Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Pagi Yang Sial

PAGI YANG SIAL
Karya : Hana Restu Oktavia

Hari ini aku sial banget. Sepertinya “Sial” cocok jadi nama tengahku. Verra “Sial” Jayasmin, lengkapnya. Rasanya aku dilahirkan di dunia ini khusus untuk menjalani kehidupan super sial. Kira-kira seperti tokoh  Pluto dalam film-film Popeye The Sailorman.
Sebelum kalian menuduhku lebay, sebaiknya kalian mendengar dulu ceritaku pagi ini. Pertama-tama, aku ketahuan bangun telat. Ya sebenarnya aku biasa bangun telat. Aku pernah membaca dari internet bahwa kurang tidur dapat mengganggu kerja otak. Jadi, untuk menjaga otakku yang Cuma satu-satunya ini, aku memilih untuk bangun telat setiap harinya.

Jadi, sebenarnya bukan bangun telat yang kusebut sial, tapi ketahuan bangun telat. Lagi enak-enak tidur, tiba-tiba saja aku mendengar suara bentakan keras.
“Verra!”
Mengenali bahwa itu suara ibuku, aku langsung duduk tegak dan jidatku yang agak jenong ini langsung menyundul jidat ibuku. Aku hanya bias melongo, sementara wajah ibuku makin memerah karena marah. Saat ibuku mengayunkan tangannya untuk memukulku, nyawaku sudah terkumpul dalam kecepatan kilat dan mendapatkan gerak refleksku kembali. Aku loncat dari tempat tidurku ke depan pintu kamar.
“Verra, sini kamu”
“Sori, Ma. Aku udah telat banget nih. Aku sekolah dulu ya.”
“Verra!”
Aku tidak memedulikan teriakan ibuku lagi. Langsung saja aku mengambil sikat gigiku, juga tas, baju dan rok seragamku yang tergantung di belakang pintu. Astaga, seragamku masih kusut! Aku lupa menyetrikanya tadi malam! Ah tapi tidak perlu dipikirkan ini Cuma masalah kecil bagiku.
Aku bias mendengar ibuku mengejarku, jadi aku langsung lari ke halaman belakang, meloncati pagar dan disitulah ojek langgananku sudah mangkal. Jadi, langsung saja aku duduk di jok belakangnya.
“Cepetan, Jek!”
“Yo’i, Non.”
Kami pun langsung meninggalkan rumahku yang surram dan ibuku yang masih berteriak-teriak dibalik pagar rumahku.
Yes! Rintangan pertama berhasil kulalui!
Kami memutar ke pekarangan belakang sekolah dan berhenti tepat di bawah salah satu pohon akasia yang mengelilingi sekolahku, atau lebih tepatnya pohon yang nanti aku panjat untuk masuk ke dalam sekolah tanpa terdeteksi guru-guru yang tidak segan menangkap murid yang terlambat dan menyerahkannya ke dalam tangan Ranti. Ranti ini bukan penjaga sekolah, hansip, apalagi kepala sekolah, ia hanya guru piket biasa yang suka berlagak haus darah, hobi mengelilingi sekolah, dan yang paling mengerikan adalah ceramahnya yang super panjang. Membayangkannya saja aku sudah malas, bias-bisa telingaku panas mendengarkan ceramahnya, mendingan aku menghindari masalah dengan menyelinap melalui pintu belakang, atau pintu darurat, atau apa sajalah, selama tidak berhadapan dengan guru piket itu.
Aku segera memanjat pohon yang mepet pagar sekolah itu, dan meloncat turun di pekarangan belakang sekolah atau tepatnya belakang toilet cewek. Aku masuk ke dalam toilet cewek, mengganti kausku yang bermotif kepala babi dengan seragam sekolahku yang kusut, melepaskan celana pendekku dan memakai rok, merias wajahku sekadarnya supaya para guru terprovokasi untuk mengomentarinya, menyisir rambut sebahuku yang kusut ini, dan menjejalkan celana dan kausku tadi ke dalam tas ransel sekolahku.
Lalu, mendadak kusadari sesuatu.
Astaga, aku masih memakai sandal bulu berbentuk kepala sapi! Sandal itu sudah jelek dan buluk, tapi aku suka memakainya karena nyaman. Ya sudahlah. Aku sudah berusaha semampuku. Tapi aku tidak mungkin berkeliaran di sekolah dengan sandal kepala sapi. Bisa-bisa imejku sebagai cewek sangar tercoreng. Sepertinya jauh lebih keren kalau aku nyeker saja. Bukannya aku tidak pernah nyeker ya, harus kuakui bahwa aku sudah banyak melakukan hal aneh di sekolah ini. Jadi, ini bukan maslah besar untukku.
Setelah menjejalkan sandal bulukku ke dalam tas, aku melenggang keluar dari toilet sambil menyiulkan lagu Alan Walker, Sing Me To Sleep. Lagu itu cocok untuk lagu telat masuk sekolah akibat rasa kantuk sambil berjalan menuju kelasku.
Saat di dekat meja piket aku sengaja mengitip untuk memastikan bahwa Ranti tidak ada di sana. Namun sialnya, saat aku baru saja menjulurkan kepalaku dari balik tembok, Ranti langsung melihat ke arahku. Aku segera berbalik dan kembali ke toilet cewek. Berani taruhan, dia pasti mengikutiku. Dan jika dia tahu aku tidak memakai sepatu, pastilah pagi ini telingaku panas mendengar ocehannya.
Saat di toilet mataku langsung terarah ke satu-satunya cewek yang sedang berada di situ, cewek culun berkacamata dengan rok kepanjangan. Sebuah ide terbesit di kepalaku.
“Eh, lo!” bentakku. “Sepatu lo buat gue, dong!”
“Hah? Tapi…”
“Buruan!”
Mungkin karena tampangku memang sudah mirip orang yang siap melalui karier jadi pembunuh berantai, cewek itu buru-buru melepaskan sepatunya. Buset, sekali-kalinya malak sepatu, dapatnya sepatu merek termurah. Untung banget ukuran sepatunya pas dengan kakiku. Tapi tak apalah. Yang penting aku tidak nyeker.
“Kaus kakinya mau?”
Anak ini bodoh atau apa sih? Pakai menawarkan kaus kaki segala.
“Nggak usah. Buat lo aja.”
“Makasih.”
Beneran bodoh rupanya. Wajahku langsung kaku karena ingin tertawa, tapi tentu saja aku tidak melakukannya agar tetap terlihat sangar.
Aku sudah siap meninggalkan toilet itu tatkala aku teringat sesuatu. Sejahat-jahatnya aku, hingga saat ini aku belum pernah mengambil barang dari orang miskin. Dan dari merrek sepatunya, cewek ini memang kere banget. Aku tidak masalah punya reputasi jadi anak rese atau badung, tapi aku tidak ingin dikenal sebagai penindas kaum lemah.
“Siapa nama lo?” tanyaku.
“Starletta.”
“Kelas berapa?”
“XI IPA A”
Kelas anak-anak pintar rupanya. “Besok gue balikin sepatu lo kalo gue inget, ya.”
“Iya, makasih.”
Ampun deh. Anak ini benar-benar culun abis.
Baru saja aku menginjak lantai keramik sekolah yang sudah pecah-pecah, aku mendengar namaku dipanggil dengan suara khas yang membuatku langsung ingin membenturkan kepalaku ke dinding.
“Verrrra!”
Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilku dengan gay anorak seperti itu, Ranti, si guru piket yang ternama.
“Apa lagi, Bu?” tanyaku dengan sepolos mungkin. “Saya nggak telat kan? Dari tadi saya udah di dalam toilet kok. Sumpah.”
“Jangan bermain-main dengan sumpah, Nak.” Tegur si Ranti dengan ekspresi ala pendakwah. “Nanti terjadi hal-hal tidak enak, nanti kamu baru tahu rasa.”
“Biasanya sih yang bikin saya mengalami hal-hal nggak enak itu Ibu.” sahutku sekenanya.
“Itu karena kamu menantang saya.” Balas si Ranti sambil mengamati penamilanku dari atas ke bawah. “Kenapa seragammu dekil begini, Errrrika, sementara seragam murid perempuan lain bersih dan rapih?”
Aku langsung cemberut karena dibandingkan terang-terangan begitu. “Namanya juga beda bapak beda ibu.”
“Verrrra, Verrrra.” Si Ranti menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya yang menurutku lebay banget.
“Lho, itu memang bener, Bu. Dan Ibu jangan panggil saya ‘Nak’ begitu deh. Saya kan bukan anak Ibu.”
Pada saat aku mengira aku sudah bakalan lolos, tiba-tiba si cewek cupu keluar dari toilet dengan kaki tanpa sepatu. Sial, bias gawat kalau si Ranti tahu kalau aku sudah merebut sepatu murid lain.
“Bu, ada lebah di kepala Ibu!” teriakku spontan.
“Mana? Mana?” jerit si Ranti kaget sambil mendongak ke sana ke mari dan mengibas-ngibaskan tangan kea rah rambut kerritingnya dengan gugup. Pada kesempatan itu, aku langsung memberikan isyarat pada si cewek cupu untuk ngacir secepat kilat. Si cewek cupu segera memahami isyaratku, tetapi tidak ngacir secepat yang kuinginkan.
“Hei, hei! Tunggu dulu. Siapa itu yang tidak pakai sepatu?”
Buset, mata guru ini sakti bener! Sementara si cewek cupu menghentikan langkahnya dengan muka pucat, aku bergerak-gerak heboh ala kipper futsal supersibuk sambil berusaha menutupi si cewek cupu.
“Lebahnya ada dua, Bu, eh tiga, eh lima deng! Dia kira rambut Ibu sarangnya kali.”
“Minggir kamu, Verrrra, kamu menghalangi pandangan saya!”
Kurang ajar, aku dianggap pemandangan jelek. Tapi aku tetap bertahan, sementara si Ranti menarik-narikku dengan tidak sabar. Tentu saja aku tetap menutupinya.
“Kamu ini apa-apaan, Verrrra? Mau ngajak saya berantem, ya?”
“Memangnya Ibu menang lawan saya?” seringaiku sambil berkacak pinggang, lupa dengan tujuanku menutupi pandangan si Ranti. Aku hanya bias melongo saat si Ranti berhasil menarik si cewek cupu dari belakangku.
“Kenapa kamu tidak pakai sepatu?” hardik si Ranti sambil memasang muka supergalak yang sama sekali tidak menyeramkan. “Siapa namamu? Dari kelas mana? Dan kemana sepatumu?”
Diserang dengan pertanyaan-pertanyaan itu, si cewek cupu makin pucat saja, ,meski tampang tenangnya saat menghadapi serangan beruntun Ranti patut diacungi jempol. Aku memutuskan untuk menyelamatkan si cewek cupu ini agar aku juga selamat tentunya.
“Sudahlah, Bu. Hal kecil seperti ini jangan dibikin jadi masalah besar. Coba Ibu lihat, muka anak malang ini sampai hijau gara-gara Ibu. Gara-gara bentakkan Ibu yang tidak manusiawi. Kemana hati nurani Ibu, hah?”
“Justru hati nurani saya berteriak-teriak saat ini, Verrrra. Anak ini tidak kelihatan familier, dan itu berarti dia jarang dihukum. Jangan-jangan dia tidak pakai sepatu lantaran dikerjai temannya…” suara si Ranti hilang saat menatap sepatuku. “Kok tahu-tahu kamu pakai sepatu baru?”
“Ini?” aku tertawa kecil “Ini mah sepatu lama, cuma ini jarang kelihatan. Soalnya ini sepatu murah banget sih.”
“Ya ini memang bukan sepatu baru, tapi bukan juga sepatumu yang biasa. Kamu sering menginjak bagian belakangnya, tapi yang ini masih tegak…” si Ranti memelototiku “Verrrra, kamu yang rebut sepatu anak ini, ya?”
Astaga. Ternyata guru ini benar-benar ingat dengan kebiasaanku.
“Hmm, saya punya penjelasan, Bu. Tapi panjang sih penjelasannya.”
“Bagus! Ayo kita dengarkan penjelasanmu di ruang guru. Cepat kamu masuk ruang guru.”
Menurut anak yang sering bermasalah sepertiku, ruang guru hampir mirip dengan penjara. Setidaknya, di penjara dikasih makan. Di ruang guru kita Cuma bias ngeliatin guru makan.
Si Ranti duduk di singgasananya yang terletak di dekat pintu, gayanya seperti hakim yang siap mengirim kami ke penjara.
“Nah sekarang ceritakan pada saya apa yang terjadi.”
Si cewek cupu tetap diam bagaikan bisu, sedangkan aku ogah banget mengakui kesalahanku dan menjerumuskan diri ke dalam masalah ini.
“Kamu!” tegur Ranti, membuat si cewek cupu mengangkat wajahnya. “Namamu siapa? Dari kelas berapa?”
“Nama saya Starletta Mellisa, Bu. Saya dari kelas XI IPA A.” sahutnya datar.
“Hmm, sudah saya duga, kamu bukan murid sembarangan. Verrrra, sekarang jelaskan kasus sepatu ini.”
Kasus. Astaga, guru ini memang lebay. Saat aku membuang muka dan berpaling kea rah pintu ruangan, kudengar si Ranti menghela nafas melalui lubang hidungnya yang besar.
“Ya sudah. Bagaimana denganmu, Starletta? Apa yang bias kamu ceritakan kepada saya?”
“Saya cuma lupa memakai sepatu, Bu.” Jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
Tapi si Rufus tentu tidak percaya, ia terus-terusan melontarkan pertanyakan kepada si cewek cupu dan cewek cupu hanya diam saja. Mukanya memucat seperti tembok rumah sakit. Astaga! Aku benar-benar tidak tahan lagi.
“Udah deh, Bu, saya ngaku kalo saya yang ngambil sepatunya.” Kataku akhirnya.
Tampang guru piket itu tampak puas sekali, dengan senyum penuh kemenangan yang membuatku gemas ingin menarik bibir tebalnya agar tidak tersenyum lagi.
“Sekarang kamu kembalikan sepatunya, ya Verrrra.”
Meski sambil mendumel, kulepas juga sepatu itu dan kukembalikan kepada yang punya.
“Sori ya.” Ucap si cewek cupu pelan sambil menerima kembali sepatunya.
Cewek ini benar-benar gawat.s eharusnya kan aku yang bilang sori. Tapi tentu saja aku tidak mau menghiburnya dengan cara malu-malu dan feminim.
“Nah, Starletta, sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”
Dari yang kulihat, si cewek cupu sempat berdiri ragu-ragu di depan pintu seolah-olah berpikir untuk menarikku kabur sebelum akhirnya pergi seorang diri.
Sementara itu, dengan gembira si Ranti mulai memberiku tugas sebagai hukuman yang tidak sulit tetapi membosankan.
“Verrrra, kamu harus membuat karya tulis tentang pentingnya memakai sepatu ke sekolah.” 
“Bu, nggak usah dijelasin juga semua orang pake sepatu…”
Kata-kataku terputus saat melihat seringai lebar dan jelek dari si Ranti.
“Buktinya kamu tidak pakai sepatu. Makanya, di dunia ini cuma kamu yang perlu membuat karya tulis tentang ini. Jadi, tidak perlu protes lagi. Ini kertas folionya, tulis sampai penuh, ya!”
Arrrgh!

Dengan bete aku mengambil tempat duduk dan mulai menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar