LAYLA
GOEBAHAN: FAISAL RIZKY
Perkenalkan, namaku adalah Dian.
Aku seorang mahasiswa fakultas ilmu komunikasi semester akhir di suatu universitas kenamaan di Bandung. Aku
juga seorang jurnalis di perusahaan koran harian di Bandung .Satu lagi sore
yang indah. Setelah menyelesaikan tugas tugas kuliahku, kurasa ini adalah waktu
ang tepat buatku untuk jalan jalan. Mumpung lagi di bandung, katanya sih
kualitas sepatu disini nomer wahid, jadi sekalian saja aku belanja. Langsung
kuarahkan mobilku ke arah sebuah mall di bilangan Bandung Selatan. Di perjalanan
kutemui banyak sekali perubahan di sini sejak terakhir kali ku kesini belasan
tahun lalu bersama ibuku. Seingatku dulu Bandung tak seramai ini, toko-toko
rumah, dan beberapa gedung baru menjamur di sepanjang jalan. Sampai pada suatu
jalan di dekat balai kota, aku melihat pemandangan yang bahkan lebih
mengejutkan dari perubahan di kota ini.
Gadis itu... benarkah itu dia? Segera ku pelankan mobilku untuk
memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Gadis urakan yang duduk di pelataran toko
baju itu... bukankah dia anak yang terusir dari desa Sukasari tiga tahun lalu?
Bagaiamana mungkin seorang gadis kecil pergi sejauh ini dan
merubahpenampilannya begitu rupa? Seingatku dulu dia adalah gadis kecil
yang imut dengan mata indah coklat, rambut sebahu, baju cerah dan celana pink
yang selalu dipakainya. Walau sederhana, penampilannya selalu mampu membuat
setiap orang betah memandangnya. Tapi
ini, rambut kasar, baju kemeja longgar, dan celana jeans ketat yang
dipandangnya sama sekali tak menggambarkan dirinya saat itu. Namun kuyakin,
gadis itu adalah dia. Mata indah coklatnya tak bisa bohong, dia Layla...
“Layla?
Kaukah itu?” hening , Layla tampak sama sekali tak menyangka kedatanganku.
Dia langsung berdiri dan berjalan meninggalkanku. Aku mengejarnya
”Layla, aku yakin kamu Layla kan?” hening sejenak, wajahnya tampak tak suka
“ya, aku Layla, dan aku yakin kau penduduk ‘desa Sukasari kan!? Masih belum
puas kalian melihatku menderita!?”
seketika aku tertegun, ingatan tentang peristiwa itu muncul kembali di
pikirankaku seakan peristiwa itu baru terjadi kemarin sore.
*
Desa Sukasari, Kuningan 3 tahun lalu
Hari
seharusnya merupakan hari yang bahagia untuk Layla. Genap sudah usianya
semenjak ia lahir melihat dunia tepat 6 tahun lalu pada tanggal 30 Desember
1998. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ibunya padaku. Aku sempat
berbincang dengannya dulu. Namanya Sarah, ia adalah wanita yang sangat cantik
dengan mata indahnya. Dari situ aku yakin kecantikan Layla berasal darinya. Usianya
masih muda untuk ukuran seorang ibu. Mungkin kurang lebih hanya terpaut dua
atau tiga tahun denganku. Dia bilang padaku kalau dia sangat menyesal dengan
kehidupan kelamnya di masa lalu. Sarah terjerumus pergaulan bebas, mantan
pacarnya menghamilinya lalu pergi begitu saja, lari dari tanggung jawab. Dia
sangat kesal waktu itu. Sempat terlintas di benaknya untuk menggugurkan Layla
dulu, namun tak sampai hati Sarah melakukannya, tak sanggup dia. Saat Layla
lahir, Sarah bilang padaku kalau Layla sering kali menjadi korban kekesalannya
pada mantan pacarnya yang bernama Rio itu. Sarah juga bilang padaku, ia
sebenarnya sangat kasihan dengan anaknya. Namun apa boleh buat, amarahnya kepada Rio memenghantui diriku
sepanjang waktu. Dia juga bilang dia sudah tak sanggup mendengar celotehan dan
cemoohan dari orang orang, “ingin mati saja aku rasanya...” itulah kata yang
terakhir kudengar darinya sebelum langsung meninggalkanku hari itu. Dan benar
saja, seminggu setelah perbincanganku padanya, Sarah dikabarkan meninggal
overdosis di pelataran toko. Layla tak pernah benar benar tau hal tersebut.
Yang dia tau ibunya sedang ke luar kota mencari pekerjaan yang layak untuk
biaya hidup mereka. Warga desa sepakat untuk tetap merahasiakannya dari Layla.
Sampai
sekarang dia belum pernah merasakan yang namanya perayaan ulang tahun untuk
dirinya. Ingin saja rasanya sesekali aku bertemu dan makan bersamanya di hari spesialnya.
Namun, tiap kali aku bertemu dengannya, Layla selalu saja dalam keadaan
bermasalah dengan orang orang di desa. Tak ada hentinya ia berbuat onar di desa
dari memecahkan vas bunga, menggores mobil warga, hingga mencungkil mata kucing
kesayangan mbak Kasmi. Layla bukanlah anak yang senang berbicara, ia lebih
memilih untuk membuat banyak masalah sekan itulah satu satunya cara
berkomunikasi dengan orang orang di sekitarnya. Mungkin itu hanya karena ia
belum pernah merasakan dan tau apa itu cinta dan kasih sayang apalagi cara
berkomunikasi dengan bai terhadap orang lain. Namun, apa pun itu Layla tetap
berhak memperoleh kebahagiaan sama seperti anak anak seusianya.
Ironis...
mungkin itulah kata kata yang bisa menggambarkan situasi hari itu. Bukannya
mendapat kado dan ucapan selamat dari teman temanya, hari itu justru warga desa
membicarakan topik lain berhubungan dengan Layla.
“saya ngggak mau tau, ‘bocah setan’
itu harus segera keluar dari desa ini atau saya yang akan memaksanya keluar dengan
tangan saya sendiri! Tuh liat, guci kesayangan saya pecah gara gara bocah
sialan itu.” bu Amel dengan mata melotot berkoar sambil menunjuk-nunjuk potogan
keramik yang sudah tak berbentuk.
“sama bu, tanaman sama pot saya juga
pada rusak gara-gara dia. Belum lagi anaknya bu Kasmi yang ga berhenti nangisin
kondisi kucingnya yang sekarang cacat” bu Doni menimpali
“tuh liat kan!? Saya rasa semua warga
disini pernah kecipratan masalah dari ‘bocah setan’ itu! Udahlah daripada
pusing-pusing, kita langsung usir aja dia dari sin. Lagipula baik uang kas
daerah kita digunakan untuk membantu korban tsunami Aceh..! Setuju???”
“setujuuu!!!”sebagian besarwarga
menimpali perkataan bu Amel dengan nada setuju, sebagian yang lain hanya
berbisik-bisik dan mengangguk-ngangguk, kecuali saya.
“tidak bisa begitu dong bu, Layla itu
anak kecil, wajarlah kalau dia nakal. Lagipula dia begitu karena dia tidak
penah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, dan saya rasa kalian semua tau
itu kan? Dan lagi, terkait sumbangan dana untuk Aceh. Uang 200.000 per bulan
tidak ada hubungannya dengan sumbangan dana untuk Aceh. Sumbangan untuk Aceh
adalah sumbangan wajib bagi setiap warga,sedangkan uang untuk Layla hanya
berasal dari simpanan kas daerah yang memang diperuntukkan kepada orang-orang
seperti Layla!” saya tak kalah bersemangat menyuarakan hak Layla. Tapi apa
boleh buat,saya sendiri dan mereka semua setuju dengan provokasi picik dari bu
Amel yang berhasil menghipnotis seluruh warga. Ditambah lagi pak Lurah memang
sedang sibuk mengurusi dana sumbangan untuk
Aceh sehingga tidak bisa hadir menengahi
perdebatan disini. Alhasil, warga sepakat untuk mengeluarkan Layla dari
desa Sukasari. Aku pergi.
Di perjalanan menuju rumah, aku lihat
Layla sedang duduk di bawah pohon mangga di taman tak jau dari rumahku. Angin
semilir yang berhembus sore itu membuat dedaunan seakan sedang menari-nari di
atas kepala mungil Layla yang sedang memandangi sesuatu yang memang sering
terlihat di taman itu: Piknik Keluarga. Ia memandangi keluarga dengan dua ana
yang sedang bertukar cerita diselingi dengan canda dan tawa diantara mereka.
Kucoba untuk menghampirinya, mungkin aku
bisa lebih akrab dengannya.
“hai Layla...” hening... dia
mengabaikanku. Sama sekali bukan reaksi yang kuharapkan. Aku tak menyerah
sampai disitu “sedang apa kau disini?” melirikku sebentar “menurutmu?” datar.
Jujur saja, reaksi yang ia tunjukkan saat itu benar-benar membuatku kesal.
Ingin saja aku meninggalkannya, tapi aku harus kuat, mungkin ini adalah hari
terahirku bisa bertemu dengannya. Aku harus tetap tenang.
“baiklah, nampaknya kau memang tak
suka basa-basi ya” aku duduk disampingnya “melihat keluarga yang seang piknik adalah
hal yang tidak biasa buatku, apa sih yang sebenarnya kamu lihat?” aku mentapnya
dengan penuh rasa ingin tahu.
“keluarga itu, kenapa sih mereka
senang sekali pergi kesini bersama?” Layla menopang wajah mungilnya dengan
tangan
. “disini suasananya sangat indah
Layla, itulah sebabnya mereka kesini. Mereka ingin menikmati keindahan taman
ini bersama orang-orang yang dicintai” kali ini, dia menyimak kata-kataku.
“cinta” Layla terlihat sedang mencerna
kata-kataku barusan. Lalu bertanya “apa itu cinta?”
Aku mengernyitkan dahi, mengumpulkan
dan menimang-nimang kata-kata yang tepat untuk pertanyaan itu. “ hmm, cinta
adalah kecenderungan perasaan untuk
memberikan sesuatu kepada seseorang tanpa mengharapkan balasan dari orang yang
dicintai.
Ia membalas ”tanpa mengaharapkan
balasan? Lalu untuk apa cinta itu jika tak mendapat apa-apa?” Layla kali ini
makin serius
“cinta membuat kita bisa bertahan di
tengah ketidak pastian, dan menebarkannya membuat hidup kita lebih berwarna”
kali ini aku menjawabnya begitu saj tanpa ragu. Layla mengangguk-angguk saja.
“oiya, aku hampir lupa. Aku membawaka
coklat ini untukmu” aku menyodorkan coklat batangan kepadanya.
Dia terlihat antusias “wah, aku senang
sekali.. aku mau” dia langsug mengambil coklat yang ada di genggamanku, lalu
bertanya “dengan apa aku harus membalasnya?”
Aku tersenyum “tidak ada Layla, kau
tak perlu menggantinya”
Layla mengangkat alisnya “jadi, ini
untuk bertahan di tengah ketidakpastian atau sekedar untuk membuat hidupmu
lebih berwarna?”
Aku tertawa lepas “pintar sekali
Layla, mungkin aku akan jawab keduanya. Setidaknya aku tau kau benar-benar
menyimak kata-kataku” aku kembali tertawa memngingat pertanyaan Layla,
pertanyaan yang cerdas dari anak seusianya. Layla hanya tersenyum melihatku
tertawa. Sungguh sepotong sore yang sempurna.
Keesokan harinya adalah hari yang amat
menyedihkan bagiku. Layla tidak ada dirumahnya, ia juga tidak terlihat di
taman. Aku mencarinya ke mana-mana, namun hasilnya nihil. Layla sudah
dikeluarkan dari desa tanpa sepengetahuanku sama sekali. Sepertinya mereka
memang sengaja menyembunyikannya dariku. Mereka tahu kalau aku adalah orang yang
tak setuju dengan pengusirannya dari desa. Aku bahkan tak mendapat kesempatan
untuk memberika ucapan selamat tinggal untuknya. Pak Lurah bilang dia sudah
ditempatkan di suatu tempat di Bandung. Dia tidak menyebutkannya secara rinci
tapi pak Lurah juga bilang Layla akan baik-baik saja, setidaknya itu sedikit
menenangkan peraaanku saat itu. Sejak saat itu, bayangan Layla selal membayangiku
di setiap malam.
*
“sudahlah, kau kira aku akan percaya
begitu saja dengan omonganmu?” Setelah kujelaskan kejadian yang sesungguhnya
tiga tahun lalu, Layla masih terlihat tak mau menerimanya.
“baiklah, kurasa ini tak akan mudah.
Bagaimana jika kita membicarakan ini di apartemenku saja? Kurasa itu akan lebih
baik. Oiya, kebetulan aku masih punya ini. Mungkin kau mau” kusodorkan coklat
batang yang kubeli tadi pagi. Ini seperti deja vu suasana tiga tahun yang lalu.
Hanya saja, bedanya sekarang suasananya
lebih ramai disini.
“baiklah jika ini untuk coklat, aku
mau” seperti tiga tahun lalu, dia menerimanya. Aku tersenyum menatapnya. Namun,
dia mengalihkan pandangannya ke gedung-gedung di pusat kota. Aku percaya, ini
hanya masalah proses.
Setelah berbincang cukup lama di
apartemen, aku menawarkannya untuk tinggal bersamaku. Dia awalnya menolak
tawaranku itu, namun seperti saat pertemuanku dengannya di pelataran toko, dia
akhirnya memerima tawaranku. Aku sangat senang mendengarnya, dan seperti kata
kataku barusan, ini hanyalah masalah proses.
Seiring waktu berjalan, aku sangat
senang melihat perkembangan Layla dari waktu ke waktu. Setelah dua tahun
berlalu bersamaku, kali ini penampilan Layla telah kembali seperti Layla yang
aku tau dulu, dan walaupun sikap cuek dan tak suka diaturnya masih sering
kutemui aku masih bisa meneimamnya.
Layla adalah anak yang cerdas,
khususnya di bidang sastra. Dia sangat suka membaca dan menulis. Dulu aku melihatnya sebagai anak pendiam yang
pandai berkelit saat dimarahi oleh warga desa. Sekarang dia tak hanya pandai
berkata-kata, dia sangat piawai saat menuangkan kata-katanya menjadi bait bait
puisinya yang sering kulihat di meja tempatnya biasa membaca dan menulis.
Namun diblik tulisan-tulisannya yang
indah itu, ada yang membuat hatiku lebih terenyuh. Kebanyakan dari tulisannya
itu bertemakan cinta, kasih sayang, dan ibu. Bahkan sebenarnya selama ini dia
tidak hanya menulis puisi, dia ternyata juga menulis surat surat yang ditujukan
kepada ibunya. Disitu dia bilang, dia sangat merindukan ibunya yang tak pernah
memberi kabar.
Aku mencoba
menanyakan kepadanya soal surat yang ditujukan untuk ibunya itu. Dia menjawab
“aku hanya rindu kepada ibuku, setiap sore aku melihat anak anak lain berjalan
beriringan dengan orangtuanya. Saat mereka jatuh dan terluka, ibunyalah yang
pertama memeluk dan menghampirinya. Tapi aku? Aku tak pernah merasakan pelukan
hangat dari sang ibu. Bahkan di saat aku sedih, ibukulah yang seharusnya datang
menenangkanku bukan kau” Layla terisak
“Layla,
mungkin ibumu hanya tak tau harus
berbuat apa. Tapi kuyakin ibumu pasti sangat mencintaimu, Layla” aku berusaha
meredam kesedihannya
“omong
kosong!” teriakannya memecahkan kesunyian.” Semua yang kau katakan tentang
cinta benar-benar omong kosong yang memuakkan! Aku sama sekali menemukan
kebenaran kata-katamu itu! Bahkan aku semakin yakin, cinta itu tidak benar
benar ada!tidak ada! Teriakannya semakin keras.
Aku harus
tetap tenang ,“Layla, tidak semua pertanyaan bisa terjawab dalam waktu singkat.
Terkadang kebenaran sejati akan didapat melalui perjalanan panjang. Tapi kau
harus yakin, ini hanya masalah waktu, Layla”
“sudahlah,
kau hanya buang-buang waktu, Citra. Kenapa kau tidak sebarkan saja surat yang
kubuat untuk ibuku itu ke koran jika kau memang benar-benar ingain membantuku”
Aku
menimbang-nimbang jawaban yang tepat untuk Layla. Aku tau kalau ibunya sudah meninggal, jika aku
beritahu dia saat ini, jelas itu bukan keputusan yang tepat. Jadi aku hanya
mengiyakan permintaannya tersebut.
Telah dua
minggu surat Layla untuk ibunya tak kunjung mendapat tanggapan apapun dari
orang yang diharapkan Layla. Aku sudah tau hal ini akan terjadi, tapi Layla
tampak sangat terpukul dengan situasi ini. Namun dia sudah lebih bisa
mengontrol emosinya lebih baik. Dia menyuruhku untuk menghentikan pemuatan
surat Layla untuk ibunya di koran.
Di sisi lain
aku endapatkan kabar dari atasanku di perusahaan surat kabar kalau surat-surat
Layla yang kumuat setiap hari membuat penjualan koran makin meningkat dari hari
ke hari. Aku lalu menjelaskan kepada atasanku keadaan sebenarnya. Dia
memahaminya dan ak mempermasalahkan jika Layla memang sudah tak mau suratnya di
sebar lagi.
Di apartemen,
aku menemukan Layla yang sedang menulis. Saat kuperhatikan, dia ternyata sedang
membuat cerita tentang kehidupannya yang penuh kesedihan. Menurutnya,
menuliskan kisahnya menjadi tulisan membuatnya lebih baik daripada jika dia
mengeluhkan kesedihannya. Aku sangat senang dengan pernyataan itu. Kata-katanya
terdengar lebih dewasa dari umurnya sesungguhnya.
Seminggu
kemudian tulisan Layla sudah selesai. Aku membaca 214 halaman bukunya dalam dua
hari. Aku terkesan dengan cara penulisannya yang alami namun menyentuh. Aku
memutuskan untuk menawarkan bukunya ke salah satu penerbit yang aku ketahui.
Aku yakin, bukunya bisa diterima banyak orang.
Tidak butuh
waktu lama, aku mendapat kabar dari pihak penerbit bahwa mereka sudah siap
menerbitkan buku Layla yang ia beri judul “cinta dan fatamorgana”. Aku segera
mengabarkannya kepada Layla. Dia terlihat antusias, dia senang akan bisa
berbagi cerita dengan orang-orang
melalui bukunya.
Akhirnya,
setelah 2 minggu bukunya beredar, buku “cinta dan fatamorgana mampu menembus
posisi “best seler” di toko-toko buku yang memuat bukunya. Dengan kenyataan
yang saya lihat ini, saya yakin
penerbitan bukunya ini akan memnjadi titik balik kehidupan Layla yang akan bisa
menerima kenyataan dalam perjalanan hidupnya.
Ada sesuatu yang menarik dari buku “cinta dan
fatamorgana” karya Layla. Dia menyisipkan sebuah kata-kata di awal bukunya
sebagai epilog. Di akhir cerita saya mengutip kata-kata dari Layla dari buku
petamanya:
“cinta adalah fatamorgana,
suatu saat kita akan menyadari itu tak pernah
benar benar ada
namun kita harus tahu,
cinta membuat kita mempu bertahan di tengah
gurun ketidakpastian”
-LAYLA-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar