PERJUANGAN YANG INDAH
Karya : Bagas Lutvhi Andri
Intan adalah nama
seorang siswi SMA Harapan yang mengalami gangguan pada pendengaran dan
pembicaraan. Dia mengidap tuna rungu sejak dia lahir di bumi pertiwi. Dia
memiliki kakak yang sangat menyayanginya , namanya adalah Laila. Laila adalah
seorang kakak yang sangat baik dan segalanya bagi Intan, karena tidak ada yang
memperdulikan Intan di rumahnya selain Laila. Ibu dan Bapak Intan sudah
terlanjur malu karena memiliki seorang anak tuna rungu. Intan memiliki hobi
bermain piano, sebagai anak tuna rungu Intan sangat ahli bermain piano dan juga
sangat handal memainkan jari-jari manisnya diatas piano.
Kehidupan
sehari-hari Intan tidak seperti siswa ataupun siswi lainya, dia tidak memiliki
teman yang selalu menemaninya ketika istirahat telah dimulai atau disaat
bermain. Hanya ada satu orang teman yang sangat peduli terhadap Intan dan
sangat sayang terhadap Intan yaitu Dodit. Dodit adalah satu-satunya teman Intan
yang sangat mengerti keadaan Intan, Dodit selalu menemani Intan apapun yang terjadi
disaat Intan susah maupun senang.
Sekarang Intan
sudah kelas XI jurusan IPA, berkat kepintarannya saat ujian pemilihan jurusan
Intan mendapat peringkat 1 untuk jurusan IPA. Walaupun hampir semua teman Intan
tidak menyukai Intan, ternyata para guru justru bertolak belakang. Para guru
sangat senang terhadap prestasi belajar Intan yang dari kelas X sudah mendapat
peringkat 1 bertahan di kelas maupun di sekolah. Bahkan Intan pernah ingin
dijadikan tim inti cerdas cermat pada perlombaan tingkat DKI Jakarta, tetapi
karena kekurangan dia yang tidak bisa mendengar dan berbicara dengan baik dia
gagal menjadi tim inti. Intan memiliki 1 guru yang sangat ia sayangi dan ia
hormati, begitu pula guru itu sangat menyayangi Intan juga yaitu Bu Sinta. Bu
Sinta adalah wali kelas Intan selama sekolah di SMA Harapan.
Hari ini adalah
hari pertama Intan masuk sekolah sejak liburan semester kedua. Sebenarnya dia
tidak ingin kembali sekolah sejak masalah yang dibuat Erika, Ratih, dan Citra
terhadapnya. Dia dikunci di toilet sekolah yang sudah tidak terpakai selama
pelajaran berlangsung, sehingga para guru mengkhawatirkan Intan dan langsung
mencari ke setiap sudut sekolah yang megah seluas 2 hektar tersebut. Hingga Bu
Sinta menduga bahwa Intan ada di sebuah toilet yang sudah tidak terpakai,
karena memang para guru belum mengecek ke tempat tersebut. Akhirnya para guru
memutuskan untuk mengecek kebenaran itu, setelah pintu terbuka terlihatlah
Intan seorang siswi kelas Xi-IPA-3 sedang terlihat ketakutan di tempat yang
gelap sunyi sendirian. Bu Sinta kaget karena dugaan dia benar kalau Intan ada
di toilet ini, lantas ia langsung menghampiri dan memeluk tubuh Intan yang
sudah basa kuyup disiram oleh Erika, Ratih, dan Citra.
"Intan, apa yang terjadi pada mu
nak?" Tanya Bu Sinta
Intan langsung
menjelaskan kepada Bu Sinta dan para guru yang ada di toilet tersebut dengan bahasa isyarat yang sudah dimengerti
oleh para guru. Ia menjelaskan serinci-rincinya bahwa dia telah disiram dan
dikunci di toilet ini oleh Erika, Citra , dan Ratih.
"Keterlaluan mereka Bu! ini tidak bisa
dibiarkan saja, bisa-bisa besok Intan dilakukan seperti ini lagi jika kita
tidak menindaklanjuti." Ujar Pak Amir salah satu guru yang ada di toilet
tersebut
"Benar itu Bu Sinta, mereka harus dihukum
dan kemudian mereka harus membuat surat pernyataan bahwa mereka tidak akan
melakukan hal yang seperti ini lagi." Balas Bu Irma, guru yang sayang juga
terhadap Intan
"Baik Bapak Ibu guru, saya akan melakukan
hal tersebut. Saya akan menindaklanjuti kasus ini, terima kasih atas sarannya
ya. Ayo Intan kita kembali ke kelas" sahut Bu Sinta dengan nada kesal.
Intan pun langsung
menuruti perintah Bu Sinta, Intan langsung kembali ke kelas bersama Bu Sinta.
Sesampainya di kelas Bu Sinta langsung meminta izin kepada Bu Siska yang sedang
mengajar matematika di kelas tersebut untuk mengembalikan Intan kembali ke
tempat duduknya dan memanggil Erika, Ratih, dan Citra agar mengikutinya ke
ruang guru.
"Permisi Bu Siska. Saya ingin mengantarkan
Intan ketempat duduknya dan memanggil Erika, Ratih, dan Citra untuk ikut dengan
saya ke ruang guru" Pinta Bu Sinta
"Silahkan Bu Sinta" sahut Bu Siska
"Baik bu, Erika! Ratih! dan Citra! ikut
saya" kata Bu Intan dengan nada marah
"Baik bu." Sahut mereka dengan
ketakutan
Erika, Ratih, dan
Citra segera mengikuti Bu Sinta sambil mengancam Intan. Sesampainya di ruang
guru, mereka langsung dimarahi oleh Bu Sinta.
"Erika! Ratih! Citra! Apa kalian tahu,
bahwa hal yang kalian lakukan hari ini adalah perbuatan yang sangat menyiksa
teman kalian Intan? Kalau sampai Intan meninggal karena sesak nafas bagaimana?
Toilet itu kan sudah berdebu, apa kalian mau tanggung jawab?" Bu Intan
memarahi Erika, Ratih, dan Citra dengan nada tinggi.
"Intan bukan teman kami bu, dan kami juga
gak akan mau lah tanggung jawab." Ujar Erika ketua geng tersebut.
"Iya bener tuh bu, lagian siapa suruh dia
jadi gagu. Bener gak guys?" Sahut Citra dengan nada santai
"Cukup!" Bentak Bu Sinta.
Seketika ruangan
itu menjadi hening dengan bentakan Bu Sinta yang bagaikan petasan di malam
hari. Bentakan tersebut membuat Erika, Ratih, dan Citra menundukan kepala
seperti siswa yang sedang takut akan kesalahan yang ia buat.
"Sudah cukup kalian membully Intan dengan
sebutan "gagu". Jikalau Intan bisa memilih, Intan akan memilih untuk
sama seperti kita, itu adalah kehendak Allah dan tidak ada yang bisa merubah
dan menggangu gugat. Jika kalian merendahkan Intan seperti itu, itu sama saja
kamu menghina pencipta mu. " jelas Bu Sinta
"Maafkan kami bu, kami tidak akan
mengulanginya lagi deh." Sahut Ratih
"Iya bu maafkan kami" tambah Erika
"Ibu akan memaafkan kalian, jika kalian
ingin membuat surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengganggu Intan
lagi" Perintah Bu Intan
"Baik bu, kami akan membuatnya sekarang
juga" ujar Citra
"Oke, kalian tulis di selembar kertas ini.
Saya tunggu 15 menit" sahut Bu Intan
"Baik Bu Intan" sahut mereka dengan
serempak
Setelah 15 menit kemudian, Erika, Ratih, dan
Citra langsung mengumpulkan surat pernyataannya.
"Nih bu sudah selesai." Ketus Erika
"Ya sudah, kalian boleh kembali ke kelas
kalian. Ingat, ini untuk yang terakhir kalinya kalian membuat masalah untuk
membully Intan. Ibu tidak mau lagi ada kejadian seperti ini" ujar Bu Sinta
"Iya bu"ketus Ratih
Kejadian itulah
yang membuat Intan tidak mau lagi kembali ke sekolah. Tapi apalah daya, Intan
harus sekolah karena permintaan kak Laila agar Intan mencapai cita-citanya.
Hari pertama di sekolah Intan menjalaninya dengan biasa. Belajar, bermain
bersama Dodit dan bersenda gurau.
Bel waktu istirahat
pertama telah berbunyi, semua siswa telah keluar ruangan kelas termasuk Intan
dan Dodit. Ketika Intan dan Dodit sedang berjalan ke kantin, mereka menghampiri
mading sekolah yang sedang dikelilingi oleh para siswa yang sedang membaca
pengumuman lomba piano tingkat nasional yang akan diadakan pekan depan. Intan
merasa sangat senang telah melihat pengumuman itu, dan dia akhirnya berpikir
akan mengikuti lomba itu.
Saat di kantin,
Intan dan Dodit makan bersama dan juga membahas ide Intan untuk mengikuti lomba
piano tersebut. Akhirnya Dodit menyetujui dan mau membantu Intan untuk
mengikuti lomba piano tersebut. Intan yang sangat senang langsung teriak
kegirangan sampai-sampai menarik perhatian seisi kantin. Erika, Ratih, dan
Citra yang sedang berada di kantin pun juga ikut memperhatikan Intan. Kemudian mereka
memiliki ide gila lagi untuk kembali mengganggu Intan. Dan mereka bertiga pun
mengampiri Intan dan Dodit yang sedang asyik makan.
"Hai gaguuuu!" Sapa Erika
Intan menjawab dengan gerakan isyarat yang
berarti hai juga.
"Ngomong dong, orang diajak ngobrol juga,
malah diem aja" ketus Ratih
"Kalian gak ada kapoknya ya, sudah di
kasih sp juga masih aja mau mengganggu Intan." Balas Dodit
"Eh gendut diem aja deh lo" bentak
Ratih
"Tau lo, emang lu bisa apa? Paling makan
doang" saut Citra
"Ahahahahaha" mereka mentertawai
Dodit
"Ihh kok disini bau banget asem sih,
disini nih si Intan badanya bau banget, nih gua mandiin ya biar gak bau"
kata Erika
Erika menyiram Intan dengan kuah sop yang Intan
bawa hingga Intan merasa malu.
Sesaat kemudian, Bu Sinta sedang melihat
kejadian tersebut dan menghampiri mereka semua.
"Erika! Ratih! Citra! apa kalian tidak
ingat janji yang kalian buat diatas surat pernyataan semester 2 lalu? Kalian
keterlaluan! ikut saya semuanya." Bentak Bu Sinta.
Mereka semua
mengikuti Bu Sinta termasuk Intan dan Dodit. Mereka mengikuti Bu Sinta sampai
ke ruang guru. Mereka diomeli oleh Bu Sinta kecuali Intan dan Dodit. Sementara
Erika, Ratih, dan Citra kena marah oleh Bu Sinta, Intan membersihkan semua
kotoran-kotoran yang menempel pada baju Intan dan dibantu oleh Dodit.
Setelah kena marah,
mereka bertiga dihukum agar berdiri di depan tiang bendera dengan keadaan
hormat bendera selama jam belajar berlangsung. Dan bu Sinta menelpon kak Laila
kakaknya Intan agar menjemput Intan yang sedang syok karena dipermalukan.
Selama 30 menit
menunggu, Laila datang ke ruang guru dan langsung berbicara terhadap Bu Sinta.
"Selamat pagi Bu, ada apa?" Tanya
Laila
"Intan sedang syok karena dipermalukan di
kantin oleh Erika, Ratih, dan Citra. Intan disiram oleh kuah sop yang Intan
bawa dari rumah" jelas Bu Sinta
"Astagfirullah, Intan kamu tidak apa-apa
kan?" Tanya Laila
Intan menjawab dengan gerakan isyarat yang
berarti saya tidak apa-apa. Dan itu melegakan hati Laila.
"Syukurlah, bagaimana sekarang Bu?"
Tanya Laila
"Bawalah Intan pulang dan tenangkan
dia" jelas Bu Sinta.
"Baiklah Bu, ayo Intan kita pulang
sayang" saut Laila
Intan dan Laila pun
pulang ke rumahnya sementara Dodit kembali belajar. Sesampainya di rumah, Ayah
dan Ibu Intan sudah kesal mendengar berita yang diceritakan oleh Bu Sinta
melalui telepon dan sedang menunggu kedatangan Intan agar segera menghukum
Intan.
"Intan! Sudah berapa kali kamu membuat
masalah? Apa kamu tidak kapok? Dasar anak gatau diri, bukannya membanggakan
orang tua justru hanya membuat malu saja" bentak Ayah Intan
Mendengar perkataan
Ayahnya, Intan langsung menangis tersedu-sedu di depan Ayahnya. Laila yang
kasihan melihat Intan menangis, Laila langsung menghampiri dan memeluk Intan
dan menenangkan Intan.
"Apa-apaan sih yah? Intan itu gak salah,
dia lagi makan terus disiram pake lauknya, apakah itu salah Intan? Itu hanya
salah temannya" jelas Laila
"Itu salah dia kenapa dia jadi gagu dan
tuli Laila" bentak Ayahnya
"Sudahlah Laila kamu tidak perlu ikut
campur. Sana masuk kamar" perintah Ibunya
"Enggak akan, Laila akan membela Intan
disini sampai Ayah dan Ibu mau menyayangi Intan seperti Ayah dan Ibu menyayangi
Laila" saut Laila
"Oke, Ayah dan Ibu akan menyayangi dia
dengan satu syarat, Intan harus melakukan suatu yang membuat Ayah dan Ibu
bangga" saut Ayahnya
Setelah berkata
tersebut, Ayah dan Ibu Intan langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan
perasaan kesal. Intan pun tenang karena ditenangkan oleh Laila.
"Sudah, sekarang kamu mandi habis itu
tidur ya" perintah Laila
Intan menjawab
dengan gerakan isyarat yang berarti iya kak. Intan mandi dengan pikiran kacau,
Intan sedang memikirkan apakah dia bisa menang atau tidak jika dia mengikuti
lomba piano tingkat nasional itu, sehingga Intan bisa membanggakan kedua orang
tuanya. Setelah mandi, Intan membicarakan hal ini kepada Laila kakaknya. Intan
menjelaskan semuanya dengan bahasa isyarat dan dengan pesona muka Intan yang
penuh semangat. Laila sang kakak menjadi kagum akan kegigihan adiknya yang
ingin membuat orang tuanya bangga, Ia pun menyetujui rencana Intan.
“kakak sangat bangga
terhadap kegigihanmu saying, kakak menyetujui itu. Nanti sore kita daftar
kesana dan besok kita mulai latihan okay?” ujar Laila
Okey jawaban Intan dengan
gerakat isyarat.
“Sekarang kamu harus
tidur, agar kamu tenang! Kalau gak tidur gak boleh ikut lomba loh.” Perintah
Laila dengan senyum
Intan bagaikan
kadet yang sedang berhadapa dengan atasannya, ia langsung memberi hormat
sebagai tanda Ia akan pergi ke kamar untuk tidur. Setelah sampai kamar, Intan
langsung tidur dengan hati senang sampai-sampai ia bangun telat jam 15:00,
padahal pendaftaran ditutup jam, 16:00 . Intan pun langsung bergegas mandi dan
langsung menghampiri kakaknya yang sedang berada di dalam mobil menanti
kehadiran adiknya yang ingin mendaftar lomba.
“ayo
Intan, kita harus bergegas sebentar lagi pendaftaran ditutup sayang” ujar Laila
Intan
segera masuk ke mobil dan Laila melaju mobilnya dengan cepat hingga mereka
sampai di lapangan tembak Cibubur sebelum pendaftaran ditutup. Ketika sampai
disana.
“pak,
saya ingin mendaftarkan adik saya untuk mengikuti loma piano tingkat nasional”
ujar Laila
“baiklah
mba, silahkan isi formulirnya! Kemudian bayar uang pendaftaran senilai Rp.
100.000 mba” jelas petugas pendaftaran
“oh
baiklah pak, saya akan menulis dan membayarnya” sahut Laila
Setelah
Laila menulis dan membayar uang poendaftaran mereka pun mendapatkan kartu
peserta lomba dan mereka pulang dengan sangat gembira. Tetapi mereka tidak
langsung pulang, mereka hendak berkunjung ke rumah Dodit sahabat Intan untuk
memberitahukan hal ini.
“Assalamualaikum
Dodit!” salam Laila
“Waalaikumsalam,
eh Kak Laila! Intan. Ada apa ini? Tanya Dodit
“jadi
begini dit, Intan sudah mendaftar menjadi peserta lomba piano tingkat nasional
dit, Intan ingin kamu menemaninya saat Ia latihan di rumah dit. Kebetulan juga
besok kan libur tuh” ujar Laila
“oh
begitu kak, okedeh kak (Sambil mengacungi jempol ke arah Intan dan Laila)”
sahut Dodit
Intan
pun membalas dengan mengacungi jempolnya juga dan tersenyum.
“baiklah,
itu saja yang ingin kami sampaikan. Kami pamit pulang dulu ya sampai jumpa dit”
ujar Laila
“loh
gak mau mampir dulu kak?” Tanya Dodit
“enggak
deh dit, kami pamit aja soalnya sudah hamper gelap juga” jawab Laila
“oh
begitu ya. Yaudah deh” ujar Dodit
Intan
dan Laila pun akhirnya meninggalkan rumah Dodit. Ketika sampai rumah, Intan
danm Laila kaget ternyata Bu Sinta sedang menunggu mereka pulang Karena Ayah
dan Ibunya Intan sedang tidak ada di rumah.
“Assalamualaikum,
ada apa bu?” Tanya Laila
“Waalaikumsalam,
oh tidak ada apa-apa kok. Saya hanya ingin menanyakan kabar Intan apakah sudah
membaik atau belum?” Tanya Bu Sinta
“sudah
bu” jawab Intan dengan gerakan isyarat.
“
oh iya bu, kebetulan ada disini. Saya ingin memberitahukan Bu Sinta bahwa Intan
telah terdaftar menjadi peserta lomba
piano tingkat nasional bu. Saya harap ibu bisa datang untuk menonton penampilan
Intan bu” ujar Laila
“oh
tentu saja Laila, ibu akan datanmg untuk menonton penampilan Intan. Dan kamu
harus berikan yang terbaik Intan bagi kita semua, untuk hasilnya biar Allah
yang menentukan. Dan ibu pasti yakin kalau kamu akan menang diperlombaan kali
ini. Yasudah kalau beitu, ibu juga ingin pamit karena sudah malam juga. Dan
kamu Intan, Semangat! (sambil menggepalkan tangan ke atas)”Sahut Bu Sinta
Intan membalas dengan senyuman dan Bu Sinta pun pulang dengan
bangga Karena anak murid kesayangannya berani mengikuti lomba piano tingkat
nasional yang pastinya akan bertemu saingan yang susah-susah, tetapi karena Bu
Sinta tahu bakat memainkan piano yang Intan punya membuat hati Bu Sinta menjadi
tenang dan membuat Bu Sinta berpikiran bahwa Intan akan memenangi lombna
tersebut.
Hari demi hari
berganti seperti biasa, Intan tidak sekolah karena sekolah diliburkan yang
sedang ada pameran kesenian di sekolahnya. Hal itu mempermudah Intan untuk
terus berlatih. Intan berlatih setiap hari ditemani sahabatnya Dodit, dan Dodit
pun selalu menemani Intan sampai laila pulang ke rumah dan bergantian menemani
Intan belratih. Hingga pada saat hari lomba diadakan, Intan, Dodit, dan Laila
meminta persetujuan Ayah dan Ibu Intan. Untungnya Ayah dan Ibu Intan langsung
tersentuh hatinya oleh perjuangan anaknya Intan, dan akhirnya Ayah dan Ibu
Intan ikut melihat pertunjukkan yang ingin dipersembahkan Intan untuk lomba kali
ini.
Intan tiba pada
giliran terakhir, dan pada saat giliran terakhir tiba Intan sudah memprsiapkan
semuanya.
"Tiba pada giliran terakhir, peserta SMA
Harapan Jakarta, Intaaaan !" Seru pembaea acara.
Tepuk tangan
bergemuruh saat tahu bahwa Intan ingin melakukan pertunjukkan terakhir dan
mungkin akan menjadi yang terindah. Saat Intan memainkan piano, semuanya
menghayati lantunan nada yang dimainkan oleh Intan. Bahkan para juri ikut
menangis saat mendengar semua lantunan lagu tersebut. Di sana bukan hanya ada
Dodit, Laila, Ayah, dan Ibunya Intan saja, melainkan Bu sinta dan Bu Siska juga
ada di sana. Dan mereka semua ikut menangis.
Saat Intan selesai
memainkan pianonya, tepuk tanga penonton bergemuruh sangat ramai bahkan bisa
dibilang paling ramai diantara peserta berikutnya. Intan langsung kembali ke
belakang panggung dan menunggu saat pengumuman juara.
Tibalah saat
Pengumuman juara, Intan takut sekali dia tidak akan menang. Sebenarnya yang dia
inginkan adalah membuat bangga orang tuanyatua, bukan juara di lomba ini.
"Dan juara 1 jatuh kepada Intan SMA
Harapan Jakarta!" Seru pembaea acara
Intan menang dan
Intan mengambil piala tersebut serta melambai-lambai kepada Ayah dan Ibunya
serta kakaknya dan sahabatnya Dodit. Intan juga melambai terhadap Bu Sinta dan
Bu Siska yang juga ikut menonton.
Setelah semua
selesai, mereka berlima kembali pulang ke rumah beserta Dodit sekaligus.
"Ayah sangat bangga terhadapmu nak,
maafkan Ayah nak telah jahat kepadamu" ujar Ayahnya sambil memeluk Intan.
"Ibu juga minta maaf sayang, Ibu telah
meremehkan kamu. Ibu dan Ayah janji akan selalu menyayangimu nak sampai kami
mati" saut Ibunya sambil memeluknya juga
Akhirnya Ayah, Ibu,
Laila dan Intan hidup bahagia. Serta Erika, Ratih, dan Citra juga turut meminta
maaf dan mengakui kehebatan Intan. Mereka juga bangga karena memiliki teman
yang pintar memainkan piano. Dan akhirnya semuanya hidup dengan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar