Ketegori

Kamis, 27 Oktober 2016

Narasi Cinta padaNya

Narasi Cinta padaNya
Karya : Huda Izzatulhaq

Tak pantas seseorang merasa kesepian, sedang Allah senantiasa ada di sampingnya

            Istana Putifar tidak pernah sehari pun kehilangan duka selama belasan tahun, sejak seorang budak, yang semua penghuni istana menyukainya, pergi dari istana tersebut untuk dimasukkan ke dalam penjara. Ironi ketika orang yang paling berduka adalah ia yang menyebabkan budak tersebut dipenjara. Zulaikha, seorang putri dan wanita tercantik di Mesir menyukai budaknya sendiri dan mengajaknya untuk berbuat zina. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah penolakan, ia marah dan memenjarakan sang budak, kemudian ia menangis kehilangan.

            Nafsu menguasai dirinya, ia masih mencintainya dan terus menangisinya selama 12 tahun, hingga sang budak yang telah bebas dari penjara dan mendapatkan risalah menjadi seorang nabi itu menjadi seorang penasihat di Istana Kerajaan Mesir saat itu. Waktu terus berjalan dan tangis akan kerinduan dan cinta masih kuat dalam hati seorang Zulaikha, hingga suaminya, Panglima Putifar wafat.
Tidak ada sehari pun dilalui Zalaikha tanpa penantian dan tangisan. 30 tahun berlalu dan nafsu itu sudah berubah menjadi cinta yang begitu kuat dan mengakar dihatinya. Ia mencintai Yusuf karena keluhuran sifatnya, kebajikan amalnya, dan kewibawaan dirinya. Cinta yang telah mengambil segala kekayaan dan kehormatannya. Cinta yang telah mengambil masa muda dan kecantikannya. Ia buta sekarang, lantaran terlalu banyak menangis, dan tua karena cinta memakan usianya. Tapi ia tidak pernah berhenti berharap dan menanti.
Hingga suatu ketika, ia mulai bertanya mengapa Yusuf sangat taat pada Tuhannya hingga mengabaikannya, dan Tuhannya sangat baik kepada Yusuf. Sementara Amun, berhala yang selama ini ia sembah, hanya bisa menatap diam dan kosong atas semua penderitaan yang dialaminya. Maka penantiannya akan cinta Yusuf perlahan berubah menjadi pencariannya kepada Allah, Tuhannya Nabi Yusuf.
Hingga suatu ketika Yusuf mendapat wahyu untuk menemukannya, menyembuhkan kebutaannya, mengembalikan masa mudanya, dan kemudian menikahinya. Cintanya berbalas, namun bukan cinta kepada Nabi Yusuf, melainkan cintanya kepada Pencipta Nabi Yusuf, maka seketika ia sujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah atas sembuhnya ia dari buta, kembalinya masa mudanya, dan yang paling penting adalah terjawabnya doa dan pengharapannya. Kemudian ia pergi, beribadah, berkhalwat kepada Tuhannya. Cintanya pada Allah telah mengabaikannya dari Yusuf, yang selama ini dia nanti.
Seketika ia berubah, keluhuran dan kebajikan mengalir dalam dirinya. Gairah hidup mengalir dalam dadanya. Ia tenang dan khusyuk dalam penghambaan kepada Tuhannya. Akhirnya, ia menyadari bahwa cinta hakiki akan selalu berbalas disana. Jika ada cinta di hati yang satu maka akan ada cinta dihati yang lain.
Maka ia memandang segalanya kini adalah tentang sebuah takdir yang telah ditetapkan untuknya. Ia memandang Nabi Yusuf sebagai utusan Tuhan yang membuatnya semakin dekat dan mencintaiNya. Memang pada akhirnya Zulaikha menikah dengan Nabi Yusuf, namun kini cinta pada Allah lah landasannya. Keindahan dan keberkahan mengalir disana.
Tak ada cinta yang lebih suci dan indah selain cinta kepadaNya. Namun yang perlu diperhatikan, cinta adalah sebuah hadiah dari usaha mencari diriNya. Benih cinta tidak akan tumbuh dari hati yang gersang lagi keras. Maka ketika Zulaikha memutuskan bertaubat, meninggalkan segala berhala yang dulu ia sembah dan menghamba kepadaNya, seketika hatinya kembali bersih dan subur, maka cinta siap bersemi disana.
Kita dapat mencari diriNya dan menumbuhkan cinta kepadaNya dengan melihat lebih luas dan dalam tentang sekitar kita dengan terlebih dahulu menghilangkan sifat sombong dan angkuh kepadaNya. Melihat alam dan segala keindahannya sebagai perwujudan keagunganNya misalnya, akan membuat kita bertanya “Apakah semua ini ada secara kebetulan atau ada yang menciptakan ?”
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”
(QS Al-Imran :190)

            Atau seperti Zulaikha yang menyadari ada Zat yang lebih besar dan lebih kuat dari dewa-dewa dan berhala-berhala yang selama ini ia sembah. Zat yang begitu baik mengabulkan dan memberi kebaikan kepada Nabi Yusuf, maka ia menemukanNya dan kemudian cerita berlanjut dengan cinta kepadaNya yang terus tumbuh dan bersemi dihatinya. Cinta kepadaNya mengalahkan cintanya kepada Nabi Yusuf. Tidak akan ada dua cinta dalam satu hati, pikirnya. Maka tidak ada lagi kesepian disana. Tak pantas seseorang merasa kesepian, sedang Allah senantiasa ada di sampingnya, mungkin begitu pikirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar