Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Penyesalan Tanpa Akhir

PENYESALAN TANPA AKHIR
Karya : Nadhifah Hulwah Maudina

Namaku Nadhifah, perempuan berumur 20 tahun yang telah kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Aku adalah seseorang yang terbuka dengan yang lain, itu alasannya aku memilih Fakultas ini. Saat ini aku sudah memiliki kekasih yang merupakan teman sekelasku di SMA dulu, kira-kira kami sudah menjalin hubungan sekitar 8 bulan lamanya. Namanya Rama, pria popular dan dikagumi banyak wanita karna keramahannya. Saat ini hubunganku dengan Rama sedang kurang baik, dikarenakan firasat burukku tentang Rama membuat Rama kesal kepadaku.

Hari ini sepupuku bernama Nabilah mengadakan acara ulangtahun dirumahnya. Seperti biasa, ia mengundang temannya. Disitu aku menyendiri karna tidak ada yang ku kenal selain Nabilah. Saat aku ingin pulang kerumah, tanganku ditarik oleh Nabilah.
“Kenapa Bil??” tanyaku. Aku bingung, sebenarnya ada apa.
Nabilah tetap menarik tanganku, ia menuju depan rumahnya. Beberapa saat kemudian, ada seorang lelaki menghampiriku. Dia temannya Nabilah, namanya Bhuwana. Ia menghampiriku.
“ Boleh minta id line lu ga?” tanyanya padaku
“Ehm, bo..boleh,” jawabku sambil memberi id lineku. Saat malam hari, Bhuwana mengirim pesan untukku. Mulai dari pesan itu aku berteman dengannya.
Beberapa hari kemudian aku menerima pesan dari seorang yang tak ku kenal. Dengan nama tampilan ‘Muhammad Ridwan Ramadhan’. Dia menulis “HAI”, aku bingung harus jawab apa. Aku hanya membalas “Hai juga, ini siapa ya?”. Beberapa menit kemudian dia membalas “Gua temen sekelasnya Nabilah waktu SMA dulu”. Aku baru ingat bahwa Ridwan adalah temannya Nabilah semasa dia SMA dulu dan Nabilah pernah mengenalkanku dengannya dalam satu pihak.
Seiring berjalannya waktu aku dan Ridwan semakin dekat seperti tak mengingat bahwa kami baru berkenalan kurang dari 1 minggu. Aku pun sampai detik ini tidak tahu siapa yang memberi kontakku padanya.
Semakin hari aku semakin ingin mengakhiri hubunganku dengan Rama, mungkin karena aku sudah mencintai Ridwan dan mungkin saja karena aku muak dengan semua janji semu yang Rama berikan.
Saat ini Rama memperlakukanku layaknya sampah yang tak bisa didaur ulang. Namun, ia memberiku janji-janji palsu dan kata-kata manis hanya karna dia tidak mau aku lebih dalam mencintai Ridwan. Aku tidak tahu apa yang Rama inginkan, tapi mungkin jika semua perempuan berada diposisiku akan melayang diberi kata-kata indah oleh pria. Walaupun pembuktian dari kata-kata itu tidak nampak.
Karena aku memiliki rasa keterbukaan kepada semua orang, jadi saat aku berhubungan dengan Ridwan aku memberi tahu hubunganku dengan Rama kepadanya. Terlalu sering aku membuat Ridwan kesal dengan semua omonganku tentang Rama, maka Ridwan menyuruhku untuk memilih. Antara Ridwan atau Rama.
Aku berpikir bahwa Rama telah bersamaku hampir 1 tahun, namun yang aku tahu Rama selalu mempermainkanku dengan cara mendekati wanita lain. Antara mengujiku atau benar-benar selingkuh karna bosan denganku. Ridwan, ialah seorang yang penuh misteri, diam seribu bahasa, namun pembuktian bahwa dia memiliki cinta yang besar itu nyata, tanpa sandiwara, dia begitu tulus mencintaiku, sabar menghadapi celotehku setiap detik, dan hampir semua kenangan bersamanya begitu indah. Aku mencintai keduanya, namun rasaku lebih yakin terhadap Rama karna ialah yang sudah mengertiku selama ini.
Waktunya aku memilih. Aku merenung seharian dikamar, menangis memikirkan siapa yang tulus dan bertahan sampai suatu saat nanti. Akhirnya aku memilih yang lebih lama bersama denganku, ya Rama lebih lama dibanding Ridwan yang baru 3 bulan berkenalan denganku. Meski aku tahu bahwa Ridwanlah yang bisa menjagaku sampai suatu saat nanti dan dialah yang paling tulus mencintaiku.
Hari berlalu aku lewati tanpa Ridwan, dan Rama. Ya, Rama mengkhianatiku lagi-lagi dengan selingkuh bersama wanita lain. Saat aku benar-benar lelah untuk bertahan dengan Rama, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Rama tanpa basa-basi.
Sekarang hidupku penuh penyesalan karena telah menyuruh Ridwan pergi dari hidupku, karna ia sangat mencintaiku dengan tulus. Aku menghubungi Ridwan lagi, karna aku tahu keputusanku saat itu ialah sebuah kesalahan. Aku berharap dan meminta kepadanya agar ia memberiku kesempatan untuk kembali lagi bersamanya.
Dan pada akhirnya Ridwan menolakku dan ia berkata  “gua udah gaada perasaan sedikitpun buat lu Nad”, bumerang Israel menusuk hatiku. Aku akan terus mencintai dia walaupun aku tak tahu apakah dia memiliki perasaan sama denganku atau tidak, atau bahkan ia membenciku. Walaupun demikian, aku percaya bahwa ia pun masih mencintaiku dan menutupi rasa itu karna terlanjur kecewa terhadapku. Inilah diriku yang penuh dengan penyesalan karna tidak memiliki rasa konsisten terhadap suatu keputusan yang aku buat. Dan aku belum bisa memilih antara yang baik dengan yang buruk.

Terima kasih cinta, telah membuatku semakin dekat dengan ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar