Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Setsuna si Pembasmi Iblis

Setsuna si Pembasmi Iblis
Karya : Kenji Rizky Maulana

Pagi itu angin musim semi sepoi sepoi menghembus lereng gunung Hyjall, Setsuna yang sedang mengasah pedangnya di teras rumahnya merasakan angin yang sepoi sepoi itu, meninggalkan pedang yang di asahnya ia berjalan beberapa langkah menuju depan rumahnya, menutup matanya dan merasakan angin yang masuk ke sela-sela bajunya yang agak longgar, iaberdiam diri disana sekitar semenit dan kembali untuk mengasah pedangnya kembali.



                “Kau rajin sekali pagi pagi begini sudah mengasah pedangmu, apa kau ingin berburu lagi hari ini?”
Suara yang terdengar di telinga Setsuna adalah suara yang wanita yang lembut. Memberhentikan langkahnya menuju pedangnya yang sedang ia asah, Setsuna memutarkan badannya sambil tersenyum kecil, melihat seorang gadis berambut merah coklat pendek dengan pakaian dan armor yang lengkap ditambah dengan sebuah panah yang perempuan itu sangkutkan di belakang badannya yang sepertinya juga sudah siap untuk melakukan perjalanan.
Bukankah kau sendiri yang sudah siap untuk berburu, Elise? Setelan mu sangat cocok untukmu.”
“.... M-menurutmu begitu?”
“Bohong.”
Elise, Perempuan muda berusia 17 tahun sama sepertiku, lulusan Akademik berperang Niflheim, iya lulus dengan titel pemanah ketiga terbaik, hebat bukan? Tidak ada apa apanya dengan diriku yang hanya berpedang dengan naluriku saja, peringkat ku juga tidak terlalu tinggi tetapi cukup untuk mendapat pekerjaan berburu yang layak, setidaknya bayaran yang kuterima dari hasil berburu bisa kubuat makan dan menabung untuk membeli pedang atau armor yang baru.
“Bagaimana? Sudah selesai? Lama sekali, matahari sudah hampir muncul.”
Elise berbicara dengan nada kesal, mungkin karena candaanku tadi.
“Baiklah sudah selesai kok, jadi apa kita langsung ke hutan saja?”
“Tidak, mungkin kita harus ke pusat kota dahulu.”
Bingung dengan perkataan Elise, aku pun langsung menayakan apa yang menjadi kebingunganku.
“Hah, memangnya ada apa? Bukankah kita sudah mendapatkan pekerjaan kita? Ada apa lagi..”
Muka Elise berubah drastis menjadi serius, matanya tajam setajam ia membidik kelinci yang ia incar dengan panahnya, raut muka Elise sepertinya tidak main main.
“Aku melihat papan pengumunan di kota tadi, dan sepertinya itu hal yang pasti ingin kau lihat juga.”
“Apa kau yakin?” Tanyaku.
“Aku sangat yakin, makanya aku memberitahumu hal ini.” Wajah Elise makin serius.
“Baiklah, Ayo.”
***
                Sesampainya di kota aku melihat ke sisi kiri dan kanan perumahan yang biasa ku lewati ketika bersekolah di akademi, dan tidak seperti biasanya, perumahan itu sangat sepi, tidak ada yang bersapa-sapa, anak anak yang memetik buah, atau remaja remaja yang berlatih tanding dengan pedang kayu, kabingunganku ini timbul dan dengan spontan menayakannya kepada perempuan yang saat itu ada sedikit berada di depanku.
                “Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini.”
                “Kau cukup diam saja, nanti kau juga akan mengetahuinya.” Balasnya singkat.
                5 Menit berjalan menuju Pusat kota, aku melihat ada sekali puluhan, tidak, ratusan orang berada tepat di depan papan pengumuman yang panjang dan tingginya sekitar 2 meter, uniknya yang ku lihat bukanlah para penduduk dan petani desa, melainkan para petualang dan pengembara yang memadati papan pengumuman tersebut, diriku terkejut dan tidak bisa berbicara apa apa setelah melihat pemandangan itu di depan mataku. Ini sangat jarang sekali terjadi.
                Penasaran di buatnya, aku memberanikan diri untuk mendekati papan pengumuman itu, persatu satu badan besar dari para pengembara kulewati dengan penuh sesak. Setelah kupikir aku sudah mendekati papan itu, aku menabrak seseorang yang sedang terburu buru dan terengah engah, dia memakai jubah hitam sehingga aku tak bisa melihat wajahnya, aku berdiri lagi dan berjalan lagi diantara kerumunan tersebut dan sampailah aku di depan papan besar tersebut. Disitu tertulis:
                “Sekali lagi, Iblis api akan bangkit, iblis api yang akan memusnahkan seluruh kerajaan negara, dan dunia ini, sudah waktunya, sudah waktunya kalian semua bertaubat! Tidak ada manusia yang bisa menghentikan Iblis yang telah di utus oleh dewa dan ini adalah penghakiman unuk kita semua! Karena tidak menyembah dewa yang telah melindungi kalian! Beraubatlah kalian semua memohon ampun kepada dewa sekarang juga!!
                ~Uskup Agung Edward V~ ”
                “Tidak mungkin, ini tidak mungkin kan, tidak mungkin dia bangkit lagi, dia sudah di musnahkan 30 tahun yang lalu..t-tidak mungkin...”
                Setengah tidak percaya, terkejut, dan jantungku hampir berhenti, perasaan itulah yang ku rasakan sesat setelah membaca pengumuman di atas, lututku lemas tidak karuan, tubuhku gemeratan si sekujur tubuh, keringat dingin dan tatapan mataku kosong.
                Ifrit, atau biasa di sebut sebagai Iblis api sang dewa, di buku ensiklopedia yang ku baca di perpustakaan agung Niflheim, Ifrit adalah bentuk murka dari dewa Ceres, di karenakan penduduk setempat tidak menyembah dan bersukur terhadap hasil panen dan nikmat yang sudah dewa Ceres berikan, maka dewa Ceres akan mengutus Ifrit untuk membakar lahan padi dan buah buahan yang luas, membakar lumbung lumbung padi yang sudah di penuhi padi yang sudah panen, dan pergi begitu saja, itulah mengapa dia disebut sebagai iblis api.
                Keluar dari padatnya orang orang di depan papan tersebut, aku yang setengah lemas melihat Elise sedang berbincang bincang dengan seorang anak kecil yang memegang tongkat sihir panjang di lengan kanannya, dia adalah Kai, diumurnya yag masih muda ia sudah menjadi penyihir yang handal, bahkan mendapat pengahargaan dari sang raja karena umur Kai yang masih sangat muda.
                “Oi Setsuna! Kau sudah melihatnya?”
                Suara itu bukan datang dari Elise, melaikan dari Kai.
                “Yah.. seperti yang sudah kau lihat.. itu terlalu mengerikan.” Jawabku dengan lemas.
                “Tapi apa itu benar ia akan bangkit? Bukankah ini terlalu cepat?” Lanjutku.
                “Aku juga sebenarnya tidak ingin percaya, tapi bukti buktinya mengarah kesana.” Ucap Kai dengan serius.
                “Apa kau menyelidikinya?” Potong Elise.
                “Anggap saja begitu, Eastwood bagian barat mengalami kebakaran yang tidak wajar, bahkan ada serbuk serbuk bebatuan yang terbakar di dekat lembah gunung Hyjall.”
                “Apa!? Itu dekat sekali dengan rumahku!”
                Setengah terkejut, rasanya aku ingin segera pulang dan memastikan kalau iblis brengsek itu tdak menyentuh rumahku sama sekali tetapi sebelum aku melakukan itu, Elise memegang bahuku dan menenangkan untuk sesaat, dan Kai memulai lagi pembicaraanya yang sepat terpotong oleh kepanikanku.
                “Bukan Lembah selatan yang terkena, melainkan lembah utara, tepatnya perkebunan apel yang terkena imbasnya, kebakaran yang tidak wajar, tidak semua lahan perkebunan itu lenyap, aneh bukan.”
                “Lembah utara... itu dekat sekali dengan tempat latihan para Legiun berkuda kerajaan kan? Kenapa mereka tidak menyadarinya?” Tanya Elise dengan bingung.
                “Oh..Itu dikarenakan mereka yang sedang melakukan ekspedisi ke Kota Ladylake,  kota yang di terjang banjir besar beberapa hari yang lalu.”
                “Alasan mengapa aku menemui kalian hari ini adalah untuk membawa kalian ke hadapan Kakek garlan.” Lanjut Kai seusai menjelaskan.
                “Kakek tua itu? Mengapa kita harus mememuinya?” Ucapku membalas dengan raut muka meledek Kai.
                “Kakek garlan adalah salah satu Ksatria yang mengalahkan Ifrit 30 tahun lalu, hanya dia yang tersisa, dan tidak ada seorang pun yang tahu tentang itu.” Bisik Kai kepada kami berdua.
                “Kai, jangan bercanda, mana mungkin bisa dia mengalahkan Ifrit kalau setiap akhir pekan saja ia sering meminta bantuanku untuk mengangkat kotak kotak yang berisi barang dagangannya.” Ucapku seakan tidak percaya.
                “Pokoknya kita harus kesana sekarang, kalian semua harus ikut.” Ucapnya tegas.
                “Baiklah kami akan ikut” Balas Elise.
***
                Bejalan ke daerah pusat ekonomi Kerajaan Niflheim, kami bertiga berhenti di depan rumah 2 lantai yang sepertinya pemiliknya sendiri sudah malas untuk mengurusinya, terlihat ada papan toko yang bertuliskan “Garlan’s Blacksmith” Ya, yang ku tahu pasti adalah kakek Garlan adalah seorang pandai besi, bukan ksatria.
                Mengetuk pintu sebanyak 2 kali, Kai memanggil manggil Kakek Garlan, tak lama kemudian, kakek Garlan membukakan pintunya, menyuruh kami semua untuk masuk dan duduk di sofa yang kurasa itu tidak layak lagi disebut sofa.
                Kakek Garlan menyeduhkan teh untuk kami bertiga, dan ia duduk di sofanya.
                “Jadi, untuk apa kalian sampai repot repot kesini?” Tanya kakek.
                “Kami mau tau apa yang sebenarnya terjadi 30 tahun lalu, ketika kau melawan Ifrit.” Balas kai dengan cepat.
                “...”
              “Ternyata kalian sudah tau ya kalau aku ini seorang ksatria yag telupakan... haha baiklah aku akan menceritakannya.”
                “Ekspedisi Sacrifice, Tahun 330 ekspedisi yang di khusus kan oleh raja Rhones kepada semua ksatria dan penyihir terbaik di Niflheim untuk memburu Iblis Ifrit yang mulai mendekati daerah perbatasan Niflheim. Ekspedisi ini melibatkan 4 batallion terbaik kerajaan, dan misi ini sukses walau kerugian yang besar, kerugian itu adalah-----“
                “4 Batalion yang hancur, dan hanya ada 2 orang yang selamat pada peristiwa mengerikan itu.” Potong Kai.
                “... ya kau benar hanya aku dan Uskup Agung Edward IV yang berhasil selamat dalam peristiwa tersebut, puncak pertarungan ada di hutan dekat Kota Lordaeron, Ifrit membakar 75% hutan tersebut tetapi kami semua sampai tepat waktu dan bisa mengalahkan Ifrit sebelum dia sampai kota.”
                “Bagaimana kau dan Uskup Edward bisa mengalahkannya? Kalian hanya berdua melawan iblis itu.” Tanya Elise dengan heran.
                “Jawabannya simple Elise, itu karena mereka tidak pernah mengalahkannya.”
                Apa, apa maksud perkataan Kai ini, aku sama sekali tidak mengerti, kenapa ia mengatakan bahwa Garlan dan Uskup agung tidak pernah mengalahkannya?
                “Apa maksud mu Kai!? Jelas jelas dia mengalahkannya!” Bentakku dengan keras kearah Kai.
                “Kau baca itu di mana? Di buku? Atau melihat sendiri kejadian itu? Jika kita mengumpamakan mereka bisa mengalahkannya, dengan cara apa mereka mengalahkannya? Sihir? Butuh seberapa besar kekuatan yang di butuhkan untuk mengalahkannya? Semua ini tidak logis. Maka aku ingin bertanya kepada Garlan tentang ini, apa kalian lah yang telah membunuh ke-4 batalion tempur terkuat Niflheim menggunakan Ifrit?”
                “A..apa apaan kau Kai!?” Bentakku lagi, dan kali ini aku mengatakannya lebih keras dan memukul tanganku ke meja di depanku.
                Tidak menghiraukanku, Kai melanjutkan pembicaraannya.
                “Bagaimana, Garlan?”
                “...”
                Itu terjadi sangat singkat, Garlan melemparkan dua pisau yang ia sangkutkan di pinggangnya sedari tadi, kami bertiga dengan sigap menghindar dan melompat kebelakang, aku langsung memegang sarung pedangku, dan bersiap siap menghunuskan pedang jika keadaan semakin gawat, tetapi aku masih menahannya, sedangkan Kai dan Elise sudah mengancam Garlan dengan senjata senjata mereka, Kai yang sudah siap dengan tongkatnya, ia bisa membaca mantra sihir kapan saja dan Elise yang sudah membidik Garlan menggunakan panahnya.
                “Jadi itu benar ya, sayang sekali ya Garlan, kebusukanmu dan Edward terbongkar setelah 30 tahun.” Kai melanjutkan dengan waspada.
                “Menarik sekali... Bagaimana kalian bisa tau bahkan kalian belum lahir pada masa itu?”
Tersenyum sambil mengatakannya, Garlan merasa lucu dengan ada yang Kai bicarakan.
                “Kami semua adalah lulusan dari Akademi berperang Niflheim, sejarah sejarah yang kami pelajari disana mengatakannya kepada kami semua.” Balas Kai
                “Apa maksudmu?” Aku bertanya bingung.
                “Keluarga Edward yang kalian kenal adalah penyihir, tetapi yang sebenarya mereka adalah---“
*DUAR*
                Belum selesai menjalaskan, suara ledakan membuyarkan suasana, Kami bertiga terkejut, dan bingung akan ledakan itu, memanfaatkan kegaduhan itu, Garlan menarik pedang dari pinggangnya dan langsung berlari ke arah Kai dan Elise, namun Garlan bukanlah tandingan mereka berdua, Kai yang sudah siap mengucapkan mantra mulai memejamkan matanya dan mengucap kalimat kalimat sihir.
                “Borg!”
                Muncul aura yang melingkari seluruh tubuh dari Kai, Garlan yang berlari menuju arah Kai mengayun kan pedangnya dari atas ke bawah, namun itu tidak berhasil, pedangnya tidak bisa mengenai Kai bahkan pedang itu berada 30 centi di atas kepala Kai, Borg yang di ucap oleh Kai adalah sihir pertahanan diri, yang bisa menahan serangan apapun.
                “Sihir murahan, kau kira kau bisa menghentikanku hanya dengan sihir ini?” ejek Garlan yang sedang memusatkan seluruh kekuatannya ke dalam pedangnya, Borg milik Kai yang di serang Garlan perlahan mulai retak, dan terlihat Kai tidak bisa menahan kekuatan dahsyat dari Garlan, aku pun maju mendekati Garlan dan tangan dari Elise menghentikanku.
                “Setsuna, kau pergilah, biar aku dan Kai yang menyelesaikan urusan dengan kakek tua ini.”
                “Tapi..”
                “Tolong pergilah, Setsuna, cari tau apa yang sedang terjadi di luar sana.” Ujar Elise sekali lagi.
                Tanpa mengakatakan apapun, aku langsung menendang pintu rumah Kakek Garlan dan lari menuju arah keributan yang mengarah ke alun alun kota, sesampainya disana aku hanya bisa terdiam seakan tidak percaya, setengah dari alun alun itu terbakar habis. Rumah rumah di sekitar alun alun semuanya terbakar dan kota masuk kedalam kekacauan, ku bertanya kepada seseorang yang terjatuh di hadapanku, menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi
                “Hey, bertahanlah, apa yang terjadi disini!?”
                “Muncul... M-monster..If—ritt.. Bertaubatlah...”
               
Setelah kusadari itu adalah kata kata terakhir dari pria yang tewas mengenaskan, menaruhnya di tanah, aku berdiri dan menyadari keseluruhan situasi ini dari ucapan terakhir pria tersebut, melihat kesekeliling, aku sama sekali tidak menemukan makhluk besar nan menyeramkan muncul, bahkan ini seperti kota yang terbakar tanpa sebab apapun.
Namun.
Hanya ada 1 bangunan yang nampaknya tidak terkena api, itu adalah Gereja Ceres yang di bangun oleh Uskup Agung Edward IV, menyadari itu aku langsung berlari menuju gereja itu tanpa berhenti sedikitpun, membuka pintu Gereja itu aku mendapati banyak sekali jemaat yang melantunkan puji pujian terhadap ceres dan memohon ampun pada dewa agar Ifrit tidak menyerang kota.
Seluruh orang yang berada di Gereja itu mendadak diam dan melihat ke arahku saat aku membuka pintu gereja, aku yang baru memasuki gereja langsung melihat kearah orang berada di atas mimbar, Uskup Agung Edward V, berjalan 5 langkah dari pintu, aku menghentikan langkahku, menarik nafas dalam dalam dan membuka mulutku secara perlahan.
“Sudah cukup Edward, kau sudah kalah.”
“Apa maksudmu?”
“Sejak 30 tahun yang lalu, tidak ada yang namanya Ifrit, dan ifrit hanya sebuah cerita masyarakat belaka.”
“Bodoh! Apa kau tak menyadarinya, dia telah memasuki kota! Dan dia menghilang bersembunyi di antara kita! Kau menuduhku seenak ini, atau jangan jangan kau adalah Ifrit.”
                Respon yang di buat oleh masyarakat di dalam gereja membuatku kuwalahan, mereka semua melihatku dengan sinis, Edward sudah mempengaruhi mereka terlalu jauh! Aku harus bisa mengeak dari situasi ini bagaimanapun caranya.
                “Tidak, kau salah, Namaku Setsuna, Peringkat pertama paralel akademi berperang Niflheim!”
                Sudah sejak lama aku menyembunyikan identiasku yang sebenarnya, aku melakukannya agar aku tidak di kejar kejar oleh pasukan kerajaan yang seiring waktu mengajakku kedalam bagian dari pasukan mereka, tetapi aku selalu menolaknya.
                “Seluruh warga yang berada di bangunan ini tolong melangkahlah keluar, aku dan Uskup Agung kalian ini ingin membcaraan sesuatu hal yang sanget penting”
                Para warga tidak mau bergerak dari posisinya, tetapi sesaat kemudian Edward menyuruh mereka semua untuk menunggunya di luar gereja, itu lebih baik untukku karena aku membenci keramaian.
                “Skenario mu buruk Edward, untuk mendapat perhatian raja kau sampai sampai melakukan semua ini.”
                “Lagi lagi kau berbicara ngawur, aku sama sekali tidak bersalah, Ifritlah yang bersalah!”
                “Maksudmu monster yang kau munculkan di dekat bebatuan hutan Eastwood?”
                “A..apa yang..”
                Ekspresi Edward berubah drastis saat aku mengucapkan kalimat itu, ia menjadi sedikit panik.
                “I..itu Ifrit! Kau tau sendiri dia menyerang kebun apel di lembah utara gunug Hyjall!” Ucap nya dengan panik.
                “Lucu sekali Edward, semua orang tau bahwa buah apel panen pada musim gugur, sedangkan sekarang saja masih di awal musim semi, dan kau tau, kau tidak cukup pintar, kau hanya membakar sebagian dari lahan perkebunan tersebut, kau hanya ingin menyerang ksatria yang sedang melakukan latihan di dekat perkebunan itu, dengan cara membakar lahan itu, para ksatria kerajaan akan mendekati dan berusaha memadamkan api itu, dan otomatis mereka semua akan terpisah, disitulah kau melakukan aksimu yang sangat licik membunuh satu per satu Ksatria yang sedang berusaha memadamkan api, namun sayang para ksatria tidak ada di tempat maka dari itu kau hanya membakar hanya setengah lahan kebun apel itu.”
                “Ken..Kenapa kau bisa tau....KENAPA KAU BISA MENGETAHUI ITU!?”
                Suara Edward makin mengeras dan Edward mengeluarkan aura merah di sekelling tubuhnya, terlihat ia mengucap kalimat kalimat sihir, menyentuh tanah menggunakan telapak tangannya dan mengucap kata sihir terakhir.
                “Munculah dan bunuh pria yang berada di hadapanku! Daemon!
                Lingkaran sihir muncul tepat di depan Edward, diameter lingkaran sihir itu mencapai 3 meter, ini pertama kalinya adku melihat lingkaran sihir sebesar ini dalam hidupku.
                Api besar muncul dari tengah lingkaran sihir itu, membentuk suatu makhluk, lingkaran sihir pun menghilang dan sosok sebuah “iblis” berada di hadapanku sekarang. Makhluk itu mempunyai 2 tanduk yang tajam dan belang merah tinggi iblis itu mungkin mencapai 4-5 meter, dan aku berpikir sesaat bahwa aku akan mati sebentar lagi.
                “Kau sudah tak bisa pergi kemana mana lagi, Setsuna.”
Suara ini berbeda dengan yang sebelumnya, namun di ucapkan oleh orang yang sama.
“Bagaimana kau bisa mengetahui tentang rahasiaku sebagai pemanggil monster?” Tanya Edward
“Edward IV lah yang membuat semua teka teki ini jelas, bahkan aku bisa mengetahui siapa dalang di balik hancurnya 4 Batalion saat melakukan Ekspedisi Sacrifice 30 tahun yang lalu, dia tidak mengalahkan iblis, melaikan ia yang menciptakan teknik pemanggilan iblis.”
“Hm, kau sudah mengetahui semuanya tentang diriku dan pendahuluku, sekarang saatnya kau untuk mati!”
Setelah Edward mengatakan itu pandanganku tertuju pada iblis yang sedang membuat bola api yang akan di lemparkan kepada diriku, menghunuskan pedangku aku berlari mendekati kaki dari iblis itu tetapi sang iblis sedikit lebih cepat, ia sudah melemparkan bola api tersebut sebelum aku sampai di bawah kakinya, namun aku berhasil mengindar dengan cara meloncat ke bagian kiri gereja, bola api tadi menghancurkan seluruh gereja sehingga semua orang di kota bisa melihat sesosok mahluk brengsek ini.
Nah.. sekarang bagaimana cara mengalahkan makhluk ini.
Aku tidak bisa berpikir, serangan yang di buat iblis itu membuatku tidak bisa berdiam di suatu tempat, aku memutuskan untuk berlari lagi ke arah iblis itu berharap aku bisa mencapai kakinya, dan menebasnya untuk membuatnya terjatuh.
Melihat kearah iblis itu, aku bersiap siap untuk serangan mendadak yang akan ia lancarkan, sambil berlari dengan seluruh tenagaku.
Bola api yang kulihat dibuat oleh iblis itu menuju lurus ke arahku, aku langsung melompat kearah kanan untuk menghindarinya, dan melanjutkan lariku ke arah iblis itu.
Namun bola api itu berbelok dengan drastis, aku tak bisa menghindari laju bola api yang berbelok itu dan aku terkena bola api tersebut dan terlempar sekitar 5 meter jauhnya dan aku jatuh ketanah.
Terjatuh kedalam keputusasaan, aku tergeletak pasrah menghadap langit, tidak kuat untuk bangun, tangan kiriku terkena ledakan itu, dan mengeluarkan darah yang tidak sedikit, aku tidak kuat lagi untuk menggerakan tangan kiriku, sakit sekali.
“Setsuna! Kau tidak apa apa!? Kai cepat semubhkan dia! Aku akan mengurus Iblis itu!”
Suara yang aku dengar terdengar tidak asing, aku sepertinya tau suara itu.. ya.. suara Elise, aku bisa mendengarnya dengan keras, suaranya yang lembut membuat mataku sedikit membuka untuk melihat wajahnya yang membuat hidupku berwarna setiap harinya.
“Serahkan padaku! Heal!
Membuka mataku, aku melihat Kai yang sedang mengucap kalimat kalimat sihir dan aku merasakan ada asap berwarna hijau di sekeliling tubuhku, dan asap asap itu mulai memkasuki tubuhku dengan sekejap mata, setelah selesai membaca mantranya Kai melihat kearahku dengan dalam.
“Bangunlah Setsuna, Elise akan sangat kerepotan jika dia melawan makhluk itu sendirian.”
Tubuhku terasa ringan, aku tidak merasakan rasa sakit apapun bahkan tangan kiriku sudah bisa di gerakkan dengan leluasa, dan aku menyadari bahwa Kai menyembuhkanku menggunakan sihir penyembuhnya, itu sangat membantu sekali.
“Aku tidak bisa terus menerus menggunakan sihir ini, jadi jagalah badanmu sebaik baiknya.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Berdiri di hadapan Kai, aku berbalik dan menghampiri Elise yang berlalu lalang menyerang iblis itu dengan panahnya, dia terlihat sangat lelah. Aku menepuk pundak Elise yang sedang kelelahan, mengisyaratkan untuk mundur dan beristirahat sebentar
“Mundurlah, sekarang giliranku.”
Aku mendahului Elise, aku memegang pedang di tanganku dan bulai berjalan menuju arah iblis yang sedang membuat bola api namun Elise memegang tangan kiriku saat aku baru melangkah selangkah di depannya, aku menoleh kebelakang, terlihat muka Elise yang mulai memerah di campur dengan lelahnya ia bertarung, membuat wajahnya terlihat sangat cantik.
“Aku.. aku ingin bertaung bersamamu... seperti yang setiap hari kita lakukan, kumohon jangan melawannya sendirian, dia terlalu kuat! Ada aku dan Kai, mari kita bertarung bersama, aku mengkhawatirkanmu...”
Aku tidak bisa menolak wajahnya yang sangat cantik saat seperti ini, aku juga akan kuwalahan jika menghadapi ia sendirian. Aku membalas perkataan Elise dengan senyuman.
“Baiklah, mari kita bertarung besama lagi, aku akan melindungi mu dengan seluruh kekuatanku, jadi berhati hatilah kita akan mulai sekarang, dan um... terima kasih telah mengkhawatirkanku.. “
“Sama-sama....” Elise tersenyum lebar, membuat mukaku merah dibuatnya
“Sestu! Elise! Bahaya! Menyingkir dari sana! Borg!!”
Bola api melesat menuju kami berdua, Kai menggunakan sihirnya untuk melindungi kami dari serangan tersebut sehingga kami berdua tidak terkena serangan tersebut, namun benturan dari Borg dan bola api tersebut membentuk asap hitam yang sangat pekat, dengan sigap aku lari menuju asap tersebut tanpa di ketahui oleh Edward dan Iblis tersebut.
Menembus asap itu, tanpa sadar aku berada sedikit lagi sampai ke kaki iblis tersebut, terkejut akan itu Edward berlari ke arahku dan mengeluarkan pedang yang ada di punggunngnya, iblis yang di panggil oleh Edward juga terihat ingin mengeluarkan semburan api dari mulutnya yang sudah pasti akan mengenaiku 100%, namun aku tak menghiraukannya.

Sharp Frost!”
Kai mengeluarkan mantra sihir menyerang, itu adalah serpihan es yang sangat tajam, ia melemparkan es itu kearah api yang akan melukai Setsuna, benturan yang di akibatkan oleh api dan es tersebut, muncul uap yang menutup daerah dari kaki iblis tersebut.
Elise  yang sedang membidik mata dari iblis tersebut agak terganggu denga uap tersebut, namun tak masalah baginya, ia menembakkan anak panahnya dengan sangat tenang, menembus uap uap itu anak panah yang ia tembakan tepat mengenai mata kiri sang iblis, iblis itu pun kelilangan keseimbangannya, dengan cepat Elise mengambil satu anak panah lagi yang langsung ia bidik dan tembakan dan mengenai mata sebelah kanan iblis tersebut.
“Hyah!!!”
Sayatan pedang Setsuna dengan instan memotong kaki dari iblis tersebut dan dengan cepatnya iblis itu terjatuh ke tanah dan menguap, iblis itu hilang dalam sekejap mata, bahkan Setsuna sendiri tidak akan menyangka akan semudah ini mengalahkannya.
“Apa.. apakah sudah selesai?”
“INI BELUM SELESAI SETUNAAAAAAA”
Teriakan itu berasal dari belakangku, aku melihat Edward yang hendak mengayunkan pedangnya secara vertikal, aku bersiap dan menangkis serangannya, dan melompat kebelakang untuk membuat jarak antara aku dan dia.
“Sudah cukup Edward, kau sudah kalah kerakusanmu akan gelar dari kerajaan segera berakhir disini”
“Berisik kau bocah tengik!”
Edward melaju dengan sangat cepat, aura membunuh yang kurasakan bukan main, ayunan pedangnya sangat cepat aku tidak bisa menandinginya, aku hanya bisa menahan serangannya, aku sama sekali tidak bisa menyerangnya, tidak ada celah yang ia berikan aku terpaksa membenturkan pedangku dengan keras dan melompat kebelakang dengan cara menjatuhkan diriku sendiri agar bisa membuat jarak lagi.
                Berhasil membuat jarak, Edward berhenti untuk menyerangku, ia menoleh ke arahku seolah mengejek.
                “Inikah kekuatan pendekar pedang terbaik tahun ini? Ini sama sekali tidak menarik.”
                Disaat ia sedang berbicara aku bangun dan mengayunkan pedangku secara vertikal dan lagi lagi ia menahannya, mengganti pola seranganku, aku meloncat ke bagian kiri dari tubuhnya dan mengayunkan pedangku secara horizontal, namun tidak berhasil, Edward menyadari itu dan langsung melompat mundur kebelakang.

                Tanpa jeda aku langsung maju lagi ke hadapan Edward, mengarahkan pedangku tepat ke perutnya, Edward lagi lagi menghindar.
                Tepat. Sesuai dugaanku.
Langkah kaki kananku yang sedang berlari kencang mendadak berhenti dan aku memutarkan badanku ke langit dengan sekuat tenaga, melompat sambil memutar badan dan mengayunkan pedang scara vertikal dengan sekuat tenaga.
                “Uooohhhh!!!!!”
                Setsuna terjatuh ke tanah dengan berputar putar akibat dari lompatan tadi, kepalanya terasa pusing saat ingin bangun, saat ia mencoba untuk bangun Setsuna kembali terjatuh dan tak sadarkan diri.
***
                Warna langit berubah menjadi warna jingga, disertai dengan berterbangannya bunga sakura Setsuna membuka matanya, sambil melihat sesosok wanita yang sedang melihatnya, Elise, ia memangku setsuna di atas kedua kakinya yang sedang duduk, Setsuna melihat Elise sedang meneteskan air matanya sambil tersenyum.
                “Hei.. Apakah ini semua sudah berakhir? Kau jelek saat menangis, tersenyumlah...”
                “Ya... iya ini semua sudah berakhir, aku sangat panik ketika kau terjatuh, aku tidak tau lagi harus berbuat apa jika kau—“
                “Sudahlah, buktinya aku masih ada disini kan?”
                “Ya... syukurlah.. syukurlah kau masih hidup....”
Elise memeluk Setsuna dengan erat, begitu sebaliknya dengan Setsuna yang tersenyum karena ia bisa bertemu dengan Elise lagi, baginya itu sudah cukup.
Setelah Setsuna jatuh pingsan, kejadian yang terjadi adalah tebasan pedang Setsuna tidak mengenai badan Edward melainkan tangan kanannya, degan cepat membekukan selruh badan dari Edward untuk memberhentikan darahnya dan mencegahnya agar ia tidak kembali memberontak. Selanjutnya, pasukan kerajaan datang dan membereskannya.

Setelah kejadian ini, Setsuna di anggap sebagai Pahlawan kota dan mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama yang bisa membasmi iblis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar