Setsuna si Pembasmi Iblis
Karya : Kenji Rizky Maulana
Pagi itu angin musim semi sepoi sepoi menghembus lereng
gunung Hyjall, Setsuna yang sedang mengasah pedangnya di teras rumahnya
merasakan angin yang sepoi sepoi itu, meninggalkan pedang yang di asahnya ia
berjalan beberapa langkah menuju depan rumahnya, menutup matanya dan merasakan
angin yang masuk ke sela-sela bajunya yang agak longgar, iaberdiam diri disana
sekitar semenit dan kembali untuk mengasah pedangnya kembali.
Suara yang terdengar di telinga
Setsuna adalah suara yang wanita yang lembut. Memberhentikan langkahnya menuju pedangnya yang sedang ia asah,
Setsuna memutarkan badannya sambil tersenyum kecil, melihat seorang gadis
berambut merah coklat pendek dengan pakaian dan armor yang lengkap ditambah dengan sebuah panah yang perempuan itu
sangkutkan di belakang badannya yang sepertinya juga sudah siap untuk melakukan
perjalanan.
“Bukankah kau sendiri yang sudah siap untuk berburu, Elise? Setelan mu
sangat cocok untukmu.”
“.... M-menurutmu begitu?”
“Bohong.”
Elise, Perempuan muda berusia 17 tahun sama sepertiku, lulusan Akademik
berperang Niflheim, iya lulus dengan titel pemanah ketiga terbaik, hebat bukan?
Tidak ada apa apanya dengan diriku yang hanya berpedang dengan naluriku saja,
peringkat ku juga tidak terlalu tinggi tetapi cukup untuk mendapat pekerjaan
berburu yang layak, setidaknya bayaran yang kuterima dari hasil berburu bisa
kubuat makan dan menabung untuk membeli pedang atau armor yang baru.
“Bagaimana? Sudah selesai? Lama sekali, matahari sudah hampir muncul.”
Elise berbicara dengan nada kesal, mungkin karena candaanku tadi.
“Baiklah sudah selesai kok, jadi apa kita langsung ke hutan saja?”
“Tidak, mungkin kita harus ke pusat kota dahulu.”
Bingung dengan perkataan Elise, aku pun langsung menayakan apa yang menjadi
kebingunganku.
“Hah, memangnya ada apa? Bukankah kita sudah mendapatkan pekerjaan kita?
Ada apa lagi..”
Muka Elise berubah drastis menjadi serius, matanya tajam setajam ia
membidik kelinci yang ia incar dengan panahnya, raut muka Elise sepertinya
tidak main main.
“Aku melihat papan pengumunan di kota tadi, dan sepertinya itu hal yang
pasti ingin kau lihat juga.”
“Apa kau yakin?” Tanyaku.
“Aku sangat yakin, makanya aku memberitahumu hal ini.” Wajah Elise makin
serius.
“Baiklah, Ayo.”
***
Sesampainya di kota aku melihat
ke sisi kiri dan kanan perumahan yang biasa ku lewati ketika bersekolah di
akademi, dan tidak seperti biasanya, perumahan itu sangat sepi, tidak ada yang bersapa-sapa,
anak anak yang memetik buah, atau remaja remaja yang berlatih tanding dengan
pedang kayu, kabingunganku ini timbul dan dengan spontan menayakannya kepada
perempuan yang saat itu ada sedikit berada di depanku.
“Sebenarnya apa yang sedang
terjadi disini.”
“Kau cukup diam saja, nanti kau
juga akan mengetahuinya.” Balasnya singkat.
5 Menit berjalan menuju Pusat
kota, aku melihat ada sekali puluhan, tidak, ratusan orang berada tepat di
depan papan pengumuman yang panjang dan tingginya sekitar 2 meter, uniknya yang
ku lihat bukanlah para penduduk dan petani desa, melainkan para petualang dan
pengembara yang memadati papan pengumuman tersebut, diriku terkejut dan tidak
bisa berbicara apa apa setelah melihat pemandangan itu di depan mataku. Ini
sangat jarang sekali terjadi.
Penasaran di buatnya, aku memberanikan
diri untuk mendekati papan pengumuman itu, persatu satu badan besar dari para
pengembara kulewati dengan penuh sesak. Setelah kupikir aku sudah mendekati
papan itu, aku menabrak seseorang yang sedang terburu buru dan terengah engah,
dia memakai jubah hitam sehingga aku tak bisa melihat wajahnya, aku berdiri
lagi dan berjalan lagi diantara kerumunan tersebut dan sampailah aku di depan
papan besar tersebut. Disitu tertulis:
“Sekali lagi, Iblis api akan bangkit, iblis api yang akan memusnahkan
seluruh kerajaan negara, dan dunia ini, sudah waktunya, sudah waktunya kalian
semua bertaubat! Tidak ada manusia yang bisa menghentikan Iblis yang telah di
utus oleh dewa dan ini adalah penghakiman unuk kita semua! Karena tidak
menyembah dewa yang telah melindungi kalian! Beraubatlah kalian semua memohon
ampun kepada dewa sekarang juga!!
~Uskup
Agung Edward V~ ”
“Tidak mungkin, ini tidak mungkin kan,
tidak mungkin dia bangkit lagi, dia sudah di musnahkan 30 tahun yang
lalu..t-tidak mungkin...”
Setengah tidak percaya, terkejut,
dan jantungku hampir berhenti, perasaan itulah yang ku rasakan sesat setelah
membaca pengumuman di atas, lututku lemas tidak karuan, tubuhku gemeratan si
sekujur tubuh, keringat dingin dan tatapan mataku kosong.
Ifrit, atau biasa di sebut sebagai Iblis api sang dewa, di buku
ensiklopedia yang ku baca di perpustakaan agung Niflheim, Ifrit adalah bentuk murka
dari dewa Ceres, di karenakan penduduk setempat tidak menyembah dan bersukur
terhadap hasil panen dan nikmat yang sudah dewa Ceres berikan, maka dewa Ceres
akan mengutus Ifrit untuk membakar lahan padi dan buah buahan yang luas,
membakar lumbung lumbung padi yang sudah di penuhi padi yang sudah panen, dan
pergi begitu saja, itulah mengapa dia disebut sebagai iblis api.
Keluar dari padatnya orang orang
di depan papan tersebut, aku yang setengah lemas melihat Elise sedang
berbincang bincang dengan seorang anak kecil yang memegang tongkat sihir
panjang di lengan kanannya, dia adalah Kai, diumurnya yag masih muda ia sudah
menjadi penyihir yang handal, bahkan mendapat pengahargaan dari sang raja
karena umur Kai yang masih sangat muda.
“Oi Setsuna! Kau sudah
melihatnya?”
Suara itu bukan datang dari
Elise, melaikan dari Kai.
“Yah.. seperti yang sudah kau
lihat.. itu terlalu mengerikan.” Jawabku dengan lemas.
“Tapi apa itu benar ia akan
bangkit? Bukankah ini terlalu cepat?” Lanjutku.
“Aku juga sebenarnya tidak ingin
percaya, tapi bukti buktinya mengarah kesana.” Ucap Kai dengan serius.
“Apa kau menyelidikinya?” Potong
Elise.
“Anggap saja begitu, Eastwood
bagian barat mengalami kebakaran yang tidak wajar, bahkan ada serbuk serbuk
bebatuan yang terbakar di dekat lembah gunung Hyjall.”
“Apa!? Itu dekat sekali dengan
rumahku!”
Setengah terkejut, rasanya aku
ingin segera pulang dan memastikan kalau iblis brengsek itu tdak menyentuh
rumahku sama sekali tetapi sebelum aku melakukan itu, Elise memegang bahuku dan
menenangkan untuk sesaat, dan Kai memulai lagi pembicaraanya yang sepat
terpotong oleh kepanikanku.
“Bukan Lembah selatan yang terkena,
melainkan lembah utara, tepatnya perkebunan apel yang terkena imbasnya,
kebakaran yang tidak wajar, tidak semua lahan perkebunan itu lenyap, aneh
bukan.”
“Lembah utara... itu dekat
sekali dengan tempat latihan para Legiun berkuda kerajaan kan? Kenapa mereka
tidak menyadarinya?” Tanya Elise dengan bingung.
“Oh..Itu dikarenakan mereka yang
sedang melakukan ekspedisi ke Kota Ladylake,
kota yang di terjang banjir besar beberapa hari yang lalu.”
“Alasan mengapa aku menemui
kalian hari ini adalah untuk membawa kalian ke hadapan Kakek garlan.” Lanjut
Kai seusai menjelaskan.
“Kakek tua itu? Mengapa kita
harus mememuinya?” Ucapku membalas dengan raut muka meledek Kai.
“Kakek garlan adalah salah satu
Ksatria yang mengalahkan Ifrit 30 tahun lalu, hanya dia yang tersisa, dan tidak
ada seorang pun yang tahu tentang itu.” Bisik Kai kepada kami berdua.
“Kai, jangan bercanda, mana
mungkin bisa dia mengalahkan Ifrit kalau setiap akhir pekan saja ia sering
meminta bantuanku untuk mengangkat kotak kotak yang berisi barang dagangannya.”
Ucapku seakan tidak percaya.
“Pokoknya kita harus kesana
sekarang, kalian semua harus ikut.” Ucapnya tegas.
“Baiklah kami akan ikut” Balas
Elise.
***
Bejalan ke daerah pusat ekonomi Kerajaan
Niflheim, kami bertiga berhenti di depan rumah 2 lantai yang sepertinya
pemiliknya sendiri sudah malas untuk mengurusinya, terlihat ada papan toko yang
bertuliskan “Garlan’s Blacksmith” Ya,
yang ku tahu pasti adalah kakek Garlan adalah seorang pandai besi, bukan
ksatria.
Mengetuk pintu sebanyak 2 kali,
Kai memanggil manggil Kakek Garlan, tak lama kemudian, kakek Garlan membukakan
pintunya, menyuruh kami semua untuk masuk dan duduk di sofa yang kurasa itu
tidak layak lagi disebut sofa.
Kakek Garlan menyeduhkan teh
untuk kami bertiga, dan ia duduk di sofanya.
“Jadi, untuk apa kalian sampai
repot repot kesini?” Tanya kakek.
“Kami mau tau apa yang
sebenarnya terjadi 30 tahun lalu, ketika kau melawan Ifrit.” Balas kai dengan
cepat.
“...”
“Ternyata kalian sudah tau ya
kalau aku ini seorang ksatria yag telupakan... haha baiklah aku akan
menceritakannya.”
“Ekspedisi Sacrifice, Tahun 330 ekspedisi yang di khusus kan oleh raja Rhones
kepada semua ksatria dan penyihir terbaik di Niflheim untuk memburu Iblis Ifrit
yang mulai mendekati daerah perbatasan Niflheim. Ekspedisi ini melibatkan 4
batallion terbaik kerajaan, dan misi ini sukses walau kerugian yang besar,
kerugian itu adalah-----“
“4 Batalion yang hancur, dan
hanya ada 2 orang yang selamat pada peristiwa mengerikan itu.” Potong Kai.
“... ya kau benar hanya aku dan
Uskup Agung Edward IV yang berhasil selamat dalam peristiwa tersebut, puncak
pertarungan ada di hutan dekat Kota Lordaeron, Ifrit membakar 75% hutan
tersebut tetapi kami semua sampai tepat waktu dan bisa mengalahkan Ifrit
sebelum dia sampai kota.”
“Bagaimana kau dan Uskup Edward
bisa mengalahkannya? Kalian hanya berdua melawan iblis itu.” Tanya Elise dengan
heran.
“Jawabannya simple Elise, itu
karena mereka tidak pernah mengalahkannya.”
Apa, apa maksud perkataan Kai
ini, aku sama sekali tidak mengerti, kenapa ia mengatakan bahwa Garlan dan
Uskup agung tidak pernah mengalahkannya?
“Apa maksud mu Kai!? Jelas jelas
dia mengalahkannya!” Bentakku dengan keras kearah Kai.
“Kau baca itu di mana? Di buku?
Atau melihat sendiri kejadian itu? Jika kita mengumpamakan mereka bisa
mengalahkannya, dengan cara apa mereka mengalahkannya? Sihir? Butuh seberapa
besar kekuatan yang di butuhkan untuk mengalahkannya? Semua ini tidak logis.
Maka aku ingin bertanya kepada Garlan tentang ini, apa kalian lah yang telah
membunuh ke-4 batalion tempur terkuat Niflheim menggunakan Ifrit?”
“A..apa apaan kau Kai!?”
Bentakku lagi, dan kali ini aku mengatakannya lebih keras dan memukul tanganku
ke meja di depanku.
Tidak menghiraukanku, Kai
melanjutkan pembicaraannya.
“Bagaimana, Garlan?”
“...”
Itu terjadi sangat singkat,
Garlan melemparkan dua pisau yang ia sangkutkan di pinggangnya sedari tadi,
kami bertiga dengan sigap menghindar dan melompat kebelakang, aku langsung
memegang sarung pedangku, dan bersiap siap menghunuskan pedang jika keadaan
semakin gawat, tetapi aku masih menahannya, sedangkan Kai dan Elise sudah
mengancam Garlan dengan senjata senjata mereka, Kai yang sudah siap dengan
tongkatnya, ia bisa membaca mantra sihir kapan saja dan Elise yang sudah membidik
Garlan menggunakan panahnya.
“Jadi itu benar ya, sayang
sekali ya Garlan, kebusukanmu dan Edward terbongkar setelah 30 tahun.” Kai
melanjutkan dengan waspada.
“Menarik sekali... Bagaimana
kalian bisa tau bahkan kalian belum lahir pada masa itu?”
Tersenyum sambil
mengatakannya, Garlan merasa lucu dengan ada yang Kai bicarakan.
“Kami semua adalah lulusan dari
Akademi berperang Niflheim, sejarah sejarah yang kami pelajari disana
mengatakannya kepada kami semua.” Balas Kai
“Apa maksudmu?” Aku bertanya
bingung.
“Keluarga Edward yang kalian
kenal adalah penyihir, tetapi yang sebenarya mereka adalah---“
*DUAR*
Belum selesai menjalaskan, suara
ledakan membuyarkan suasana, Kami bertiga terkejut, dan bingung akan ledakan
itu, memanfaatkan kegaduhan itu, Garlan menarik pedang dari pinggangnya dan
langsung berlari ke arah Kai dan Elise, namun Garlan bukanlah tandingan mereka
berdua, Kai yang sudah siap mengucapkan mantra mulai memejamkan matanya dan
mengucap kalimat kalimat sihir.
“Borg!”
Muncul aura yang melingkari
seluruh tubuh dari Kai, Garlan yang berlari menuju arah Kai mengayun kan
pedangnya dari atas ke bawah, namun itu tidak berhasil, pedangnya tidak bisa
mengenai Kai bahkan pedang itu berada 30 centi di atas kepala Kai, Borg yang di
ucap oleh Kai adalah sihir pertahanan diri, yang bisa menahan serangan apapun.
“Sihir murahan, kau kira kau
bisa menghentikanku hanya dengan sihir ini?” ejek Garlan yang sedang memusatkan
seluruh kekuatannya ke dalam pedangnya, Borg milik Kai yang di serang Garlan
perlahan mulai retak, dan terlihat Kai tidak bisa menahan kekuatan dahsyat dari
Garlan, aku pun maju mendekati Garlan dan tangan dari Elise menghentikanku.
“Setsuna, kau pergilah, biar aku
dan Kai yang menyelesaikan urusan dengan kakek tua ini.”
“Tapi..”
“Tolong pergilah, Setsuna, cari
tau apa yang sedang terjadi di luar sana.” Ujar Elise sekali lagi.
Tanpa mengakatakan apapun, aku
langsung menendang pintu rumah Kakek Garlan dan lari menuju arah keributan yang
mengarah ke alun alun kota, sesampainya disana aku hanya bisa terdiam seakan
tidak percaya, setengah dari alun alun itu terbakar habis. Rumah rumah di
sekitar alun alun semuanya terbakar dan kota masuk kedalam kekacauan, ku
bertanya kepada seseorang yang terjatuh di hadapanku, menanyakan padanya apa
yang sebenarnya terjadi
“Hey, bertahanlah, apa yang
terjadi disini!?”
“Muncul... M-monster..If—ritt..
Bertaubatlah...”
Setelah kusadari itu adalah kata kata terakhir dari pria yang tewas
mengenaskan, menaruhnya di tanah, aku berdiri dan menyadari keseluruhan situasi
ini dari ucapan terakhir pria tersebut, melihat kesekeliling, aku sama sekali
tidak menemukan makhluk besar nan menyeramkan muncul, bahkan ini seperti kota
yang terbakar tanpa sebab apapun.
Namun.
Hanya ada 1 bangunan yang nampaknya tidak terkena api, itu adalah Gereja
Ceres yang di bangun oleh Uskup Agung Edward IV, menyadari itu aku langsung
berlari menuju gereja itu tanpa berhenti sedikitpun, membuka pintu Gereja itu
aku mendapati banyak sekali jemaat yang melantunkan puji pujian terhadap ceres
dan memohon ampun pada dewa agar Ifrit tidak menyerang kota.
Seluruh orang yang berada di Gereja itu mendadak diam dan melihat ke arahku
saat aku membuka pintu gereja, aku yang baru memasuki gereja langsung melihat
kearah orang berada di atas mimbar, Uskup Agung Edward V, berjalan 5 langkah
dari pintu, aku menghentikan langkahku, menarik nafas dalam dalam dan membuka
mulutku secara perlahan.
“Sudah cukup Edward, kau sudah kalah.”
“Apa maksudmu?”
“Sejak 30 tahun yang lalu, tidak ada yang namanya Ifrit, dan ifrit hanya
sebuah cerita masyarakat belaka.”
“Bodoh! Apa kau tak menyadarinya, dia telah memasuki kota! Dan dia
menghilang bersembunyi di antara kita! Kau menuduhku seenak ini, atau jangan
jangan kau adalah Ifrit.”
Respon yang di buat oleh masyarakat
di dalam gereja membuatku kuwalahan, mereka semua melihatku dengan sinis,
Edward sudah mempengaruhi mereka terlalu jauh! Aku harus bisa mengeak dari
situasi ini bagaimanapun caranya.
“Tidak, kau salah, Namaku
Setsuna, Peringkat pertama paralel akademi berperang Niflheim!”
Sudah sejak lama aku
menyembunyikan identiasku yang sebenarnya, aku melakukannya agar aku tidak di
kejar kejar oleh pasukan kerajaan yang seiring waktu mengajakku kedalam bagian
dari pasukan mereka, tetapi aku selalu menolaknya.
“Seluruh warga yang berada di
bangunan ini tolong melangkahlah keluar, aku dan Uskup Agung kalian ini ingin
membcaraan sesuatu hal yang sanget penting”
Para warga tidak mau bergerak
dari posisinya, tetapi sesaat kemudian Edward menyuruh mereka semua untuk
menunggunya di luar gereja, itu lebih baik untukku karena aku membenci
keramaian.
“Skenario mu buruk Edward, untuk
mendapat perhatian raja kau sampai sampai melakukan semua ini.”
“Lagi lagi kau berbicara ngawur,
aku sama sekali tidak bersalah, Ifritlah yang bersalah!”
“Maksudmu monster yang kau
munculkan di dekat bebatuan hutan Eastwood?”
“A..apa yang..”
Ekspresi Edward berubah drastis
saat aku mengucapkan kalimat itu, ia menjadi sedikit panik.
“I..itu Ifrit! Kau tau sendiri
dia menyerang kebun apel di lembah utara gunug Hyjall!” Ucap nya dengan panik.
“Lucu sekali Edward, semua orang
tau bahwa buah apel panen pada musim gugur, sedangkan sekarang saja masih di
awal musim semi, dan kau tau, kau tidak cukup pintar, kau hanya membakar
sebagian dari lahan perkebunan tersebut, kau hanya ingin menyerang ksatria yang
sedang melakukan latihan di dekat perkebunan itu, dengan cara membakar lahan
itu, para ksatria kerajaan akan mendekati dan berusaha memadamkan api itu, dan
otomatis mereka semua akan terpisah, disitulah kau melakukan aksimu yang sangat
licik membunuh satu per satu Ksatria yang sedang berusaha memadamkan api, namun
sayang para ksatria tidak ada di tempat maka dari itu kau hanya membakar hanya
setengah lahan kebun apel itu.”
“Ken..Kenapa kau bisa
tau....KENAPA KAU BISA MENGETAHUI ITU!?”
Suara Edward makin mengeras dan
Edward mengeluarkan aura merah di sekelling tubuhnya, terlihat ia mengucap
kalimat kalimat sihir, menyentuh tanah menggunakan telapak tangannya dan
mengucap kata sihir terakhir.
“Munculah dan bunuh pria yang
berada di hadapanku! Daemon!”
Lingkaran sihir muncul tepat di
depan Edward, diameter lingkaran sihir itu mencapai 3 meter, ini pertama
kalinya adku melihat lingkaran sihir sebesar ini dalam hidupku.
Api besar muncul dari tengah
lingkaran sihir itu, membentuk suatu makhluk, lingkaran sihir pun menghilang
dan sosok sebuah “iblis” berada di hadapanku sekarang. Makhluk itu mempunyai 2
tanduk yang tajam dan belang merah tinggi iblis itu mungkin mencapai 4-5 meter,
dan aku berpikir sesaat bahwa aku akan mati sebentar lagi.
“Kau sudah tak bisa pergi kemana
mana lagi, Setsuna.”
Suara ini berbeda dengan yang sebelumnya, namun di ucapkan oleh orang yang
sama.
“Bagaimana kau bisa mengetahui tentang rahasiaku sebagai pemanggil
monster?” Tanya Edward
“Edward IV lah yang membuat semua teka teki ini jelas, bahkan aku bisa
mengetahui siapa dalang di balik hancurnya 4 Batalion saat melakukan Ekspedisi Sacrifice 30 tahun yang lalu, dia tidak
mengalahkan iblis, melaikan ia yang menciptakan teknik pemanggilan iblis.”
“Hm, kau sudah mengetahui semuanya tentang diriku dan pendahuluku, sekarang
saatnya kau untuk mati!”
Setelah Edward mengatakan itu pandanganku tertuju pada iblis yang sedang
membuat bola api yang akan di lemparkan kepada diriku, menghunuskan pedangku
aku berlari mendekati kaki dari iblis itu tetapi sang iblis sedikit lebih
cepat, ia sudah melemparkan bola api tersebut sebelum aku sampai di bawah
kakinya, namun aku berhasil mengindar dengan cara meloncat ke bagian kiri
gereja, bola api tadi menghancurkan seluruh gereja sehingga semua orang di kota
bisa melihat sesosok mahluk brengsek ini.
Nah.. sekarang bagaimana cara mengalahkan makhluk ini.
Aku tidak bisa berpikir, serangan yang di buat iblis itu membuatku tidak
bisa berdiam di suatu tempat, aku memutuskan untuk berlari lagi ke arah iblis
itu berharap aku bisa mencapai kakinya, dan menebasnya untuk membuatnya
terjatuh.
Melihat kearah iblis itu, aku bersiap siap untuk serangan mendadak yang
akan ia lancarkan, sambil berlari dengan seluruh tenagaku.
Bola api yang kulihat dibuat oleh iblis itu menuju lurus ke arahku, aku
langsung melompat kearah kanan untuk menghindarinya, dan melanjutkan lariku ke
arah iblis itu.
Namun bola api itu berbelok dengan drastis, aku tak bisa menghindari laju
bola api yang berbelok itu dan aku terkena bola api tersebut dan terlempar
sekitar 5 meter jauhnya dan aku jatuh ketanah.
Terjatuh kedalam keputusasaan, aku tergeletak pasrah menghadap langit,
tidak kuat untuk bangun, tangan kiriku terkena ledakan itu, dan mengeluarkan
darah yang tidak sedikit, aku tidak kuat lagi untuk menggerakan tangan kiriku,
sakit sekali.
“Setsuna! Kau tidak apa apa!? Kai cepat semubhkan dia! Aku akan mengurus
Iblis itu!”
Suara yang aku dengar terdengar tidak asing, aku sepertinya tau suara itu..
ya.. suara Elise, aku bisa mendengarnya dengan keras, suaranya yang lembut
membuat mataku sedikit membuka untuk melihat wajahnya yang membuat hidupku
berwarna setiap harinya.
“Serahkan padaku! Heal!”
Membuka mataku, aku melihat Kai yang sedang mengucap kalimat kalimat sihir
dan aku merasakan ada asap berwarna hijau di sekeliling tubuhku, dan asap asap
itu mulai memkasuki tubuhku dengan sekejap mata, setelah selesai membaca
mantranya Kai melihat kearahku dengan dalam.
“Bangunlah Setsuna, Elise akan sangat kerepotan jika dia melawan makhluk
itu sendirian.”
Tubuhku terasa ringan, aku tidak merasakan rasa sakit apapun bahkan tangan
kiriku sudah bisa di gerakkan dengan leluasa, dan aku menyadari bahwa Kai
menyembuhkanku menggunakan sihir penyembuhnya, itu sangat membantu sekali.
“Aku tidak bisa terus menerus menggunakan sihir ini, jadi jagalah badanmu
sebaik baiknya.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Berdiri di hadapan Kai, aku berbalik dan menghampiri Elise yang berlalu
lalang menyerang iblis itu dengan panahnya, dia terlihat sangat lelah. Aku
menepuk pundak Elise yang sedang kelelahan, mengisyaratkan untuk mundur dan
beristirahat sebentar
“Mundurlah, sekarang giliranku.”
Aku mendahului Elise, aku memegang pedang di tanganku dan bulai berjalan
menuju arah iblis yang sedang membuat bola api namun Elise memegang tangan
kiriku saat aku baru melangkah selangkah di depannya, aku menoleh kebelakang,
terlihat muka Elise yang mulai memerah di campur dengan lelahnya ia bertarung,
membuat wajahnya terlihat sangat cantik.
“Aku.. aku ingin bertaung bersamamu... seperti yang setiap hari kita
lakukan, kumohon jangan melawannya sendirian, dia terlalu kuat! Ada aku dan
Kai, mari kita bertarung bersama, aku mengkhawatirkanmu...”
Aku tidak bisa menolak wajahnya yang sangat cantik saat seperti ini, aku
juga akan kuwalahan jika menghadapi ia sendirian. Aku membalas perkataan Elise
dengan senyuman.
“Baiklah, mari kita bertarung besama lagi, aku akan melindungi mu dengan
seluruh kekuatanku, jadi berhati hatilah kita akan mulai sekarang, dan um...
terima kasih telah mengkhawatirkanku.. “
“Sama-sama....” Elise tersenyum lebar, membuat mukaku merah dibuatnya
“Sestu! Elise! Bahaya! Menyingkir dari sana! Borg!!”
Bola api melesat menuju kami berdua, Kai menggunakan sihirnya untuk
melindungi kami dari serangan tersebut sehingga kami berdua tidak terkena
serangan tersebut, namun benturan dari Borg
dan bola api tersebut membentuk asap hitam yang sangat pekat, dengan sigap aku
lari menuju asap tersebut tanpa di ketahui oleh Edward dan Iblis tersebut.
Menembus asap itu, tanpa sadar aku berada sedikit lagi sampai ke kaki iblis
tersebut, terkejut akan itu Edward berlari ke arahku dan mengeluarkan pedang
yang ada di punggunngnya, iblis yang di panggil oleh Edward juga terihat ingin mengeluarkan
semburan api dari mulutnya yang sudah pasti akan mengenaiku 100%, namun aku tak
menghiraukannya.
“Sharp Frost!”
Kai mengeluarkan mantra sihir menyerang, itu adalah serpihan es yang sangat
tajam, ia melemparkan es itu kearah api yang akan melukai Setsuna, benturan
yang di akibatkan oleh api dan es tersebut, muncul uap yang menutup daerah dari
kaki iblis tersebut.
Elise yang sedang membidik mata dari
iblis tersebut agak terganggu denga uap tersebut, namun tak masalah baginya, ia
menembakkan anak panahnya dengan sangat tenang, menembus uap uap itu anak panah
yang ia tembakan tepat mengenai mata kiri sang iblis, iblis itu pun kelilangan
keseimbangannya, dengan cepat Elise mengambil satu anak panah lagi yang
langsung ia bidik dan tembakan dan mengenai mata sebelah kanan iblis tersebut.
“Hyah!!!”
Sayatan pedang Setsuna dengan instan memotong kaki dari iblis tersebut dan
dengan cepatnya iblis itu terjatuh ke tanah dan menguap, iblis itu hilang dalam
sekejap mata, bahkan Setsuna sendiri tidak akan menyangka akan semudah ini
mengalahkannya.
“Apa.. apakah sudah selesai?”
“INI BELUM SELESAI SETUNAAAAAAA”
Teriakan itu berasal dari belakangku, aku melihat Edward yang hendak
mengayunkan pedangnya secara vertikal, aku bersiap dan menangkis serangannya,
dan melompat kebelakang untuk membuat jarak antara aku dan dia.
“Sudah cukup Edward, kau sudah kalah kerakusanmu akan gelar dari kerajaan
segera berakhir disini”
“Berisik kau bocah tengik!”
Edward melaju dengan sangat cepat, aura membunuh yang kurasakan bukan main,
ayunan pedangnya sangat cepat aku tidak bisa menandinginya, aku hanya bisa
menahan serangannya, aku sama sekali tidak bisa menyerangnya, tidak ada celah
yang ia berikan aku terpaksa membenturkan pedangku dengan keras dan melompat
kebelakang dengan cara menjatuhkan diriku sendiri agar bisa membuat jarak lagi.
Berhasil membuat jarak, Edward
berhenti untuk menyerangku, ia menoleh ke arahku seolah mengejek.
“Inikah kekuatan pendekar pedang
terbaik tahun ini? Ini sama sekali tidak menarik.”
Disaat ia sedang berbicara aku
bangun dan mengayunkan pedangku secara vertikal dan lagi lagi ia menahannya,
mengganti pola seranganku, aku meloncat ke bagian kiri dari tubuhnya dan
mengayunkan pedangku secara horizontal, namun tidak berhasil, Edward menyadari
itu dan langsung melompat mundur kebelakang.
Tanpa jeda aku langsung maju lagi
ke hadapan Edward, mengarahkan pedangku tepat ke perutnya, Edward lagi lagi
menghindar.
Tepat. Sesuai dugaanku.
Langkah kaki kananku yang sedang berlari kencang mendadak berhenti dan aku
memutarkan badanku ke langit dengan sekuat tenaga, melompat sambil memutar
badan dan mengayunkan pedang scara vertikal dengan sekuat tenaga.
“Uooohhhh!!!!!”
Setsuna terjatuh ke tanah dengan
berputar putar akibat dari lompatan tadi, kepalanya terasa pusing saat ingin
bangun, saat ia mencoba untuk bangun Setsuna kembali terjatuh dan tak sadarkan
diri.
***
Warna langit berubah menjadi
warna jingga, disertai dengan berterbangannya bunga sakura Setsuna membuka
matanya, sambil melihat sesosok wanita yang sedang melihatnya, Elise, ia
memangku setsuna di atas kedua kakinya yang sedang duduk, Setsuna melihat Elise
sedang meneteskan air matanya sambil tersenyum.
“Hei.. Apakah ini semua sudah
berakhir? Kau jelek saat menangis, tersenyumlah...”
“Ya... iya ini semua sudah
berakhir, aku sangat panik ketika kau terjatuh, aku tidak tau lagi harus
berbuat apa jika kau—“
“Sudahlah, buktinya aku masih
ada disini kan?”
“Ya... syukurlah.. syukurlah kau
masih hidup....”
Elise memeluk Setsuna dengan erat, begitu sebaliknya dengan Setsuna yang
tersenyum karena ia bisa bertemu dengan Elise lagi, baginya itu sudah cukup.
Setelah Setsuna jatuh pingsan, kejadian yang terjadi adalah tebasan pedang
Setsuna tidak mengenai badan Edward melainkan tangan kanannya, degan cepat
membekukan selruh badan dari Edward untuk memberhentikan darahnya dan
mencegahnya agar ia tidak kembali memberontak. Selanjutnya, pasukan kerajaan
datang dan membereskannya.
Setelah kejadian ini, Setsuna di anggap sebagai Pahlawan kota dan mendapat
penghargaan sebagai orang yang pertama yang bisa membasmi iblis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar