Cinta yang Tak Diinginkan
Karya : Nahdya Maulida
Perkenalkan,
namaku Nina. Aku seorang gadis remaja yang baru berumur 17 tahun yang saat ini
baru memasuki tahun ketigaku bersekolah di SMA Taruna Bangsa. Kata orang, umur
17 tahun adalah saat dimana aku akan mengenal yang namanya cinta. Ya, cinta. Satu
kata yang sering didengar di dalam kehidupan kita. Tak bisa kupungkiri hal itu terjadi padaku.
Walaupun bukan aku yang mengalaminya, tetapi wabah cinta telah menyerang
teman-teman ku. Lihat saja kini, kelakuan temanku Tina yang tengah tersenyum manis kearah layar
ponsel miliknya. “yeay! Dia bales dia bales ulalaa” ujarnya dengan penuh rona
bahagia. Disana tertera nama si pengirim “sayangku”. Aku yang melihat kelakuan
Tina hanya bisa menahan tawa. Bagaimana bisa seorang remaja yang berusia 17
tahun begitu terlihat seperti berumur 1 tahun? Seperti bocah ingusan yang baru
dibelikan es krim oleh sang ibu. “ini yang namanya kekuatan cinta Nin, cinta”
Tina membela diri sambil bergaya seperti orang bijak. Aku yang mendengar
pernyataan Tina hanya bisa tersenyum remeh. Rasanya belum lama aku melihatnya
menangis tersedu-sedu saat ia putus dengan pacarnya dulu.
Dan dia mengatakan dia jahat!, kenapa gue harus ketemu sama
laki-laki macem dia, ha! Dia pikir dia siapa bisa nyakitin gua sebegininya!
Dasar br*****k!. Tapi kalau dilihat kini, rasanya kata-kata itu seperti
keluar dari bibir jin yang merasukinya. “hehehe, lu gak tau, Nin. Hati gue
telah diutuhkan kembali oleh dia, Nin. Uhhhh” ujarnya sambil menunjuk layar
ponselnya. Cih, bagiku begitu tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia mau kembali
terjun ke lubang yang sama? Lubang yang dikenal dengan cinta itu? Padahal dia
tahu bagaimana rasanya terjatuh saat itu. Bagaimana bisa dia mau mengulanginya
lagi? Apa itu juga yang dinamakan kekuatan cinta? Sungguh tidak masuk akal.Ya,
cinta memang tidak masuk akal, bagiku.
Disini,
tepatnya di bangku tempat duduk ku, bagian pojok belakang kelas, aku menikmati
suasana keramaian kelas baru ku. Memperhatikan sekitar, tingkah laku
teman-teman, aku memperhatikan dengan saksama. Dibagian depan, cewek dengan
kacamata. Kulihat dia sedang membaca buku dengan serius. Dan cewek yang duduk
disebelahnya tengah bergosip tentang dirinya. Entah apa yang mereka gosipkan
tentang cewek berkacamata itu. Tetapi yang pasti, cewek itu terlihat tak suka
dengan cewek berkacamata. Tsk, sepertinya
cewek penggosip itu akan menjadi salah satu pembuat onar di kelas ini. Kulihat
teman sebangku ku, Lia sudah mencibir berkali-kali “Nin, lihat dah tuh cowok
yang dipojok, idih ganjen banget da ah.. ampe enek gua ngeliatnya” kutengok
orang yang Lia maksud. Aku hanya bisa tertawa melihat cowok itu tengah menyisir
rambutnya yang terlihat penuh pomed “hahaha..
ya gak usah lu liatin lah. Ribet amat” ujarku pada Lia. “Heh, Li. Udah jangan
ngatain orang, entar kalo lu naksir kan bahaya” ujar Diana tiba-tiba yang
mendengar obrolanku dengan Lia. Memang sudah pasti dia mendengarnya, Lia si
mulut cempreng ini memang susah mengontrol nada suaranya. Aku hanya tersenyum
membalas perkataan Diana.
Kembali aku
memperhatikan suasana kelas. Kini Lia terlihat sibuk memainkan ponsel miliknya.
Sudah bisa dipastikan, sedang menonton drama korea kesukaannya. Biarlah, selagi
dia tidak membuat dengungan di telingaku, begitu lebih baik. Setelah
mengalihkan perhatianku pada Lia, kini aku terfokus pada cowok berambut
gondrong dengan pakaian compang-camping. Sangat berantakan. Tetapi aneh sekali,
semua cowok di kelas menghampirinya. Terlihat bahwa cowok-cowok tersebut
berebut ingin berteman dengan si cowok berantakan itu. Bahkan tidak hanya
cowok-cowok. Setelah aku perhatikan lagi, beberapa cewek banyak yang mencuri
pandang kearah cowok berantakan. Cowok berantakan itu hanya tersenyum ramah dan
membalas singkat obrolan dari mereka. Seperti tidak berteman mungkin. Aku belum
tahu. Namun ini cukup membuatku sedikit penasaran.
Bel
istirahat berbunyi. Masih malas rasanya untuk beranjak dari bangku ini. Namun
apa daya, perutku sudah meronta untuk diisi. Kulihat sekeliling sudah banyak
yang berlarian meninggalkan kelas. Terlihat berlebihan memang, namun biarlah.
Dan lagi-lagi si cowok berantakan menarik perhatianku. Kini aku sudah tahu
namanya, Reza. Reza tidak bergeming dari bangkunya. Membaca buku dengan sangat
tenang sambil memakan kotak bekal yang ia bawa. Kulirik isi bekalnya, roti isi
dan telur. Buku bacaannya berjudul “andai aku malaikat”. Hmm, andai aku
malaikat? Sejenak aku tertawa tertahan. Namun tak kusangga dia melirik
kearahku. Aku terkejut bukan main. Spontan kualihkan pandanganku kearah luar
jendela sambil berjalan keluar kelas. Sungguh konyol tingkahku ini. Ada apa
denganku?
Belakangan
ini aku semakin sering memperhatikannya. Kini aku sudah cukup mengetahui
informasi tentang dirinya. Reza, anak pertama dari 2 saudara. Dia anak
terakhir, mahir memainkan alat musik terutama gitar dan biola, dia selalu
mendapat peringkat 1 di tahun pertama dan tahun kedua berturut-turut, selalu
datang terlambat dan tidak pernah mengerjakan pr, ikut seluruh ekskul sekolah,
dia anak yang sangat mampu. Dan terakhir yang kutahu, dia telah kehilangan
sosok ibu. Ya, kenyataan bahwa dia anak yang pintar namun pemalas, si
berantakan yang kaya raya dan seorang yang kurang perhatian dari sosok ibu
cukup membuatku sedikit terkejut. Entah kenapa aku sering merasa terkejut
dengan apa yang ada di dalam dirinya. Namun kini kuakui, aku mulai
memperhatikannya begitu dalam.
Tak terasa
sudah hampir satu semester aku berada di kelas ini. Baru kemarin kelasku
kedatangan teman baru. Cewek cantik yang bernama Fiona. Sangat cantik dan
anggun. Menampakkan dirinya bahwa dia adalah tipe cewek yang elegan. Semua
cowok di kelas ini tentu saja berebut mendapatkan hati Fiona. Tapi yang membuatku
aneh, rasa ingin tahu ku yang begitu besar, apakah Reza juga menyukai Fiona.
Ini benar-benar aneh. Aku juga tak tahu mengapa aku sebegitu ingin tahu tentang
perasan Reza terhadap Fiona. Sungguh memalukan.
Bel pulang
berbunyi, semuanya mempersiapkan diri untuk pulang kerumah masing-masing.
Sungguh saat-saat yang sangat dinantikan para murid termasuk aku. Kulihat Fiona
nampak gusar. Sepertinya ia tak dijemput oleh orang tuanya. Tiba-tiba Reza
menghampiri Fiona “Kenapa?” ujar Reza kepada Fiona. Terlihat wajah Fiona nampak
terkejut, begitu juga diriku. “Oh, ini.. gak ada yang jemput. Hehehe” pipi
Fiona nampak merona, mungkin malu-malu. “Yaudah gue yang anter”. Aku seperti
melotot tak percaya. Begitu juga dengan Fiona. Reza, si cowok cuek yang
terlihat sibuk dengan dunianya, ternyata mulai teralihkan semenjak kedatangan
Fiona. Ya, Fiona mampu mengalihkan perhatiannya.“Serius?” ujar Fiona tak
percaya. Tak tahu datang darimana tiba-tiba sesak menghampiri seluruh rongga
dadaku. Aku merasa tidak mampu bernafas dengan baik. Akhirnya aku memutuskan
untuk cepat-cepat meninggalkan kelas. Entah aku juga bingung mengapa aku ingin
cepat-cepat meninggalkan kelas. Rasanya aku tidak ingin mendengarkan obrolan
mereka lagi. Hal ini sungguh diluar nalarku. Aku bingung, mataku panas. Aku
kenapa? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Yang ingin aku lakukan
hanya berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu dan mengeluarkan air mata.
Aku menangis.
Keesokan
harinya, aku mulai menceritakan hal tak masuk akal ini dengan teman-temanku.
Dan satu hal yang tak kupercayai dan berhasil membuatku terperangah adalah
ketika mereka mengatakan bahwa aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta dengan Reza.
Keanehannya yang membuatku tertarik ingin memperhatikan dirinya dan pada akhirnya membuatku merasakan apa itu
jatuh cinta. Hal yang memuakkan, membuatku tidak bisa berpikir dengan logika,
membuatku bertindak diluar kehendakku, membuatku jatuh kedalam lubang cinta.
Reza lah yang membuatku akhirnya merasakan apa itu cinta. Begitu hebatnya cinta
yang mampu membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak ingin berada dalam situasi
seperti ini. Hal ini membuatku gelisah. Aku harus berhenti mencintainya.
Ini sudah 2
minggu setelah aku mengetahui bahwa aku mencintai Reza dan kurasa ini adalah
akhir dari tekat ku untuk berhenti mencintai Reza. Ternyata berhenti mencintainya
tak semudah mencintai Reza. Aku semakin merasa gelisah dan semakin
memikirkannya. Aku menyerah untuk melupakannya. Aku memilih membiarkan ini
terjadi apa adanya, mengalir dengan semestinya. Biarpun harus berhenti biar
kuserahkan saja kepada si pemilik hati ini, Tuhan. Karena aku percaya, Dia lah
yang membolak-balikkan hati manusia. Begitulah yang dikatakan Diana kepadaku
untuk menguatkanku, dan aku mempercayainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar