Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Kisah Yang Kau Lukiskan

"Kisah Yang Kau Lukiskan"
Karya : Kayantina Febiola


Aku Arra, seorang perempuan yang mempunyai kebiasaan tidak bisa diam dan selalu membuat suasana kelas menjadi ramai. Dengan segala tingkah lakuku, aku yakin banyak teman-teman ku merasa terganggu akan adanya kehadiran diriku. Tapi, dia tidak. Dia yang selalu memperhatikanku, dia yang memperlakukan aku berbeda dari perempuan lainnya, dia yang menaruh perhatian kepadaku, dia yang senantiasa mengabaikan kegiatannnya hanya untukku. Dia menganggapku adalah perempuan yang penuh dengan semangat. Dia adalah Atta. Sungguh suatu kebetulan, nama kita yang hanya berbeda huruf antara r dan juga t.


Hingga suatu hari disaat tugas sekolah begitu banyak, Atta bertanya padaku melalui aplikasi jejaring sosial line.

"Ra.."

Ketika pesan itu datang, aku tidak langsung membalasnya. Aku takut untuk membalas dan bingung harus membalas apa.

"Arra.."

Pesan kedua datang setelah 3 menit kemudian. Aku bingung. Haruskah aku membalasanya? Kenapa dia mengirim pesan jika hanya memanggil nama ku saja?

"Besok ada PR apa saja?"

Oh, setelah pesan ketiga ini aku paham kenapa dia mengirim pesan untukku. Aku membalas

"Maaf baru balas, hanya ada PR biologi dan juga seni rupa"

"Seni rupa? Apa yang dikumpulkan untuk seni rupa?"

Begitu cepat dia membalas, kurang dari 1 menit

"Itu, tugas menggambar"

"Oh baiklah"

"Ya ta"

Tidak ada ucapan terima kasih atau semacamnya, dia mengakhiri pesannya dengan singkat.
Keesokkan harinya disekolah, dia yang kebetulan duduk bersebelahan dengan mejaku memanggilku.

"Ra, terima kasih ya kemarin kamu telah memberi tahu kalau ada pr seni rupa"

Aku terkejut, ternyata aku salah sangka dengannya. Aku menjawab dengan anggukan dan menundukkan kepala lalu dia membalasnya dengan senyum manisnya.

Di balik tundukkan kepala untuk meredam segala debaran yang kurasa, ada kecil harapan supaya kita bisa saling kenal di waktu yang sesungguhnya. Di balik kagum yang diam-diam masih kusemai, ada keinginan supaya rasaku padanya akan sampai. Semesta belum mengizinkan, pun aku mungkin belum siap untuk dihadiahi sebuah pertemuan. Semisal nanti kita dipertemukan di pertengahan jalan, entah akan dengan cara apa bahagia mampu untuk kuungkapkan. Mungkinkah itu dia, yang akan melengkapiku menjadi kita? Mungkinkah itu dia, yang akan menjadi kuala dari segala debar dalam dada? Meski belum menjadi siapa-siapa, bukan berarti aku tak pernah ingin kita saling menyapa. Setiap Atta melintas, ada pandanganku yang tak mau lepas. Setiap Atta tersenyum, ada dadaku berdentum.

Hari demi hari berjalan begitu cepat, hingga pada saat bulan ramadhan datang. Dia selalu mengirim pesan kepadaku setiap hari. Aku merasa dia kesepian atau tidak tau melakukan hal apa maka dari itu dia mengirim pesan kepadaku. Tetapi aku mengambil positifnya saja bahwa dia butuh teman. Aku bercanda ria, bercerita, dan bahkan bertatap muka melalu video call selama bulan ramadhan itu. Tidak ada hari yang kami lewatkan untuk berbalas pesan teks.

Hingga pada awal semester genap dimulai, aku memiliki harapan, harapan untuk disayangi oleh Atta. Karena Atta selalu menemaniku di saat aku membutuhkan seseorang. Dia Atta yang kelihatannya cuek namun memiliki sejuta perhatiannya yang hanya ditunjukkan kepadaku begitu pikirku. Entah aku yang begitu percaya diri atau apa.

Namun, aku merasakan perubahan pada Atta. Dia mulai menghindari percakapan yang serius denganku. Apa dia sengaja atau dia hanya mengrejaiku? Aku penasaran. Aku mencari tahu. Dan akhirnya, aku menemukan jawabannya. Atta memiliki kekasih.

Kelu lidah ini saat tahu akan hal itu, perih mata ini saat menahan apa yang harus keluar. Aku sadar, bahwa Atta tidak menjanjikan apa-apa terhadapku. Tetapi, ini perasaan bukan barang yang bisa dipermainkan. Aku ingin, sangat ingin sekali memberi tahu kepadanya betapa aku berharap akan kehadiran dirinya di hatiku. Namun, aku memiliki kesadaran bahwa aku adalah perempuan dan tidak mungkin bahwa perempuan akan mengakui perasaannya dahulu.

Entah, aku  berdiri untuk menatap mereka atau untuk mengukur seberapa rapuh diriku yang bisa menumpukan diri pada kakiku yang melemah.

Aku masih menangis dalam tawa.

Tersenyum dalam tangis.

Tertawa pada kepahitan.

Dan, aku pernah mencoba untuk memperbaiki ini.

Terakhir kali ada seseorang yang mencoba memperbaikinya, orang itu hanya memperparah luka.

Menoreh siletan besar dihati rongsokku.

Sudahlah, aku akan membiarkan ini semua berjalan dengan semestinya

Sampai aku mengerti, bahwa iming-iming cinta hanya akan menyakitiku, sampai nanti aku akan menemukan satu yang tepat.

Aku masih menunggu.

Berharap bahwa satu yang tepat itu adalah seseorang yang sudah merusak hatiku menjadi pecahan kecil, berharap Atta kembali.

Entah.

Untuk apa?


Memperbaiki hati atau menoreh luka lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar