Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Cinta yang Tak Diinginkan

Cinta yang Tak Diinginkan
Karya : Nahdya Maulida

                Perkenalkan, namaku Nina. Aku seorang gadis remaja yang baru berumur 17 tahun yang saat ini baru memasuki tahun ketigaku bersekolah di SMA Taruna Bangsa. Kata orang, umur 17 tahun adalah saat dimana aku akan mengenal yang namanya cinta. Ya, cinta. Satu kata yang sering didengar di dalam kehidupan kita. Tak  bisa kupungkiri hal itu terjadi padaku. Walaupun bukan aku yang mengalaminya, tetapi wabah cinta telah menyerang teman-teman ku. Lihat saja kini, kelakuan temanku Tina  yang tengah tersenyum manis kearah layar ponsel miliknya. “yeay! Dia bales dia bales ulalaa” ujarnya dengan penuh rona bahagia. Disana tertera nama si pengirim “sayangku”. Aku yang melihat kelakuan Tina hanya bisa menahan tawa. Bagaimana bisa seorang remaja yang berusia 17 tahun begitu terlihat seperti berumur 1 tahun? Seperti bocah ingusan yang baru dibelikan es krim oleh sang ibu. “ini yang namanya kekuatan cinta Nin, cinta” Tina membela diri sambil bergaya seperti orang bijak. Aku yang mendengar pernyataan Tina hanya bisa tersenyum remeh. Rasanya belum lama aku melihatnya menangis tersedu-sedu saat ia putus dengan pacarnya dulu.
Dan dia mengatakan dia jahat!, kenapa gue harus ketemu sama laki-laki macem dia, ha! Dia pikir dia siapa bisa nyakitin gua sebegininya! Dasar br*****k!. Tapi kalau dilihat kini, rasanya kata-kata itu seperti keluar dari bibir jin yang merasukinya. “hehehe, lu gak tau, Nin. Hati gue telah diutuhkan kembali oleh dia, Nin. Uhhhh” ujarnya sambil menunjuk layar ponselnya. Cih, bagiku begitu tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia mau kembali terjun ke lubang yang sama? Lubang yang dikenal dengan cinta itu? Padahal dia tahu bagaimana rasanya terjatuh saat itu. Bagaimana bisa dia mau mengulanginya lagi? Apa itu juga yang dinamakan kekuatan cinta? Sungguh tidak masuk akal.Ya, cinta memang tidak masuk akal, bagiku.
            Disini, tepatnya di bangku tempat duduk ku, bagian pojok belakang kelas, aku menikmati suasana keramaian kelas baru ku. Memperhatikan sekitar, tingkah laku teman-teman, aku memperhatikan dengan saksama. Dibagian depan, cewek dengan kacamata. Kulihat dia sedang membaca buku dengan serius. Dan cewek yang duduk disebelahnya tengah bergosip tentang dirinya. Entah apa yang mereka gosipkan tentang cewek berkacamata itu. Tetapi yang pasti, cewek itu terlihat tak suka dengan cewek berkacamata. Tsk, sepertinya cewek penggosip itu akan menjadi salah satu pembuat onar di kelas ini. Kulihat teman sebangku ku, Lia sudah mencibir berkali-kali “Nin, lihat dah tuh cowok yang dipojok, idih ganjen banget da ah.. ampe enek gua ngeliatnya” kutengok orang yang Lia maksud. Aku hanya bisa tertawa melihat cowok itu tengah menyisir rambutnya yang terlihat penuh pomed “hahaha.. ya gak usah lu liatin lah. Ribet amat” ujarku pada Lia. “Heh, Li. Udah jangan ngatain orang, entar kalo lu naksir kan bahaya” ujar Diana tiba-tiba yang mendengar obrolanku dengan Lia. Memang sudah pasti dia mendengarnya, Lia si mulut cempreng ini memang susah mengontrol nada suaranya. Aku hanya tersenyum membalas perkataan Diana.
            Kembali aku memperhatikan suasana kelas. Kini Lia terlihat sibuk memainkan ponsel miliknya. Sudah bisa dipastikan, sedang menonton drama korea kesukaannya. Biarlah, selagi dia tidak membuat dengungan di telingaku, begitu lebih baik. Setelah mengalihkan perhatianku pada Lia, kini aku terfokus pada cowok berambut gondrong dengan pakaian compang-camping. Sangat berantakan. Tetapi aneh sekali, semua cowok di kelas menghampirinya. Terlihat bahwa cowok-cowok tersebut berebut ingin berteman dengan si cowok berantakan itu. Bahkan tidak hanya cowok-cowok. Setelah aku perhatikan lagi, beberapa cewek banyak yang mencuri pandang kearah cowok berantakan. Cowok berantakan itu hanya tersenyum ramah dan membalas singkat obrolan dari mereka. Seperti tidak berteman mungkin. Aku belum tahu. Namun ini cukup membuatku sedikit penasaran.
            Bel istirahat berbunyi. Masih malas rasanya untuk beranjak dari bangku ini. Namun apa daya, perutku sudah meronta untuk diisi. Kulihat sekeliling sudah banyak yang berlarian meninggalkan kelas. Terlihat berlebihan memang, namun biarlah. Dan lagi-lagi si cowok berantakan menarik perhatianku. Kini aku sudah tahu namanya, Reza. Reza tidak bergeming dari bangkunya. Membaca buku dengan sangat tenang sambil memakan kotak bekal yang ia bawa. Kulirik isi bekalnya, roti isi dan telur. Buku bacaannya berjudul “andai aku malaikat”. Hmm, andai aku malaikat? Sejenak aku tertawa tertahan. Namun tak kusangga dia melirik kearahku. Aku terkejut bukan main. Spontan kualihkan pandanganku kearah luar jendela sambil berjalan keluar kelas. Sungguh konyol tingkahku ini. Ada apa denganku?
            Belakangan ini aku semakin sering memperhatikannya. Kini aku sudah cukup mengetahui informasi tentang dirinya. Reza, anak pertama dari 2 saudara. Dia anak terakhir, mahir memainkan alat musik terutama gitar dan biola, dia selalu mendapat peringkat 1 di tahun pertama dan tahun kedua berturut-turut, selalu datang terlambat dan tidak pernah mengerjakan pr, ikut seluruh ekskul sekolah, dia anak yang sangat mampu. Dan terakhir yang kutahu, dia telah kehilangan sosok ibu. Ya, kenyataan bahwa dia anak yang pintar namun pemalas, si berantakan yang kaya raya dan seorang yang kurang perhatian dari sosok ibu cukup membuatku sedikit terkejut. Entah kenapa aku sering merasa terkejut dengan apa yang ada di dalam dirinya. Namun kini kuakui, aku mulai memperhatikannya begitu dalam.
            Tak terasa sudah hampir satu semester aku berada di kelas ini. Baru kemarin kelasku kedatangan teman baru. Cewek cantik yang bernama Fiona. Sangat cantik dan anggun. Menampakkan dirinya bahwa dia adalah tipe cewek yang elegan. Semua cowok di kelas ini tentu saja berebut mendapatkan hati Fiona. Tapi yang membuatku aneh, rasa ingin tahu ku yang begitu besar, apakah Reza juga menyukai Fiona. Ini benar-benar aneh. Aku juga tak tahu mengapa aku sebegitu ingin tahu tentang perasan Reza terhadap Fiona. Sungguh memalukan.
            Bel pulang berbunyi, semuanya mempersiapkan diri untuk pulang kerumah masing-masing. Sungguh saat-saat yang sangat dinantikan para murid termasuk aku. Kulihat Fiona nampak gusar. Sepertinya ia tak dijemput oleh orang tuanya. Tiba-tiba Reza menghampiri Fiona “Kenapa?” ujar Reza kepada Fiona. Terlihat wajah Fiona nampak terkejut, begitu juga diriku. “Oh, ini.. gak ada yang jemput. Hehehe” pipi Fiona nampak merona, mungkin malu-malu. “Yaudah gue yang anter”. Aku seperti melotot tak percaya. Begitu juga dengan Fiona. Reza, si cowok cuek yang terlihat sibuk dengan dunianya, ternyata mulai teralihkan semenjak kedatangan Fiona. Ya, Fiona mampu mengalihkan perhatiannya.“Serius?” ujar Fiona tak percaya. Tak tahu datang darimana tiba-tiba sesak menghampiri seluruh rongga dadaku. Aku merasa tidak mampu bernafas dengan baik. Akhirnya aku memutuskan untuk cepat-cepat meninggalkan kelas. Entah aku juga bingung mengapa aku ingin cepat-cepat meninggalkan kelas. Rasanya aku tidak ingin mendengarkan obrolan mereka lagi. Hal ini sungguh diluar nalarku. Aku bingung, mataku panas. Aku kenapa? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Yang ingin aku lakukan hanya berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu dan mengeluarkan air mata. Aku menangis.
            Keesokan harinya, aku mulai menceritakan hal tak masuk akal ini dengan teman-temanku. Dan satu hal yang tak kupercayai dan berhasil membuatku terperangah adalah ketika mereka mengatakan bahwa aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta dengan Reza. Keanehannya yang membuatku tertarik ingin memperhatikan dirinya dan  pada akhirnya membuatku merasakan apa itu jatuh cinta. Hal yang memuakkan, membuatku tidak bisa berpikir dengan logika, membuatku bertindak diluar kehendakku, membuatku jatuh kedalam lubang cinta. Reza lah yang membuatku akhirnya merasakan apa itu cinta. Begitu hebatnya cinta yang mampu membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak ingin berada dalam situasi seperti ini. Hal ini membuatku gelisah. Aku harus berhenti mencintainya.

            Ini sudah 2 minggu setelah aku mengetahui bahwa aku mencintai Reza dan kurasa ini adalah akhir dari tekat ku untuk berhenti mencintai Reza. Ternyata berhenti mencintainya tak semudah mencintai Reza. Aku semakin merasa gelisah dan semakin memikirkannya. Aku menyerah untuk melupakannya. Aku memilih membiarkan ini terjadi apa adanya, mengalir dengan semestinya. Biarpun harus berhenti biar kuserahkan saja kepada si pemilik hati ini, Tuhan. Karena aku percaya, Dia lah yang membolak-balikkan hati manusia. Begitulah yang dikatakan Diana kepadaku untuk menguatkanku, dan aku mempercayainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar