Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Layla

LAYLA
GOEBAHAN:  FAISAL RIZKY

Perkenalkan, namaku adalah Dian. Aku seorang mahasiswa fakultas ilmu komunikasi semester akhir  di suatu universitas kenamaan di Bandung. Aku juga seorang jurnalis di perusahaan koran harian di Bandung .Satu lagi sore yang indah. Setelah menyelesaikan tugas tugas kuliahku, kurasa ini adalah waktu ang tepat buatku untuk jalan jalan. Mumpung lagi di bandung, katanya sih kualitas sepatu disini nomer wahid, jadi sekalian saja aku belanja. Langsung kuarahkan mobilku ke arah sebuah  mall  di bilangan Bandung Selatan. Di perjalanan kutemui banyak sekali perubahan di sini sejak terakhir kali ku kesini belasan tahun lalu bersama ibuku. Seingatku dulu Bandung tak seramai ini, toko-toko rumah, dan beberapa gedung baru menjamur di sepanjang jalan. Sampai pada suatu jalan di dekat balai kota, aku melihat pemandangan yang bahkan lebih mengejutkan dari perubahan di kota ini.

                Gadis itu... benarkah itu dia?  Segera ku pelankan mobilku untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat.  Gadis urakan yang duduk di pelataran toko baju itu... bukankah dia anak yang terusir dari desa Sukasari tiga tahun lalu? Bagaiamana mungkin seorang gadis kecil pergi sejauh ini dan merubahpenampilannya begitu rupa? Seingatku dulu dia adalah gadis kecil yang imut dengan mata indah coklat, rambut sebahu, baju cerah dan celana pink yang selalu dipakainya. Walau sederhana, penampilannya selalu mampu membuat setiap orang betah  memandangnya. Tapi ini, rambut kasar, baju kemeja longgar, dan celana jeans ketat yang dipandangnya sama sekali tak menggambarkan dirinya saat itu. Namun kuyakin, gadis itu adalah dia. Mata indah coklatnya tak bisa bohong,   dia Layla...
                “Layla? Kaukah itu?” hening , Layla tampak sama sekali tak menyangka  kedatanganku.  Dia langsung berdiri dan berjalan meninggalkanku. Aku mengejarnya ”Layla, aku yakin kamu Layla kan?” hening sejenak, wajahnya tampak tak suka “ya, aku Layla, dan aku yakin kau penduduk ‘desa Sukasari kan!? Masih belum puas kalian melihatku  menderita!?” seketika aku tertegun, ingatan tentang peristiwa itu muncul kembali di pikirankaku seakan peristiwa itu baru terjadi kemarin sore.

*

Desa Sukasari, Kuningan 3 tahun lalu
                Hari seharusnya merupakan hari yang bahagia untuk Layla. Genap sudah usianya semenjak ia lahir melihat dunia tepat 6 tahun lalu pada tanggal 30 Desember 1998. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ibunya padaku. Aku sempat berbincang dengannya dulu. Namanya Sarah, ia adalah wanita yang sangat cantik dengan mata indahnya. Dari situ aku yakin kecantikan Layla berasal darinya. Usianya masih muda untuk ukuran seorang ibu. Mungkin kurang lebih hanya terpaut dua atau tiga tahun denganku. Dia bilang padaku kalau dia sangat menyesal dengan kehidupan kelamnya di masa lalu. Sarah terjerumus pergaulan bebas, mantan pacarnya menghamilinya lalu pergi begitu saja, lari dari tanggung jawab. Dia sangat kesal waktu itu. Sempat terlintas di benaknya untuk menggugurkan Layla dulu, namun tak sampai hati Sarah melakukannya, tak sanggup dia. Saat Layla lahir, Sarah bilang padaku kalau Layla sering kali menjadi korban kekesalannya pada mantan pacarnya yang bernama Rio itu. Sarah juga bilang padaku, ia sebenarnya sangat kasihan dengan anaknya. Namun apa boleh buat,  amarahnya kepada Rio memenghantui diriku sepanjang waktu. Dia juga bilang dia sudah tak sanggup mendengar celotehan dan cemoohan dari orang orang, “ingin mati saja aku rasanya...” itulah kata yang terakhir kudengar darinya sebelum langsung meninggalkanku hari itu. Dan benar saja, seminggu setelah perbincanganku padanya, Sarah dikabarkan meninggal overdosis di pelataran toko. Layla tak pernah benar benar tau hal tersebut. Yang dia tau ibunya sedang ke luar kota mencari pekerjaan yang layak untuk biaya hidup mereka. Warga desa sepakat untuk tetap merahasiakannya dari Layla.
                Sampai sekarang dia belum pernah merasakan yang namanya perayaan ulang tahun untuk dirinya. Ingin saja rasanya sesekali aku bertemu dan makan bersamanya di hari spesialnya. Namun, tiap kali aku bertemu dengannya, Layla selalu saja dalam keadaan bermasalah dengan orang orang di desa. Tak ada hentinya ia berbuat onar di desa dari memecahkan vas bunga, menggores mobil warga, hingga mencungkil mata kucing kesayangan mbak Kasmi. Layla bukanlah anak yang senang berbicara, ia lebih memilih untuk membuat banyak masalah sekan itulah satu satunya cara berkomunikasi dengan orang orang di sekitarnya. Mungkin itu hanya karena ia belum pernah merasakan dan tau apa itu cinta dan kasih sayang apalagi cara berkomunikasi dengan bai terhadap orang lain. Namun, apa pun itu Layla tetap berhak memperoleh kebahagiaan sama seperti anak anak seusianya.
                Ironis... mungkin itulah kata kata yang bisa menggambarkan situasi hari itu. Bukannya mendapat kado dan ucapan selamat dari teman temanya, hari itu justru warga desa membicarakan topik lain berhubungan dengan Layla.
“saya ngggak mau tau, ‘bocah setan’ itu harus segera keluar dari desa ini atau saya yang akan memaksanya keluar dengan tangan saya sendiri! Tuh liat, guci kesayangan saya pecah gara gara bocah sialan itu.” bu Amel dengan mata melotot berkoar sambil menunjuk-nunjuk potogan keramik yang sudah tak berbentuk.
“sama bu, tanaman sama pot saya juga pada rusak gara-gara dia. Belum lagi anaknya bu Kasmi yang ga berhenti nangisin kondisi kucingnya yang sekarang cacat” bu Doni menimpali
“tuh liat kan!? Saya rasa semua warga disini pernah kecipratan masalah dari ‘bocah setan’ itu! Udahlah daripada pusing-pusing, kita langsung usir aja dia dari sin. Lagipula baik uang kas daerah kita digunakan untuk membantu korban tsunami Aceh..! Setuju???”
“setujuuu!!!”sebagian besarwarga menimpali perkataan bu Amel dengan nada setuju, sebagian yang lain hanya berbisik-bisik dan mengangguk-ngangguk, kecuali saya.
“tidak bisa begitu dong bu, Layla itu anak kecil, wajarlah kalau dia nakal. Lagipula dia begitu karena dia tidak penah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, dan saya rasa kalian semua tau itu kan? Dan lagi, terkait sumbangan dana untuk Aceh. Uang 200.000 per bulan tidak ada hubungannya dengan sumbangan dana untuk Aceh. Sumbangan untuk Aceh adalah sumbangan wajib bagi setiap warga,sedangkan uang untuk Layla hanya berasal dari simpanan kas daerah yang memang diperuntukkan kepada orang-orang seperti Layla!” saya tak kalah bersemangat menyuarakan hak Layla. Tapi apa boleh buat,saya sendiri dan mereka semua setuju dengan provokasi picik dari bu Amel yang berhasil menghipnotis seluruh warga. Ditambah lagi pak Lurah memang sedang sibuk mengurusi dana sumbangan  untuk Aceh sehingga tidak bisa hadir menengahi  perdebatan disini. Alhasil, warga sepakat untuk mengeluarkan Layla dari desa Sukasari. Aku pergi.
Di perjalanan menuju rumah, aku lihat Layla sedang duduk di bawah pohon mangga di taman tak jau dari rumahku. Angin semilir yang berhembus sore itu membuat dedaunan seakan sedang menari-nari di atas kepala mungil Layla yang sedang memandangi sesuatu yang memang sering terlihat di taman itu: Piknik Keluarga. Ia memandangi keluarga dengan dua ana yang sedang bertukar cerita diselingi dengan canda dan tawa diantara mereka. Kucoba untuk menghampirinya, mungkin aku  bisa lebih akrab dengannya.
“hai Layla...” hening... dia mengabaikanku. Sama sekali bukan reaksi yang kuharapkan. Aku tak menyerah sampai disitu “sedang apa kau disini?” melirikku sebentar “menurutmu?” datar. Jujur saja, reaksi yang ia tunjukkan saat itu benar-benar membuatku kesal. Ingin saja aku meninggalkannya, tapi aku harus kuat, mungkin ini adalah hari terahirku bisa bertemu dengannya. Aku harus tetap tenang.
“baiklah, nampaknya kau memang tak suka basa-basi ya” aku duduk disampingnya “melihat keluarga yang seang piknik adalah hal yang tidak biasa buatku, apa sih yang sebenarnya kamu lihat?” aku mentapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“keluarga itu, kenapa sih mereka senang sekali pergi kesini bersama?” Layla menopang wajah mungilnya dengan tangan
. “disini suasananya sangat indah Layla, itulah sebabnya mereka kesini. Mereka ingin menikmati keindahan taman ini bersama orang-orang yang dicintai” kali ini, dia menyimak kata-kataku.
“cinta” Layla terlihat sedang mencerna kata-kataku barusan. Lalu bertanya “apa itu cinta?”
Aku mengernyitkan dahi, mengumpulkan dan menimang-nimang kata-kata yang tepat untuk pertanyaan itu. “ hmm, cinta adalah kecenderungan perasaan  untuk memberikan sesuatu kepada seseorang tanpa mengharapkan balasan dari orang yang dicintai.
Ia membalas ”tanpa mengaharapkan balasan? Lalu untuk apa cinta itu jika tak mendapat apa-apa?” Layla kali ini makin serius
“cinta membuat kita bisa bertahan di tengah ketidak pastian, dan menebarkannya membuat hidup kita lebih berwarna” kali ini aku menjawabnya begitu saj tanpa ragu. Layla mengangguk-angguk saja.
“oiya, aku hampir lupa. Aku membawaka coklat ini untukmu” aku menyodorkan coklat batangan kepadanya.
Dia terlihat antusias “wah, aku senang sekali.. aku mau” dia langsug mengambil coklat yang ada di genggamanku, lalu bertanya “dengan apa aku harus membalasnya?”
Aku tersenyum “tidak ada Layla, kau tak perlu menggantinya”
Layla mengangkat alisnya “jadi, ini untuk bertahan di tengah ketidakpastian atau sekedar untuk membuat hidupmu lebih berwarna?”
Aku tertawa lepas “pintar sekali Layla, mungkin aku akan jawab keduanya. Setidaknya aku tau kau benar-benar menyimak kata-kataku” aku kembali tertawa memngingat pertanyaan Layla, pertanyaan yang cerdas dari anak seusianya. Layla hanya tersenyum melihatku tertawa. Sungguh sepotong sore yang sempurna.

Keesokan harinya adalah hari yang amat menyedihkan bagiku. Layla tidak ada dirumahnya, ia juga tidak terlihat di taman. Aku mencarinya ke mana-mana, namun hasilnya nihil. Layla sudah dikeluarkan dari desa tanpa sepengetahuanku sama sekali. Sepertinya mereka memang sengaja menyembunyikannya dariku. Mereka tahu kalau aku adalah orang yang tak setuju dengan pengusirannya dari desa. Aku bahkan tak mendapat kesempatan untuk memberika ucapan selamat tinggal untuknya. Pak Lurah bilang dia sudah ditempatkan di suatu tempat di Bandung. Dia tidak menyebutkannya secara rinci tapi pak Lurah juga bilang Layla akan baik-baik saja, setidaknya itu sedikit menenangkan peraaanku saat itu. Sejak saat itu, bayangan Layla selal membayangiku di setiap malam.


*

“sudahlah, kau kira aku akan percaya begitu saja dengan omonganmu?” Setelah kujelaskan kejadian yang sesungguhnya tiga tahun lalu, Layla masih terlihat tak mau menerimanya.
“baiklah, kurasa ini tak akan mudah. Bagaimana jika kita membicarakan ini di apartemenku saja? Kurasa itu akan lebih baik. Oiya, kebetulan aku masih punya ini. Mungkin kau mau” kusodorkan coklat batang yang kubeli tadi pagi. Ini seperti deja vu suasana tiga tahun yang lalu. Hanya saja,  bedanya sekarang suasananya lebih ramai disini.
“baiklah jika ini untuk coklat, aku mau” seperti tiga tahun lalu, dia menerimanya. Aku tersenyum menatapnya. Namun, dia mengalihkan pandangannya ke gedung-gedung di pusat kota. Aku percaya, ini hanya masalah proses.
Setelah berbincang cukup lama di apartemen, aku menawarkannya untuk tinggal bersamaku. Dia awalnya menolak tawaranku itu, namun seperti saat pertemuanku dengannya di pelataran toko, dia akhirnya memerima tawaranku. Aku sangat senang mendengarnya, dan seperti kata kataku barusan, ini hanyalah masalah proses.
Seiring waktu berjalan, aku sangat senang melihat perkembangan Layla dari waktu ke waktu. Setelah dua tahun berlalu bersamaku, kali ini penampilan Layla telah kembali seperti Layla yang aku tau dulu, dan walaupun sikap cuek dan tak suka diaturnya masih sering kutemui aku masih bisa meneimamnya.
Layla adalah anak yang cerdas, khususnya di bidang sastra. Dia sangat suka membaca dan menulis.  Dulu aku melihatnya sebagai anak pendiam yang pandai berkelit saat dimarahi oleh warga desa. Sekarang dia tak hanya pandai berkata-kata, dia sangat piawai saat menuangkan kata-katanya menjadi bait bait puisinya yang sering kulihat di meja tempatnya biasa membaca dan menulis.
Namun diblik tulisan-tulisannya yang indah itu, ada yang membuat hatiku lebih terenyuh. Kebanyakan dari tulisannya itu bertemakan cinta, kasih sayang, dan ibu. Bahkan sebenarnya selama ini dia tidak hanya menulis puisi, dia ternyata juga menulis surat surat yang ditujukan kepada ibunya. Disitu dia bilang, dia sangat merindukan ibunya yang tak pernah memberi kabar.
                Aku mencoba menanyakan kepadanya soal surat yang ditujukan untuk ibunya itu. Dia menjawab “aku hanya rindu kepada ibuku, setiap sore aku melihat anak anak lain berjalan beriringan dengan orangtuanya. Saat mereka jatuh dan terluka, ibunyalah yang pertama memeluk dan menghampirinya. Tapi aku? Aku tak pernah merasakan pelukan hangat dari sang ibu. Bahkan di saat aku sedih, ibukulah yang seharusnya datang menenangkanku bukan kau” Layla terisak
                “Layla, mungkin ibumu hanya tak tau  harus berbuat apa. Tapi kuyakin ibumu pasti sangat mencintaimu, Layla” aku berusaha meredam kesedihannya
                “omong kosong!” teriakannya memecahkan kesunyian.” Semua yang kau katakan tentang cinta benar-benar omong kosong yang memuakkan! Aku sama sekali menemukan kebenaran kata-katamu itu! Bahkan aku semakin yakin, cinta itu tidak benar benar ada!tidak ada! Teriakannya semakin keras.
                Aku harus tetap tenang ,“Layla, tidak semua pertanyaan bisa terjawab dalam waktu singkat. Terkadang kebenaran sejati akan didapat melalui perjalanan panjang. Tapi kau harus yakin, ini hanya masalah waktu, Layla”
                “sudahlah, kau hanya buang-buang waktu, Citra. Kenapa kau tidak sebarkan saja surat yang kubuat untuk ibuku itu ke koran jika kau memang benar-benar ingain membantuku”
                Aku menimbang-nimbang jawaban yang tepat untuk Layla. Aku  tau kalau ibunya sudah meninggal, jika aku beritahu dia saat ini, jelas itu bukan keputusan yang tepat. Jadi aku hanya mengiyakan permintaannya tersebut.
                Telah dua minggu surat Layla untuk ibunya tak kunjung mendapat tanggapan apapun dari orang yang diharapkan Layla. Aku sudah tau hal ini akan terjadi, tapi Layla tampak sangat terpukul dengan situasi ini. Namun dia sudah lebih bisa mengontrol emosinya lebih baik. Dia menyuruhku untuk menghentikan pemuatan surat Layla untuk ibunya di koran.
                Di sisi lain aku endapatkan kabar dari atasanku di perusahaan surat kabar kalau surat-surat Layla yang kumuat setiap hari membuat penjualan koran makin meningkat dari hari ke hari. Aku lalu menjelaskan kepada atasanku keadaan sebenarnya. Dia memahaminya dan ak mempermasalahkan jika Layla memang sudah tak mau suratnya di sebar lagi.
                Di apartemen, aku menemukan Layla yang sedang menulis. Saat kuperhatikan, dia ternyata sedang membuat cerita tentang kehidupannya yang penuh kesedihan. Menurutnya, menuliskan kisahnya menjadi tulisan membuatnya lebih baik daripada jika dia mengeluhkan kesedihannya. Aku sangat senang dengan pernyataan itu. Kata-katanya terdengar lebih dewasa dari umurnya sesungguhnya.
                Seminggu kemudian tulisan Layla sudah selesai. Aku membaca 214 halaman bukunya dalam dua hari. Aku terkesan dengan cara penulisannya yang alami namun menyentuh. Aku memutuskan untuk menawarkan bukunya ke salah satu penerbit yang aku ketahui. Aku yakin, bukunya bisa diterima banyak orang.
                Tidak butuh waktu lama, aku mendapat kabar dari pihak penerbit bahwa mereka sudah siap menerbitkan buku Layla yang ia beri judul “cinta dan fatamorgana”. Aku segera mengabarkannya kepada Layla. Dia terlihat antusias, dia senang akan bisa berbagi  cerita dengan orang-orang melalui bukunya.
                Akhirnya, setelah 2 minggu bukunya beredar, buku “cinta dan fatamorgana mampu menembus posisi “best seler” di toko-toko buku yang memuat bukunya. Dengan kenyataan yang saya lihat  ini, saya yakin penerbitan bukunya ini akan memnjadi titik balik kehidupan Layla yang akan bisa menerima kenyataan dalam perjalanan hidupnya. 
                 Ada sesuatu yang menarik dari buku “cinta dan fatamorgana” karya Layla. Dia menyisipkan sebuah kata-kata di awal bukunya sebagai epilog. Di akhir cerita  saya  mengutip kata-kata dari Layla dari buku petamanya:
“cinta adalah fatamorgana,
suatu saat kita akan menyadari itu tak pernah benar benar ada
namun kita harus tahu,
cinta membuat kita mempu bertahan di tengah gurun ketidakpastian”


-LAYLA-              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar