PENYESALAN TANPA AKHIR
Karya : Nadhifah Hulwah Maudina
Namaku Nadhifah, perempuan berumur 20 tahun
yang telah kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia.
Aku adalah seseorang yang terbuka dengan yang lain, itu alasannya aku memilih Fakultas
ini. Saat ini aku sudah memiliki kekasih yang merupakan teman sekelasku di SMA
dulu, kira-kira kami sudah menjalin hubungan sekitar 8 bulan lamanya. Namanya
Rama, pria popular dan dikagumi banyak wanita karna keramahannya. Saat ini
hubunganku dengan Rama sedang kurang baik, dikarenakan firasat burukku tentang
Rama membuat Rama kesal kepadaku.
Hari ini sepupuku bernama Nabilah mengadakan
acara ulangtahun dirumahnya. Seperti biasa, ia mengundang temannya. Disitu aku
menyendiri karna tidak ada yang ku kenal selain Nabilah. Saat aku ingin pulang
kerumah, tanganku ditarik oleh Nabilah.
“Kenapa Bil??” tanyaku. Aku bingung, sebenarnya
ada apa.
Nabilah tetap menarik tanganku, ia menuju depan
rumahnya. Beberapa saat kemudian, ada seorang lelaki menghampiriku. Dia
temannya Nabilah, namanya Bhuwana. Ia menghampiriku.
“ Boleh minta id line lu ga?” tanyanya padaku
“Ehm, bo..boleh,” jawabku sambil memberi id
lineku. Saat malam hari, Bhuwana mengirim pesan untukku. Mulai dari pesan itu
aku berteman dengannya.
Beberapa hari kemudian aku menerima pesan dari
seorang yang tak ku kenal. Dengan nama tampilan ‘Muhammad Ridwan Ramadhan’. Dia
menulis “HAI”, aku bingung harus jawab apa. Aku hanya membalas “Hai juga, ini
siapa ya?”. Beberapa menit kemudian dia membalas “Gua temen sekelasnya Nabilah
waktu SMA dulu”. Aku baru ingat bahwa Ridwan adalah temannya Nabilah semasa dia
SMA dulu dan Nabilah pernah mengenalkanku dengannya dalam satu pihak.
Seiring berjalannya waktu aku dan Ridwan
semakin dekat seperti tak mengingat bahwa kami baru berkenalan kurang dari 1
minggu. Aku pun sampai detik ini tidak tahu siapa yang memberi kontakku padanya.
Semakin hari aku semakin ingin mengakhiri
hubunganku dengan Rama, mungkin karena aku sudah mencintai Ridwan dan mungkin
saja karena aku muak dengan semua janji semu yang Rama berikan.
Saat ini Rama memperlakukanku layaknya sampah
yang tak bisa didaur ulang. Namun, ia memberiku janji-janji palsu dan kata-kata
manis hanya karna dia tidak mau aku lebih dalam mencintai Ridwan. Aku tidak
tahu apa yang Rama inginkan, tapi mungkin jika semua perempuan berada
diposisiku akan melayang diberi kata-kata indah oleh pria. Walaupun pembuktian
dari kata-kata itu tidak nampak.
Karena aku memiliki rasa keterbukaan kepada
semua orang, jadi saat aku berhubungan dengan Ridwan aku memberi tahu
hubunganku dengan Rama kepadanya. Terlalu sering aku membuat Ridwan kesal
dengan semua omonganku tentang Rama, maka Ridwan menyuruhku untuk memilih.
Antara Ridwan atau Rama.
Aku berpikir bahwa Rama telah bersamaku
hampir 1 tahun, namun yang aku tahu Rama selalu mempermainkanku dengan cara
mendekati wanita lain. Antara mengujiku atau benar-benar selingkuh karna bosan
denganku. Ridwan, ialah seorang yang penuh misteri, diam seribu bahasa, namun
pembuktian bahwa dia memiliki cinta yang besar itu nyata, tanpa sandiwara, dia
begitu tulus mencintaiku, sabar menghadapi celotehku setiap detik, dan hampir
semua kenangan bersamanya begitu indah. Aku mencintai keduanya, namun rasaku
lebih yakin terhadap Rama karna ialah yang sudah mengertiku selama ini.
Waktunya aku memilih. Aku merenung seharian
dikamar, menangis memikirkan siapa yang tulus dan bertahan sampai suatu saat
nanti. Akhirnya aku memilih yang lebih lama bersama denganku, ya Rama lebih
lama dibanding Ridwan yang baru 3 bulan berkenalan denganku. Meski aku tahu
bahwa Ridwanlah yang bisa menjagaku sampai suatu saat nanti dan dialah yang
paling tulus mencintaiku.
Hari berlalu aku lewati tanpa Ridwan, dan
Rama. Ya, Rama mengkhianatiku lagi-lagi dengan selingkuh bersama wanita lain.
Saat aku benar-benar lelah untuk bertahan dengan Rama, akhirnya aku memutuskan
untuk meninggalkan Rama tanpa basa-basi.
Sekarang hidupku penuh penyesalan karena
telah menyuruh Ridwan pergi dari hidupku, karna ia sangat mencintaiku dengan
tulus. Aku menghubungi Ridwan lagi, karna aku tahu keputusanku saat itu ialah
sebuah kesalahan. Aku berharap dan meminta kepadanya agar ia memberiku
kesempatan untuk kembali lagi bersamanya.
Dan pada akhirnya Ridwan menolakku dan ia
berkata “gua udah gaada perasaan
sedikitpun buat lu Nad”, bumerang Israel menusuk hatiku. Aku akan terus
mencintai dia walaupun aku tak tahu apakah dia memiliki perasaan sama denganku
atau tidak, atau bahkan ia membenciku. Walaupun demikian, aku percaya bahwa ia
pun masih mencintaiku dan menutupi rasa itu karna terlanjur kecewa terhadapku.
Inilah diriku yang penuh dengan penyesalan karna tidak memiliki rasa konsisten
terhadap suatu keputusan yang aku buat. Dan aku belum bisa memilih antara yang
baik dengan yang buruk.
Terima kasih cinta, telah membuatku semakin
dekat dengan ilahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar