PAGI YANG SIAL
Karya : Hana Restu Oktavia
Hari ini aku sial banget. Sepertinya “Sial” cocok jadi
nama tengahku. Verra “Sial” Jayasmin, lengkapnya. Rasanya aku dilahirkan di
dunia ini khusus untuk menjalani kehidupan super sial. Kira-kira seperti
tokoh Pluto dalam film-film Popeye The
Sailorman.
Sebelum kalian menuduhku lebay, sebaiknya kalian
mendengar dulu ceritaku pagi ini. Pertama-tama, aku ketahuan bangun telat. Ya
sebenarnya aku biasa bangun telat. Aku pernah membaca dari internet bahwa
kurang tidur dapat mengganggu kerja otak. Jadi, untuk menjaga otakku yang Cuma
satu-satunya ini, aku memilih untuk bangun telat setiap harinya.
Jadi, sebenarnya bukan bangun telat yang kusebut sial,
tapi ketahuan bangun telat. Lagi enak-enak tidur, tiba-tiba saja aku mendengar
suara bentakan keras.
“Verra!”
Mengenali bahwa itu suara ibuku, aku langsung duduk
tegak dan jidatku yang agak jenong ini langsung menyundul jidat ibuku. Aku
hanya bias melongo, sementara wajah ibuku makin memerah karena marah. Saat
ibuku mengayunkan tangannya untuk memukulku, nyawaku sudah terkumpul dalam
kecepatan kilat dan mendapatkan gerak refleksku kembali. Aku loncat dari tempat
tidurku ke depan pintu kamar.
“Verra, sini kamu”
“Sori, Ma. Aku udah telat banget nih. Aku sekolah dulu
ya.”
“Verra!”
Aku tidak memedulikan teriakan ibuku lagi. Langsung
saja aku mengambil sikat gigiku, juga tas, baju dan rok seragamku yang
tergantung di belakang pintu. Astaga, seragamku masih kusut! Aku lupa
menyetrikanya tadi malam! Ah tapi tidak perlu dipikirkan ini Cuma masalah kecil
bagiku.
Aku bias mendengar ibuku mengejarku, jadi aku langsung
lari ke halaman belakang, meloncati pagar dan disitulah ojek langgananku sudah
mangkal. Jadi, langsung saja aku duduk di jok belakangnya.
“Cepetan, Jek!”
“Yo’i, Non.”
Kami pun langsung meninggalkan rumahku yang surram dan
ibuku yang masih berteriak-teriak dibalik pagar rumahku.
Yes! Rintangan pertama berhasil kulalui!
Kami memutar ke pekarangan belakang sekolah dan
berhenti tepat di bawah salah satu pohon akasia yang mengelilingi sekolahku,
atau lebih tepatnya pohon yang nanti aku panjat untuk masuk ke dalam sekolah
tanpa terdeteksi guru-guru yang tidak segan menangkap murid yang terlambat dan
menyerahkannya ke dalam tangan Ranti. Ranti ini bukan penjaga sekolah, hansip,
apalagi kepala sekolah, ia hanya guru piket biasa yang suka berlagak haus
darah, hobi mengelilingi sekolah, dan yang paling mengerikan adalah ceramahnya
yang super panjang. Membayangkannya saja aku sudah malas, bias-bisa telingaku
panas mendengarkan ceramahnya, mendingan aku menghindari masalah dengan
menyelinap melalui pintu belakang, atau pintu darurat, atau apa sajalah, selama
tidak berhadapan dengan guru piket itu.
Aku segera memanjat pohon yang mepet pagar sekolah
itu, dan meloncat turun di pekarangan belakang sekolah atau tepatnya belakang
toilet cewek. Aku masuk ke dalam toilet cewek, mengganti kausku yang bermotif
kepala babi dengan seragam sekolahku yang kusut, melepaskan celana pendekku dan
memakai rok, merias wajahku sekadarnya supaya para guru terprovokasi untuk mengomentarinya,
menyisir rambut sebahuku yang kusut ini, dan menjejalkan celana dan kausku tadi
ke dalam tas ransel sekolahku.
Lalu, mendadak kusadari sesuatu.
Astaga, aku masih memakai sandal bulu berbentuk kepala
sapi! Sandal itu sudah jelek dan buluk, tapi aku suka memakainya karena nyaman.
Ya sudahlah. Aku sudah berusaha semampuku. Tapi aku tidak mungkin berkeliaran
di sekolah dengan sandal kepala sapi. Bisa-bisa imejku sebagai cewek sangar
tercoreng. Sepertinya jauh lebih keren kalau aku nyeker saja. Bukannya aku
tidak pernah nyeker ya, harus kuakui bahwa aku sudah banyak melakukan hal aneh
di sekolah ini. Jadi, ini bukan maslah besar untukku.
Setelah menjejalkan sandal bulukku ke dalam tas, aku
melenggang keluar dari toilet sambil menyiulkan lagu Alan Walker, Sing Me To
Sleep. Lagu itu cocok untuk lagu telat masuk sekolah akibat rasa kantuk sambil
berjalan menuju kelasku.
Saat di dekat meja piket aku sengaja mengitip untuk
memastikan bahwa Ranti tidak ada di sana. Namun sialnya, saat aku baru saja menjulurkan
kepalaku dari balik tembok, Ranti langsung melihat ke arahku. Aku segera
berbalik dan kembali ke toilet cewek. Berani taruhan, dia pasti mengikutiku.
Dan jika dia tahu aku tidak memakai sepatu, pastilah pagi ini telingaku panas
mendengar ocehannya.
Saat di toilet mataku langsung terarah ke satu-satunya
cewek yang sedang berada di situ, cewek culun berkacamata dengan rok
kepanjangan. Sebuah ide terbesit di kepalaku.
“Eh, lo!” bentakku. “Sepatu lo buat gue, dong!”
“Hah? Tapi…”
“Buruan!”
Mungkin karena tampangku memang sudah mirip orang yang
siap melalui karier jadi pembunuh berantai, cewek itu buru-buru melepaskan
sepatunya. Buset, sekali-kalinya malak sepatu, dapatnya sepatu merek termurah.
Untung banget ukuran sepatunya pas dengan kakiku. Tapi tak apalah. Yang penting
aku tidak nyeker.
“Kaus kakinya mau?”
Anak ini bodoh atau apa sih? Pakai menawarkan kaus
kaki segala.
“Nggak usah. Buat lo aja.”
“Makasih.”
Beneran bodoh rupanya. Wajahku langsung kaku karena
ingin tertawa, tapi tentu saja aku tidak melakukannya agar tetap terlihat
sangar.
Aku sudah siap meninggalkan toilet itu tatkala aku
teringat sesuatu. Sejahat-jahatnya aku, hingga saat ini aku belum pernah
mengambil barang dari orang miskin. Dan dari merrek sepatunya, cewek ini memang
kere banget. Aku tidak masalah punya reputasi jadi anak rese atau badung, tapi
aku tidak ingin dikenal sebagai penindas kaum lemah.
“Siapa nama lo?” tanyaku.
“Starletta.”
“Kelas berapa?”
“XI IPA A”
Kelas anak-anak pintar rupanya. “Besok gue balikin sepatu
lo kalo gue inget, ya.”
“Iya, makasih.”
Ampun deh. Anak ini benar-benar culun abis.
Baru saja aku menginjak lantai keramik sekolah yang
sudah pecah-pecah, aku mendengar namaku dipanggil dengan suara khas yang
membuatku langsung ingin membenturkan kepalaku ke dinding.
“Verrrra!”
Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilku dengan
gay anorak seperti itu, Ranti, si guru piket yang ternama.
“Apa lagi, Bu?” tanyaku dengan sepolos mungkin. “Saya
nggak telat kan? Dari tadi saya udah di dalam toilet kok. Sumpah.”
“Jangan bermain-main dengan sumpah, Nak.” Tegur si
Ranti dengan ekspresi ala pendakwah. “Nanti terjadi hal-hal tidak enak, nanti
kamu baru tahu rasa.”
“Biasanya sih yang bikin saya mengalami hal-hal nggak
enak itu Ibu.” sahutku sekenanya.
“Itu karena kamu menantang saya.” Balas si Ranti
sambil mengamati penamilanku dari atas ke bawah. “Kenapa seragammu dekil
begini, Errrrika, sementara seragam murid perempuan lain bersih dan rapih?”
Aku langsung cemberut karena dibandingkan
terang-terangan begitu. “Namanya juga beda bapak beda ibu.”
“Verrrra, Verrrra.” Si Ranti menggeleng-gelengkan
kepalanya dengan gaya yang menurutku lebay banget.
“Lho, itu memang bener, Bu. Dan Ibu jangan panggil
saya ‘Nak’ begitu deh. Saya kan bukan anak Ibu.”
Pada saat aku mengira aku sudah bakalan lolos,
tiba-tiba si cewek cupu keluar dari toilet dengan kaki tanpa sepatu. Sial, bias
gawat kalau si Ranti tahu kalau aku sudah merebut sepatu murid lain.
“Bu, ada lebah di kepala Ibu!” teriakku spontan.
“Mana? Mana?” jerit si Ranti kaget sambil mendongak ke
sana ke mari dan mengibas-ngibaskan tangan kea rah rambut kerritingnya dengan
gugup. Pada kesempatan itu, aku langsung memberikan isyarat pada si cewek cupu
untuk ngacir secepat kilat. Si cewek cupu segera memahami isyaratku, tetapi
tidak ngacir secepat yang kuinginkan.
“Hei, hei! Tunggu dulu. Siapa itu yang tidak pakai
sepatu?”
Buset, mata guru ini sakti bener! Sementara si cewek
cupu menghentikan langkahnya dengan muka pucat, aku bergerak-gerak heboh ala
kipper futsal supersibuk sambil berusaha menutupi si cewek cupu.
“Lebahnya ada dua, Bu, eh tiga, eh lima deng! Dia kira
rambut Ibu sarangnya kali.”
“Minggir kamu, Verrrra, kamu menghalangi pandangan
saya!”
Kurang ajar, aku dianggap pemandangan jelek. Tapi aku
tetap bertahan, sementara si Ranti menarik-narikku dengan tidak sabar. Tentu
saja aku tetap menutupinya.
“Kamu ini apa-apaan, Verrrra? Mau ngajak saya
berantem, ya?”
“Memangnya Ibu menang lawan saya?” seringaiku sambil
berkacak pinggang, lupa dengan tujuanku menutupi pandangan si Ranti. Aku hanya
bias melongo saat si Ranti berhasil menarik si cewek cupu dari belakangku.
“Kenapa kamu tidak pakai sepatu?” hardik si Ranti
sambil memasang muka supergalak yang sama sekali tidak menyeramkan. “Siapa
namamu? Dari kelas mana? Dan kemana sepatumu?”
Diserang dengan pertanyaan-pertanyaan itu, si cewek
cupu makin pucat saja, ,meski tampang tenangnya saat menghadapi serangan
beruntun Ranti patut diacungi jempol. Aku memutuskan untuk menyelamatkan si
cewek cupu ini agar aku juga selamat tentunya.
“Sudahlah, Bu. Hal kecil seperti ini jangan dibikin
jadi masalah besar. Coba Ibu lihat, muka anak malang ini sampai hijau gara-gara
Ibu. Gara-gara bentakkan Ibu yang tidak manusiawi. Kemana hati nurani Ibu,
hah?”
“Justru hati nurani saya berteriak-teriak saat ini,
Verrrra. Anak ini tidak kelihatan familier, dan itu berarti dia jarang dihukum.
Jangan-jangan dia tidak pakai sepatu lantaran dikerjai temannya…” suara si
Ranti hilang saat menatap sepatuku. “Kok tahu-tahu kamu pakai sepatu baru?”
“Ini?” aku tertawa kecil “Ini mah sepatu lama, cuma
ini jarang kelihatan. Soalnya ini sepatu murah banget sih.”
“Ya ini memang bukan sepatu baru, tapi bukan juga
sepatumu yang biasa. Kamu sering menginjak bagian belakangnya, tapi yang ini
masih tegak…” si Ranti memelototiku “Verrrra, kamu yang rebut sepatu anak ini,
ya?”
Astaga. Ternyata guru ini benar-benar ingat dengan
kebiasaanku.
“Hmm, saya punya penjelasan, Bu. Tapi panjang sih
penjelasannya.”
“Bagus! Ayo kita dengarkan penjelasanmu di ruang guru.
Cepat kamu masuk ruang guru.”
Menurut anak yang sering bermasalah sepertiku, ruang
guru hampir mirip dengan penjara. Setidaknya, di penjara dikasih makan. Di
ruang guru kita Cuma bias ngeliatin guru makan.
Si Ranti duduk di singgasananya yang terletak di dekat
pintu, gayanya seperti hakim yang siap mengirim kami ke penjara.
“Nah sekarang ceritakan pada saya apa yang terjadi.”
Si cewek cupu tetap diam bagaikan bisu, sedangkan aku
ogah banget mengakui kesalahanku dan menjerumuskan diri ke dalam masalah ini.
“Kamu!” tegur Ranti, membuat si cewek cupu mengangkat
wajahnya. “Namamu siapa? Dari kelas berapa?”
“Nama saya Starletta Mellisa, Bu. Saya dari kelas XI
IPA A.” sahutnya datar.
“Hmm, sudah saya duga, kamu bukan murid sembarangan.
Verrrra, sekarang jelaskan kasus sepatu ini.”
Kasus. Astaga, guru ini memang lebay. Saat aku
membuang muka dan berpaling kea rah pintu ruangan, kudengar si Ranti menghela
nafas melalui lubang hidungnya yang besar.
“Ya sudah. Bagaimana denganmu, Starletta? Apa yang
bias kamu ceritakan kepada saya?”
“Saya cuma lupa memakai sepatu, Bu.” Jawabnya sambil
menyunggingkan senyum.
Tapi si Rufus tentu tidak percaya, ia terus-terusan
melontarkan pertanyakan kepada si cewek cupu dan cewek cupu hanya diam saja.
Mukanya memucat seperti tembok rumah sakit. Astaga! Aku benar-benar tidak tahan
lagi.
“Udah deh, Bu, saya ngaku kalo saya yang ngambil
sepatunya.” Kataku akhirnya.
Tampang guru piket itu tampak puas sekali, dengan
senyum penuh kemenangan yang membuatku gemas ingin menarik bibir tebalnya agar
tidak tersenyum lagi.
“Sekarang kamu kembalikan sepatunya, ya Verrrra.”
Meski sambil mendumel, kulepas juga sepatu itu dan
kukembalikan kepada yang punya.
“Sori ya.” Ucap si cewek cupu pelan sambil menerima
kembali sepatunya.
Cewek ini benar-benar gawat.s eharusnya kan aku yang
bilang sori. Tapi tentu saja aku tidak mau menghiburnya dengan cara malu-malu
dan feminim.
“Nah, Starletta, sekarang kamu boleh kembali ke
kelas.”
Dari yang kulihat, si cewek cupu sempat berdiri ragu-ragu
di depan pintu seolah-olah berpikir untuk menarikku kabur sebelum akhirnya
pergi seorang diri.
Sementara itu, dengan gembira si Ranti mulai memberiku
tugas sebagai hukuman yang tidak sulit tetapi membosankan.
“Verrrra, kamu harus membuat karya tulis tentang
pentingnya memakai sepatu ke sekolah.”
“Bu, nggak usah dijelasin juga semua orang pake
sepatu…”
Kata-kataku terputus saat melihat seringai lebar dan
jelek dari si Ranti.
“Buktinya kamu tidak pakai sepatu. Makanya, di dunia
ini cuma kamu yang perlu membuat karya tulis tentang ini. Jadi, tidak perlu
protes lagi. Ini kertas folionya, tulis sampai penuh, ya!”
Arrrgh!
Dengan bete aku mengambil tempat duduk dan mulai
menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar