Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Perjuangan Yang Indah

PERJUANGAN YANG INDAH
Karya : Bagas Lutvhi Andri

Intan adalah nama seorang siswi SMA Harapan yang mengalami gangguan pada pendengaran dan pembicaraan. Dia mengidap tuna rungu sejak dia lahir di bumi pertiwi. Dia memiliki kakak yang sangat menyayanginya , namanya adalah Laila. Laila adalah seorang kakak yang sangat baik dan segalanya bagi Intan, karena tidak ada yang memperdulikan Intan di rumahnya selain Laila. Ibu dan Bapak Intan sudah terlanjur malu karena memiliki seorang anak tuna rungu. Intan memiliki hobi bermain piano, sebagai anak tuna rungu Intan sangat ahli bermain piano dan juga sangat handal memainkan jari-jari manisnya diatas piano.

Kehidupan sehari-hari Intan tidak seperti siswa ataupun siswi lainya, dia tidak memiliki teman yang selalu menemaninya ketika istirahat telah dimulai atau disaat bermain. Hanya ada satu orang teman yang sangat peduli terhadap Intan dan sangat sayang terhadap Intan yaitu Dodit. Dodit adalah satu-satunya teman Intan yang sangat mengerti keadaan Intan, Dodit selalu menemani Intan apapun yang terjadi disaat Intan susah maupun senang.
Sekarang Intan sudah kelas XI jurusan IPA, berkat kepintarannya saat ujian pemilihan jurusan Intan mendapat peringkat 1 untuk jurusan IPA. Walaupun hampir semua teman Intan tidak menyukai Intan, ternyata para guru justru bertolak belakang. Para guru sangat senang terhadap prestasi belajar Intan yang dari kelas X sudah mendapat peringkat 1 bertahan di kelas maupun di sekolah. Bahkan Intan pernah ingin dijadikan tim inti cerdas cermat pada perlombaan tingkat DKI Jakarta, tetapi karena kekurangan dia yang tidak bisa mendengar dan berbicara dengan baik dia gagal menjadi tim inti. Intan memiliki 1 guru yang sangat ia sayangi dan ia hormati, begitu pula guru itu sangat menyayangi Intan juga yaitu Bu Sinta. Bu Sinta adalah wali kelas Intan selama sekolah di SMA Harapan.
Hari ini adalah hari pertama Intan masuk sekolah sejak liburan semester kedua. Sebenarnya dia tidak ingin kembali sekolah sejak masalah yang dibuat Erika, Ratih, dan Citra terhadapnya. Dia dikunci di toilet sekolah yang sudah tidak terpakai selama pelajaran berlangsung, sehingga para guru mengkhawatirkan Intan dan langsung mencari ke setiap sudut sekolah yang megah seluas 2 hektar tersebut. Hingga Bu Sinta menduga bahwa Intan ada di sebuah toilet yang sudah tidak terpakai, karena memang para guru belum mengecek ke tempat tersebut. Akhirnya para guru memutuskan untuk mengecek kebenaran itu, setelah pintu terbuka terlihatlah Intan seorang siswi kelas Xi-IPA-3 sedang terlihat ketakutan di tempat yang gelap sunyi sendirian. Bu Sinta kaget karena dugaan dia benar kalau Intan ada di toilet ini, lantas ia langsung menghampiri dan memeluk tubuh Intan yang sudah basa kuyup disiram oleh Erika, Ratih, dan Citra.
"Intan, apa yang terjadi pada mu nak?" Tanya Bu Sinta
Intan langsung menjelaskan kepada Bu Sinta dan para guru yang ada di toilet tersebut  dengan bahasa isyarat yang sudah dimengerti oleh para guru. Ia menjelaskan serinci-rincinya bahwa dia telah disiram dan dikunci di toilet ini oleh Erika, Citra , dan Ratih.
"Keterlaluan mereka Bu! ini tidak bisa dibiarkan saja, bisa-bisa besok Intan dilakukan seperti ini lagi jika kita tidak menindaklanjuti." Ujar Pak Amir salah satu guru yang ada di toilet tersebut
"Benar itu Bu Sinta, mereka harus dihukum dan kemudian mereka harus membuat surat pernyataan bahwa mereka tidak akan melakukan hal yang seperti ini lagi." Balas Bu Irma, guru yang sayang juga terhadap Intan
"Baik Bapak Ibu guru, saya akan melakukan hal tersebut. Saya akan menindaklanjuti kasus ini, terima kasih atas sarannya ya. Ayo Intan kita kembali ke kelas" sahut Bu Sinta dengan nada kesal.
Intan pun langsung menuruti perintah Bu Sinta, Intan langsung kembali ke kelas bersama Bu Sinta. Sesampainya di kelas Bu Sinta langsung meminta izin kepada Bu Siska yang sedang mengajar matematika di kelas tersebut untuk mengembalikan Intan kembali ke tempat duduknya dan memanggil Erika, Ratih, dan Citra agar mengikutinya ke ruang guru.
"Permisi Bu Siska. Saya ingin mengantarkan Intan ketempat duduknya dan memanggil Erika, Ratih, dan Citra untuk ikut dengan saya ke ruang guru" Pinta Bu Sinta
"Silahkan Bu Sinta" sahut Bu Siska
"Baik bu, Erika! Ratih! dan Citra! ikut saya" kata Bu Intan dengan nada marah
"Baik bu." Sahut mereka dengan ketakutan
Erika, Ratih, dan Citra segera mengikuti Bu Sinta sambil mengancam Intan. Sesampainya di ruang guru, mereka langsung dimarahi oleh Bu Sinta.
"Erika! Ratih! Citra! Apa kalian tahu, bahwa hal yang kalian lakukan hari ini adalah perbuatan yang sangat menyiksa teman kalian Intan? Kalau sampai Intan meninggal karena sesak nafas bagaimana? Toilet itu kan sudah berdebu, apa kalian mau tanggung jawab?" Bu Intan memarahi Erika, Ratih, dan Citra dengan nada tinggi.
"Intan bukan teman kami bu, dan kami juga gak akan mau lah tanggung jawab." Ujar Erika ketua geng tersebut.
"Iya bener tuh bu, lagian siapa suruh dia jadi gagu. Bener gak guys?" Sahut Citra dengan nada santai
"Cukup!" Bentak Bu Sinta.
Seketika ruangan itu menjadi hening dengan bentakan Bu Sinta yang bagaikan petasan di malam hari. Bentakan tersebut membuat Erika, Ratih, dan Citra menundukan kepala seperti siswa yang sedang takut akan kesalahan yang ia buat.
"Sudah cukup kalian membully Intan dengan sebutan "gagu". Jikalau Intan bisa memilih, Intan akan memilih untuk sama seperti kita, itu adalah kehendak Allah dan tidak ada yang bisa merubah dan menggangu gugat. Jika kalian merendahkan Intan seperti itu, itu sama saja kamu menghina pencipta mu. " jelas Bu Sinta
"Maafkan kami bu, kami tidak akan mengulanginya lagi deh." Sahut Ratih
"Iya bu maafkan kami" tambah Erika
"Ibu akan memaafkan kalian, jika kalian ingin membuat surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengganggu Intan lagi" Perintah Bu Intan
"Baik bu, kami akan membuatnya sekarang juga" ujar Citra
"Oke, kalian tulis di selembar kertas ini. Saya tunggu 15 menit" sahut Bu Intan
"Baik Bu Intan" sahut mereka dengan serempak
Setelah 15 menit kemudian, Erika, Ratih, dan Citra langsung mengumpulkan surat pernyataannya.
"Nih bu sudah selesai." Ketus Erika
"Ya sudah, kalian boleh kembali ke kelas kalian. Ingat, ini untuk yang terakhir kalinya kalian membuat masalah untuk membully Intan. Ibu tidak mau lagi ada kejadian seperti ini" ujar Bu Sinta
"Iya bu"ketus Ratih
Kejadian itulah yang membuat Intan tidak mau lagi kembali ke sekolah. Tapi apalah daya, Intan harus sekolah karena permintaan kak Laila agar Intan mencapai cita-citanya. Hari pertama di sekolah Intan menjalaninya dengan biasa. Belajar, bermain bersama Dodit dan bersenda gurau.
Bel waktu istirahat pertama telah berbunyi, semua siswa telah keluar ruangan kelas termasuk Intan dan Dodit. Ketika Intan dan Dodit sedang berjalan ke kantin, mereka menghampiri mading sekolah yang sedang dikelilingi oleh para siswa yang sedang membaca pengumuman lomba piano tingkat nasional yang akan diadakan pekan depan. Intan merasa sangat senang telah melihat pengumuman itu, dan dia akhirnya berpikir akan mengikuti lomba itu.
Saat di kantin, Intan dan Dodit makan bersama dan juga membahas ide Intan untuk mengikuti lomba piano tersebut. Akhirnya Dodit menyetujui dan mau membantu Intan untuk mengikuti lomba piano tersebut. Intan yang sangat senang langsung teriak kegirangan sampai-sampai menarik perhatian seisi kantin. Erika, Ratih, dan Citra yang sedang berada di kantin pun juga ikut memperhatikan Intan. Kemudian mereka memiliki ide gila lagi untuk kembali mengganggu Intan. Dan mereka bertiga pun mengampiri Intan dan Dodit yang sedang asyik makan.
"Hai gaguuuu!" Sapa Erika
Intan menjawab dengan gerakan isyarat yang berarti hai juga.
"Ngomong dong, orang diajak ngobrol juga, malah diem aja" ketus Ratih
"Kalian gak ada kapoknya ya, sudah di kasih sp juga masih aja mau mengganggu Intan." Balas Dodit
"Eh gendut diem aja deh lo" bentak Ratih
"Tau lo, emang lu bisa apa? Paling makan doang" saut Citra
"Ahahahahaha" mereka mentertawai Dodit
"Ihh kok disini bau banget asem sih, disini nih si Intan badanya bau banget, nih gua mandiin ya biar gak bau" kata Erika
Erika menyiram Intan dengan kuah sop yang Intan bawa hingga Intan merasa malu.
Sesaat kemudian, Bu Sinta sedang melihat kejadian tersebut dan menghampiri mereka semua.
"Erika! Ratih! Citra! apa kalian tidak ingat janji yang kalian buat diatas surat pernyataan semester 2 lalu? Kalian keterlaluan! ikut saya semuanya." Bentak Bu Sinta.
Mereka semua mengikuti Bu Sinta termasuk Intan dan Dodit. Mereka mengikuti Bu Sinta sampai ke ruang guru. Mereka diomeli oleh Bu Sinta kecuali Intan dan Dodit. Sementara Erika, Ratih, dan Citra kena marah oleh Bu Sinta, Intan membersihkan semua kotoran-kotoran yang menempel pada baju Intan dan dibantu oleh Dodit.
Setelah kena marah, mereka bertiga dihukum agar berdiri di depan tiang bendera dengan keadaan hormat bendera selama jam belajar berlangsung. Dan bu Sinta menelpon kak Laila kakaknya Intan agar menjemput Intan yang sedang syok karena dipermalukan.
Selama 30 menit menunggu, Laila datang ke ruang guru dan langsung berbicara terhadap Bu Sinta.
"Selamat pagi Bu, ada apa?" Tanya Laila
"Intan sedang syok karena dipermalukan di kantin oleh Erika, Ratih, dan Citra. Intan disiram oleh kuah sop yang Intan bawa dari rumah" jelas Bu Sinta
"Astagfirullah, Intan kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Laila
Intan menjawab dengan gerakan isyarat yang berarti saya tidak apa-apa. Dan itu melegakan hati Laila.
"Syukurlah, bagaimana sekarang Bu?" Tanya Laila
"Bawalah Intan pulang dan tenangkan dia" jelas Bu Sinta.
"Baiklah Bu, ayo Intan kita pulang sayang" saut Laila
Intan dan Laila pun pulang ke rumahnya sementara Dodit kembali belajar. Sesampainya di rumah, Ayah dan Ibu Intan sudah kesal mendengar berita yang diceritakan oleh Bu Sinta melalui telepon dan sedang menunggu kedatangan Intan agar segera menghukum Intan.
"Intan! Sudah berapa kali kamu membuat masalah? Apa kamu tidak kapok? Dasar anak gatau diri, bukannya membanggakan orang tua justru hanya membuat malu saja" bentak Ayah Intan
Mendengar perkataan Ayahnya, Intan langsung menangis tersedu-sedu di depan Ayahnya. Laila yang kasihan melihat Intan menangis, Laila langsung menghampiri dan memeluk Intan dan menenangkan Intan.
"Apa-apaan sih yah? Intan itu gak salah, dia lagi makan terus disiram pake lauknya, apakah itu salah Intan? Itu hanya salah temannya" jelas Laila
"Itu salah dia kenapa dia jadi gagu dan tuli Laila" bentak Ayahnya
"Sudahlah Laila kamu tidak perlu ikut campur. Sana masuk kamar" perintah Ibunya
"Enggak akan, Laila akan membela Intan disini sampai Ayah dan Ibu mau menyayangi Intan seperti Ayah dan Ibu menyayangi Laila" saut Laila
"Oke, Ayah dan Ibu akan menyayangi dia dengan satu syarat, Intan harus melakukan suatu yang membuat Ayah dan Ibu bangga" saut Ayahnya
Setelah berkata tersebut, Ayah dan Ibu Intan langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan kesal. Intan pun tenang karena ditenangkan oleh Laila.
"Sudah, sekarang kamu mandi habis itu tidur ya" perintah Laila
Intan menjawab dengan gerakan isyarat yang berarti iya kak. Intan mandi dengan pikiran kacau, Intan sedang memikirkan apakah dia bisa menang atau tidak jika dia mengikuti lomba piano tingkat nasional itu, sehingga Intan bisa membanggakan kedua orang tuanya. Setelah mandi, Intan membicarakan hal ini kepada Laila kakaknya. Intan menjelaskan semuanya dengan bahasa isyarat dan dengan pesona muka Intan yang penuh semangat. Laila sang kakak menjadi kagum akan kegigihan adiknya yang ingin membuat orang tuanya bangga, Ia pun menyetujui rencana Intan.
“kakak sangat bangga terhadap kegigihanmu saying, kakak menyetujui itu. Nanti sore kita daftar kesana dan besok kita mulai latihan okay?” ujar Laila

Okey jawaban Intan dengan gerakat isyarat.

“Sekarang kamu harus tidur, agar kamu tenang! Kalau gak tidur gak boleh ikut lomba loh.” Perintah Laila dengan senyum

Intan bagaikan kadet yang sedang berhadapa dengan atasannya, ia langsung memberi hormat sebagai tanda Ia akan pergi ke kamar untuk tidur. Setelah sampai kamar, Intan langsung tidur dengan hati senang sampai-sampai ia bangun telat jam 15:00, padahal pendaftaran ditutup jam, 16:00 . Intan pun langsung bergegas mandi dan langsung menghampiri kakaknya yang sedang berada di dalam mobil menanti kehadiran adiknya yang ingin mendaftar lomba.

“ayo Intan, kita harus bergegas sebentar lagi pendaftaran ditutup sayang” ujar Laila

Intan segera masuk ke mobil dan Laila melaju mobilnya dengan cepat hingga mereka sampai di lapangan tembak Cibubur  sebelum pendaftaran ditutup. Ketika sampai disana.

“pak, saya ingin mendaftarkan adik saya untuk mengikuti loma piano tingkat nasional” ujar Laila

“baiklah mba, silahkan isi formulirnya! Kemudian bayar uang pendaftaran senilai Rp. 100.000 mba” jelas petugas pendaftaran

“oh baiklah pak, saya akan menulis dan membayarnya” sahut Laila
Setelah Laila menulis dan membayar uang poendaftaran mereka pun mendapatkan kartu peserta lomba dan mereka pulang dengan sangat gembira. Tetapi mereka tidak langsung pulang, mereka hendak berkunjung ke rumah Dodit sahabat Intan untuk memberitahukan hal ini.

“Assalamualaikum Dodit!” salam Laila

“Waalaikumsalam, eh Kak Laila! Intan. Ada apa ini? Tanya Dodit

“jadi begini dit, Intan sudah mendaftar menjadi peserta lomba piano tingkat nasional dit, Intan ingin kamu menemaninya saat Ia latihan di rumah dit. Kebetulan juga besok kan libur tuh” ujar Laila

“oh begitu kak, okedeh kak (Sambil mengacungi jempol ke arah Intan dan Laila)” sahut Dodit

Intan pun membalas dengan mengacungi jempolnya juga dan tersenyum.
“baiklah, itu saja yang ingin kami sampaikan. Kami pamit pulang dulu ya sampai jumpa dit” ujar Laila

“loh gak mau mampir dulu kak?” Tanya Dodit

“enggak deh dit, kami pamit aja soalnya sudah hamper gelap juga” jawab Laila

“oh begitu ya. Yaudah deh” ujar Dodit

Intan dan Laila pun akhirnya meninggalkan rumah Dodit. Ketika sampai rumah, Intan danm Laila kaget ternyata Bu Sinta sedang menunggu mereka pulang Karena Ayah dan Ibunya Intan sedang tidak ada di rumah.

“Assalamualaikum, ada apa bu?” Tanya Laila

“Waalaikumsalam, oh tidak ada apa-apa kok. Saya hanya ingin menanyakan kabar Intan apakah sudah membaik atau belum?” Tanya Bu Sinta

“sudah bu” jawab Intan dengan gerakan isyarat.

“ oh iya bu, kebetulan ada disini. Saya ingin memberitahukan Bu Sinta bahwa Intan telah terdaftar menjadi  peserta lomba piano tingkat nasional bu. Saya harap ibu bisa datang untuk menonton penampilan Intan bu” ujar Laila

“oh tentu saja Laila, ibu akan datanmg untuk menonton penampilan Intan. Dan kamu harus berikan yang terbaik Intan bagi kita semua, untuk hasilnya biar Allah yang menentukan. Dan ibu pasti yakin kalau kamu akan menang diperlombaan kali ini. Yasudah kalau beitu, ibu juga ingin pamit karena sudah malam juga. Dan kamu Intan, Semangat! (sambil menggepalkan tangan ke atas)”Sahut Bu Sinta

Intan membalas dengan senyuman dan Bu Sinta pun pulang dengan bangga Karena anak murid kesayangannya berani mengikuti lomba piano tingkat nasional yang pastinya akan bertemu saingan yang susah-susah, tetapi karena Bu Sinta tahu bakat memainkan piano yang Intan punya membuat hati Bu Sinta menjadi tenang dan membuat Bu Sinta berpikiran bahwa Intan akan memenangi lombna tersebut.

Hari demi hari berganti seperti biasa, Intan tidak sekolah karena sekolah diliburkan yang sedang ada pameran kesenian di sekolahnya. Hal itu mempermudah Intan untuk terus berlatih. Intan berlatih setiap hari ditemani sahabatnya Dodit, dan Dodit pun selalu menemani Intan sampai laila pulang ke rumah dan bergantian menemani Intan belratih. Hingga pada saat hari lomba diadakan, Intan, Dodit, dan Laila meminta persetujuan Ayah dan Ibu Intan. Untungnya Ayah dan Ibu Intan langsung tersentuh hatinya oleh perjuangan anaknya Intan, dan akhirnya Ayah dan Ibu Intan ikut melihat pertunjukkan yang ingin dipersembahkan Intan untuk lomba kali ini.
Intan tiba pada giliran terakhir, dan pada saat giliran terakhir tiba Intan sudah memprsiapkan semuanya.
"Tiba pada giliran terakhir, peserta SMA Harapan Jakarta, Intaaaan !" Seru pembaea acara.
Tepuk tangan bergemuruh saat tahu bahwa Intan ingin melakukan pertunjukkan terakhir dan mungkin akan menjadi yang terindah. Saat Intan memainkan piano, semuanya menghayati lantunan nada yang dimainkan oleh Intan. Bahkan para juri ikut menangis saat mendengar semua lantunan lagu tersebut. Di sana bukan hanya ada Dodit, Laila, Ayah, dan Ibunya Intan saja, melainkan Bu sinta dan Bu Siska juga ada di sana. Dan mereka semua ikut menangis.
Saat Intan selesai memainkan pianonya, tepuk tanga penonton bergemuruh sangat ramai bahkan bisa dibilang paling ramai diantara peserta berikutnya. Intan langsung kembali ke belakang panggung dan menunggu saat pengumuman juara.
Tibalah saat Pengumuman juara, Intan takut sekali dia tidak akan menang. Sebenarnya yang dia inginkan adalah membuat bangga orang tuanyatua, bukan juara di lomba ini.
"Dan juara 1 jatuh kepada Intan SMA Harapan Jakarta!" Seru pembaea acara
Intan menang dan Intan mengambil piala tersebut serta melambai-lambai kepada Ayah dan Ibunya serta kakaknya dan sahabatnya Dodit. Intan juga melambai terhadap Bu Sinta dan Bu Siska yang juga ikut menonton.
Setelah semua selesai, mereka berlima kembali pulang ke rumah beserta Dodit sekaligus.
"Ayah sangat bangga terhadapmu nak, maafkan Ayah nak telah jahat kepadamu" ujar Ayahnya sambil memeluk Intan.
"Ibu juga minta maaf sayang, Ibu telah meremehkan kamu. Ibu dan Ayah janji akan selalu menyayangimu nak sampai kami mati" saut Ibunya sambil memeluknya juga

Akhirnya Ayah, Ibu, Laila dan Intan hidup bahagia. Serta Erika, Ratih, dan Citra juga turut meminta maaf dan mengakui kehebatan Intan. Mereka juga bangga karena memiliki teman yang pintar memainkan piano. Dan akhirnya semuanya hidup dengan damai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar