Friendzone
Karya : Adilah Manggiasih
Sahabat, orang bilang sahabat itu
adalah segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama dengan teman disetiap momen.
Mau susah, senang, suka maupun duka dilalui bersama dengan saling menopang satu
sama lain. Iya, kami sama seperti itu. Kami, yaitu aku dan Fira merupakan
sahabat yang sesuai dengan definisi tadi. Kami sudah dari umur 13 tahun hingga
saat ini menginjak umur 19 tahun. Namun, 3 tahun belakangan ini aku telah
memendam rasa dengan Fira. Ya, karena kami selalu bersama dan saling bertukar
perhatian jadinya tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku. Tapi aku tidak berani
mengungkapkannya karena aku tidak ingin merusak persahabatan ini.
Kringgg…
“Hallo Fir, ada apa ya?”
“Hari ini kamu kosong nggak Wan? Temani aku beli coklat yuk sekarang.”
“Oh kosong kok, oke deh aku jemput kamu sekarang ya.”
“Hallo Fir, ada apa ya?”
“Hari ini kamu kosong nggak Wan? Temani aku beli coklat yuk sekarang.”
“Oh kosong kok, oke deh aku jemput kamu sekarang ya.”
Seperti
itulah, mulai dari urusan kecil sampai urusan besar kami selalu saling menemani
satu sama lain.
Tok
tok tok…
“Firaaa….”
“Eh Wawan udah dateng, ayo berangkat sekarang.”
“Buat apa sih beli coklat? Perasaan kamu enggak suka coklat karena takut gemuk ya?”
“Hehe aku beli coklat bukan buat aku kok, tapi buat Rendy.”
“Firaaa….”
“Eh Wawan udah dateng, ayo berangkat sekarang.”
“Buat apa sih beli coklat? Perasaan kamu enggak suka coklat karena takut gemuk ya?”
“Hehe aku beli coklat bukan buat aku kok, tapi buat Rendy.”
Rendy,
pria tampan nan kaya yang akhir-akhir ini memang sering dicurahkan oleh Fira
kepadaku. Pria playboy yang dulu merupakan kakak kelas kami sewaktu SMP ini
memang lagi dekat dengan Fira. Jujur hati kesal dan cemburu ini tak boleh
terlihat sedikitpun dalam raut wajah ataupun kelakuanku agar Fira tidak curiga
dan tetap nyaman menceritakan semua kedekatannya kepadaku.
Selagi
Fira memilih coklat mana yang akan ia beli, aku menyodorkan es krim kesukaan
dia.
“Pasti kamu haus kan? Nih aku beli es krim kesukaanmu.” Ucapku,
“Wah, kamu tau banget ya kesukaanku. Makasih ya Wan. Oh iya, aku udah beli coklatnya nih, kita langsung pulang ya.” Sahut Fira,
“Tumbenan kamu minta langsung pulang. Biasanya makan dulu ke kafe siang gini.” Jawabku,
“Pasti kamu haus kan? Nih aku beli es krim kesukaanmu.” Ucapku,
“Wah, kamu tau banget ya kesukaanku. Makasih ya Wan. Oh iya, aku udah beli coklatnya nih, kita langsung pulang ya.” Sahut Fira,
“Tumbenan kamu minta langsung pulang. Biasanya makan dulu ke kafe siang gini.” Jawabku,
Hari
itu kami pulang lebih awal karena permintaan Fira. Padahal jarum jam baru
mengarah di angka 1 dan juga cuaca panas ini sedang terik-teriknya, dia
memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumah. Aku hanya menuruti saja
permintaan Fira itu.
Aku
pun pulang ke rumah dan merebahkan tubuhku yang lemas ini setelah sebelumnya
mengantarkan Fira pulang terlebih dahulu. Entah apa yang akan Fira rencanakan
setelah ini, aku tidak mengetahuinya karena Fira tidak menceritakannya.
“Wan…
ada Fira tuh di luar. Keluar gih temuin Fira.”
Aku
terbangun karena perkataan Ibu yang begitu keras. Ternyata waktu sudah
menunjukkan pukul 5 sore, wah lama juga aku tertidur. Aku segera cuci muka dan
menuju depan rumah untuk menemui Fira.
“Eh
Fira, ada apa Fir sore-sore kemari?” Tanyaku,
“Enggak ada apa-apa kok aku mau cerita aja sama kamu.” Jawab Fira,
“Ya udah sok atuh pake bilang mau cerita segala, orang biasanya aja kamu langsung nyerocos gitu aja kalo ketemu.”
“Hehe soalnya aku lagi seneng hari ini.”
“Wah pantesan jadi gitu. Ada apa hayo coba ceritakan.”
“Hehe iya iya. Tadi tuh aku minta pulang cepet karena ada janji sama Rendy mau ketemuan. Terus sukses deh ketemuannya dan Rendy suka sama coklat pemberianku. Terus Rendy juga bilang kalo dia sayang sama aku terus…”
“Terus dia nembak kamu? Terus kamu terima?” Potongku,
“Hih nyerobot aja omongan orang, iya dia nembak aku. Ya aku terima lah, soalnya aku juga suka sama Rendy hehe dia ganteng banget.”
“Apa enggak terlalu cepat kalian pacaran? Kan baru 2 minggu pendekatannya, terus juga dia kan terkenal playboy sejak SMP.”
“Enggak papa lah, namanya juga suka hehe, masalah playboy udah enggak kok, Rendy bilang sendiri sama aku. Ya udah ya aku pulang, udah mau maghrib. Lagian aku kesini cuma mau cerita itu aja. Dadah Wawan.”
“Astaga, dasar Fira pamer aja”
“Enggak ada apa-apa kok aku mau cerita aja sama kamu.” Jawab Fira,
“Ya udah sok atuh pake bilang mau cerita segala, orang biasanya aja kamu langsung nyerocos gitu aja kalo ketemu.”
“Hehe soalnya aku lagi seneng hari ini.”
“Wah pantesan jadi gitu. Ada apa hayo coba ceritakan.”
“Hehe iya iya. Tadi tuh aku minta pulang cepet karena ada janji sama Rendy mau ketemuan. Terus sukses deh ketemuannya dan Rendy suka sama coklat pemberianku. Terus Rendy juga bilang kalo dia sayang sama aku terus…”
“Terus dia nembak kamu? Terus kamu terima?” Potongku,
“Hih nyerobot aja omongan orang, iya dia nembak aku. Ya aku terima lah, soalnya aku juga suka sama Rendy hehe dia ganteng banget.”
“Apa enggak terlalu cepat kalian pacaran? Kan baru 2 minggu pendekatannya, terus juga dia kan terkenal playboy sejak SMP.”
“Enggak papa lah, namanya juga suka hehe, masalah playboy udah enggak kok, Rendy bilang sendiri sama aku. Ya udah ya aku pulang, udah mau maghrib. Lagian aku kesini cuma mau cerita itu aja. Dadah Wawan.”
“Astaga, dasar Fira pamer aja”
Hatiku
hancur mendengar cerita dari Fira itu. Ternyata mereka sudah berpacaran. Tapi
aku masih penasaran dengan Rendy, apakah benar dia sudah tak lagi playboy? Aku
tidak mau kalo Rendy mempermainkan sahabatku ini. Mulai saat ini aku akan
menyelidiki profil Rendy. Aku telusuri mulai dari akun sosial medianya,
sesekali juga aku melewati rumahnya, tapi ternyata aman. Tidak ada tanda-tanda
mencurigakan dari sang playboy ini.
5
bulan sudah mereka berpacaran, dan selama itu juga aku selalu mendengarkan
curahan hati dari Fira tentang Rendy. Sial, selama itu juga aku harus memendam
rasa cemburu yang bergejolak ini. Sampai akhirnya saat malam hari di jalan aku
melihat Rendy sedang berboncengan dengan seorang perempuan. Setelah aku lihat,
ternyata itu bukan Fira, melainkan orang lain yang tidak aku kenal. Terus aku
ikuti perginya, sampai di rumah Rendy mereka masuk bersama. Mulai saat itu aku
menyelidiki kemanapun Rendy pergi.
Keesokan
harinya, ketika aku sedang asyik nongkrong dengan temanku. Iya temanku, cowok,
namanya Joko, dan bukan dengan Fira lagi aku pergi. Sejak Fira memiliki pacar,
dia menjadi sedikit jaga jarak denganku dan aku menghormati keputusannya itu.
Aku menghabiskan malam itu hanya bersama Joko.
“Sebentar
ya teman, aku ke toilet dulu. Udah gak tahan.” Ucapku,
“Haha iya sudah sana. Jangan lama-lama!” Jawab Joko,
“Haha iya sudah sana. Jangan lama-lama!” Jawab Joko,
Ketika
sedang menuju ke toilet, aku seperti melihat sosok Rendy yang berada di kursi
pojok sana bersama seorang perempuan yang waktu itu aku lihat sedang
berboncengan dengannya kemarin. Aku berinisiatif untuk memotret mereka berdua
dan memberikannya ke Fira sebagai bukti bahwa ternyata Rendy masih playboy dan
belum berubah.
“Hoy,
ayo cepat kita pulang sekarang. Aku ada urusan.” Pintaku,
“Cepet amat Wan, ada apa ya?” Tanya Joko,
“Udah nanti aja aku ceritain, sekarang kita ke rumah Fira dulu aja deh, baru pulang.”
“Cepet amat Wan, ada apa ya?” Tanya Joko,
“Udah nanti aja aku ceritain, sekarang kita ke rumah Fira dulu aja deh, baru pulang.”
Setelah
sampai di rumah Fira, aku segera menceritakan dan menunjukkan apa yang sudah
aku lihat di kafe tadi.
“Oh
jadi ini, pantesan kamu minta buru-buru kemari.” Ucap Joko,
“Ini apa-apaan! Siapa ini Wan? Siapa perempuan yang bersama Rendy itu? Aku tidak mengenalnya dan Rendy tidak cerita apa-apa ke aku.” Ujar Fira,
“Aku juga enggak tau siapa, tapi itulah yang aku lihat. Makanya aku kasih tau ke kamu. Kayanya Rendy memang masih playboy deh.” Jawabku,
“Aku enggak sangka ternyata Rendy bohong sama aku. Aku enggak suka dibohongi. Aku mau putus sama dia.”
“Ini apa-apaan! Siapa ini Wan? Siapa perempuan yang bersama Rendy itu? Aku tidak mengenalnya dan Rendy tidak cerita apa-apa ke aku.” Ujar Fira,
“Aku juga enggak tau siapa, tapi itulah yang aku lihat. Makanya aku kasih tau ke kamu. Kayanya Rendy memang masih playboy deh.” Jawabku,
“Aku enggak sangka ternyata Rendy bohong sama aku. Aku enggak suka dibohongi. Aku mau putus sama dia.”
Malam
yang panjang dan menyedihkan bagi Fira itu telah dilalui dengan rasa gundah di
dada menahan rasa sakit yang tiada tara karena sosok pujaan telah berani
membohongi dan mematahkan kepercayaan darinya. Keesokan harinya Fira memintaku
untuk mengantarkannya ke rumah Rendy.
Tok
tok tok…
Saat Fira mengetuk pintu, tiba-tiba yang membukakan pintu rumah Rendy ternyata perempuan yang semalam aku lihat bersama Rendy. Spontan Fira langsung menanyakan dengan kasarnya.
Saat Fira mengetuk pintu, tiba-tiba yang membukakan pintu rumah Rendy ternyata perempuan yang semalam aku lihat bersama Rendy. Spontan Fira langsung menanyakan dengan kasarnya.
“Kamu
siapa? Kok ada di rumah Rendy? Kamu pacarnya Rendy? Selingkuhannya Rendy? Atau
simpanannya?” Ujar Fira,
“Aku…”
“Dia saudaraku yang datang dari Surabaya.” Potong Rendy yang tiba-tiba datang,
“Kamu bohong! Kenapa kamu gak bilang sama aku? Ini pasti selingkuhanmu! Sebab itu kamu menghilang akhir-akhir ini. Dasar playboy! Aku mau putus!” Ucap Fira,
“Sudah-sudah Fir, jangan emosi, gak enak di rumah orang ini.” Ucapku menenangkan Fira,
“Kamu siapa? Kok dateng sama Fira?” Tanya Rendy kepadaku,
“Aku sahabatnya Fira…”
“Dan dia yang ngasih tau selingkuhanmu ini kepadaku.” Potong Fira,
“Oh jadi kamu yang menyebarkan fitnah ini?” Ujar Rendy,
“Iya kak, ini fitnah, aku memang saudaranya mas Rendy, aku dititipkan kesini karena orangtuaku yang ada di Surabaya bakal ke luar negeri. Sebab itu aku ada disini dan baru sampai kemarin.” Ucap Perempuan itu,
“Jadi benar seperti itu Ren?” Tanya Fira,
“Iya benar lah. Aku belum bilang sama kamu karena hpku sedang di service.” Jawab Rendy,
“Kenapa Wan? Kenapa kamu fitnah Rendy kaya gini?” Tanya Fira,
“Mungkin karena dia suka sama kamu dan mau kalo kita putus.” Ujar Rendy,
“Apakah benar seperti itu Wan?” Tanya Fira lagi,
“Iya benar! Semua itu memang benar! Aku memang sudah suka sejak lama sama kamu Fir, dan aku enggak mau kalo kamu pacaran sama playboy cap gorila ini! Sekali playboy tetap aja playboy!” Pengakuanku,
“Tapi enggak gini caranya Wan… bukan dengan cara fitnah seperti ini. Aku bener-bener kecewa sama kamu. Persahabatan kita cukup sampai disini saja dan silakan kamu pergi.” Ucap Fira,
“Aku…”
“Dia saudaraku yang datang dari Surabaya.” Potong Rendy yang tiba-tiba datang,
“Kamu bohong! Kenapa kamu gak bilang sama aku? Ini pasti selingkuhanmu! Sebab itu kamu menghilang akhir-akhir ini. Dasar playboy! Aku mau putus!” Ucap Fira,
“Sudah-sudah Fir, jangan emosi, gak enak di rumah orang ini.” Ucapku menenangkan Fira,
“Kamu siapa? Kok dateng sama Fira?” Tanya Rendy kepadaku,
“Aku sahabatnya Fira…”
“Dan dia yang ngasih tau selingkuhanmu ini kepadaku.” Potong Fira,
“Oh jadi kamu yang menyebarkan fitnah ini?” Ujar Rendy,
“Iya kak, ini fitnah, aku memang saudaranya mas Rendy, aku dititipkan kesini karena orangtuaku yang ada di Surabaya bakal ke luar negeri. Sebab itu aku ada disini dan baru sampai kemarin.” Ucap Perempuan itu,
“Jadi benar seperti itu Ren?” Tanya Fira,
“Iya benar lah. Aku belum bilang sama kamu karena hpku sedang di service.” Jawab Rendy,
“Kenapa Wan? Kenapa kamu fitnah Rendy kaya gini?” Tanya Fira,
“Mungkin karena dia suka sama kamu dan mau kalo kita putus.” Ujar Rendy,
“Apakah benar seperti itu Wan?” Tanya Fira lagi,
“Iya benar! Semua itu memang benar! Aku memang sudah suka sejak lama sama kamu Fir, dan aku enggak mau kalo kamu pacaran sama playboy cap gorila ini! Sekali playboy tetap aja playboy!” Pengakuanku,
“Tapi enggak gini caranya Wan… bukan dengan cara fitnah seperti ini. Aku bener-bener kecewa sama kamu. Persahabatan kita cukup sampai disini saja dan silakan kamu pergi.” Ucap Fira,
Aku
tidak menjawab perkataan Fira dan langsung segera pergi dari tempat itu dengan
langkah penyesalan sebagai alasnya. “Kenapa aku ini? Kenapa aku sebodoh ini?
Aku telah menghancurkan semua!” Ucap hati berbisik sendiri.
Semenjak
kejadian itu, aku sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Fira. Dia menjauh
dariku dan tetap bersama Rendy. Aku hanya pasrah menerima semua ini. Aku sudah
tidak ada kuasa untuk memperbaiki kesalahanku ini. Kesalahan yang tidak
termaafkan. Hampa, sunyi kurasa dalam menjalani langkah demi langkah yang ku
lalui bila tak bersamanya. Harus terbiasa tanpa dirinya, tak boleh bergantung
pada dia yang sudah tak lagi peduli akan fisik, dan perasaan ini. Padahal aku
ingin yang terbaik untuknya, dan aku bisa berikan itu walau melalui status
sahabat ini, Fir.
Tak
terasa 1 tahun sudah, dan aku pun sudah melupakan kejadian itu. Aku sudah mulai
senang dengan duniaku yang baru ini dan sudah terbiasa dengan tanpa kehadiran
Fira di hidupku, tak seperti dulu. Kini aku sendiri, hanya Joko yang dapat
mengerti dan menemani dikala kesepian melanda. Kami masih saling nongkrong
bersama menghabiskan waktu di kafe langganan kami.
“Wan,
aku tadi lihat Rendy sedang bermesraan dengan seorang wanita. Kali ini beda,
bukan perempuan yang kamu lihat dulu. Ini aku dapat foto mereka berdua sedang
bermesraan di meja pojok.”
“Ah biarlah Jok, aku sudah tak lagi peduli. Paling wanita itu saudaranya lagi, aku gak mau fitnah lagi.”
“Enggak Wan, kali ini beda. Mereka terlihat sebaya dan coba kamu lihat betapa mesranya mereka di foto ini.”
“Wah, iya juga ya. Kita selidiki yuk, siapa tau yang ini bukan fitnah.”
“Ah biarlah Jok, aku sudah tak lagi peduli. Paling wanita itu saudaranya lagi, aku gak mau fitnah lagi.”
“Enggak Wan, kali ini beda. Mereka terlihat sebaya dan coba kamu lihat betapa mesranya mereka di foto ini.”
“Wah, iya juga ya. Kita selidiki yuk, siapa tau yang ini bukan fitnah.”
Kemudian
aku mengintip mereka yang sedang bermesraan di salah satu meja kafe. Aku juga
merekam aktifitas mereka. Mulai dari saling suap, saling belai, yang tak kalah
mengagetkan mereka sempat berciuman! Ini tidak bisa dibiarkan. Benar-benar
sudah keterlaluan dan aku harus segera melapor ke Fira. Tapi masalah yang
sebenarnya baru saja muncul, bagaimana cara membuktikannya kepada Fira,
sedangkan Fira sudah tidak mau lagi bertemu denganku.
“Kita
kirim saja rekaman ini ke sosial media milik Fira.” Ujar Joko,
“Gak bisa Jok, semua sosial mediaku yang berhubungan dengan dia sudah di blokir. Gimana kalo pake sosial mediamu saja untuk mengirimnya.” Ucapku,
“Yaelah Wan, kamu tau sendiri aku gak punya sosial media” Jawab Joko,
“Terus gimana ya Jok?”
“Ya udah, biar aku coba telepon Fira deh. Siapa tau diangkat.”
“Gak bisa Jok, semua sosial mediaku yang berhubungan dengan dia sudah di blokir. Gimana kalo pake sosial mediamu saja untuk mengirimnya.” Ucapku,
“Yaelah Wan, kamu tau sendiri aku gak punya sosial media” Jawab Joko,
“Terus gimana ya Jok?”
“Ya udah, biar aku coba telepon Fira deh. Siapa tau diangkat.”
Tuttttt…
“Hallo, siapa ya?”
“Ini aku Joko, temennya Wawan yang waktu itu ke rumahmu sama dia. Aku mau bicara sama kamu, penting.”
“Ada apa ya? Bicara di telepon saja, udah malem.”
“Jadi gini, aku tadi liat Rendy sedang bermesraan dengan seorang wanita. Mereka saling suap, saling belai, bahkan mereka… ah sudahlah pokoknya mereka sangat mesra, aku punya buktinya.”
“Fitnah apa lagi ini? Udah lah aku gak percaya lagi sama kalian. Jangan kasih fitnah apa-apa lagi tentang Rendy ke aku. Bye.”
Tuttt tuttt tutt…
“Hallo, siapa ya?”
“Ini aku Joko, temennya Wawan yang waktu itu ke rumahmu sama dia. Aku mau bicara sama kamu, penting.”
“Ada apa ya? Bicara di telepon saja, udah malem.”
“Jadi gini, aku tadi liat Rendy sedang bermesraan dengan seorang wanita. Mereka saling suap, saling belai, bahkan mereka… ah sudahlah pokoknya mereka sangat mesra, aku punya buktinya.”
“Fitnah apa lagi ini? Udah lah aku gak percaya lagi sama kalian. Jangan kasih fitnah apa-apa lagi tentang Rendy ke aku. Bye.”
Tuttt tuttt tutt…
Telepon
Joko diputus oleh Fira. Sepertinya Fira memang sudah tidak lagi percaya kepada
kami berdua karena kesalahan dulu tidak dapat termaafkan oleh Fira.
“Ya
udah lah, hapus aja rekamannya Jok, percuma. Fira udah enggak percaya. Kita
pulang aja, aku udah males disini.”
“Ya oke deh Wan aku nurut apa katamu.”
“Ya oke deh Wan aku nurut apa katamu.”
Siang
berganti malam, malam berganti siang. Begitu seterusnya sampai hari ini sudah 1
bulan dari kejadian malam itu yang mengecewakan karena Fira telah mengacuhkan
niat baik dari diriku.
Tokk
tok tok…
“Wawan….”
“Wawan….”
Aku
seperti mendengar suara Fira dari arah depan. Tapi mana mungkin Fira datang ke
rumahku. Secara, dia sudah tak lagi ingin bertemu denganku. Mungkin rindu ini
yang menyebabkan aku berhalusinasi di siang bolong gini.
“Wawan!”
Suara yang mirip Fira itu semakin keras dan semakin terdengar jelas. Aku keluar karena penasaran. Ketika aku ke luar ternyata benar itu Fira. Belum aku bertanya kepadanya, Fira langsung memelukku dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya dan kemudian jatuh sedikit membasahi kaos oblong yang sedang aku kenakan.
Suara yang mirip Fira itu semakin keras dan semakin terdengar jelas. Aku keluar karena penasaran. Ketika aku ke luar ternyata benar itu Fira. Belum aku bertanya kepadanya, Fira langsung memelukku dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya dan kemudian jatuh sedikit membasahi kaos oblong yang sedang aku kenakan.
“Sudah,
sudah. Ada apa sebenernya Fira? Ceritakan kepadaku.”
“Kamu masih nyimpen bukti kemesraan Rendy malam itu gak? Yang katanya kamu mau berikan kepadaku sebagai bukti.”
“Kamu masih nyimpen bukti kemesraan Rendy malam itu gak? Yang katanya kamu mau berikan kepadaku sebagai bukti.”
Langsung
saja aku mengecek hp dan ternyata yang tersisa hanyalah foto-fotonya saja
karena rekaman malam itu memang sudah dihapus.
“Aku
cuma ada foto-fotonya aja yang masih kesimpen nih.”
“Tuh kan bener, ini cewek yang sama kaya aku lihat barusan. Jadi barusan aku makan siang bareng mama di kafe yang biasa. Terus enggak sengaja aku lihat Rendy bersama cewek yang ada di foto ini. Mereka bener-bener mesra sama seperti yang waktu itu Joko beri tau.”
“Kamu yakin ini bukan fitnah yang aku sebabkan lagi?”
“Aku juga gak tau fitnah atau enggak. Cuma ada satu cara membuktikannya. Mari kita selidiki bersama.”
“Bersama? Kamu dan aku? Tapi kan, bukannya kamu udah gak mau ketemu aku lagi?”
“Udah lah Wan, jangan kaya anak kecil. Ini bukan saatnya membahas itu. Aku mau bukti Rendy ini. Kamu mau bantu aku atau enggak?”
“Iya deh aku mau bantu.”
“Tuh kan bener, ini cewek yang sama kaya aku lihat barusan. Jadi barusan aku makan siang bareng mama di kafe yang biasa. Terus enggak sengaja aku lihat Rendy bersama cewek yang ada di foto ini. Mereka bener-bener mesra sama seperti yang waktu itu Joko beri tau.”
“Kamu yakin ini bukan fitnah yang aku sebabkan lagi?”
“Aku juga gak tau fitnah atau enggak. Cuma ada satu cara membuktikannya. Mari kita selidiki bersama.”
“Bersama? Kamu dan aku? Tapi kan, bukannya kamu udah gak mau ketemu aku lagi?”
“Udah lah Wan, jangan kaya anak kecil. Ini bukan saatnya membahas itu. Aku mau bukti Rendy ini. Kamu mau bantu aku atau enggak?”
“Iya deh aku mau bantu.”
Kami
menyusun rencana bersama, banyak kami berdebat untuk memperoleh keputusan yang
bulat untuk rencana ini. Jujur saja aku kembali senang dengan sikap Fira yang
kembali cair kepadaku. Seakan dia sudah kembali seperti sedia kala. Walaupun
ini baru awal dia ketemu aku, bisa saja besok sudah tidak lagi ingin bertemu
denganku. Akhirnya kami menemukan rencana yang ideal untuk menjebak Rendy. Kami
akan menjalankan rencana pada sore hari.
Tibalah
saatnya melaksanakan rencana….
Kami datang ke kafe yang biasa melihat Rendy. Aku datang bersama Fira dengan harapan bisa melihat atau bertemu Rendy bersama wanita itu lagi. 2 jam kami menunggu, ternyata benar. Rendy datang bersama wanita itu lagi. Kami tunggu sampai suasana tenang dulu baru melaksanakan rencana selanjutnya.
Kami datang ke kafe yang biasa melihat Rendy. Aku datang bersama Fira dengan harapan bisa melihat atau bertemu Rendy bersama wanita itu lagi. 2 jam kami menunggu, ternyata benar. Rendy datang bersama wanita itu lagi. Kami tunggu sampai suasana tenang dulu baru melaksanakan rencana selanjutnya.
“Rendy,
kamu lagi dimana?” Sms Fira kepada Rendy, tapi Rendy tidak membalas. Akhirnya
Fira memberanikan diri untuk menelepon Rendy.
“Hallo
Rendy kamu lagi dimana?”
“Eh Fira, ada apa? Aku lagi di rumah saudara.”
“Eh Fira, ada apa? Aku lagi di rumah saudara.”
Jelas
Rendy menutupi perbincangan di telepon itu karena dia menjauhi wanita yang
sedang bersamanya itu, agar dia tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan
Rendy.
“Aku
mau ketemu kamu sekarang ya kita ketemu di toko buah depan rumahku.”
“Enggak bisa sekarang Fira, aku lagi merawat saudaraku yang lagi sakit.”
“Enggak bisa sekarang Fira, aku lagi merawat saudaraku yang lagi sakit.”
Jelas
lagi terlihat bahwa Rendy berbohong. Rendy menutupi fakta yang sebenarnya dia
lakukan malam itu. Fira langsung menutup teleponnya dan berkata kepadaku.
“Kamu
benar Wan, kali ini memang bukan finah. Mari kita selesaikan bersama.”
Fira
langsung menuju meja yang sedang diduduki oleh Rendy dengan tergesa-gesanya.
Dubrakkkk…
suara bantingan tangan ke arah meja Rendy.
“Jadi
ini? Jadi disini rumah saudara kamu?”
“Bu.. bukaan gitu…”
“Jadi wanita itu yang kamu bilang sakit? Yang kamu bilang bakal merawatnya? Cantik gini ya.”
“Bisa aku jelasin semua kok Firaaa.”
“Udah nggak ada yang harus kamu jelasin. Kamu sekarang bohong sama aku, dan aku sangat benci kebohongan. Mungkin benar dulu Wawan udah fitnah ke kamu. Tapi perkataan Wawan dulu ada benernya kalo sekali playboy tetep aja playboy!”
“Oh jadi ini semua karena ulah kamu lagi Wan? Dasar kurang ajar!”
“Bu.. bukaan gitu…”
“Jadi wanita itu yang kamu bilang sakit? Yang kamu bilang bakal merawatnya? Cantik gini ya.”
“Bisa aku jelasin semua kok Firaaa.”
“Udah nggak ada yang harus kamu jelasin. Kamu sekarang bohong sama aku, dan aku sangat benci kebohongan. Mungkin benar dulu Wawan udah fitnah ke kamu. Tapi perkataan Wawan dulu ada benernya kalo sekali playboy tetep aja playboy!”
“Oh jadi ini semua karena ulah kamu lagi Wan? Dasar kurang ajar!”
Rendy
melontarkan pukulan kerasnya ke arah hidungku sampai mengeluarkan darah cukup
banyak. Aku tak dapat berkutik karena menahan sakit ini. Bukan aku yang
membalas Rendy melainkan Fira yang menendang perut Rendy sampai terjungkal
jatuh.
“Rasakan
itu! Aku mau putus sama kamu! Jangan ganggu aku lagi!”
Kami
meninggalkan Rendy yang sedang terkapar itu. Fira menuntunku ke luar dan
memberikanku sapu tangan untuk membersihkan darah yang masih saja keluar dari
hidungku.
“Maaf
ya Wan, gara-gara aku kamu jadi gini.”
“Enggak papa kok Fir, memang sudah seharusnya sebagai seorang sahabat itu membantu sahabatnya yang lagi kesusahan, senang bisa membantu”
“Sahabat ya Wan. Jadi kita sahabatan lagi?”
“Iya kan Fir? Aku mau sahabatan lagi sama kamu dan aku janji tidak akan merusak persahabatan kita lagi. Aku takut kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.”
“Makasih ya Wan, kamu baik banget. Aku menyesal pernah bilang kasar dulu ke kamu. Iya kita sahabatan kaya dulu lagi hehe.”
“Enggak papa kok Fir, memang sudah seharusnya sebagai seorang sahabat itu membantu sahabatnya yang lagi kesusahan, senang bisa membantu”
“Sahabat ya Wan. Jadi kita sahabatan lagi?”
“Iya kan Fir? Aku mau sahabatan lagi sama kamu dan aku janji tidak akan merusak persahabatan kita lagi. Aku takut kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.”
“Makasih ya Wan, kamu baik banget. Aku menyesal pernah bilang kasar dulu ke kamu. Iya kita sahabatan kaya dulu lagi hehe.”
Fira
memelukku sebagai tanda bahwa dia sudah tidak lagi marah dan menerimaku lagi
sebagai sahabatnya. Aku senang semua bisa kembali seperti sedia kala. Aku tidak
menyesal menjadi sahabat Fira. Aku juga tidak menyesal karena tidak bisa
menjadi pacar Fira. Aku tau kalo pacar bisa kapan saja putus. Tapi sahabat bisa
sampai kapanpun dan aku menjamin kali ini tidak akan sampai rusak persahabatan
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar