Teguh Pendirian
Karya : Dani Dwi Laksono
Namaku Jihan, aku lahir di keluarga
yang hidup dengan kemewahan. Semua yang kuinginkan dapat dengan mudah aku
dapatkan dari kekayaan keluargaku. Tapi aku bukanlah orang yang suka memamerkan
kekayaan kepada orang lain. Gaya hidupku biasa saja. Dan aku hanya ingin
menunjukkan kesederhanaan saja. Aku lebih suka dengan keserhanaan. Selain
kemegahan yang aku dapet dari kedua orang tuaku sejak kecil aku diajarkan untuk
di siplin dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bapakku adalah seorang
polisi dan ibuku seorang perawat. Aku juga mempunyai kakak yang hobinya membaca
sebut saja Andi. Andi sekarang masih mahasiswa di salah satu perguruan tinggi
di Jakarta. Yang aku tau, ka Andi tidak pernah mendapatkan nilai yang rendah,
oleh karena itu kedua orang tuaku menyuruhku untuk bisa seperti kakak Andi.
Dan aku, adalah seorang pelajar yang masih
duduk di bangku SMA kelas 2. Aku seorang yang biasa-biasa saja, dan juga tidak
terlalu pintar, aku juga suka membaca tapi aku tidak seperti kak Andi yang
hobinya setiap hari membaca. Aku selalu mendapatkan nilai tinggi di kelasku.
Tetapi aku rajin dan selalu berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik. Namun,
dalam melakukan hal seperti itu temanku menganggapnya aku adalah orang yang
ambisius.
Hari demi hari, teman-temanku
semakin mengejekku, temanku menganggap bahwa aku orang yang terlalu berambisi
dalam belajar. Awalnya aku biasa saja akan hal itu, namun aku semkain tidak
tahan dan merasakan tekanan. Teman-temanku menjauhi ku dan tidak ada yang
menemaniku. Aku tidak mengerti kenapa teman-temanku beranggapan hingga seperti
itu. Sampai aku dinilai dimata mereka orang yang ambisius. Padahal nilaiku saja
bukanlah nilai yang terbaik di kelas, apalagi jika nilaiku dibandingkan dengan
kelas lain. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuaku dan
kakakku yang selalu mendukung ku untuk mendapatkan yang terbaik, aku tidak
boleh mengecewakan yang selama ini diajarkan dalam kepribadianku yang selalu
rajin dan disiplin. Aku rajin tidak pernah bolos sekolah apalagi cabut-cabut
tan. Walau aku memang kurang tertarik untuk bergaul dengan teman-temanku yang
suka cabut-cabutan yang memiliki sikap yang yang berani kepada guru. Menurutku
itu tidaklah pantas buatku. Aku lebis suka bergaul dengan yang biasa saja.
Tetapi juga bukan yang terlau kutu buku dan yang suka mencari perhatian guru.
Hingga suatu hari aku berpikiran
bagaimana caranya agar teman-teman mau bermain lagi denganku. Aku pun menemukan
suatu jalan. Apakah aku harus mengikuti pergaulan seperti mereka? Kurasa tidak
buruk. Dari awal aku mengikutinya demgan datang terlambat, tidak mengerjakan
pr, mengganggu kegiatan belajar mengajar dan saat pulang sekolah tidak lansung
pulang, tapi aku pergi nongkrong dengan mereka, Selama satu minggu aku melakuka
hal itu ternyata berdampak buruk. Banyak guru-guru yang menegur akan sikapku
yang berubah. Begitu pula dengan orang tuaku. Karena ketidak nyamanan guruku
atas perubahan sikapku yang mereka nilai sangat drastis mereka pun menghubungi
orang tuaku dan meminta mereka untuk datang ke sekolah. Setelah orang tuakul
telah selesai menemui guru, mereka pun menghapiri ku dan berkata banyak
terhadapku. Yang bisa aku simpulkan bahwa mereka kecewa pada perubahan sikapku
ini.
Aku tersadar, ternyata dengan caraku
mengikuti pergaulan mereka yang tidak baik itu dapat membuat aku makin dicap
buruk oleh orang-orang. Dan telah membuat keluargaku kecewa. Sekarang aku
menyesali perbuatanku selama ini. Aku tidak ingin lagi membuat keluargaku
kecewa terhadapku. Aku menyimpang dari niat awal hidupku yang ingin memberikan
yang terbaik untuk kakaku juga kedua orang tuaku. Apa yang dapat kuberikan pada
mereka jika sekapku seperti ini? Aku pun tersadar bahwa semua ini telah salah.
Pada akhirnya, aku tetap menjadi
diriku sendiri yg biasa saja namun, aku berusaha dekat dengan temanku dengan
cara aku mulai terbuka dan berbagi apa yang aku punya. Dan caraku berhasil, aku
tetap menjadi diriku dan teman-temanku tidak ada yang menjauhiku lagi.
Mau tanya kesimpulannya apa ya?
BalasHapusMw tanya kesimpulannya apa ya?
BalasHapusIntinya kita harus teguh pada pendirian kita jangan mudah terombang ambing. Ambil baiknya saja ketika orang" mengomentari apa yang kita lakukan. Jangan sampai perubahan membuat kita semakin buruk😉
BalasHapus