Karya : Muhammad Faishal Zhafir

               Abidzar dan Khairunisa merupakan sahabat semasa kecil. Mereka berdua menghabiskan banyak waktu untuk bermain bersama.Tapi ternyata benar kata pepatah tidak ada persahabatan  yang murni antara laki-laki dan wanita kecuali didalamnya terbesit rasa cinta walaupun cinta yang bertepuk sebelah tangan. Memang hanya Abidzar yang merasakan cinta itu, tapi mereka berdua tetap menjalani semua yang mereka biasa lakukan seperti apa adanya.

               Seiring berjalannya waktu mereka masuk kesebuah Sekolah Menengah Atas dan ternyata Abidzar dan Khairunisa menjadi teman sekelas. Hingga suatu hari Khairunisa menemukan seorang lelaki bernama Iqbal yang mampu membuatnya jatuh hati. Setiap hari Khairunisa lebih banyak meluangkan waktunya untuk Iqbal tanpa menghiraukan Abidzar yang mulai sakit hati karena sahabatnya, bahkan cintanya direbut begitu saja. Setelah 5 bulan Iqbal dan Khairunisa menjadi sangat dekat walaupun hubungan mereka tidak memiliki status dan sebuah kejadian yang tak diinginkan terjadi. Iqbal terjebak 2 cinta, Dia mencintai Khairunisa teman dekatnya saat ini dan Yurike cinta pertamanya yang datang kembali. Kali ini Iqbal sangat dilema, dia mencintai Khairunisa namun tidak bisa melupakan Yurike. Hingga akhirnya setelah beberapa minggu Iqbal berpikir ia pun menjatuhkan pilihannya kepada Yurike. Karena dalam hati Iqbal “untuk apa aku mencintai wanita lain jika cinta lama ku masih tidak bisa aku lupakan”.
                 Khairunisa sangat sedih saat mengetahui keputusan Iqbal. Ia merasakan kekecewaan yang amat sangat mendalam. Diapun berlari memeluk Abidzar yang ia anggap sahabat. Khairunisa menangis dengan kencang dalam dekapan sahabat laki-lakinya itu. Abidzar menerima air mata yang Khairunisa tuangkan untuknya tanpa memikirkan rasa sakit hatinya melihat orang yang sangat ia cintai membuang air matanya untuk lelaki lain.
                  Khairunisa yang saat itu mulai terpuruk hingga jatuh sakit, tetap ditemani oleh Abidzar, Lelaki yang selalu menggenggam erat tangan Khairunisa. Memberikan kasih sayang belaian lembut dan perhatiannya. Setelah keadaan Khairunisa mulai membaik, entah rasa apa yang membuat Khairunisa tidak pernah ingin jauh dari Abidzar. Mereka pun banyak menghabiskan waktu berdua selayaknya orang yang berpacaran hingga pada suatu hari Iqbal datang menyatakan cintanya kepada Khairunisa yang saat itu sudah mulai mencintai Abidzar.
                   Pada siang hari sepulang sekolah, Khairunisa mengendarai kendaraannya untuk pulang ke rumah. Tapi di jalan, Khairunisa kembali pada fase dilemma, dimana dia terus bertanya – tanya pada dirinya sendiri harus memilih Abidzar apa Iqbal. sepanjang jalan sepulangnya dari sekolah ia terus melamun hingga ada mobil dengan kecepatan tinggi menabrak kendaraannya dan membuat ia terpental bersimbah darah dan hilang kesadaran. Khairunisa pun dilarikan kerumah sakit dengan keadaan kritis ditambah lagi ginjal kirinya yang dinyatakan rusak oleh dokter. Abidzar dan Iqbal merasa sangat sedih dan merasa dalam keadaan frustasi. Namun Abidzar mendatangi dokter untuk memohon agar dapat memberikan ginjal yang ia punya kepada Khairunisa. Walaupun dokter sempat menolak keinginan Abidzar karena Abidzar memiliki ginjal yang tidak normal, ginjal kanannya tidak berfungsi dengan baik dari kecil. Namun cinta yang tulus membuat Abidzar bersi keras untuk tetap mendonorkan ginjalnya. 2 bulan kemudian Khairunisa dinyatakan sembuh total, ia mulai bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Namun ia sangat membenci kesembuhannya ketika mendengar cerita kedua orang tuanya tentang Abidzar yang rela berkorban untuknya. Kedua orang tuanya ditemani Iqbal mengantarkan nya kesebuah pemakaman umum dan mamanya menunjukkan satu tempat sambil berkata “di situ lah tempat Abizar beristirahat”.
                Khairunisa menangis sambil memeluk batu nisan bertulis kan nama Abidzar. Ia mencium nisan itu berkali-kali sambil berkata “aku gadis paling beruntung memiliki sahabat bahkan teman hidup yang rela mengorbankan kebahagiaan bahkan jiwa raga untuk wanita seperti aku yang hanya mengingat mu ketika aku dalam keadaan rapuh.

                Kini Abidzar hanya bisa tersenyum, tersenyum bahagia disana melihat cinta kecilnya Khairunisa yang sangat baik tumbuh besar dan mengetahui segala cinta yang ia pendam sedari masak anak-kanak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar