Secercah
Harapan yang Hilang
Karya : Muhammad Daffa Al-Jundi
Pada hari itu, seorang gadis meninggal dihadapanku.
Air hujan membasahi dirinya.
Orang-orang beramai-ramai mengelilinginya. Mengambil
beberapa foto selagi mayatnya dibawa masuk kedalam mobil ambulan serta mobil
polisi yang mengiringinya.
Tak lama kemudian hujan pun berhenti.
Darahnya masih kelihatan berbekas di tanah.
Tika.
Itulah nama seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia
ini.
Sebuah cerita yang sudah berakhir dan tidak bisa dilanjutkan
lagi.
*****
“Aku kehilangan ingatanku.”
“Kau menghabiskan malam dengan pacarmu sampai lupa ingatan?
Sampai segitunya?”
“Ini serius! Aku benar-benar kehilangan ingatanku!”
“Dan juga, kenapa kau tidak memanggilku mbak suster? Sampai
segitunya kah?
“Mbak suster, aku sama sekali tidak bercanda. Aku
benar-benar kehilangan ingatanku.”
“Terus juga, kenapa kau lahir dengan wajah yang mengerikan?
Sampai se—“
“Sus, bisa berhenti ngelawak gak?”
Yang kuingat sekarang adalah hari Senin.
Eh, bukan. Sekarang hari Selasa.
Dan juga hari ini adalah hari pertamaku sekolah di semester
baru.
Saat ini aku sedang berada di UKS, ditemani oleh Suster
Meliana. Dia sebenarnya sudah mau memasuki usia 35 tahun. Tetapi entah kenapa
dia masih saja ingin dipanggil “mbak”.
“Terus? Mulai sejak kapan kau kehilangan ingatanmu?”
“Aku tidak bisa mengingat apapun dari hari Minggu kemarin
saat aku tidur sampai aku bangun.”
“Lalu? Apa yang terjadi saat kau bangun?”
“Entah kenapa aku berada di kebun milik tetangga.”
“Hah?”
Saat aku tertidur di hari Minggu, tiba-tiba aku terbangun di
kebun milik tetangga. Setelah datang ke sekolah, entah kenapa aku sadar kalau
sekarang hari Selasa.
“Pasti kau kurang tidur, ya? Kok sampai segitunya, sih?
“Mana aku tau mbak su-es-te-er … Orang lupa ingatan jangan
ditanya yang aneh-aneh terus bisa gak, sih?”
Sebenarnya, aku tidak kehilangan semua ingatanku. Sebagai
contoh, aku masih bisa lancar melakukan perkenalan diri.
Namaku Franklin.
Kelas 2 SMA. Sekolahku di SMA 59.
Hobiku bermain sepak bola.
Anak pertama dari dua bersaudara. Punya satu adik perempuan.
Tinggiku 180 sentimeter. Sedangkan beratku 55 kilogram.
Aku memang terlahir dengan wajah yang terbilang cukup
mengerikan. Itulah sebabnya orang-orang menjauhiku, dan otomatis aku tidak
punya teman. Saat di kelas, orang yang duduk disampingku terlihat menjauhkan
tempat duduknya dan memasang muka “Ih, jangan deket-deket dong”. Semua orang
menilai hanya dari sampulnya saja. Yah, mau bagaimana lagi. Tapi akupun tak
peduli dengan yang orang lain pikirkan tentangku.
“Wah, apa jangan-jangan kau mabuk saat itu? Duh, anak
sekarang kok sampai segitunya, sih.”
“Udahan dong ngelawaknya! Sampai segitunya bikin kesel orang
yang lagi kena masalah serius.”
Suster Meliana tertawa kecil. Lalu ia memasang mimik wajah
serius.
“Ini kasus hilang ingatan.”
“Daritadi kan kubilang ….”
“Walau kau bilang kau kehilangan ingatanmu, tapi tidak
banyak yang bisa dilakukan. Mungkin ada yang salah dengan otakmu. Apa kau mau
mencoba ke rumah sakit untuk mengeceknya?”
“Enggak mau.”
“Duh, keras kepala banget, sih. Apa boleh buat, akan kucoba
periksa kondisimu sekarang.”
Pada akhirnya kami tidak menemukan jalan keluar. Yah, mau
gimana lagi. Kasus hilang ingatan memang tidak diduga-duga.
“Lebih baik kau istirahat dulu disini. Kalau nanti saat kau
bangun tetap seperti ini, pulanglah kerumah dan diskusikan ini dengan orang
tuamu.”
*****
Ternyata tidurku cukup lelap. Bel jam terakhir pun berbunyi.
Tentu saja aku segera pulang.
Saat sampai dirumah, Ibuku langsung menghampiriku dan
berkata “Kemana saja kau kemarin?! Bikin khawatir tau gak? Setidaknya berilah
kabar!” Dan akupun menjawab “Maaf bu, tapi akan kujawab itu nanti.”
Ketika ingin masuk ke kamar, aku berjumpa dengan adik
perempuanku yang bernama Lisa. Berbeda dengan penampilanku, wajahnya sangatlah
cantik dan dia sangat terkenal di sekolahnya.
“Udah pulang, kak?”
“….”
Aku tak menjawab.
“Kemarin lagi ngapain, kak? Kok---“
“Loh? Kemarin kau melihatku?!”
“Eng … Sebenarnya---“
“Apa yang kulakukan kemarin?!
Berulang kali kutanya pertanyaan yang sama.
“Kumohon, beritahu aku yang sebenarnya!”
“Coba lihat ini, kak.”
Lisa memberikanku koran harian.
“Siswi SMA
59 meninggal karena kecelakaan.”
Tulisan yang tebal itu merupakan judul dari sebuah berita
yang terpampang di koran tersebut.
“Namanya Tika ya …”
Aku mulai ingat apa yang terjadi kemarin. Maksudku, kemarin
lusa.
Seorang gadis tergeletak, dan ternyata ia meninggal. Saat
itu hujan, tetapi orang-orang hanya mengelilingi dan melihat saja. Tidak
berbuat apapun.
Sebenarnya, aku tidak terlalu mau mengingat insiden itu.
Seseorang meninggal, mayatnya terbasahi air hujan, terlebih lagi dia seorang
gadis.
“---dengan menggunakan separuh hidupmu.”
Tiba-tiba suara itu terdengar dikepalaku.
Aku mulai mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang
hampir seperti mimpi itu.
Seseorang berjubah hitam mengatakan kata-kata itu. Dan aku
membalasnya “Silahkan saja, hidupku pun seperti tidak ada artinya.”
Kemudian, orang berjubah hitam itupun tiba-tiba lenyap.
Kematian gadis itu membuatku trauma yang merupakan awalnya
hilang ingatanku pada hari Minggu.
Akan tetapi, apakah hanya itu saja?
“Apa perasaanku saja? Atau aku yang aneh?” Aku berbicara
pada diriku sendiri.
Ya sudahlah, biarkan itu berlalu.
Kemudian aku memutuskan untuk tidur. Tak lama kemudian aku
berpikir “Kalau aku tidur apa aku akan kehilangan ingatanku lagi? Atau malah
aku tidak akan bangun lagi?” Kata-kata itu tergiang-ngiang di kepalaku.
“Tenang, tenang … Ini akan baik-baik saja …”
Keesokan harinya setelah aku bangun …
Hari Rabu.
Eh, bukan. Sekarang hari Kamis.
Atau sekarang hari Jum’at? Tapi kayaknya hari Kamis, deh …
Ah sudahlah aku tak peduli lagi.
Aku langsung berangkat ke sekolah dan tentunya langsung
menuju UKS untuk menemui Suster Meliana.
“Mbak Meliana! Aku kehilangan satu hari lagi dalam
ingatanku! Gimana nih?!”
“Oh, Franklin. Dilihat dari pakaianmu, apa kau tertidur di
kebun tetangga lagi?”
“Iya, saat aku bangun aku sedang berada disana.”
Kali ini, saat aku terbangun, aku berada di kebun tetangga
lagi … Dan kalender menunjukkan …
“Sekarang hari Kamis, ya?”
“Iya, sekarang hari Kamis.”
Aku kehilangan satu hari lagi dalam ingatanku.
“Aku tak pernah mendengar ada seseorang yang kehilangan
ingatannya pada hari tertentu.”
“Terus gimana dong, mbak?”
“Aku mempunyai spekulasi. Entah ini benar atau tidak.”
“Spekulasi?”
“Iya, sepertinya penyakit yang kau derita itu kemungkinan …”
Suster Meliana mengambil buku tebal lalu membuka suatu
halaman.
“Kepribadian ganda?”
“Disini tertulis tentang kepribadian ganda … Untuk melindungi keadaan mental mereka,
kenangan yang menyedihkan harus segera dilupakan. Kasus seperti ini sangat
jarang. Kalaupun ada, kepribadian yang lain itu akan muncul dikarenakan ada
sesuatu yang memaksa kepribadian itu keluar, dan penyakit ini dinamakan kepribadian
ganda …”
“Begitulah … Apa pendapatmu?”
“Enggak ada, sih.”
“Bisa aja lho, kepribadian lainmu ini muncul dalam suatu
waktu dan mengambil alih kesadaranmu. Tapi sepertinya hanya saat tidur ya?
Mungkin karena inilah kau tidak bisa ingat hari sebelum kau terbangun di kebun
tetangga.”
“Ternyata begitu ya …”
“Eh? Kau tidak kaget?”
“Emm .. Entah kenapa aku merasa kalau hal ini merupakan hal
yang biasa … Lagipula, tidak ada hal yang bisa dilakukan, kan? Mau bagaimana
lagi, kan?”
Tanpa sadar aku menitikkan air mata.
“Memang benar tidak ada yang bisa kulakukan tentang ini …
Tapi jangan sampai putus asa ya, Franklin.”
“Siap, mbak!”
Waktu pun berlalu cepat.
Matahari sudah hampir terbenam.
Saat aku pulang melewati kebun tetangga itu, aku terdiam
sejenak. Kemudian aku menangis sejadi-jadinya disitu.
Setelah mengusap wajahku yang terlihat tambah jelek karena
habis menangis, akupun langsung pulang kerumah.
Saat aku memasuki rumah, terlihat adikku yang sedang
menyiapkan makan malam. Dia sedang menggunakan apron dan rambutnya dikuncir ponytail. Seperti biasanya, dia sangat
cantik.
“Ke-kenapa lihat-lihat aku begitu, kak?”
“Lisa, aku senang menjadi kakakmu.”
“Eh? Kenapa ini tiba-tiba? Aku tak mengerti.”
“Aku minta maaf ya kalau aku menyebabkan masalah atau punya
salah padamu.”
“Apa yang kau katakan-----!?”
Aku memeluk adikku sekitar 20 detik. Kehangatan ini sungguh
membuat hatiku tentram.
“E-Eh?? Kakak?”
“Terima kasih ya, Lisa.”
“Aku tidak mengerti …” Lalu dia pun masuk ke kamar …
Sepertinya ada yang ingin dia lakukan.
Aku pun masuk ke kamarku.
“Benar juga … note ya …”
Aku mengambil note yang ada di rak buku milikku. Lalu
menuliskan kata-kata terakhirku disana.
Kurang lebih seperti ini …
Untuk
diriku yang lain.
“Yo, apa
kabar? Gimana rasanya jadi diriku saat hari Senin dan Rabu? Sepertinya kau
mengambil alih tubuhku, ya.
Yah, aku
tidak peduli lagi sih.
Ah, bukan
itu maksudku. Itu terlalu konyol.
Tapi aku
sudah menyerah. Kau bisa mengambil tubuhku ini. Tubuh ini hanya menyebabkan
masalah bagi orang-orang disekitarku.
Tetapi, aku
punya satu permintaan terakhir.
Tolong jaga
adik perempuanku. Dia lebih penting dari hidupku.
Itu saja.
Sisanya kuserahkan padamu.
Sampai
jumpa. Diriku yang lain.”
Dari
Franklin.
Selesai menulis, aku meletakkan note itu diatas meja
belajarku.
Aku tidak menyesal.
Sama sekali tidak menyesal.
Ah iya, setidaknya aku harus menikmati makan malam yang
terakhir kalinya bersama dengan adikku.
Setelah berubah pikiran, aku langsung menuju kamar adikku.
Aku mengetuk pintunya dan memintanya untuk makan malam bersama.
Sehabis makan malam, aku mandi, dan langsung berbaring di
tempat tidur.
Selamat tinggal, semuanya.
Lalu akupun tertidur.
*****
“ …. Hari Sabtu.”
Aku bangun tidur seperti biasanya.
Tanggal di ponselku menunjukkan kalau sekarang hari Sabtu …
Berarti aku melewati satu hari lagi.
Aku pun mengecek note yang kuletakkan diatas meja. Dan
ternyata, posisinya berubah dari yang sebelumnya. Ini berarti ada yang sudah
membacanya.
Kemudian aku membuka suatu halaman.
Yang tertulis disana adalah …
“Untuk
Franklin
Apakah kau
diriku yang lain? Jadi kaulah penyebab semua ini … Aku tidak akan memaafkanmu.
Dari Tika”
Jadi ini yang dimaksud si jubah hitam itu separuh hidupku …
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Tika, tapi keadaan
sekarang memperlihatkan kalau kita berbagi tubuh setiap satu hari.
Ini berarti ada dua jiwa didalam tubuhku. Dan Tika berusaha
mengambil alih tubuhku untuk selamanya.
Tapi bukannya aku sudah menuliskan kata-kata terakhirku?
Kenapa dia belum bertindak?
Belum sempat memikirkan itu, jam sudah menunjukkan waktu
untuk berangkat sekolah.
Akupun mengesampingkan itu untuk sementara.
Akan tetapi, sesampainya di sekolah, lagi-lagi aku selalu
memikirkan hal itu. Aku menjadi tidak fokus pada pelajaran.
Bel pulang berbunyi. Aku langsung pulang menuju rumah dan
langsung menuju ke kamar.
Aku memikirkan matang-matang … Bagaimana efek kedepannya,
dan lain-lainnya jika aku menyerahkan tubuhku ini pada seseorang yang bahkan
tidak kukenal walaupun satu sekolah.
“ … Biarkan sajalah … Hidupku juga tak ada gunanya lagi.”
Aku mengambil note, lalu menuliskan …
“Kuserahkan
tubuh ini padamu mulai esok.”
Kemudian sekilas terlihat sosok jubah hitam didepan
jendelaku.
“Hah? Apa tadi si jubah hitam itu muncul? Atau mungkin hanya
perasaanku saja?”
Lalu aku berbaring di tempat tidurku dan memejamkan mata
perlahan-lahan karena rasa kantuk yang hebat tiba-tiba datang menyerang.
Entah kenapa, saat itu pertama kalinya aku merasa kalau
tidurku lebih lelap dari biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar