"Kisah Yang Kau Lukiskan"
Karya
: Kayantina Febiola
Aku Arra, seorang perempuan yang mempunyai kebiasaan
tidak bisa diam dan selalu membuat suasana kelas menjadi ramai. Dengan segala
tingkah lakuku, aku yakin banyak teman-teman ku merasa terganggu akan adanya
kehadiran diriku. Tapi, dia tidak. Dia yang selalu memperhatikanku, dia yang
memperlakukan aku berbeda dari perempuan lainnya, dia yang menaruh perhatian
kepadaku, dia yang senantiasa mengabaikan kegiatannnya hanya untukku. Dia
menganggapku adalah perempuan yang penuh dengan semangat. Dia adalah Atta.
Sungguh suatu kebetulan, nama kita yang hanya berbeda huruf antara r dan juga
t.
Hingga suatu hari disaat tugas sekolah begitu banyak,
Atta bertanya padaku melalui aplikasi jejaring sosial line.
"Ra.."
Ketika pesan itu datang, aku tidak langsung membalasnya.
Aku takut untuk membalas dan bingung harus membalas apa.
"Arra.."
Pesan kedua datang setelah 3 menit kemudian. Aku
bingung. Haruskah aku membalasanya? Kenapa dia mengirim pesan jika hanya
memanggil nama ku saja?
"Besok ada PR apa saja?"
Oh, setelah pesan ketiga ini aku paham kenapa dia
mengirim pesan untukku. Aku membalas
"Maaf baru balas, hanya ada PR biologi dan juga
seni rupa"
"Seni rupa? Apa yang dikumpulkan untuk seni
rupa?"
Begitu cepat dia membalas, kurang dari 1 menit
"Itu, tugas menggambar"
"Oh baiklah"
"Ya ta"
Tidak ada ucapan terima kasih atau semacamnya, dia
mengakhiri pesannya dengan singkat.
Keesokkan harinya disekolah, dia yang kebetulan duduk
bersebelahan dengan mejaku memanggilku.
"Ra, terima kasih ya kemarin kamu telah memberi
tahu kalau ada pr seni rupa"
Aku terkejut, ternyata aku salah sangka dengannya. Aku
menjawab dengan anggukan dan menundukkan kepala lalu dia membalasnya dengan
senyum manisnya.
Di balik tundukkan kepala untuk meredam segala debaran
yang kurasa, ada kecil harapan supaya kita bisa saling kenal di waktu yang
sesungguhnya. Di balik kagum yang diam-diam masih kusemai, ada keinginan supaya
rasaku padanya akan sampai. Semesta belum mengizinkan, pun aku mungkin belum siap
untuk dihadiahi sebuah pertemuan. Semisal nanti kita dipertemukan di
pertengahan jalan, entah akan dengan cara apa bahagia mampu untuk kuungkapkan.
Mungkinkah itu dia, yang akan melengkapiku menjadi kita? Mungkinkah itu dia,
yang akan menjadi kuala dari segala debar dalam dada? Meski belum menjadi
siapa-siapa, bukan berarti aku tak pernah ingin kita saling menyapa. Setiap
Atta melintas, ada pandanganku yang tak mau lepas. Setiap Atta tersenyum, ada
dadaku berdentum.
Hari demi hari berjalan begitu cepat, hingga pada saat
bulan ramadhan datang. Dia selalu mengirim pesan kepadaku setiap hari. Aku
merasa dia kesepian atau tidak tau melakukan hal apa maka dari itu dia mengirim
pesan kepadaku. Tetapi aku mengambil positifnya saja bahwa dia butuh teman. Aku
bercanda ria, bercerita, dan bahkan bertatap muka melalu video call selama
bulan ramadhan itu. Tidak ada hari yang kami lewatkan untuk berbalas pesan
teks.
Hingga pada awal semester genap dimulai, aku memiliki
harapan, harapan untuk disayangi oleh Atta. Karena Atta selalu menemaniku di
saat aku membutuhkan seseorang. Dia Atta yang kelihatannya cuek namun memiliki
sejuta perhatiannya yang hanya ditunjukkan kepadaku begitu pikirku. Entah aku
yang begitu percaya diri atau apa.
Namun, aku merasakan perubahan pada Atta. Dia mulai
menghindari percakapan yang serius denganku. Apa dia sengaja atau dia hanya
mengrejaiku? Aku penasaran. Aku mencari tahu. Dan akhirnya, aku menemukan
jawabannya. Atta memiliki kekasih.
Kelu lidah ini saat tahu akan hal itu, perih mata ini
saat menahan apa yang harus keluar. Aku sadar, bahwa Atta tidak menjanjikan
apa-apa terhadapku. Tetapi, ini perasaan bukan barang yang bisa dipermainkan.
Aku ingin, sangat ingin sekali memberi tahu kepadanya betapa aku berharap akan
kehadiran dirinya di hatiku. Namun, aku memiliki kesadaran bahwa aku adalah
perempuan dan tidak mungkin bahwa perempuan akan mengakui perasaannya dahulu.
Entah, aku
berdiri untuk menatap mereka atau untuk mengukur seberapa rapuh diriku
yang bisa menumpukan diri pada kakiku yang melemah.
Aku masih menangis dalam tawa.
Tersenyum dalam tangis.
Tertawa pada kepahitan.
Dan, aku pernah mencoba untuk memperbaiki ini.
Terakhir kali ada seseorang yang mencoba
memperbaikinya, orang itu hanya memperparah luka.
Menoreh siletan besar dihati rongsokku.
Sudahlah, aku akan membiarkan ini semua berjalan
dengan semestinya
Sampai aku mengerti, bahwa iming-iming cinta hanya
akan menyakitiku, sampai nanti aku akan menemukan satu yang tepat.
Aku masih menunggu.
Berharap bahwa satu yang tepat itu adalah seseorang
yang sudah merusak hatiku menjadi pecahan kecil, berharap Atta kembali.
Entah.
Untuk apa?
Memperbaiki hati atau menoreh luka lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar