Narasi Cinta padaNya
Karya : Huda Izzatulhaq
Tak pantas seseorang
merasa kesepian, sedang Allah senantiasa ada di sampingnya
Istana
Putifar tidak pernah sehari pun kehilangan duka selama belasan tahun, sejak
seorang budak, yang semua penghuni istana menyukainya, pergi dari istana
tersebut untuk dimasukkan ke dalam penjara. Ironi ketika orang yang paling
berduka adalah ia yang menyebabkan budak tersebut dipenjara. Zulaikha, seorang
putri dan wanita tercantik di Mesir menyukai budaknya sendiri dan mengajaknya
untuk berbuat zina. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah penolakan, ia
marah dan memenjarakan sang budak, kemudian ia menangis kehilangan.
Nafsu
menguasai dirinya, ia masih mencintainya dan terus menangisinya selama 12
tahun, hingga sang budak yang telah bebas dari penjara dan mendapatkan risalah
menjadi seorang nabi itu menjadi seorang penasihat di Istana Kerajaan Mesir
saat itu. Waktu terus berjalan dan tangis akan kerinduan dan cinta masih kuat
dalam hati seorang Zulaikha, hingga suaminya, Panglima Putifar wafat.
Tidak ada sehari pun
dilalui Zalaikha tanpa penantian dan tangisan. 30 tahun berlalu dan nafsu itu
sudah berubah menjadi cinta yang begitu kuat dan mengakar dihatinya. Ia
mencintai Yusuf karena keluhuran sifatnya, kebajikan amalnya, dan kewibawaan
dirinya. Cinta yang telah mengambil segala kekayaan dan kehormatannya. Cinta
yang telah mengambil masa muda dan kecantikannya. Ia buta sekarang, lantaran
terlalu banyak menangis, dan tua karena cinta memakan usianya. Tapi ia tidak
pernah berhenti berharap dan menanti.
Hingga suatu ketika, ia
mulai bertanya mengapa Yusuf sangat taat pada Tuhannya hingga mengabaikannya,
dan Tuhannya sangat baik kepada Yusuf. Sementara Amun, berhala yang selama ini
ia sembah, hanya bisa menatap diam dan kosong atas semua penderitaan yang
dialaminya. Maka penantiannya akan cinta Yusuf perlahan berubah menjadi
pencariannya kepada Allah, Tuhannya Nabi Yusuf.
Hingga suatu ketika
Yusuf mendapat wahyu untuk menemukannya, menyembuhkan kebutaannya,
mengembalikan masa mudanya, dan kemudian menikahinya. Cintanya berbalas, namun
bukan cinta kepada Nabi Yusuf, melainkan cintanya kepada Pencipta Nabi Yusuf,
maka seketika ia sujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah atas sembuhnya
ia dari buta, kembalinya masa mudanya, dan yang paling penting adalah
terjawabnya doa dan pengharapannya. Kemudian ia pergi, beribadah, berkhalwat
kepada Tuhannya. Cintanya pada Allah telah mengabaikannya dari Yusuf, yang
selama ini dia nanti.
Seketika ia berubah,
keluhuran dan kebajikan mengalir dalam dirinya. Gairah hidup mengalir dalam
dadanya. Ia tenang dan khusyuk dalam penghambaan kepada Tuhannya. Akhirnya, ia
menyadari bahwa cinta hakiki akan selalu berbalas disana. Jika ada cinta di
hati yang satu maka akan ada cinta dihati yang lain.
Maka ia memandang
segalanya kini adalah tentang sebuah takdir yang telah ditetapkan untuknya. Ia
memandang Nabi Yusuf sebagai utusan Tuhan yang membuatnya semakin dekat dan
mencintaiNya. Memang pada akhirnya Zulaikha menikah dengan Nabi Yusuf, namun
kini cinta pada Allah lah landasannya. Keindahan dan keberkahan mengalir
disana.
Tak ada cinta yang
lebih suci dan indah selain cinta kepadaNya. Namun yang perlu diperhatikan,
cinta adalah sebuah hadiah dari usaha mencari diriNya. Benih cinta tidak akan
tumbuh dari hati yang gersang lagi keras. Maka ketika Zulaikha memutuskan
bertaubat, meninggalkan segala berhala yang dulu ia sembah dan menghamba
kepadaNya, seketika hatinya kembali bersih dan subur, maka cinta siap bersemi
disana.
Kita dapat mencari
diriNya dan menumbuhkan cinta kepadaNya dengan melihat lebih luas dan dalam
tentang sekitar kita dengan terlebih dahulu menghilangkan sifat sombong dan
angkuh kepadaNya. Melihat alam dan segala keindahannya sebagai perwujudan keagunganNya
misalnya, akan membuat kita bertanya “Apakah semua ini ada secara kebetulan
atau ada yang menciptakan ?”
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
orang-orang yang berakal.”
(QS Al-Imran :190)
Atau
seperti Zulaikha yang menyadari ada Zat yang lebih besar dan lebih kuat dari
dewa-dewa dan berhala-berhala yang selama ini ia sembah. Zat yang begitu baik
mengabulkan dan memberi kebaikan kepada Nabi Yusuf, maka ia menemukanNya dan kemudian
cerita berlanjut dengan cinta kepadaNya yang terus tumbuh dan bersemi
dihatinya. Cinta kepadaNya mengalahkan cintanya kepada Nabi Yusuf. Tidak akan
ada dua cinta dalam satu hati, pikirnya. Maka tidak ada lagi kesepian disana.
Tak pantas seseorang merasa kesepian, sedang Allah senantiasa ada di sampingnya,
mungkin begitu pikirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar